Mobil berhenti tepat di depan bangunan studio seni itu. Prisha menatap ke luar jendela beberapa detik sebelum membuka pintu. Reno turun lebih dulu, matanya langsung memindai sekitar. Seperti biasa, sikapnya sigap, waspada, namun tidak mencolok. Ia memberi isyarat pada bodyguard lain untuk tetap di posisi, lalu menoleh pada Prisha. “Kita sudah sampai,” ucapnya. Prisha mengangguk. “Ya.” Ia melangkah turun, menarik napas dalam-dalam. Bangunan studio itu tampak sama seperti kemarin, tenang, sederhana dan terasa jauh dari dunia Asraf. Tempat ini selalu memberinya ilusi kebebasan. Reno berjalan di sampingnya sampai depan pintu, lalu berhenti. “Nyoya,” ralatnya cepat, “ini tempat apa?” Prisha menoleh. “Studio.” “Studio apa?” tanya Reno, nada suaranya masih datar, tapi sorot matanya beruba

