Drama Cantika

1546 Kata
Hai..hai..hai.. Para readers aku ucapin terima kasih masih setia sama ErenKaaaaa.. Sudah tap love dan koment belum, buruan dipencet lopenya, mampir juga di Yt ErenKa Studio klik loncengnya karena akan ada short video MPAA. MPAA akan up 2x seminggu yah guys, jadi jangan kangen.. Karena Thor lagi bagi sama cerita yang lainnya. Happy reading guys... Masih di Putih Abu-abu ~~~~~~~~~~~~••~~~~~~~~~~~~~ Jangan pernah coba masuki celah kehidupanku dengan hal yang berenergi negatif, karena sejujurnya itu akan melenyapkan kamu seketika. Arabella ~ Sedari tadi Dikantin entah mengapa perasaan Abel gelisah, bukannya dia seperti punya indra ke enam. Enggak juga tapi memang dia punya feeling kuat sama bathinnya. BG yang memperhatikan Abel sedari tadi seperti banyak yang dipikirkan pun terus menatapnya tanpa celah. "Lagi mikir apa sihh, ini kok kayak cuma badannya yang disini." ucap BG sambil menggengam tangan Abel. "Hemmmb." jawab Abel hanya menggumam. "Jawab dong non, ini kenapa kok jidadnya berkerut, mikir apa hayooo. Nggak lagi mikir cowok lain kan." "Bercandanya jangan keterlaluan yah." "Hahhhh peace, habisnya enggak njawab aku kan jadi piktor nihh." balas BG, lalu Abel menoleh kearahnya. "Masih belum jelas ini apa yang ada digambaran kepalaku, yang jelas ini akan ada masalah besar." "About what's." "I don't know but it's been likes about Cantika." "Maksudnya Cantika bikin ulah gitu." "Entahhlah, belum terjawab." "Sayangkuhh kenapa sekarang kok kayak punya indra ke enam sihh." "Enggak bukan gitu, tapi aku kayak punya firasat jelek tentang ini. "Hemmm, sudah jangan terlalu difikirkan." Abel mengangguk berusaha untuk mengalihkan pikirannya dengan cara lain. Disisinya BG terus memberikan perhatian kepada Abel agar tak terlalu serius menyikapi permasalahan yang ditimbulkan oleh pacarnya Orlando, Cantika akibat gagal naik jadi Ketua OSIS. "Ehhh gilak didepan banyak Paspampres taukk." "Hahh gimana-gimana, ada presiden." "Gak tau kayak ya petinggi TNI pake baju tentara." "Hahhh, seriusan lohh." "Iyyaaa yuk kita lihat." Semua orang tengah berbisik-bisik, bahkan Abel pun mendengarnya. Sementara BG dan para sahabatnya masih asik dengan game online, sahabat Abel pun masih sibuk dengan situs belanja Online. Abel sudah mulai menerka-nerka dengan bisik-bisik dari teman-teman, sedikit curiga tapi berniat positif thinking. "Bell, gila bokap loe kesini dong pake patwal." teriak Airin menggelegar menuju kearah Abel. "Hahhh maksudnya gimana." tanya Abel tak paham. "buruan tuh lagi rame didepan." jawab Airin lalu menarik tangan Abel, BG yang masih berfokus ke hapenya mendadak berdiri mengikuti arah kedua gadis itu. "Ehhh..ehh Gas gimana ini lanjutannya elahh loe main tinggal." "Bagas Anjenk." "Entar begok gawat ini." jawab BG. "Ehh ada apaan sihh." "Gak tau kelarin ini dulu baru samperin." Diskusi dari para sahabat BG setelah ditinggal pergi oleh BG. Sesampainya dihalaman sekolah benar saja Abel melihat sudah ada 4 mobil patwal TNI AD, salah satunya mungkin dipake oleh ayahnya, lalu Abel menghampiri kearahnya. "Lhoo non Abel gak ikut bapak."tanya salah satu ajudan ayah Abel. "Ini ada masalah apa pak kok ramai." jawab Abel. "Saya kurang tau mbak, tadi masih diperjalanan bapak memerintah langsung mampir kesini." "Sekarang ayah dimana." "Sudah menghadap kepala sekolah." "Yasudah Abel nyusul ayah dulu ya pak." "Siapp mbak." Perbincangan Abel dengan para ajudan ayahnya tak luput dari beberapa pasang mata. Sementara itu diruang kepala sekolah, ayah Abel sudah tengah mengobrol sambil menunggu akar masalah tiba. "Jadi bagaimana bisa berita ini sampai ada kita menunggu jawaban dari pembuat berita yah pak, Sebenarnya saya juga terkejut dengan ini karena yang saya tau Arabella ini termasuk anak cerdas dan berprestasi. Bahkan para guru banyak yang tidak percaya." ucap Pak Wisnu Kepala sekolah, sedangkan ayah Abel tak berbicara sepata kata pun. Ayah Abel sudah tau ini pasti hanya salah paham, namun fitnah ini sudah mengarah ke tindakan kriminal karena sudah menyebabkan pemanggilan orang tua. "Pe-permisi pak." salam seorang perempuan, yang tentunya dia Cantika. "Silahkan masuk, kami sudah menunggu." jawab pak kepala sekolah, Cantika sedikit terkejut melihat ada dua orang dewasa menggunakan baju seragam dinas, sudah dipastikan salah satunya orang tua Abel. "Ada apa bapak memanggil saya." "Ada apa katamu, saya ingin mendengar penjelasan dari kamu tentang penerbitan berita di mading." "Aduuh yang mana yah pak." sahut Cantika seolah berpura-pura lupa. Saat Cantika tengah mengulur-ulur waktu Abel, Airin dan BG datang didepan ruang Kepsek. Disana pun nampak sudah banyak siswa yang tengah menguping. Abel sempat berpandangan dengan sang ayah, namun tak ada raut murka diwajah sang ayah. Abel sedikit menghela nafas lega, sudah bisa dipastikan jika sang ayah tak terpengaruh dengan beritanya disekolah. Ada senyum simpul dibibir cantik Abel, sang ayah mengangguk. "Berita yang kamu kirim ke mading, yang akhirnya membuat guru BP terpaksa memanggil orang tua dari Arabella." jawab pak Kepsek. "Ohh itu, berita si Abel kan pergi ke dokter kandungan untuk periksa kehamilannya." jawab Cantika. "Apa sudah kamu pastikan kebenaran nya." "Tentu saja dia disana bersama dengan pacarnya. Nihh kalau bapak enggak percaya saya punya fotonya." "Lalu, sebelum kamu memberikan ke mading apa sudah kamu tanyakan kebenarannya pada Arabella." "Yahh ngapain pak, sudah pasti dia gak ngaku, kalau maling ngaku penjara penuh. trus ini bapak tentara ini siapa pak Kepsek." "Perkenalkan saya Raharjo Kusuma Ayah Arabella." jawab ayah Abel, yang sedari tadi tak membuka suaranya. "Hahhhh, ja jadi bapak a ayahnya anak yang hamil diluar nikah itu." balas Cantika. "Yang sopan kamu Cantika." sahut pak Wisnu. "Kan memang benar pak kalau emang Abel hamil diluar nikah." jawab Cantika tak mau kalah. Sedangkan Abel yang diluar terus mendapatkan gunjingan dari murid yang masih mendengarkan obrolan didalam ruang Kepsek. Airin yang paham dengan perasaan Abel hanya mengelus pundak Abel. BG pun seolah tak mau mengeluarkan tenaganya dengan menguras emosi untuk berita yang nggak jelas. "Baik karena sedari tadi saya perhatikan kamu terus memojokkan anak saya. Saya diam bukan berarti membenarkan ucapanmu. saya diam bukan berarti sedang menahan amarah. Saya diam bukan berarti tak perduli dengan pembicaraan ini. saya diam karena saya tahu kemana arah perkataan kamu. Saya tegaskan sekali lagi, saya TAHU arah pembicaraan kamu. Kalau kamu bermasalah dengan anak saya, yang saya tidak tau ada apa tolong jangan sampai menarik masalah kepada ranah hukum. Dengarkan saya bicara jangan dipotong." ucap ayah Abel tegas saat melihat Cantika akan memotong pembicaraan nya. "Kamu seorang siswa terpelajar, gunakan pikiran kamu untuk hal yang positif, jika sedari kamu masih muda saja punya pemikiran buruk terhadap orang lain maka kedepannya nanti langkahmu terjegal dengan kesombongan dan ketamakanmu itu sendiri." jelas ayah Abel. Didalam ruang Kepsek ada beberapa guru yang turut memperhatikan perbincangan ini. Banyak dari para guru tersenyum kagum, ternyata tutur kata dan kecerdasan Abel selama ini menurun dari ayahnya, bisa dilihat dari bijaksananya ayah Abel berucap. "Arabella anak saya yang kamu tuduhkan, saya percaya 100% kepadanya dia taat kepada saya dan Tuhannya, bahkan saya mengenal pasti dengan teman-teman nya termasuk Bagaskara didalamnya. Yang kamu sebut sedang periksa kehamilan itu benar, namun kebenarannya adalah ibunda Abel sendiri, karena saya sedang dinas luar kota sehingga Abel dan Bagas lah yang menemani." Jelas ayah Abel panjang lebar, lalu mengambil selembar kertas dari asisten ayahnya Abel yang sedari tadi duduk disebelahnya. "Ini foto yang kamu pajang dipapan mading, yang membuat ibunya Abel syok sudah asisten saya selidiki, bahkan dibelakang Abel nampak Ibundanya yang sedang keluar dari ruang periksa. Apakah kamu sudah mengenal kami sebelumnya, tidak itulah jawabanmu." lanjut ayah. Bahkan beberapa guru hanya geleng-geleng dan tidak percaya langkah ayah Abel sudah sejauh itu, lalu bagaimana Cantika dia sudah menangis tersedu-sedu. "Nak, kamu sama seperti putriku, bapak mohon jika kamu ada masalah dengan Abel selesaikan dengan baik, ini sudah masuk ranah hukum asal kamu tahu ibu Abel dirumah sedang ditangani medis. Ibunya syok dan tertekan, apalagi ibunya Abel sedang hamil tua." "Ayahhh." potong Abel syok mendengar penuturan dari ayahnya. "Tak apa sudah ada dokter adam sama dokter Firlie dirumah stand by." jawab ayah menenangkan sang putri. "Jadi sudah jelas yah Cantika, kamu membuat kami para orang tua syok terapi." sahut pak Wisnu. "Maafkan saya, habisnya gara-gara Abel pacar saya gak jadi Ketua OSIS, jadi saya marah, kebetulan itu pas saya lihat Abel dirumah sakit." Jawab Cantika sambil terisak, sedangkan Abel sudah tak memikirkan masalahnya dia hanya ingin segera berjumpa dengan ibundanya. Setelah semua diclearkan dan masalah ini dianggap tidak ada lagi bagi kedua belah pihak, akhirnya pihak sekolah memberikan sanksi tegas kepada Cantika skorsing 3hari agar memberikan efek jera, tentunya bukan untuk Cantika saja kedepannya agar siswanya tidak membuat berita Hoax yang berdampak buruk. Ayah Abel pun tak mampu mentolerir masalah ini dimana gara-gara berita hoax ini akhirnya bisa berdampak buruk bagi kesehatan bunda dan adik Abel. Seolah tak terjadi lagi kedua kali, ayah lebih protective kepada bunda. Setelah menyelesaikan maslah Abel dengan Kepala sekolah ayah Abel berpamitan, Abel yang merengek ingin segera pulang pun tak diijin kan oleh ayahnya. "Abel mau pulang ayah, mau lihat Bunda." "Nanti yahh, ini ayah juga kekantor dulu baru pulang, Abel VC bunda aja, tapi lebih baik Abel biarin bunda istirahat dulu mungkin sudah ada perawat yang menjaga dirumah." jelas ayah kepada putrinya yang masih menangis tersedu-sedu, bahkan sudah ada sahabatnya komplit yang melihat interaksi Abel dan ayahnya pun ikut merasakan kesedihan Abel. Para ajudan pun tak menyangka atasannya begitu lemah jika berhadapan dengan sang putri. "Ai jagain Abel, Bagas dan teman-teman kamu bujuk yah, sekolah dulu inshaalloh bunda baik-baik saja." "Siappp komandan." celetuk Kevin memecah suasana, bahkan Abel pun langsung terkekeh dengan ulah sahabat BG itu. Akhirnya dengan terpaksa ayah Abel meninggalkan putrinya itu didekapan Airin dan para sahabatnya, tentunya dengan seribu taktik jitu yang digunakan para sahabatnya. ~ ~ Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN