Bab 42. Demam Tinggi

1157 Kata

Asraf baru saja turun dari mobil ketika Jafar berlari kecil menghampirinya. Wajah pria tua itu pucat, jelas panik, suaranya bergetar saat berbicara. “Tuan Muda… Nyonya sakit. Demamnya tinggi sejak sore.” Langkah Asraf terhenti seketika. “Apa?” napasnya tertarik tajam. “Sejak kapan?” “Sejak siang. Awalnya Nyonya bilang hanya pusing. Tapi menjelang malam, tubuhnya panas sekali.” Tanpa menunggu penjelasan lain, Asraf langsung berlari masuk ke dalam rumah. Jasnya bahkan belum sempat dilepas. Ia menaiki tangga dua anak sekaligus, dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak tidak beraturan. Pintu kamar Prisha terbuka. Udara di dalam terasa hangat bercampur aroma obat dan air hangat. Asraf melihat Yana duduk di sisi ranjang, mengganti kompres di dahi Prisha yang terbaring lemah. Wajah Prisha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN