Ada Cerita 3

1017 Kata
Apa sih gha yang membuat loe belum berani untuk menikah?" tanya Acil "Menikah itu bukan hanya akad trus sah habis itu tinggal seatap, seranjang, makan bersama apa apa bersama bukan hanya itu guys tapi menikah itu menyatukan dua orang manusia yang dengan pemikiran dan bukan hanya itu yang masih jadi pikiran gue, bisa gak gue membawa anak dan istri gue kelak ke surga? bisa tidak gue menuntun mereka untuk ke jalan yang di ridhoinya, jangan cuma enak enaknya doang yang di bayangin tapi yang lainnya juga" ujarnya panjang lebar. Sebuah pernikahan memang bukanlah hal mudah. Harus banyak persiapan untuk melangkah. Bukan hanya persiapan materi namun iman dan juga mental haruslah di persiapkan juga. "Gue setuju sama pemikiran lu gha" ujar Arif "Istilahnya ni, kita harus bangun pondasi yang kokoh dulu kalau pondasinya sudah kokoh bangunannya pun juga pasti akan kuat, begitupun dengan pernikahan" lanjutnya "Tumben pikiran loe gak kayak bocah" ucap Agha yang di sambut tawa yang lain. ======= Malam ini Gavin kembali mengajak Resha untuk ketemuan, sungguh Resha sudah menolaknya secara halus karena Gavin sudah memutuskan untuk berpisah dari satu bulan yang lalu. Resha hanya ingin menjaga hatinya, namun Gavin terus memaksanya hingga membuat Resha tak mampu menolaknya. "Maaf aku telat" ucap Resha, dia masih sangat hafal kalau pria di depannya ini paling tidak suka jika Resha telat. "It's ok" jawab Gavin singkat, jujur sebenarnya Gavin masih sangat mencintai Resha, namun dia tak bisa mengesampingkan keinginannya untuk menikah muda. "Ada apa? bukankah tadi bilang katanya mau ada yang di bicarakan?" tanya Resha lembut tanpa basa-basi "Resha, aku ingin minta pendapatmu?" tanya Gavin lembut. "Untuk?" Pria ini menundukkan kepalanya tak berani menatap Resha, dia takut jika rasa cintanya semakin besar. Gavin menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan dan sedikit mengangkat kepalanya untuk memberanikan diri menatap wanita di depannya. "Resha, jika aku ingin ber taaruf, bagaimana pendapatmu?" tanya Gavin pelan namun menusuk bagi Resha. "Ya kalau memang itu yang terbaik buat kamu kenapa tidak, lagian menikah itukan ibadah dan juga pelengkap agama jadi kalau menurut Resha tidak masalah" jawab Resha berusaha tegar "Resha, aku ingin meminta izin, Minggu depan aku akan menikah" sungguh hati Resha bagai di tusuk beribu-ribu duri namun dia masih berusaha menutupinya. Senyum indah masih terukir dari bibir Resha namun hatinya sungguh sangat remuk. Gavin menyerahkan sebuah undangan pada Resha dan gadis itu menerimanya dengan senyum semanis mungkin. "Aku minta maaf Resha" ucap Gavin tulus sembari memberi undangan pada Resha. "Minta maaf, untuk?" tanya Resha bingung "Resha, sungguh aku meminta maaf, aku sudah menyakitimu, aku tak bisa menunggumu dan memilih menikah dengan wanita lain" Resha masih mempertahankan senyum manisnya. "Kak Gavin, sungguh Resha sudah ikhlas bahkan Resha sangat ikhlas melepas kak Gavin, Resha memang bukan jodoh kak Gavin dan Resha juga tidak memaksakan diri untuk kita berjodoh kak" ujarnya pelan dan tertata sangat sopan "Resha selalu berdoa untuk kebahagiaan kakak dan semoga ini pilihan yang terbaik yang Allah kirim buat kakak" lanjutnya. Ya Allah kuatkan hati Resha dan berikan Resha rasa ikhlas yang luar biasa untuk melepas seseorang yang pernah sangat Resha sayang. Resha jaga sikap jangan sampai air mata indah mu menetes. batinnya Gavin masih menatap Resha dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Dia memperhatikan wajah ayu nan manis yang masih tersenyum untuknya itu. Andai gadis itu mau di ajaknya menikah mungkin hatinya tak akan sesakit ini. Mungkin kebahagiaan akan menyelimuti hatinya saat ini. Namun jalan Tuhan akan jauh lebih indah. Apa kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita dan apa yang Tuhan inginkan sudah pasti yang terbaik buat kita. Resha selalu percaya itu. Jika saat ini dia kehilangan orang yang baik maka suatu saat Tuhan akan menggantinya dengan orang yang sangat baik pula. "Aku sangat berharap kamu bisa datang" ujar Gavin penuh harap "Insya Allah Resha pasti datang kak dan Resha pasti akan ajak ayah dan ibu juga" jawab Resha "Resha makasih, semoga kelak kau akan menemukan orang yang lebih baik dari aku" "Aamiin, ya udah kak Resha balik duluan udah malam gak enak sama ibu kos" pamitnya sopan yang di anggukan oleh Gavin. Resha tak langsung kembali ke kostnya namun dia pergi ke rumah sahabatnya. Ayu sahabat yang selalu ada untuk Resha. Sahabat yang selalu menemani Resha dari pertama Resha masuk ke kampusnya. Ayu tempat tumpuan Resha. Apapun yang Resha rasakan bahagia atau sedih Resha selalu datang ke Ayu. Ayu sudah seperti kakak pengganti buat Resha. Resha datang dengan mata yang sudah sembam karena sedari di dalam taksi Resha sudah tak bisa menahan air matanya. Ayu langsung memeluk Resha dengan sangat erat lalu membawanya ke kamarnya di sana tangis Resha semakin pecah. Ayu membiarkannya karna sebagian orang menangis bisa mengurangi beban yang sedang di tanggungnya. "Sekarang kamu cerita, kenapa?" tanya ayu perhatian "Minggu depan dia akan menikah yu" jawab Resha terbata-bata yang berusaha menahan tangis. "Dia bertaaruf dengan perempuan lain" air matanya kembali mengalir begitu saja, dia sudah ikhlas namun rasa sakit itu pasti ada, rasa kehilangan itu pasti ada. Dua tahun lebih mereka bersama bukan hal mudah bagi Resha untuk menghapus semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. "Aku ikhlas yu melepas kak Gavin untuk bersanding dengan wanita lain tapi kenapa hatiku masih sakit yu? aku sudah ikhlas yu sungguh ikhlas" ujarnya panjang lebar meyakinkan dirinya kalau dirinya sudah benar benar ikhlas "Re, bukan masalah ikhlas atau tidak ikhlas tapi terlalu banyak kenangan manis yang sudah kalian lewati, bukan hanya ikhlas sayang tapi kamu juga harus bisa menghapus semua kenangan manis itu, memang tidak mudah tapi pelan pelan kamu pasti bisa" Resha mencerna dengan baik ucapan Ayu, Resha memang belum bisa menghapus semua tentang Gavin. "Coba deh Re sedikit demi sedikit kamu buka hatimu untuk pria lain, memang tidak mudah tapi tak ada salahnya mencoba bukan?" lanjutnya "Ayu...." gadis itu kembali memeluk sahabatnya, dengan begini rasa sakitnya sedikit berkurang. "Sudah ya jangan menangis lagi, tidak baik menangis hanya karna laki laki" ucapnya sambil mengusap air mata sahabatnya itu "bukan kah jika kita melepas orang yang baik maka Allah akan menggantinya dengan orang yang sangat baik" lanjutnya dengan senyum, berharap sahabatnya bisa kembali tersenyum "Iya itu benar" senyum manis itu mulai kembali menghiasi wajah ayu nan manis Resha
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN