prolog
Udara masih terasa dingin pagi ini. Di luar masih sedikit gelap, matahari belum benar-benar menampakkan sinar hangatnya, namun Asaki sudah membuka jendela agar udara pagi memasuki ruangan, ia juga hampir menyelesaikan masakannya, tinggal memasukkannya ke dalam kotak bekal makan siang. Seperti biasanya, ia membuat nasi goreng, tidak banyak menu makanan yang bisa ia buat.
"Kakak, dimana handuknya?!"
Suara nyaring terdengar dari arah kamar. Tapi dia bukan adik Asaki, ya?
Asaki segera menghampiri cermin yang tertempel di dinding dekat wastafel kamar mandi. Melepaskan kaca mata bening yang bertengger di hidungnya dan memperhatikan wajahnya. Pria yang baru saja memanggilnya dengan sebutan kakak tadi adalah suaminya. Ya... Benar, kalian tidak salah baca atau dengar, dia adalah Asoka Brawijaya. Asaki mengeriyit pada bayangannya sendiri di cermin, ia segera merapikan rambutnya dengan sisir.
"Kakak!" Terdengar lebih keras dari sebelumnya. Asaki ingat belum menjawab pertanyaannya tadi.
"Coba saja cari di gantungan dekat kamar mandi, biasanya juga di situ, kan?" Tak ada sahutan, Asaki berpikir masalah beres.
Sambil menunggunya keluar kamar, Asaki memasukkan nasi goreng ke dalam dua kotak bekal. Beres, ia meletakkannya di pinggiran meja makan, sejajar. Berdiri di dekat meja menunggunya.
"Kenapa rambut kakak basah? Kenapa tidak menungguku untuk mandi bersama?"
Glek! Asaki menelan ludah. Apa maksud dari perkataan Asoka? Mandi bersama? Tidak biasanya ia seperti ini. Semalam mereka juga baru melakukannya? Apa masih kurang?
"Aku tidak ingin terlambat ke kampus." Jawab Asaki sedikit gugup. Ia tidak berani menatap ke arah Asoka yang terus menatap ke arahnya dengan pandangan yang tidak bisa di tebak. Pria itu tiba-tiba saja bersikap sok dewasa, padahal sejak awal menikah ia memperlihatkan ketidak sukaannya pada Asaki. Tapi setelah kejadian tadi malam, semuanya seolah berubah.
"Aku juga ada kuliah pagi. Kenapa tidak coba membangunkan ku, juga?" Protes Asoka. Ia juga tidak mengerti, kenapa wanita yang lima tahun lebih tua darinya ini kini terlihat sangat menarik di matanya.
"Maaf," jawab Asaki singkat. Ia merasa sangat canggung, padahal sudah hampir dua bulan keduanya menjadi pasangan suami istri.
Biasanya Asoka bermulut ketus dan mereka hampir tidak pernah bicara. Ini pertama kalinya Asoka banyak bicara padanya.
Sudut bibir Asoka tertarik ke atas tersenyum, "ternyata kakak cantik juga, ya... Jika tidak menggenakan kaca mata." Perkataan spontan Asoka tentu saja membuat pipi Asaki jadi merona. "Dan rambut kakak yang tergerai itu, membuat kakak terlihat manis. Aku jadi ingin--" Asoka sengaja menggantung kalimatnya sembari melemparkan tatapan menggoda.
"Kau ingin a-pa?" Nada Asaki menjadi gugup, ia benar-benar salah tingkah sekarang.
Tanpa mengatakan apapun, Asoka perlahan mendekat. Asaki mencoba menghindar dengan memundurkan langkahnya selangkah demi selangkah. Sampai akhirnya ia tersadar tak bisa menghindar lagi karena ada tembok yang menghalanginya di belakangnya. Sedangkan Asoka dengan cepat mengunci pergerakan Asali sebelum wanita itu berhasil menghindar.
"Kenapa kakak menghindari ku?" Asoka mengusap pipi Asaki yang polos tanpa make up dengan lembut. Ia tampak terpesona melihat kecantikan istrinya yang selama ini baru di sadarinya. "Bukankah semalam kita sudah melakukannya?"
Apa maksudnya ini? Apa Asoka menginginkannya lagi? Asaki merasa merinding melihat senyum Asoka. Pria itu terkenal playboy di kampus. Entah sudah berapa banyak gadis yang di buat patah hati olehnya. Untuk itu Asaki selalu berusaha melindungi perasaanya sendiri dari pesona pria ini. Tapi semalam?
"Asoka, sebaiknya kau cepat pergi mandi." Asaki memperlihatkan ketegasannya lagi meskipun pertahanan dirinya hampir runtuh. Ia merinding karena bibir Asoka kembali menempel di lehernya.
"Aku ingin sedikit bersenang-senang dengan istriku sendiri, memangnya tidak boleh?" Asoka memberikan sentuhan kecil di leher Asaki.
"Augh!" Asaki menjerit. Dan Asoka tersenyum dalam diam.
"Ini baru pemanasan." Bisiknya tepat di telinga Asaki, perlahan ia memberikan gigitan kecil juga di sana.
"Aduh!" Asaki kembali menjerit. Tidak tahu Semerah apa leher dan daun telinganya saat ini.
"Aku ingin mengulangnya sekali lagi boleh?"
Meski Asaki juga sudah di ambang batas antara sadar dan melayang, tapi ia memilih untuk menjaga pikirannya agar tetap waras. Mungkin ini lah waktunya untuk mengambil alih mengendalikan pria yang sulit di atur ini.
Asaki mendorong tubuh Asoka pelan, pria itu memperlihatkan wajah penuh tanya, ia tampak sedikit tidak suka karena kesenangannya terhenti.
"Jika kau ingin kita melakukannya lagi, apa kau mau mengikuti syarat yang ku berikan?" Asaki menatap lekat sepasang manik coklat milik Asoka. Dahi pria itu mengeriyit.
"Syarat apa?" Ia menatap menyelidik.
"Pertama, jangan pergi ke club' dan bolos kuliah, kedua kau harus mendapat nilai bagus pada semester kali ini. Dan terakhir--" Asaki menggantung kalimatnya, menggigit bibir bawahnya ragu.
"Katakan apa syarat yang ke tiga?" Desak Asoka tak sabar.
"Bisakah kau tidak dekat-dekat dengan lagi dengan teman wanitamu di kampus?"
Asaki tidak bermaksud mengekang kebebasan Asoka. Tapi sebagai istrinya, ia merasa berhak memberikan larangan itu padanya kan?
Asoka diam untuk beberapa saat, wajahnya tampak berpikir. "Baiklah," ujarnya akhirnya setuju, "tapi aku juga punya syarat untuk kakak." Ia gantian menatap sepasang manik bulat hitam milik Asaki.
"Apa?"
"Pertama..." Asoka memegang pipi Asaki dengan kedua tangannya, "kakak harus bisa memuaskan ku." Tiba-tiba tubuh Asaki merinding mendengar syarat pertama. "Ke-dua, aku ingin kakak yang menjadi dosen pembimbingku, dan ke tiga--" ia menjeda kalimatnya. "Aku ingin kakak juga tidak dekat-dekat lagi dengan Pak Sam, bagaimana?"
Sam adalah salah satu dosen muda yang merupakan rekan satu profesi dengan Asaki, dan kebetulan mereka juga mengajar di kampus yang sama.
"Kenapa memangnya? Kami hanya berteman?" Asaki hanya ingin tahu reaksi Asoka.
"Tapi aku tidak suka, aku tidak suka cara dia menatap kakak." Ujar Asoka jujur. Ada apa dengan pria ini? Apakah tandanya pria ini cemburu?
"Baiklah, aku setuju." Jawab Asaki singkat.
Asoka dengan cepat kembali membenamkan wajahnya ke ceruk leher Asaki, tapi Asaki buru-buru mencegahnya. "Apa lagi sekarang?" Desahnya penuh frustasi.
"Sepertinya kita juga perlu membenahi surat perjanjian awal kita. Aku takut kau keberatan jika kau harus menjauhi para gadis-gadis itu?" Sebelumnya mereka pernah membuat surat perjanjian, mereka terpaksa menikah karena permintaan dan desakan dari orang tua Asoka.
"Apa yang membuat kakak berpikir seperti itu?" Asoka malah balik bertanya.
Sebenarnya Asaki hanya tidak ingin merasa memiliki Asoka, ia hanya tidak ingin menjadi serakah dan posesif di saat ia belum tahu perasaannya yang sebenarnya pada pria itu, dan juga kekhawatirannya akan Asoka yang lebih muda darinya, yang mungkin juga belum mampu setia dan berkomitment dengan benar. Untuk itu Asaki lebih memilih bersikap tenang dan dingin selama ini. Tapi kejadian semalam seolah mengubah segalanya. Mereka telah melakukan hubungan suami istri dan melanggar perjanjian awal mereka. Dan itu membuat Asaki serba salah.
Bahkan perasaan cinta yang tidak terucap, apakah bisa di sebut cinta? Dan apakah yang terjadi semalam hanyalah sebatas khilaf dan ketertarikan semata?
Asaki tidak pernah sebergemuruh ini sebelumnya.
Bersambung