Stronger

1222 Kata
Jangan pernah lengah, jangan pernah putus asa. Yang lalu tetap akan menjadi Debu yang berlalu. ===== Dalam perjalanan mengantar Abel, BG dan Vina tak terlibat obrolan apa pun, yang pastinya BG menunggu waktu yang tepat untuk menginterogasi temannya itu. Jarak dari Rumah sakit ke rumah Abel cukup dekat tak memerlukan waktu lama. Meskipun demikian lantas tak membuat BG mengendarai dengan kecepatan normal, justru dia mengendarai cukup pelan. "ehmm Gas untung loe bawa mobil yahh, jarang-jarang loe bawa." ceplos Vina memecah suasana. "Ehh enggak mobil si Kevin nihh, gue bawa motor nanti dibawa anak-anak ke rumah Abel." "Owwh, Ehh itu bukan si Airin ank kelas X-2." tanya Vina saat masuk kompleks rumah Abel. "Hemm, cuma beda gang sama Abel mungkin dia mau ke rumah Abel." "Tuhh cat Biru rumah Abel."Tunjuk BG Setibanya di depan rumah Abel nampak bunda Abel tengah berbincang dengan Airin, terlihat wajah terkejutnya dengan kedatangan mobil BG. "Siang tante, saya mau antar Abel." sapa BG "Aduhh nak iyaa makasih mari masuk." jawab bunda Abel. Tanpa pikir panjang BG langsung menggendong Abel karena dia masih terlelap. "Sebentar tidurkan dikamar bawah aja yah nak, kalau keatas kasihan kamu." lanjutnya. BG mengangguk pasrah. "Gas ini Abel gapapa kan ko merem terus dia."tanya Airin "Gak papa kok efek obat sebelum keluar RS tadi Airin." jawab Vina. "Owhh gitu yah nak, sebentar bunda ambil minum dulu yah titip Abel." sela bunda Abel. Selepas menghilangnya bunda Abel menuju dapur, giliran BG yang meminta penjelasan pada Vina. "Jadi Vin coba cerita runtut kejadian ini setau loe, sampek kejadian akhirnya Abel dibawa ke RS." ucap BG lirih. "hemmmmpp." Vina menghela nafas kasar. "Tadi kak Rendi sama pak satpam bawa Abel ke UKS dengan kondisi penuh luka, katanya gak sengaja tertabrak mobil salah satu guru kita karena Abel yang tergesa-gesa gak liat sekitar, terus masalah yang akhirnya dibawa ke RS gara-gara... Kak Karina ngelabrak Abel yang baru saja tertidur efek obat, Abel syok trus muntah-muntah trus kita lapor bu Windy takut Abel kenapa-kenapa." "Emang udah gak waras deh si Karina." ceplos BG. "Tapi kena karma dia." "Hah maksud lho." "Iyaa, kan tadi Abel muntah trus muntahnya kena dibaju Karina dong. buahahah, ehhh Ups." ucap Vina kelepasan. "Aduhh seru babget ceritanya, nihh minum dulu, sama dimakan cemilannya yah, ehh ini bener yang namanya nak Bagas kan." sahut Bunda. "Ehh,.ehm iy-iya bun." "Iyaa makasih ya nak sudah bantuin Abel, pakek nganterin kerumah juga." "Gapapa bun enggak ngerepotin kok." "Ekhemmm..ekhemm.."Goda Airin membuat BG salting. "Assalamualaikum warrohmaahhh." teriakan menggema dari luar rumah, bahkan Abel langsung membuka matanya. "Ehh..ehh yahh jadi bangun, kelakuan anak-anak inihh, ehh Bell tiduran yah jangan bangun dulu." cegah Vina. Abel mengangguk lemah, kemudian menatap Airin dan BG sendu. "Biar bunda yang liat." "Gue ikut samperin biar gak bikin huru hara mereka." potong Airin. "Ehh gue ikut Ai." kejar Vina Sementara itu tinggal Abel dan BG yang tersisa. "Masih pusing, atau ada yang gak nyaman." "Sedikit."kata Abel sambil berkaca-kaca "Yaudah buat merem ajah, atau kamu mau apa." Abel menggeleng kemudian detik berikutnya dia merintih kesakitan saat dia menggeser badanya. "Awsssshh.." "Abel mau apa, pengen duduk, sini aku bantuin." Setelahnya BG membantu merubah posisi setengah duduk pada ranjangnya. "makasih yah BG." "Iyaahh, buat kamu apa sing yang enggak." ceplos BG membuat senyum Abel merekah. "Tok.tok, maaf mengganggu sebentar." Abel dan BG menoleh kearah asal suara sudah pada berjubel di depan pintu. "Sini masuk antri biar gak desakan."ucap BG pada mereka. "Gimana Bell, enakan nggak."tanya Dekka "Udah kok guys, makasih udah khawatirin aku. "Ngomong apa kayak gitu ihh." potong BG.. "sapa yang gak khawatir cobak benyek gini." seloroh Metta "Hayuuk silahkan diminum, sebentar lagi maem yah sama-sama."Potong bunda "Waduh jadi repotin nihh tante."ucap Kevin "Ahh enggak kok, sering main kesini biar rumah Abel rame kayak gini. "Oww siyap bun" "Kelas aman kan." "yoii ma bro rebes." ceplos Riki. "Tadi kenapa kok bisa keserempet ayuk cerita."Tanya bunda. "Iyaa tadi kan ayah mampir Pom bensin bun, antrian panjang jadi nyampek sekolah udah jam 7 lewat. Trus Abel pas lari masuk gerbang gak lihat kalau ada mobil mau keluar." "Nahh untung aja mobilnya jalan pelan coba kalau kencengan dikit." "Yah tambah benyek2 bun, gini aja udah banyak lukanya."sahut Metta. Sang BG hanyak menyorot tajam padanya. "Bisa-bisanya ngomong gitu loe Mett, ya kalau bisa kan jangan sampai lecet tuh aset bangsa."jawab Kevin. "Sudah-sudah kok jadi ribut, hayuk diminum dulu ini, Bunda tinggal ke belakang kalau butuh apa-apa panggil mbok Yem aja Bell."potong bunda Abel "iyaa Bunda." * * Sepeninggalan bunda Abel yang ditinggal bersama seluruh temannya pun mendengarkan banyak cerita dari temannya. "Besok-besok kalau ada Rendi hindarin aja kalau perlu gak usah berurusan yah Bell, pawangnya gilak."celetuk Metta "Lah emangnya aku apa mau dekat-dekat kan enggak Mett, semuanya serba ke-be-tul-an." ucap abel menekan kalimatnya. Dekka yang sudah sebal dengan lambe Metta pun menjatuhkan jitakan kepadanya. "Loe tuh yahh lambenya turah banget, loe kira Abel apaan." "Galak banget sihh mau PMS yah Dekk, yah kan gue cuma saranin." "Tanpa loe saranin Abel udah mikir begok."ketus Airin "Lagian noh Abel kayak kagak laku aja nyamperin laki orang." sahut Vina ketus sambil nunjukin ke arah BG. "Ehh ada den Bagas maaf khilaff." ucap Metta. Abel memberi kode pada Airin untuk mendekat ke arahnya. "Ajak anak-anak ke ruang tamu aja, aku pengen ganti baju."bisik Abel. "Astagaaa iya lupa Bell, loe risih yahh."teriak Airin spontan. "Apaan Ai." tanya Dekka "Ini Abel pengen ganti baju, yuk guys ke depan dulu nanti ngobrol di ruang tamu aja kali yah, biar ga berjubel dimari." jawab Airin. "Sini biar aku yang bantu Abel." celetuk Kevin. "Mau gue bogem loe Vin." sahut Metta "Ya elah maksud gue tuh gue bantu ke kamar mandi nanti ganti bajunya sama BG, ehh sama Pina." jawab Kevin Sang BG hanya melihat dengan raut wajah ingin murka pada Kevin. "Ampun boss jangan melotot gitu canda doang ini." lanjut Kevin melihat tatapan mata BG. "Dahh sana buru keluar." BG dan Abel terlihat saling kontak mata, Abel mengangguk seperti mengkode BG dia baik-baik saja. Setelah membersihkan badan Abel menyusul para temannya yang sedang menyantap makanan yang sudah bundanya siapkan. "Bell maem dulu nak, badannya biar gak lemes." "Gue suapin yah Bell." sahut Airin. "Aku bisa makan sendiri Ai, yuk makan sama-sama." "Yaudahh biar gue ambilin." Abel dan teman-teman nya tengah menghabiskan waktu bersama-sama. Setelah menyelesaikan makan siang, saling bercanda bahkan sampai menjaili seperti yang dilakukan oleh biang reseknya kalau tidak Kevin atau Metta. Memang partner sejati mereka berdua entah berjodoh atau bagaimana author juga enggak tahu. "Betah gue disini, nginep aja yah Bell."celetuk Kevin "Yee gak tau diuntung loe." "Gue bogem loe Vin" "Enak aja sapa elo." "Emang sapa elo vin mau tidur disini." "Awas di dor sama bokap Abel aja loe." Begitulah sahutan dari para teman2nya, sedangkan BG manyun tak bersuara. "Kenapa diam saja, ada sesuatu." tanya Abel padanya. "Hemm, pengen gue bogem tuh mulut Kevin."jawab BG "Yaampun ternyata lagi jaim, buahahhh." pecah tawa Abel dan para sahabat2nya. "Kevin jahilnya enggak ketulungan, habis loe entar sama Bagas." ceplos Airin. "Emang Kevin raja jail kok."lanjut Abel. "Terus ceria gini yah, gak boleh terlalu stres biar gak sering pusing.,"sahut BG "Iyaa, emangnya kemarin-kemarin gak ceria, kalau masalah disekolah aku enggak pernah mikirin sampai bikin aku lupa diri."balas Abel "Karena Abel orangnya suka positive thingking, dia kuat seperti baja." potong Airin "Loe kira Abel gatotkaca sekuat Baja." celetuk Kevin. Sontak membuat semuanya tertawa. Mereka terus ngobrol dan bercanda sampai sore hari dan kembali kerumah masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN