Seorang pria sudah rapih dengan setelan kemeja panjang berwarna putih, di padukan dengan jas navy dan celana bahan senada, dia sudah siap akan kembali ke kantor, kembali kepada aktifitas nya setelah satu minggu dia harus cuti pernikahan nya, pada umum nya setelah menikah selama cuti pasangan pengantin baru akan menikmati nya dengan ber honeymoon menghabis kan waktu berdua saja, tapi tidak dengan Abian dia menolak untuk honeymoon dia beralibi jika istrinya masih dalam tahap berkambung karena sang Ayah yang meninggal dunia, jadi dia memutus kan nanti saja dia akan membuat jadwal lagi untuk nya honeymoon.
Bian keluar dari kamarnya dia akan langsung berangkat ke kantor saja biar nanti dia sarapan di kantor, tetapi saat dia keluar kamar dan berjalan dia mencium aroma yang membuat perutnya merasa keroncongan, pria itu pun berjalan menuju meja makan ternyata disana sudah ada istrinya Adel yang tengah menyiap kan sarapan, Bian menghampiri Adel di sana, Adel yang menyadari kehadiran Bian lantas berucap kepada sang suami.
"Mas, sudah rapih, ayo kita sarapan dulu" ucapnya begitu lembut dan satu lagi Bian merasa ada yang aneh dengan istrinya ini, dia begitu rapih dengan rok plisket hitam dan kaos polos berwarna putih yang di masukan ke dalam rok lalu memakai blezer berwarna senada dengan rok, dan tidak lupa hijab berwarna hitam melekat di kepalanya juga sedikit riasan di wajahnya yang membuat Adel begitu sangat cantik.
"Ekhem, ma-mau kemana kamu?" Tanya Bian sedikit ragu.
"Aku mau ke caffe Mas, cuti aku juga sudah habis kasian Putri handle cafe sendirian, aku izin ya Mas untuk ke cafe?" Jawab dan tanyaAdel dengan seulas senyum, karena suaminya mulai sedikit perhatian kepada nya. Menurut nya.
"Sudah saya bilang tidak perlu izin sama saya kalau kamu mau melakukan apapun, itu terserah kamu" jelas nya, pria itu pun mendudukan dirinya di atas kursi
Adel menghela nafasnya lalu menyendokan nasi goreng ke piring Bian setelah nya dia mengisi piringnya, mereka makan dengan hening tanpa ada yang mau berbicara. Sepertinya Bian sudah selesai dengan sarapan nya dia beranjak dari duduk nya lantas berjalan sampai suara Adel menghentikan langkahnya.
"Mas" panggil Adel, lalu dia pun berdiri dan menghampiri Bian dengan membawa dan menyerahkan nya kepada Abian.
Bian menghenti kan langkah nya lalu menengok malas ke arah Adel "Apa!" Jawabnya ketus
"Ini bekal buat kamu makan siang" ucap Adel seraya menyodorkan paperbag kepada suaminya.
Abian menyatukan alisnya "Saya bukan anak TK yang harus bawa bekal"
"Tetap harus dibawa Mas" Adel memaksa Bian membawa nya lalu menyerahkan nya dengan paksa di tangan Bian dengan seulas senyum dan menarik tangan kanan suaminya lalu menyalimi punggung tangan Bian.
"Hati-hati ya Mas" ucapnya
Bian menatap Adel dengan tatapan yang sulit di artikan, diapun segera melangkah kan kakinya keluar Apartemen, meninggalkan Adel yang tengah tersenyum kepadanya. Setelah Bian benar-benar tidak terlihat lagi Adel pun kembali ke meja makan merapihkan sisa-sisa makannya dengan Bian, mencuci piring kotor lalu dia pun berjalan ke dalam kamarnya mengambil tas jinjing nya.
Adel berjalan keluar mencari taksi untuk nya, mobilnya masih dia simpan di cafenya belum sempat dia mengambil nya. Setelah hampir dua puluh lima menit di perjalanan Adel pun sampai di depan cafe milik alm Ayahnya dan sekarang dia yang menerus kan usaha sang Ayah. Wanita dengan pashmina hitam itu keluar dari taksi dan berjalan menuju cafe, security yang melihat kedatangan Adel pun menyapa nya dengan badan yang sedikit membungkuk.
"Selamat Pagi Ibu Adel" Sapa security cafe Adel, Adel tersenyum ramah kepada security itu.
"Selamat Pagi Pak Slamet"
Wanita itu pun melanjutkan langkah nya, saat memasuki cafe Adel teringat akan alm Ayahnya semua suasana cafe ini mengingatkan nya pada sosok sang Ayah, Adel menghelakan nafasnya mencoba mengusir segala pikiran yang akan membuat nya mengingat sang Ayah dan berakhir dengan tetesan air mata, Adel melanjutkan langkah nya menuju ruangannya di lantai dua, beberapa karyawan yang melihat nya membungkukan badannya memberi hormat kepada sang pemilik cafe.
Begitu sampai di ruangan nya, Adel mendudu kan dirinya di atas kursi yang dulu sering Ayahnya duduki dan sekarang dia yang harus melanjutkan nya, satu helaan nafas keluar lagi dari bibir Adel. Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan nya
Ceklek
"Good morning aten baru" sapa seorang wanita dengan suara cemprengnya, Adel sudah sangat mengenali suara itu.
"Pagii, Ibu Wakil" jawab Adel dengan candaan, Putri pun berlari dan berhambur memeluk sahabatnya ini
"Aaah gue rindu banget sama lo Del" ucap Putri masih dengan memeluk Adel lalu menggoyang-goyangkan badan nya
"Gue juga kangen banget sama lo Put" Putri melerai pelukan nya lalu kembali berdiri tegap
"Ehem, ciee, ciee gimana nih pengatin baru malem pertama nya, sukses nggak?" Tanya Putri sekaligus menggoda Adel dengan telunjuk yang dia colek colekan pada dagu Adel.
"Apaan si, anak gadis jangan kepo ya nanti ke pengen repot deh gue"
"Ah nggak asik lu mah"
"Udah ah nggak usah bahas yang kaya gitu, sekarang gue mau tau gimana cafe seminggu belakang ini?" Tanya Adel mengalih kan pembicaraan, karena dia tidak ingin membahas rumah tangga nya yang dia sendiri tidak mengerti harus bagaimana menjalani nya.
"Hmm iya Bu Bos" sahut Putri, membuat Adel terkekeh sendiri melihat sahabatnya yang seperti nya kesal.
"O iya, kemarin ada tuh hari Rabu deh kalau nggak salah, ada yang nyariin lo" ujar Putri pada Adel seraya membuka beberapa map yang berisikan kertas kertas perihal cafe lalu menyerahkan map itu kepada Adel.
Adel sedikit mengkerut kan keningnya "Cariin gue? Siapa? Cowok atau cewek? Mau ngapain katanya?" Cerca Adel.
"Lo mau jadi wartawan Del, semua pertanyaan lo borong!" sahut Putri
Adel pun hanya tersenyum lebar menunjukan deretan giginya yang rapih
"Iya cari lo, gue gak tau siapa, cowok, dan gue juga nggak tau mau ngapain dan sebelum lo nanya gua jawab duluan ya, pas gue mau tanyain namanya dia malah pergi gitu aja jadi gue nggak tau tuh siapa cowok itu dan dari mana asal nya juga gue nggak tau!"
Adel menarik nafas dan membuang nya kasar, penasaran dengan siapa yang mecarinya apa dia mengenal nya atau mungkin "Eh tunggu Put, bukan mau nagih hutang kan?" Panik Adel
Putri memicing kan matanya menatap jengah sahabatnya "Kalau dia mau nagih hutang bisa ke gue langsung kan cantik ih gemes deh!"
"Ya kan siapa tau aja dia mau nagih hutang gitu"
"Udahlah, kalau dia masih nyari lo nanti juga kesini lagi orang nya, sekarang cek deh tuh berkas-berkas cafe, takut ada salah salah atau nggak sesuai"
Adel pun menghela nafasnya "Siap sistur" kekehnya.