Cerita Dekka

1389 Kata
Jadi perisai bagi sahabat itu bukan keharusan, namun kesadaran. Dekka Rastina ====== Saat ini gue lagi menunggu kedatangan dari Riki yang akan menjemput, semalam dia menghubungi gue setelah gue dapat info dari Abel. Flashback On. CEWCAN MUTSSS @Abella Guyss besok sapa yang mau ikut. @CindyJes Kemana Bell...?? @DekkaRas pantau (1) @Mettana pantau (2) @Abella pantau (3) @CindyJes Lha gimana jadinya loe yang ngajak malah kang pantau @Abella @Abella Buahahahahha Habisnya pada berhitung sihhh @Mettana kenak loe @DekkaRas marahin aja deh @Abella si Dekka ikhlas gue maaahh @DekkaRas Yashhh kompor mleduk lu @Mettana lhaa terus jadinya gimana sih @Abella jelasin lahhh.. @Arabella Yahh menindak lanjuti obrolan jalan sma Team BG besok aku dijemput @Mettana ikutttt @DekkaRas me tooo @CindyJes Gu bisa tapi gak sampek sore yahh Janji nganter ma2. @Abella Okayy dehh jam berapa Jam 9 mauuu @DekkaRas Bisaa banget @Mettana Bisaa banget (2) @CindyJes Me tooo see u tomorrow @Abella Ok see u too Q kabarin BG dulu yah biar dia koor sama cow2. Babay girls °°°•••... Tak lama setelah Abel menghubungi gue, ada chat dari Riki kalau besok dia akan menjemput pukul 9 pagi. Gue bilang okay pada Riki, gue tau kalau dia orang yang ontime. °°•••... Flashback Off °°°•••... Akhirnya pukul 9 kurang 10 menit Riki sampai dirumah gue, dan untung gue udah siap sedari 5 menit yang lalu. Gue pamitan pada orang tua gue dan segera berangkat menuju tempat berkumpul. Selama perjalanan gue dan Riki sering ngobrol, karena gue pikir Riki orangnya yang humble gampang akrab. Selain kita sekelas namun Riki memang sejak awal orangnya baik. Gue bahkan ingat pertama kalinya kita pergi jalan-jalan bareng gue selalu diboncengannya. Trus inget banget diperjalanan kita selalu ngobrolin sesuatu, yang pasti tidak ghibahin orang yah. Dan saat itu dia bilang. "Dekk kalau gue boncengin elo kayak gini apa gak ada yang marah nih" tanyanya saat itu. "Emmmm ada sihh,." jawab gue setengah menggoda. "Ehh yang bener loe Dekk trus gimana dong." "iyaaa yang bakalan marah ortu gue lahh, secara loe gak ijin main bawa anaknya aja.."ucap gue sambil terbahak melihat dia sedikit kesal. "Lhaaa emang anak onta loe Dekk, maksud gue tuh kayak pacar atau gebetan loe bukannnya ortu loe, urusan ijin kan ya elo aja ngapa jadi gue yang minta ijin, kan gak enak kecuali kalau ijin mau bawa KUA mahh emang kudu gue.Buahahhah." Jawab nya balas menggoda gue. "Lha gue bukan anak onta gue anak bapak ibu gue, sapiiii. Gue gak punya pacar karena emang gue gak boleh pacaran lebih nyaman gini temenan kan." balas gue. * * Semenjak saat itu gue sama Riki memang selalu ngobrol dan obrolan kami yahh memang nyambung, selain Riki pintar cari bahasan juga kita gak ada saling canggung lagi. Kita juga jadi sering bersama semenjak Abel dekat dengan BG. All about Abel dan BG kita juga sudah terbiasa dengan para sahabat BG dan kegilaannya. Pada dasarnya kami semua sefrekuensi sih kalau gue lihat. Misal Metta yang bocor tukang usil, ternyata di link sahabat BG juga ada yang kayak Metta. si Kevin tentunya, trus ada gue sama Riki yang menjadi sisi penyejuk suasana. Lalu Cindy dan Wira, kurang lebihnya mereka hampir sama. Jadi gue segank klop sama sahabat BG, jadi bagaimanapun yang terjadi sama Abel dan BG gue support system untuk kedua sahabat gue. * * "Ini kita bakal ketemuan dimana Rik sama anak-anak." tanya gue pada Riki "BG kode in kita di Taman kota dulu, rembukan dulu biar enak. Biar sejalan sama yang lain gitu pesan Abel kata BG."jawab nya "Bener juga loe tau kan si Metta kalau gak cocok suka rewel, kalau gak diajak ngambek kan repot." "Buahhhahhh, emang Metta tuh ajaib kalau marah bisa ngacak-ngacak pekarangan orang." ucapnya membuat kita berdua saling terbahak. "Hahahahha, loe kira Metta kucing garong apa main ngacakin pekarangan orang, iseng loe yahh.." "Lha sobat loe tuh sama kayak si Kevin, Usil, ngeselin tukang ngajak ribut. Lhaa loe inget aja tiap ketemu Metta pasti kompak kan cocok banget mereka berdua." ucapnya, gue pun mengangguk setuju dengan ucapan Riki barusan. * * Setibanya di parkiran Taman kota, gue lihat Abel dan BG baru memasuki lahan parkir. Gue berlari menujunya yang bahkan belum sempat melepas helmnya. Gak tahan pengen meluk gadis cantik yang sudah hampir 6 bulan jadi tempat curhat dan keluh kesah sesamanya. Dan selama liburan ini kita tidak bisa bertemu rasanya rindu tak tertahan. Greppp grepp greppp Gue rengkuh dia, Nyamannn dan disamping gue ternyata sudah ada dua sahabat gue yang lainnya juga berhambur memeluk. Kita berempat sudah kayak Tinki winki, dipsy, lala pooh. Selepas itu kita berembuk menentukan tujuan kita selanjutnya. * ~ * Setelah 3 jam didalam bioskop dan selama itu pula gue selalu bersama dengan ketiga sahabat gue, demi melepas kerinduan kita. Sorry BG gue sabotase dulu Abelnya. Kemudian kita mencari makan siang di dalam mall karena tujuan selanjutnya main-main sebentar di arena permainan. Diarena permainan kita berempat mencari game yang menghasilkan tiket banyak, nanti rencananya akan ditukarkan dengan hadiah yang menarik-menarik, gue perhatikan BG dan sahabatnya juga sibuk dengan game pilihan masing-masing. Saat ditengah lagi fokus main Ball in Hole tiba-tiba gue lihat BG datang dan menghampiri Abel mengajaknya menuju salah satu wahana. Gue sih fine aja, namun gue lihat ada gurat kecewa pada Metta. Entah cemburu atau emang dia masih ingin berkumpul dengan kami berempat, gue berharap sihh semoga Metta hanya kecewa tiba-tiba BG mengambil Abel kami. Gue tanya Metta guna memastikan apa yang gue pikirkan tidak terjadi. "Napa loe Mett." "Hehh, engg nggak papa ko Dekk." ucapnya "Lahh gak kenapa tapi elo cemberut, loe gak lagi cemburu sama mereka kan." "Hahhh, maksud elo apaan Dekk, yahh enggak lah."jawabnya tanpa ada keraguan namun sedikit tertahan. "Yahh terus kenapa Mett, bilang sama gue. Biar gue tau elo gak nyaman kayak gini ada apa." "Engg, kayaknya gue mau dapet.. iyaa, kayaknya gitu soalnya perut gue agak melilit." balasnya sepertinya dia tidak ingin membuat gue khawatir, maka gue hentikan rasa penasaran gue daripada bikin runyam. "Yaudahh yuk kesana, pengen nyoba juga gue." kataku sambil menunjuk ke arah wahana yang dituju Abel dan BG. * * Gue melihat didepan sahabat gue Abel dan BG tertawa bahagia banget, gue seneng ternyata BG bisa membuat temen gue yang satu ini lepas dari zona ternyamannya. Wajahnya terlihat sangat cantik seolah tanpa ada beban, disisi lain gue lihat raut wajah sahabat gue yang lain yang belum bisa gue terka permasalahannya. Gue tersadar dari bayang-bayang pikiran gue sendiri saat Wira berteriak pada BG. Kita memutuskan untuk pulang karena sebelumnya sudah pada berembuk untuk melanjutkan tujuan masing-masing. Kalau dibilang saat ini gue cukup senang bisa menyalurkan rasa rindu yang membuncah pada sahabat gue. Tapi tidak menutup kemungkinan gue masih dilanda rasa penasaran. "Loe yakin gak kenapa-kenapa Mett, Aman-aman aja kan." interogasi ku padanya. "Yaa ampun Dekka apaan sihh, beneran gue gak kenapa-kenapa, gak percayaan banget deh sama temen." "Ehh ya elu sihh, pake segala murung gue kan jadi mikir yang iya-iya." "Hahahha, seriusan Dekk kok loe sekarang baperan sihh." jawabnya, gue lega saat dia tertawa, tandanya memang dia tidak sedang dalam masalah. Saat tengah mengobrol nggak sadar gue ternyata saat ini kita tengah terpisah dari rombongan. Ralat hanya missed duo sejoli, emang mereka berdua yahh bisa-bisanya kita pada gak ada yang nyadar. Kita putuskan untuk menunggu sebentar sedangkan Cindy gue persilahkan untuk pulang lebih dahulu. 10 menit menunggu akhirnya yang dinanti terlihat batang hidungnya. Gue perhatikan seksama keduanya saling bergandangan, dan kembali gue terkejut saat .... "Yaampunn kemana aja sihh ditunggu juga." "Lahhh sewot loe Mett,." BG menjawabnya tak kalah ketus "Nyasar tadi lupa koridornya." jawab Abella. Kemudian gue lihat Abel menyorot mata tajam pada gue, ada makna dibalik sorot matanya Metta kenapa. Gue spontan menghendikan bahu tak tau menjawab kode yang dimaksud Abel, terlihat dia menghela nafas. Dia sudah menjelaskan berniat meredakan suasana, emang dari awal Abel benar bahwa tak seharusnya kita menunggu mereka karena kenyataannya kita pasti berpisah jalan masing-masing. Yasudahlah yang terjadi sudah terjadi, Metta agak sewot dengan Abel, lalu BG tidak terima dengan sikap Metta. Terus Abel, yahh dia berusaha untuk netral meredakan amarah BG dan meluruskan permasalahan pada Metta. Gue mengikuti apa yang Abel lakukan, sebagai sahabatnya gue lihat Abel cukup mengendalikan situasi ini. Abel selalu menjadi pion mengarahkan pada link Persahabatan kita, gue gak mampu jika menggantikan tugasnya. Gue cukup menjadi garda terdepan jika dia tersakiti, semoga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN