Sementara itu di cafe, Alessa menceritakan semuanya pada Maya dan Tania. Maya pun ikut senang mendengar perkataan Alessa. "Ini berubah menjadi kesempatan yang sangat baik."
Perkataan Maya pun dibalas oleh Alessa "Ini semua karena aku belajar banyak dari ibu mertuaku. Dengan begitu kita akan bisa bekerja dengan leluasa. Tidak akan ada lagi..."
"Pengawasan dari ibu mertua." Sambung Tania dengan senyum sambil mengagumi betapa pintar kakak tirinya itu.
"Oh iya, tugas apa yang kamu berikan pada Citra, Ale?" Tanya Maya penasaran. Namun Alessa hanya menjawab pertanyaan Maya dengan senyum kemenangan nya.
Yahh, Alessa adalah wanita yang lembut dan ramah kepada orang yang dicintainya, tapi kepada orang yang menyakiti nya, Alessa bisa lebih kejam daripada iblis.
Terutama Amanda yang menghiatinya, memfitnahnya, menghinanya dan berani mencoba merebut suaminya.
Saat ini di studio Alex, Amanda sedang marah-marah pada staf studio karena menggantikan nya dengan model lain.
"Ada apa ini? Kenapa kamu menggantikan ku begitu saja?" Tanya Amanda marah pada staf wanita tersebut.
Staf itu pun menjawab "Bukankah aku sudah memberitahumu agar jangan sampai terlambat?"
Amanda yang tak ingin kalah pun berdalih kalau dia hanya terlambat sebentar. Namun staf wanita itu tidak setuju dengan perkataan Amanda yang hanya telay sebentar. "Kamu sudah terlambat 30 menit, Man. Orang yang profesional itu tiba lebih awal."
"Yang paling penting, bukankah aku sudah tiba?" Ujar Amanda marah yang tak ingin digantikan dengan model lain.
"Sayang sekali Amanda. Aku sudah mencari model penggantimu." Ujar staf wanita itu dengan tegas yang membuat Amanda terdiam.
Tak lama muncullah Citra yang terlihat sangat cantik dibalik gaun cokelat yang membalut tubuh indahnya. Citra pun menyapa staf wanita itu ramah yang langsung disapa balik dengan tak kalah ramah.
Amanda pun bertanya "Apakah dia penggantiku?". Yang langsung dibenarkan oleh staf wanita tersebut sambil memuji Citra yang terlihat sangat cantik.
"Dasar tak tau malu, merebut pekerjaan orang." Hina Amanda pada Citra sambil menatapnya tajam.
"Apa itu pantas bagi dia yang berniat jahat ingin merebut kepunyaan orang lain mengatakan orang lain tak tau malu? Berpikirlah dulu sebelum bicara." Jawab Citra santai pada Amanda yang membuat Amanda panas.
Amanda yang ingin menyerang Citra langsung dihadang oleh staf wanita tersebut. Staf wanita itu pun menyuruh Citra bersiap-siap, sedangkan Amanda langsung diusir oleh satpam dari studio itu.
Sebelum Amanda diusir, tak lupa Citra berjalan dengan keren sambil tertawa mengejek Amanda yang membuat Amanda semakin kesal.
Kembali ke Cafe, Alessa baru saja mendapat telepon dari Citra kalau tugasnya berhasil.
Alessa pun tersenyum mendengar perkataan Citra, tak lupa Alessa mengucapkan terimakasih pada Citra yang sudah dianggap nya seperti adik kandungnya.
Dengan Citra yang mengambil pekerjaan Amanda berarti Amanda tidak akan bisa bekerja dalam waktu dekat ini, memikirkan itu membuat Alessa tersenyum puas.
Ricky masih membujuk ibunya untuk memenuhi permintaanya.
"Terkadang untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita harus melepaskan yang kita miliki, Bu. Pertimbangkanlah kembali, Bu. Bukankah setimpal melepaskan perusahaan Alessa dan mendapatkan keuntungan besar dari proyek Starlight?" Bujuk Ricky kembali yang membuat Tyas merubah keputusannya dan setuju dengan permintaan Ricky.
"Baiklah, tapi pemisahannya harus membuat kontrak dengan cermat. Pengacara Fachri masih berada di luar negeri untuk proyek penting selama sebulan kedepan. Kita harus menunggu nya kembali." Ujar Tyas.
Ricky pun menolak perkataan ibunya "Alessa pasti tidak akan setuju menunggu sebulan lagi, Bu."
Akhirnya Ratna pun ikut bicara "Ratna kenal kakak kelas di kampus dulu, dia juga seorang pengacara. Dia sangat hebat, serahkan saja hal ini padanya." Ujar Ratna sambil tersenyum.
Dengan bujukan putrinya itu, akhirnya Tyas setuju dengan usulan Ratna. Ratna pun merasa sangat senang karena ibunya menyetujui usulannya lalu mencium pipi ibunya itu.
Dengan setelan jas bak pengacara profesional, Galih terlihat sangat tampan dan gagah berjalan menuju Cafe dekat Group Indrawan.
Ternyata Galih adalah kakak kelas Ratna yang direkomendasikan Ratna untuk mengurus pemisahan antara Ricale Organize dan Group Indrawan.
Galih memasuki Cafe tempat Alessa, Maya dan Tania makan. Melihat Galih yang baru saja masuk membuat Alessa yang tadinya tersenyum menjadi kesal.
"Kak Galih? Apa yang kakak lakukan disini?" Tanya Alessa bingung melihat Galih berada disekitar tempat kerjanya.
Galih pun menjawab dengan bercanda "Ingin melihat-lihat saja apa Ale belum menjadi narapidana? Ternyata belum."
Alessa kesal karena Galih yang mengganggunya begitu berjumpa dengannya. "Bisakah kakak tidak menganggu ku? Ada apa kakak datang kesini?"
Galih pun menjawab kalau Galih datang kesini bukan untuk mengganggu Alessa, Galih datang karena pekerjaan. Namun Alessa tidak percaya dengan ucapan Galih "Pekerjaan? Tidak mungkin."
Tak lama kemudian terdengar suara ramah Ratna memanggil nama Galih sambil menghampiri Galih dengan senyum diwajahnya.
Ratna pun menyapa Alessa dan meminta maaf karena datang terlambat. Tak lupa Ratna memuji Galih karena tiba tepat waktu.
Galih pun membalas pujian Ratna "Tentu saja harus tepat waktu terhadap janji dengan kuasa hukum Group Indrawan." Ujar Galih sambil tersenyum yang dibalas Ratna dengan senyum nya juga.
Melihat interaksi antara keduanya membuat Alessa bertanya apakah Ratna yang mengundang Galih dan langsung dibenarkan oleh Ratna.
Ratna pun mengenalkan Galih pada Alessa, Maya dan Tania. "Kak Galih adalah Kakak kelas Ratna di kampus. Kak Galih juga pengacara yang sangat hebat dengan rasio kemenangan 100%. Jadi Ratna mengundang Kak Galih untuk membantu membuat isi kontrak pemisahan Ricale Organize dan Group Indrawan." Jelas Ratna.
"Sekarang sudah tau kan apa yang kakak lakukan disini?" Ujar Galih sambil tersenyum.
"Apa Kak Alessa kenal Kak Galih? Baguslah kalau begitu." Ujar Ratna sambil tersenyum karena sepertinya Alessa dan Galih sudah saling mengenal sebelumnya.
Namun Alessa segera berdiri lalu berkata "Aku akan mengganti orang yang menangani kontrak pemisahan ini. Banyak pengacara yang bagus diluar sana. Yang pasti bukan Tuan Galih Prasetyo." Ujar Alessa karena Alessa tidak mau bekerja sama dengan Galih.
"Takutnya tidak sempat lagi mencari pengacara baru. Lagipula aku sudah menerima komisi dari Presdir Group Indrawan untuk menangani kontrak pemisahan ini." Ujar Galih sambil tersenyum puas sedangkan Alessa mengerutkan dahinya.
Ratna pun membenarkan perkataan Galih "Ibu sudah menyetujui nya, Kak Ale."
Sementara itu didalam kantor terlihat dua satpam sedang mencoba mengusir karyawan wanita yang sedang bercinta dengan Direktur Eksekutif Group Indrawan, Rama Indrawan.
Wanita yang pakaian sudah terbuka separuh itu meronta-ronta minta dilepaskan. Terlihat Tyas dan Anjani, sekretaris pribadi Tyas serta Rama Indrawan yang sibuk mengancing celananya mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di depan pintu, wanita itu menjerit-jerit minta dilepaskan. Wanita itu pun memohon pada Rama untuk menolongnya.
Dengan nada marah dan tatapan tajamnya Tyas bertanya pada suaminya itu apa dia ingin menolong wanita itu. Namun Rama hanya diam karena takut dengan Tyas.
"Sayang, tolong aku." Ujar wanita itu yang membuat Tyas geram. Tyas pun menginstruksikan sesuatu pada Anjani.
Anjani pun mengangguk dan mendekati wanita itu. Plaakkkkk. Plaakkkkk. Plaakkkkk. Tiga tamparan keras mendarat di pipi wanita itu. Wanita itu pun berteriak kesakitan yang membuat Rama akhirnya bersuara "Cukup."
"Apanya yang cukup?" Ujar Tyas dengan murka sambil membelalakkan matanya marah yang membuat Rama takut dan terdiam.
Tyas pun menginstruksikan lagi pada Anjani yang membuat Anjani kembali menganggukkan kepalanya.
"Mulai hari ini kau bukan lagi karyawan Group Indrawan. Gaji dan biaya ganti rugi akan dibayarkan sesuai hukum." Ujar Anjani pada wanita itu.
"Akan tetapi aku disiksa secara fisik. Aku akan melaporkan nya ke polisi." Ujar wanita itu mencoba mengancam Tyas.
"Laporkan saja kalau berani. Jika sampai masuk ke daftar hitam Group Indrawan, kujamin tidak akan ada perusahaan lain yang akan mempekerjakanmu." Ujar Tyas murka yang sama sekali tidak takut dengan ancaman wanita itu.
Merasa dirinya sudah kalah wanita itu pun merubah sikapnya dan mencoba memohon pada Tyas agar tidak memecatnya karena dia masih harus membiayai keluarganya.
"Kalau hidupmu begitu susah, seharusnya kau serius bekerja. Bukannya bermain-main dengan Direktur Eksekutif Group Indrawan sekaligus suami orang." Ujar Tyas murka.
Kejadian seperti ini adalah hal yang wajar di Group Indrawan