Keputusan 3

1257 Kata
Setidaknya Kamu tahu perjuanganku, Jangan pernah kamu curangi aku. Arabella ==================== Saat jam pulang sekolah, Abel dan BG bergegas keluar. Dia sudah pamit kepada Dekka bahwa akan diantar oleh Bagas ke tempat Les nya. Namun begitu Abel meninggalkan sahabatnya duluan, Metta mendengkus. Sedangkan Dekka yang sudah tau watak sahabatnya yang satu itu melirik tajam. Dekka tak bergeming memilih diam, menunggu saatnya tiba. "Emang yah kalau udah ada cowok temennya dilupain."ucap Metta. "Loe kenapa sihh Mett, kok snewen banget sama Abel." sahut Cindy bahkan ucapannya mampu fidengar satu kelas, selain Abel dan BG mereka berdua sudah keluar kelas sejak guru meninggalkannya. "Loe tau nggak Cin si Metta sebel sama Abel gara2 dia nolak jadi OSIS sedangkan si Metta aja ikut OSIS kudu test dulu."celetuk Dekka. "Ya ampun harusnya elo tuh sadar diri Mett, kenapa sampek gak lolos jangan sampai gue bongkar nih yah."ceplos Cindy, sedangkan Metta matanya sudah nyalang. "Sok tau lu Cin." "Loe yah Mett dikasih hati malah ngeselin yah, loe lihat si Abel aja pulang udah langsung cabut karena jadwal Les, trus dia kudu ikut OSIS, enggak lama masuk UGD dia, yang namanya temen itu ngedukung bukan ngejorokin kedalam neraka."balas Dekka ketus lalu meninggalkan kelas begitu saja. Bahkan dikelas masih ada ketiga sahabat BG yang menyaksikan keributan sahabat Abel. Cindy pun mengekor Dekka dibelakangnya lalu ketiga sahabat BG. "Parah loh Metta, belum tahu sih, perjuangan Abel buat gantiin dia." ucap Riki. "Kucing oren kan memang gak tau diri, udah tau makanan temennya masih diembat."ceplos Kevin memecah suasana, tak lama Wira menggeplak bahunya. Melihat dibelakang Metta tengah berjalan tergesa-gesa, melalui mereka bertiga. "kucing orennya lagi PMS kalik yahh." sahut Wira. Mereka bertiga kompak tertawa melihat kelakuan Metta. "Gue pingin tau gimana respondnya kalau Abel justru menukar kesempatan untuk jadi Osis buat dia, ketawa, sedih or masih sensi kayak gitu." ceplos Riki. Kedua sahabatnya menghendikan bahu tak berkomentar. Dilain tempat saat Abel sudah keluar dari kelas, tiba-tiba ada yang merengkuhnya dari belakang. Sontak Abel menoleh begitupun dengan BG, yang refleks menarik Abel kearahnya. "Eitsss santai ma brooo." "Lhaa elo Ai, gue kira sapa." ucap BG. "Bell, gue mau maju daftar Ketua Osis. Menurut loe gima...na?"belum selesai bicara Abel sudah mengacungkan jempolnya semangat. "I'm always be supporting to you." kata Abel. Airin mengangguk, tersenyum senang lalu memeluk Abel. "Thanks." "Anything for you, as always." BG melihat kedua gadis cantik itu, ada ketulusan diantara keduanya. Memang mereka berdua dipertemukan sejak kecil sehingga muncul kecocokan satu sama lain. "Ini mau kemana."tanya Airin sambil berjalan kearah parkiran. "Ketempat Les."jawab Abel, Airin paham dengan aktivitas Abel. "Yaudah hati-hati yah BG, babay Abel." ucap Airin melambaikan tangannya. Lalu Abel dan BG meluncur menuju tempat Les Abel. Hari ini Bagas yang menemani Abel, namun Abel juga sudah berjanji akan menemani BG saat latihan basket. Mereka berdua seakan sudah menjadwal dari sebelum-belumnya. ~•~••~•~ Keesokan Harinya. Karena pulang terlalu sore akhirnya Abel pulang agak malam. Namun dia sudah memberitahukan sang bunda jika dia bersama BG,sehingga tidak membuat bunda khawatir jika Abel pulang malam. Brakkk..brakk.brakk. "Bell udah jam 6 lebih lohh, kok belum bangun." "Iyaa bun ini udah bangun kok." sahut Abel sambil menguap. "Buruan mandi ditunggu ayah sarapan." "Iyaa bun." Abel bergegas kekamar mandi dan berganti seragam sekolah, tak ingin bundanya sampai menyusul naik tangga, sangat berbahaya untuk kondisi adiknya. "Duhh, kok agak pusing yahh."monolog Abel, kemudian turun kebawah untuk sarapan. "Lhoo Bell kok pucet, sakit yahh."tanya Ayah "Enggak ayah, kecapekan aja kayaknya kemarin istirahat kemaleman." jawabnya lalu duduk dan memakan sarapan yang sudah disiapkan bunda. "Kalau pusing ijin pulang yah, jangan maksa. kalau kamu masuk rumah sakit kasian bunda." ucap ayah. Abel tergelak baru sadar ayahnya mengingatkan jika bunda hamil tak baik jika Abel sakit dan harus dirawat. Saat bunda kembali dari dapur menuju meja makan mereka berdua terdiam, takut bunda cemas dengan pembicaraannya. "Mau bawa bekal kak." tanya bunda, Abel menggeleng. Semenjak Bunda hamil, ayah dan bunda sepakat merubah panggilan Abel menjadi kakak agar terbiasa saat adiknya sudah lahir. Setelah sarapan Ayah dan Abel berpamitan berangkat pada bunda, karena Abel bangun agak kesingan membuat sarapan lebih dipercepat. Bahkan saat tiba disekolah bel masuk telah berbunyi. Saat memasuki kelas sudah banyak yang datang, bahkan Abel mendapatkan perhatian dari teman-teman selain datang telat, terlihat Abel sedikit lemas. Dia sempat menoleh kearah BG yang sudah memperhatikannya sejak masih dipintu kelas. "Kenapa kesiangan."tanya Dekka, Abel menggeleng pelan. Beruntung tadi sempat mengoleskan lipglos untuk menyamarkan bibisnya yang sedikit pucat hari ini. Jampel pertama Matematika, diberikan tugas karena guru Mapel tengah bersiap untuk UN kakak kelas. Hingga 30 menit berlalu mengerjakan tugas, masuk lah Ketua Osis beserta jajarannya kedalam kelas Abel. "Mohon maaf mengganggu sebentar, kami dari OSIS akan mengumumkan salah satu anggota baru OSIS terpilih, karena Abel telah mengundurkan diri." ucap Daffa terpotong, lalu meminta surat yang dipegang oleh Sierly. "Dan berdasarkan keputusan kami beserta dewan kesiswaan maka anggota OSIS terpilih untuk menggantikan Arabella adalah Metta Naura." lanjut Daffa lalu menyerahkan suratnya kepada Metta. Metta yang namanya disebut sangat terkejut, bahkan mungkin tidak percaya. Namun saat namanya dipanggil untuk menerima SK dari OSIS, barulah dia tersadar dari keterkejutannya. Setelah menerima Surat dari Daffa, teman-teman bertepuk tangan bahkan senyumnya tak pernah luntur. Abel merasa lega akhirnya sahabatnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi OSIS. Abel tersenyum ke arah Daffa dan para anggota OSIS termasuk Metta disana. Setelah itu Daffa dan anggota OSIS kembali ketempatnya. Metta yang masih asyik dengan euforianya bahkan sudah mencak-mencak. "Cin gue dapet, gue bisa temenin elo."ucapnya sedikit berteriak, Cindy pun tersenyum ikut merasakan senang melihat Metta. "Dekk, Bell. Lhoo Bell kenapa loe. loe gak seneng gue yang gantiin elo." celetuk Metta. Abel yang tadinya menopang dagu di meja, langsung menegakkan badannya. "Maksud kamu apa,." "Yaa mungkin aja loe gak seneng liat gue yang gantiin posisi elo." "Apaaaa." teriak Dekka tak terima, dia tau ceritanya bagaimana Metta bisa masuk OSIS. Abel memegang tangannya, lalu dia berdiri, seolah sudah terpendam sejak lama, ingin segera ia luapkan. "Maksudmu aku cemburu karena kamu bisa masuk OSIS sedangkan aku malah mengundurkan diri gitu." "Iyaa, loe bahkan kelihatan gak seneng banget."sahut Metta Abel yang sedikit menahan pusing pun tersulut emosinya. "Cukuuuup,."teriak Abel sedikit menggebrak meja, bahkan dia sontak mendapat perhatian seisi kelas. "Aku cukup sabar dengan segala tuduhanmu Mett, masih kurang. Apa kamu enggak bisa membedakan mana yang terlihat nggak suka atau mana yang terlihat enggak baik-baik saja."lanjut Abel. Mendengar ucapan Abel barusan BG sontak berdiri menghampirinya, bahkan Dekka sudah melihat Abel yang menangis seperti tengah menahan sesuatu. BG menarik tangan Abel menghadapnya, dia tahu bahwa kini Abel tengah menangis. Bagas menghapus air mata Abel, saat akan membawanya keluar justru Abel menariknya kembali seolah berkata "sebentar". "Aku seneng banget Mett, kalau kamu yang gantiin aku, bukannya aku cemburu. Buat apa, sahabat mana yang gak seneng lihat sahabatnya bahagia. Dimana Metta ku yang selalu ada dan mengerti aku gimana, kenapa sekarang sosoknya hilang menjadi sosok yang pemarah dan bahkan selalu mencurigaiku. Kamu bukan Metta kamuu..."kata Abel terpotong saat dia merasa sudah tak tahan. Lalu dia mengajak BG keluar dari kelas, baru dua langkah BG menghentikannya, karena tiba-tiba Abel sudah merosot. Beruntung BG sigap langsung menggendongnya, dan memanggil Dekka. Dekka menghampiri, bahkan ketiga sahabat BG pun mencoba menghampirinya namun tidak jadi begitu BG mengibaskan tangannya. Metta dan Cindy pun begitu terkejut, bahkan kini Metta tengah melamun dengan pandangan kosong. Apakah dia sudah merasa bersalah, mencurigai sahabatnya, atau dia tengah berfikir banyak tentang kata-kata Abel. Apakah Metta telah merasa apa yang sudah Abel katakan. Setidaknya dia harus introspeksi diri, bahkan Cindy pun membiarkan Metta larut dalam pemikirannya sendiri. Membiarkan dia meresapi kesalahannya, untuk alasan dibalik terpilihnya Metta, dia pun tak berkomentar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN