Langkah Asraf terhenti di depan pintu kamar rawat itu. Lampu putih rumah sakit memantul di lantai mengkilap, membuat suasana terasa dingin dan kaku. Di sampingnya, Prisha berdiri tenang, jemarinya menggenggam lengan Asraf, sentuhan kecil, namun cukup untuk menahannya tetap berdiri. “Asraf,” bisik Prisha, “Aku di sini.” Ia mengangguk pelan, lalu mendorong pintu. Neneknya terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tubuhnya tampak rapuh dengan selang oksigen yang terpasang. Namun, yang membuat d**a Asraf mengeras bukan hanya pemandangan itu, melainkan dua sosok yang berdiri di sisi ranjang. Ayah dan ibunya. Ibunya lebih dulu menoleh. Mata itu berkaca-kaca, seolah rindu dan kecewa bertabrakan dalam satu detik. Ayahnya berdiri kaku, wajahnya tegas namun letih, seperti pria yang terlalu lama

