Tamu Tak Di Undang..

1155 Kata
  Adel masih berkutat dengan acara memasak nya, wanita berhijab itu tengah menggoreng ayam yang sebelumnya telah dia ungkep dengan bumbu pelengkap, sayur capcay yang wanita itu buat sudah tersaji manis di atas piring, setelah dirasa matang Adel mengangkat ayam gorengnya dan meniriskan nya, dia pun beralih menyiap kan piring, gelas, sendok dan garpu menata nya di atas meja makan setelah nya dia mengambil capcay dan ayam goreng yang sudah dia pindah kan ke atas piring lalu menyimpan nya di atas meja makan.   Adel melihat jam dinding ternyata sudah siang dan ini sudah masuk waktu zuhur, Adel pun berjalan menuju kamarnya, wanitu itu akan menyegar kan tubuhnya setelah acara masak-masak nya tubuhnya terasa lengket. Selesai mandi dan sudah mengambil air wudhu wanita itu memakai pakaian yang rapih lalu memakai mukena dan melaksana kan kewajiban nya sebagai muslim shalat zuhur.   Di ruangan lain seorang pria tengah menggeliat kan badannya, merenggang kan otot-ototnya setelah terbangun dari tidurnya, dengan perlahan dia membuka matanya menyesuaikan penglihatan nya setelah matanya terbuka sempurna Bian melihat jam yang masih melingkar di pergelangan tangannya. "Hoaam, sudah siang ternyata" gumamnya lalu beranjak dari atas kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegar kan tubuhnya.   Selesai mandi Bian yang masih terbalut handuk putih berjalan menuju lemari dan mengambil kaos putih polos dengan celana pendek selutut berwarna mocca untuk dia pakai. Abian keluar dari kamarnya dia mengedar kan pandangannya karena terlihat begitu sepi disini menutup pintu kamarnya lalu berjalan menuju dapur, penciuman nya begitu tajam dia mencium wangi masakan, dia segera mempercepat langkah nya saat di depan meja makan ternyata aroma masakan nya dari sini, makanan sudah tersaji dengan rapih di sana, membuat perutnya menjadi semakin lapar.  "Mas, sudah bangun?" Tanya Adel tiba-tiba.   Abian mengalih kan pandangan nya pada Adel, saat menatap wajah Adel kenapa rasa nya wanita di depannya itu begitu cantik dan manis seperti ini, wajah nya begitu menenangkan juga teduh jika di pandangi, segera Abian menggeleng kan kepalanya mengeyah kan pikiran-pikiran aneh nya.  "Hm"  Adel tersenyum meskipun Bian hanya menjawab nya dengan deheman saja "Duduk Mas, kita makan" ajak Adel, seperti terhipnotis Abian pun duduk seperti apa yang di katakan Adel   Adel menyendok kan nasi ke piring Abian, lalu menyimpan ayam goreng serta capcay di piring Abian setelah nya baru dia mengisi piring nya.  "Berdoa dulu Mas" ingat Adel pada Bian saat melihat Bian akan memakan makanan nya, Bian pun berdoa seperti yang Adel katakan setelah nya baru mereka memakan makanan nya.  "Em, siapa yang belanja?" Tanya Abian disela-sela makan mereka  "Aku Mas, tadi aku ketuk pintu kamar Mas tapi kaya nya Mas tidur nyenyak jadi aku belanja sendiri ke mini market samping gedung Apartemen. Aku juga udah minta izin sama Mas tadi tap..." belum sempat Adel melanjut kan kata-kata nya sudah di potong Bian  "Nggak usah izin izin, kalau mau berangkat  berangkat aja sana!" Ketusnya  "Tapi seorang istri harus meminta izin suaminya terlebih dahulu jika dia mau berpergian Mas"  "Itu berlaku jika istri saya bukan kamu, kamu hanya istri di atas kertas saja untuk saya jadi jangan berlebihan!"  "Tap.."  "Sudah jangan banyak bicara, makan saja yang tenang"   Adel hanya bisa menarik nafasnya lalu melanjut kan makan nya, di tengah acara makan mereka terdengar suara bel berbunyi.  "Biar aku yang lihat Mas" ucap Adel lantas dia pun berdiri dari duduk nya lalu berjalan untuk membuka kan pintu.  "Hai" sapaan seorang wanita begitu pintu terbuka, untuk sesaat Adel terpaku di tempatnya sampai tersadar bahwa seharus nya dia tidak usah kaget lagi dengan kedatangan wanita di hadapannya itu.  "Waalaiakumsalam" sindir Adel  "Ups, sorry. Em boleh aku masuk, em tapi buat apa ya izin dulu sama kamu" dengan tak sopan nya Giselle nyelonong masuk kedalam sedikit menyenggol bahu Adel "Astagfirullah"  "Selamat siang sayang" ucap Giselle tepat di telinga Bian.   Abian tersenyum lalu menatap ke arah samping kiri nya. "Selamat siang juga ayang" jawab Abian lalu mereka saling melempar senyuman. Adel yang baru tiba kembali di ruang makan merasakan sakit di hatinya, walau pun Bian tidak menganggap Adel istrinya tetapi bagi Adel, Bian adalah suaminya, Adel sedikit berdehem agar mereka berdua tidak sedekat itu.  "Ekhem"   Bian dan Giselle menatap Adel yang sedang berjalan kembali menuju meja makan dan mendudukan dirinya di kursi samping Bian, mereka berdua terlihat cuek dan sepertinya tidak menghiraukan Adel  "Duduk sayang, kamu sudah makan siang belum?" Tanya Bian pada Giselle  "Belum sayang" jawab nya dengan sedikit nada manja  "Ya sudah makan siang dulu, sini duduk" ucap Bian lembut dia tidak menghiraukan keberadaan Adel, tidak memperdulikan perasaan nya pula.  "Ambilkan piring untuk Giselle" titah Bian pada Adel   "Dia bisa ambil sendiri Mas, dia bukan anak kecil kan" jawab Adel, bukan dia tidak menghormati Bian bukan dia mau menolak perintah Bian tetapi memang siapa Giselle, hanya seorang tamu tidak di undang saja 'Astagfirullah'  "Kamu berani menolak perintah suami kamu!" Ucap nya membuat Adel mau tidak mau mengambil kan piring untuk Giselle (saat seperti ini ngakuin jadi suami)   Adel pun beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju dapur mengambil piring untuk Giselle. Giselle tersenyum miring melihat Adel di perlakukan seperti itu oleh Bian.   Adel menyimpan piring di depan Giselle, lalu kembali ke kursi nya tadi  "Maaf, nasi nya jauh bisa tolong ambil kan" kata Giselle seraya menyodor kan piring pada Adel, padahal jika dia mau berdiri nasi itu akan terjangkau oleh nya, Adel mengambil nasi beserta tempat nya lalu menyimpan nya di depan Giselle.  "Kamu bisa sopan nggak sama tamu!" Ucap Bian membuat Adel mengkerut kan keningnya  "Apa susah nya ambil kan satu sendok nasi untuk Giselle" lanjutnya  "Dia masih punya tangan Mas, lagi pula aku bukan istrinya yang harus menyiap kan segala kebutuhan nya" ujar Adel  "Sudah lah sayang biarkan saja. Aku lapar suapin dong" ucap Giselle dengan mata yang melirik sekilas pada Adel lalu tersenyum miring pada nya.  "Sini aku suapin, kamu mau sama apa?" Tanya Bian begitu lembut berbeda sekali jika dia sedang dengan Adel tidak ada kelembutan sama sekali   Kenapa udara disini menjadi panas bagi Adel, hatinya begitu sakit melihat suaminya berkata lembut dan penuh perhatian untuk wanita lain, dan yang lebih menyakitkan nya adalah kenapa kepada dirinya Bian selalu dingin dan tidak ada kelembutan di setiap ucapan pria itu untuk dirinya, berlama-lama disini hanya akan membuat Adel tidak sehat dia memutus kan untuk masuk ke dalam kamarnya dengan mata yang mulai memanas.  Adel beranjak dari duduk nya pergi meninggalkan Abian dan Giselle di ruang makan, Bian hanya melirik nya sekilas tidak perduli jika Adel akan terluka justru itu yang dia ingin kan Adel terluka dan tidak tahan dengan nya lalu pergi meninggalkan nya, dan mengakhiri pernikahan ini. Giselle bersorak senang di hatinya melihat Adel yang seperti nya terluka.   Didalam kamar Adel mendudukan dirinya di pinggiran kasur dengan air mata yang sudah menetes keluar, sesak sekali dadanya rasa nya seperti terhimpit, wanita itu memjamkan matanya memeras sprai sambil terisak.  "Ya Allah, berikan selalu kesabaran kepada hamba, sadarkan lah suami hamba tunjukanlah jalan yang lurus kepadanya. Hanya Engkau yang bisa membolak balikan hati manusia" doa nya kepada Sang Pencipta  di sela isakan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN