Hai..hai..hai..
Para readers thor ucapin terima kasih masih setia sama ErenKaaaaa..
Sudah tap love dan koment belum, buruan dipencet lopenya, mampir juga di Yt ErenKa Studio klik loncengnya karena akan ada short video MPAA.
Happy reading guys...
Masih di Putih Abu-abu
~~~~~~~~~~~~••~~~~~~~~~~~~~
Hari-hari Berlalu begitu cepat hari ini Abel dan yang lainnya tengah bersiap mengikuti Ujian Akhir semester tanda untuk kenaikan kelas.
Seperti yang lalu-lalu mereka akan duduk sebangku dengan kakak kelasnya.
Abel sudah pasti dengan Rendi, dan kebetulan setelah kejadian dimana dia memuntahkan cairan ke baju Karina dan sejak saat itu Karina pun sudah tak pernah membuat ulah lagi.
Kabar yang beredar adalah Karina berubab setelah adu mulut dengan Rendi saat itu juga.
Memasuki pintu gerbang sekolah Abel segera menuju ruang ujiannya yang sudah tertempel pengumannya di Mading hari sabtu kemarin.
Saat sampai didepan pintu kelas ujiannya, dia sudah melihat mejanya sudah diisi oleh kakak kelasnya.
Abel belum melihat keberadaan BG dan para sahabatnya.
"Hemm, gimana nihh belum pada datang. Masuk aja kali yah."monolog Abel.
Meskipun sedang asyik membaca buku, nyatanya Rendi menyadari kedatangan Abel.
"Pagi kak, udah sampek dari tadi." sapa Abel.
"Nggak kok baru aja." jawab Rendi.
"Owwhh aku duduk sebelah kakak." ucap Abel basa basi.
"Silahkan."
Setelahnya terjadi keheningan namun Abel sadari jika Rendi sedari tadi mencuri - curi pandang kearahnya. Namun tak digubris Abel.
Beberapa menit kemudian nampak BG dan sahabatnya masuk ke kelas, sempat menoleh dan tersenyum ke arahnya lalu melangkah menuju kursi duduknya.
Saat ujian berlangsung Abel merasakan Sakunya bergetar, entah siapa yang menghubunginya namun tak berani dia sekedar membuka hapenya.
"Hapenya bunyi."tanya Rendi
"Iyaa kak, biarin aja nanti habis ini."jawab Abel tanpa menoleh kearah Rendi, dia fokus melanjutkan mengerjakan ujiannya.
"Hemmm."gumam Rendi yang masih bisa didengar Abel.
Jarak meja Ujian Abel dengan meja BG hanya sekitar 5 bangku dibelakanya, posisi Abel ada di urutan depan baris ke dua dari kanan, sedangkan BG baris ke tiga.
Saat Abel berdiri mengumpulkan hasil ujian semua yang didalam kelas pasti bisa melihatnya.
"Duluan ya kak."
"Hemm."
Setelah memberikan kertas ujian Abel membawa peralatan tulisnya keluar dan mengangkat hapenya.
"Hallo bun ada apa, tadi Abel masih ujian."
"Gapapa nak, nanti temani bunda kontrol yah, soalnya ayah ngabarin mau ada tugas diluar kota."
"hemmm, jam berapa kontrolnya Bun."
"Jam 12 an Abel selesainya jam berapa."
"Seharusnya jam sebelasan tapi Abel usahain ngerjain agak cepat biar bisa pulang lebih awal."
"Yasudah, nanti Abel langsung nuju ke RS aja biar gak bolak balik, bunda juga biar dapat antrian kecil."
"Iyaa bun, ayah berapa hari tugasnya."
"Nggak lama kok paling tiga hari."
"Iyaa bun, Yasudah Wasalamulaikum."
"Wa'alaikumsalam"
Abel duduk didepan ruangan ujiannya sambil menunggu teman-temannya keluar.
"Siapa yang telp."
Abel menoleh mendapati BG dan para sahabatnya sudah keluar ruangan.
"Bunda." jawab Abel lalu meraih uluran tangan BG, dan berjalan beriringan menuju kantin.
"Nanti waktunya kontrol Abel diminta temenin, soalnya ayah tugas keluar kota." jelas Abel.
"Nanti aku anterin, aku bawa mobil."
"Hahh, tumbenan."
"Sengaja emang tadi mau ajak keluar."
"Jadinya ke Rumah sakit malahan." jawab Abel sambil terkekeh.
"Gak papa, kan nganterin ketemu adek juga."
"Hemm, iyaah dua bulan lagi udah keluar."
"Vin pesenin gih."perintah BG pada Kevin setelah mendapat duduk di kantin.
"Yoii, mau pesen apa."
"Aku siomay es jeruk"
"Samain aja semua kali yahh."
"Hemm, biar gak mencar kasian Kevinnya."
"Yuk gue bantuin Kev." sahut Metta, lalu berdiri mengikuti Kevin.
"Tumbenan itu bocah akur."
"Akur salah gak akur susah loe Rik." sela Dekka.
"Gak biasa-biasa nya aja Dekk."
"Hemmmb."
Sedangkan Abel tak menyauti obrolan para teman-temannya itu. Tak lama Kevin dan Metta datang membawa pesanan mereka.
Sedang asyik memakan siomaynya, Abel merasakan tiba-tiba badannya basah.
Nyessssss...
"Ehhh, ya ampun sory - sory sengaja." ucap orang yang menumpahkan air ke Abel bahkan sedikit mengenai rok Dekka.
"Sengaja katamu, Nihh mamam." teriak lantang Dekka lalu menyiramkan minumnya ke wajah Cantika.
"Ahhhh, loe ngapain ikut campur ini urusan ku sama cewek ini."
"Urusan Abel adalah urusan gue juga mau apa loe." sahut Metta tak kalah histeris.
"Gara-gara ni cewek Orlando gagal jadi Ketua OSIS."
"Ralat dia bahkan kalah skor dari Angga begok dipelihara."
"Loe kalau cari gara-gara jangan sama Abel, kalau cowok udah habis loe, lanjutin aja makannya gue urus Abel." potong BG lantang pada Cantika lalu menatap para sahabatnya kemudian menarik Abel dan meninggalkan kantin.
"Tunggu sebentar aku belikan baju di koperasi."
"Ehh nggak usah pake ini aja."
"Nanti masuk angin, nurut yah."
"Iyaah."
BG pergi meninggalkan Abel di toilet, tak lama dia kembali lagi membawa baju ganti untuk Abel.
Setelah berganti baju mereka berdua langsung menuju ruang ujian karena sebentar lagi bell berbunyi.
"Nihh, gue belikan roti buat ganjel perut." ucap Dekka, Abel dan BG menerimanya.
"Makasih yahh."
"mang dasar Abge gilak, kurang kerjaan."umpat Metta dibelakan yang bahkan masih bisa didengar Abel.
"Loe emangnya enggak Mett."Canda Kevin.
"Metta gilaknya kalau pas lagi bokek itupun ngomelnya ke emaknya." jawab Dekka absurb.
"Dihh gak jelas."
Sedari tadi Rendi memperhatikan dan mendengarkan perbincangan mereka, mungkin dia sedang menebak-nebak.
"Ada apa, bukan Karina kan."tanya nya, Abel yang mengerti apa yang dimaksud Rendi pun terkejut."
"Hahh, enggak kok kak bukan." jawab Abel lalu ia hanya mendengar helaan nafas Rendi.
"Masalah pemilihan OSIS masih kebawa." tanya Rendi sambil membaca bukunya.
"Iyaa kak, biarin aja apesnya Abel."
Dua jam menyelesaikan ujian kini Abel dan BG menuju ke rumah sakit, seperti yang diperintahkan bundanya.
Sebelumnya Abel mampir ke kanti rumah sakit, karena dia sudah merasa perutnya perih akibat belum makan, bahkan siomaynya tadi masih beberapa sendok.
"Nanti dimakan sambil menunggu panggilan aja yah, sekarang kita cari bunda."
"Iyaa." jawab BG singkat dia bahkan tau asam lambung Abel mungkin tengah kambuh, karena sesekali dia melihatnya merintih.
BG sudah tau penyakit yang dimiliki Abel dari bunda jadi seolah dia paham meskipun Abel tak mengatakan padanya.
Setelah menemukan keberadaan sang bunda, Abel mencari tempat untuk menikmati makan siangnya sebelum asam lambung semakin menyiksanya.
"Buruan dimaem."ucap BG setelah menghampiri bunda Abel sekedar menyapa.
"Kamu gamakan juga, tadikan juga belum sempat."
"Aku mah gampang, gak punya Magh kayak kamu." jawab BG, Abel nampak terkejut.
"Kok, tau."
"Habiskan dulu ihh, ntar keselek."
"Hemmm, Akkk.." gumam Abel, lalu meminta BG membuka mulutnya. BG menerima suapan dari Abel, beruntung tempatnya sepi jadi tak masalah kan mereka suap-suapan.
"Ini belinya buat Abel jadi habiskan."
"Enggak Bagas juga harus makan, nanti sakit gak bisa ikut ujian."
"Aku sakitnya kalau gak disampingmu sayang." ucap BG sambil mencubit pelan pipi Abel yang menggembung karena sedang mengunyah.
Setelah mengikuti bundanya diperiksa nampak Abel sedikit sumringah, hatinya seolah berbunga-bunga. BG memperhatikan dari jauh, setelah keluar dari ruang periksa mereka menuju ke apotik menebus vitamin bundanya dan pulang kerumah.
Tak mereka sadari dari kejauhan ada seseorang yang tengah mengambil foto mereka saat berjalan menuju Apotik.
"Kenapa senyum-senyum, seneng banget ketemu adiknya."tanya BG.
"Hemm, iyahh ketemu cowok ganteng." jawab Abel.
"Adik,.?? hasilnya cowok."tanya BG, Abel mengangguk semangat.
"Udah Bell, pulang yuk bunda laper." ajak bunda Riya.
"iya Bun." jawab kompak BG dan Abel lalu mereka menuju parkiran.
~
*
~
Keesokan harinya....
Karena Ayah Abel masih dinas luar, hari ini sampai ayahnya pulang BG memaksa untuk menjemput Abel dan berangkat ke sekolah bersama.
Bisa dipastikan kalau mereka datang bell hampir berbunyi.
Saat dikoridor menuju ruang ujian, terdengar kasak kusuk jika diperhatikan seolah tengah membicarakan mereka.
"Gak nyangka yah, sok alim."
"cantik sih tapi murahan."
"Pantesan pinter ngomong ternyata pinter goyang, hahahha."
"Gak tau malu."
Abel yang tak merasa diperbincangkan hanya menganggap angin omongan mereka.
Dua jam menyelesaikan ujiannya, kini Abel dan teman-temannya berada di kantin mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.
"Mau apa nih samain aja yah biar cepet." Ucap Metta.
"Bakso aja yah, es teh 4 es jeruk 4."sahut Dekka.
"bantuin Vin."celetuk Metta.
"Aduhh bentar pesen dulu ntar gue susul tinggal dikit nih."
"Beneran yah awas sampek gak nyusul."
"Iyaa..iyaa galak amat sih kek kucing garong."
"Sabodohh lah."jawab Metta lalu pergi menuju tukang bakso andalan dikantin.
"Ciee yang kemarin habis periksa kandungan, gimana sehat-sehat debay nya."Ceplos seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri.
"Loe ngomong sama siapa biang onar." sahut Dekka.
"Nie sobat loe ternyata diam-diam MBA." jawab Cantika.
"Siapa yang loe maksud."ucap Dekka yang sudah mulai meninggi.
"Siapa lagi kalau bukan cewek sok cantik, sok pintar yang ada di sini."jawab Cantika sambil melempar gambar yang berisikan foto Abel dan BG dengan siluet di rumah sakit.
"see loe bisa lihat kan ada tulisan ruang Sp.OG, jadi..."
"Bangshat, tuduhan loe sudah keterlaluan." teriak BG sambil menunjuk kearah Cantika.
"Kenapa, gak terima udah kebongkar." sahut Cantika bahkan tangan BG sudah mengepal.
Abel meraih tangan BG menggenggam erat menguraikan emosinya kepada Abel.
"Hahhhh, apalagi ini mbak. Belum puas mbaknya bikin keributan. Kalau emang itu saya mana buku pasien yang bertuliskan Nona ARABELLA, apa ada bukti fotonya."
"Ehhmm, it-tu aku gak tau yang jelas kamu kan memang disitu kan."jawab Cantika gugup.
"Trus lo ngira itu Abel yang hamil gitu, Gosip murahan."teriak Riki.
"Aduuuh mana nihh calon ponakan aunty, sehat-sehat yahh..buakakakakkak." canda Cindy.
"Dasar gilak loe Cin." sahut Dekka yang ikut cekikikan.
"Lho sekali lagi bikin ulah gak segan gue."ancam BG.
"uuuwhhh atuut." balas Cantika.
"Ehh ada apaan ini gue kelewatan." celetuk Metta sambil membawa nampan berisi pesanan kemudian Cindy memberikan foto yang dilembar Cantika.
"Ohhh ini yang di mading juga."
"Apaa dimading,.? sahut BG dan Abel
"Karena gue tau faktanya ngapain gue gubris."Jawab Metta, kemudian Abel mengambil Hapenya.
"Hallo bun."
"Abell, ada apa bunda ditelp sama sekolah kamu buat kesalahan besar apa sampe bunda dipanggil sekarang."
"Apa bun..Ehh itu fitnah bun jadi bunda kesekolah sekarang."
"Iyaa katanya urgent gitu."
"Yaudah bunda hati-hati aja, ini pure fitnah Abel, nanti disekolah pasti lebih jelas."
Abel memutuskan sepihak telp dari bundanya, dia terlalu mengkhawatirkan bundanya.
"Kau sudah puas dengan perbuatanmu sekarang. Kalau ini semua berdampak buruk buat bundaku akan kupastikan namamu juga akan berakhir saat itu juga, INGAT KATA-KATA KU."
"Apa memangnya kenapa, itukan perbuatanmu sendiri yang membuat orang tuamu jadi dipanggil sekolah makanya masih kecil kok sudah mau punya anak."balas Cantika.
"Aku kasih tau kamu yah, yang diperiksa di dokter Sp.Og yang kamu maksud itu justru bundaku, Bodohhh. Sekolah itu otaknya dipinterin jangan begoknya yang diduluin, pergi dari sini sebelum mangkok ini aku siram ke kamu." ucap Abel sedikit kasar.
Abel duduk menatap semua sahabatnya, berusaha menetralkan emosinya.
Kondisi bundanya sedang hamil tua, tak ingin memberikan tekanan bathin pada bundanya yang bisa berdampak buruk buat adiknya.
"Sudahlah makan dulu, habis itu kita tungguin bunda didepan." ucap BG menenangkan.
Emosi Abel seolah meledak saat apa yang tidak seharusnya terjadi justru membuat bundanya terlibat.