About Rendi

1202 Kata
Saat Abel sedang menjamu teman-teman sekelas yang tengah menjenguknya sepulang dari RS tadi, bunda menelphon ayah dan memberi kabar tentang Abel. "Assalamualaikum ayah." "Wa'alaikumsalam iya bun." "Bunda mau ngabarin Abel kecelakaan disekolah." "Lhoo kok bisa bun, trus gimana keadaannya, Abel gak papa kan.??" "Enggak kenapa-kenapa kok Alhamdulillah cuma luka-luka dan sedikit syok kata dokter." "Kecelakaan nya gimana bun, setahu ayah abel tadi langsung masuk sekolah." "Iyaa katanya dia keserempet mobil yang mau keluar dari sekolahnya, pas Abelnya mau masuk kedalam." "Owalah yasudah bun, nanti ayah pulang cepet yah, ayah belikan kue kesukaan Abel." "Iya ayah, Wassalamualaikum." "Wa'alaikumsalam warrohmaah." * * Pov Rendi Hari ini gue bangun kesiangan alamat gue masuk agak telat sedikit. Saat gue keluar dari parkiran motor, gue lihat seorang gadis yang sedang lari tergesa-gesa, gue melihatnya geli dia kelihatan lucu. Namun dari sudut mata gue lihat 1meter dari gerbang sekolah ada mobil yang akan keluar, dan bisa dipastikan tak akan terlihat oleh dia. Ciiiittt. Braak...brukkk "Aaahhhhhh" Gue mendengar dia berteriak, gue yang sudah berlari menghampirinya sudah melihat dia dalam posisi terjatuh. "Aduhhh maaf yah pak saya nggak lihat, saya terburu-buru tadi." ucapnya pada orang yang menabraknya. "Mbaknya gapapa kan, Aduhh berdarah semua itu tangan sama kakinya." Gue yang mendengar ucapan gadis itu, terperangah gak percaya. Bisa-bisanya dia tak terpengaruh saat kondisinya yang tengah terluka. Jika kebanyakan cewek sudah menangis jejeritan, namun dia sangat berbeda. Gue lihat dia sedikit merintih kesakitan memaksa untuk berdiri. "Hemmb, gak papa kok pak hanya lecet sedikit, Maaf yah pak mobilnya enggak lecet kan." "Ya ampun mbak, yang harus dikhawatirkan itu mbaknya ini ayo saya antar ke UKS." ucap pak satpam. "Ehh Abel kamu kenapa" Kataku padanya. Dia menoleh namun detik berikutnya tubuhnya merosot kebawah. "Ehhh ya ampun mas Rendi tolong ini panggilkan petugas UKS." ucap pak satpam. "Biar saya yang bawa pak." "Iyaa yasudah makasih ya mas, hati-hati." sahut pak Abdul yang menabraknya. "Sini biar saya bantu bawa tasnya mas." celetuk pak satpam. "Okay pak." Gue gendong Abel dengan bridal style, gue lihat banyak temen gue sekelas yang menyaksikan kejadian ini. Mampus gue, masalah lagi buat Karina. Gue urus Abel dulu, batin gue. Setibanya di UKS Abel segera gue tidurkan dan ditangani oleh petugas UKS. "Terima kasih yah kak udah membantu bisa ditinggal saja biar kami yang menangani." ucap petugas UKS. "Ehhmm iyaa aku titip yah." "Ini kenapa Abel tiba-tiba pingsan dan luka-luka kak." tanya salah satu petugas UKS. "Ituu mbak tadi mbaknya gak sengaja keserempet mobil." jawab pak satpam. "Astaga, yasudah iya pak terima kasih yah pak satpam, ehm kak Rendi." Ya, gadis itu adalah Abel. Adik kelas yang akhir-akhir ini selalu diganggu oleh Karina karena disangkutkan dengan gue. Gue sadari gue jatuh pada kharisma gadis itu, namun gue juga sadar semakin gue mendekat pada dia semakin Karina bertindak gak wajar pada Abel. Saat gue masuk kedalam kelas gue kebetulan guru mapel jam pertama sudah masuk. "Permisi bu maaf saya masuk telat baru ngantar siswi yang jatuh didepan sekolah ke UKS." "Ohh iya Rendi silahkan, Abel yah ini saya juga dapt pesan dari petugas UKS, terima kasih yah." Gue mengangguk dan berarah ke tempat duduk gue. "Waspada bro gue liat Karina mengancam nyamperin Abel gara-gara ada yang laporan." sahabat gue Daffa yang bersuara. Gue sebenarnya gak terkejut dengan ucapan Daffa, namun gue harus berusaha untuk mencegah hal yang buruk pada Abel akibat ulah Karina. Kurang lebih satu jam pelajaran gue lihat bu Windy yang sedang mengajarku dikelas tengah menerima telp. "Tunggu Perawat dulu yah, kalau tidak membaik langsung datangi saya di kelas XI IPA 2." Ucapnya dalam telp, gue mengira itu dari petugas UKS yang menangani Abel. "Emang parah yah Ren, si Abel sampai bu Windy sibuk banget ngurusinnya." Kata Daffa pada gue, memang posisi duduk gue dan Daffa tak jauh dari meja guru. "Banyak lukanya, terakhir gue lihat dia belum sadarkan diri, gue lihat sendiri tepat dia tertabrak, kepalanya bentur kap mobil." jawab gue "Astaga." balas Daffa setelahnya dia larut dalam pemikirannya sendiri. Saat gue sibuk fokus dalam pembelajaran dikelas, Karina berdiri dan ijin ke Toilet. Gue enggak curiga karena mungkin dia memang benar-benar ke toilet, namun sekitar beberapa menit setelahnya gue lihat bu windy dijemput siswi yang gue lihat sepertinya petugas UKS. "Ibu, Abel muntah-muntah dan perawat sudah pergi."Katanya histeris "Tolong anak-anak selesaikan dulu tugasnya ibu tinggal sebentar, jika saya tidak kembali tolong Rendi ketua kelas koordinir temanya ya." ucap bu Windy pada kami lalu beliau keluar dari kelas kami. Gue melempar pandangan pada Daffa, dia seolah paham dengan pemikiran gue. "Cewek sialann, baju gue jadi kotor mana bau lagi. ahhhkkk." Teriak Karina begitu memasuki kelas. Gue beranjak dari kursi gue menujunya. "Loe apain Abel Rin." "A..A.apa maksud kamu Ren" "Gak usah belagak begok loe, gue selama ini diam enggak berbuat apa-apa saat elo ngelakuin hal yang gak pantas ke Abel karena apa, karena gue malu Rin, malu banget gue." "Gue gak ngerti maksud kamu Ren." "you got missed understandings Rin, gue bahkan gak pernah nyalahin elo saat elo berbuat jahat ke Abel. she's not doing what you think about it. Ini semua hanya sekedar kebetulan bukan kesengajaan Abel, dia enggak pernah mencari perhatian gue, tapi kenapa elo selalu bilang dia..dia.dia yang salah. Otak loe dimana Karin sehingga loe gak bisa mikir. Dia bahkan enggak ngerebut gue dari elo, karena gue bukan pacar elo seperti yang selama ini elo bilang-bilang ke semuanya kan. Elo sahabat gue, gue sayang karena gue nyaman berada diposisi saat ini, tapi semua berubah semenjak kecemburuan elo yang enggak jelas kepada Abel." jelas gue panjang kepada Karina. "Elo cu..cuuma anggap gue sahabat Ren, tapi gue ingin anggap elo lebih." ucapnya yang sudah mulai terisak. "Whatever Rin, perasaan gue sayang elo sebagai seorang sahabat sejak kecil." "Iyaaaa, dan ini semua karena cewek itu kan, karena dia elo mulai suka dengannya, karena dia elo gak punya waktu bersama gue." teriaknya mulai histeris. "Cukupp,.." Ucapan gue terpotong saat gue melihat bu Windy tengah menyusuri lorong sekolah dengan diikuti beberapa murid termasuk Abel yang dalam gendongan BG kapten basket kelasnya. Suasana kelas gue sudah gemuruh dan kacau semenjak kedatangan Karina, bertambah dengan kejadian dimana bu Windy yang melewati kelas gue. "Loe lihat Rin, sampai ada apa-apa sama anak orang gimana, gue liat sendiri dia tertabrak mobil. Ini bukan lelucon sampai membahayakan nyawa Karin, please gunain otak loe." "Ta.ta.pi gue gak sengaja Ren, gue cuma." "Elo cuma nurutin emosi tanpa mikir pake otak, elo dengerin berita dari orang yang enggak tau kebenarannya. elo bukan mahkluk purba yang terlihat bodoh sehingga elo termakan omongan orang tanpa melihat sisi kebenarannya. Ini adalah terakhir kalinya kamu bermasalah sama Abel Rin, gue mohon banget." kata gue lalu meninggalkan kelas menuju ke halaman belakang. Gue ingin mendinginkan pikiran dan hati gue. Terasa sesak hati gue dengan kelakuan Karina layak orang gak beradab. Setidaknya sudah kujelaskan pada Karina dan semoga dengan kejadian ini dia bisa berfikir dan memahami setiap kata-kataku. Sampai gue pulang sekolah belom terdengar berita dari Abel, bahkan Daffa pun belum dapat mengorek informasi dari bu Windy. Harapan gue hanya Karina mengakhiri kebodohannya dengan menyakiti Abel yang enggak punya kesalah sama sekali. Semua murni kecemburuan butanya saja, dia terobsesi padaku sehingga melakukan hal yang tidak baik. * * Berbaik hatilah pada sesama, jangan pernah melakukan buruk sangka. Bahkan negative thinking bisa membuat keaadan menjadi Rumit. Rendino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN