Episode 14

1215 Kata
Semua tamu sudah pada pulang, jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Kak Tiara dan Ferdy sudah kembali ke hotel pun dengan papa dan mam la Gadendra karena besok mereka sudah harus kembali ke ibukota. Ada urusan yang tak bisa di tinggalkan. Tinggal Arif dan Ayu. Resha mengobrol diruang tengah dengan Ayu sedang Agha masih asyik berbincang dengan Arif di luar. "Apa loe tau?" tanya Agha. Arif menatap Agha dengan tatapan bingung. "Tau apa?" tanya balik Arif. "Kalau Resha mau menikah?" Agha memelankan nada bicaranya, sedikit canggung. Arif tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya. "Iya tau karena om Naja langsung yang ngabarin gue tapi gue kagak tau kalau calon suami Resha itu loe" jawab Arif. "Seneng ya akhirnya berjodoh sama Resha?" tanya Arif menggoda Agha. "Resha, mana suami kamu?" tanya ayah yang membuat Resha terdiam sesaat. 'Suami' "Ada di luar yah, sama Arif" jawab Resha dengan cepat. Ayah menyusul Arif dan Agha diluar, karena cuaca lagi mendung dan petir bersautan sedari tadi. "Nak Agha, Arif, ayok masuk kedalam sudah mendung, sebentar lagi pasti turun hujan" ajak ayah Naja. "Iya om" Arif yang menjawab dan benar hujan turun langsung besar dan sedikit angin. "Wah asyik nih, malam pertama hujan" lagi-lagi Arif menggoda Agha, setelah ayah duluan masuk. "b*****t loe, Rif" balas Agha yang dibalas tawa oleh Arif. "Yu, gue mandi dulu ya. Badan rasanya lengket" pamit Resha saat melihat Agha dan Arif berjalan menghampirinya. Resha masih belum siap bertemu Agha. bukan, tapi gadis itu masih malu. "Iya, mandi yang bersih, yang wangi biar kak Agha makin klepek-klepek sama loe" balas Ayu yang hanya diacungi jempol oleh Resha. "Resha, kemana yank tadi?" tanya Arif pada Ayu. "Mau mandi katanya, biar wangi" balas Ayu sembari melirik Agha menggoda. "Oh iya,, sekarangkan sudah ada_" Arif sengaja menjeda ucapannya, diliriknya Agha yang sedikit kesal karena tau arah pembicaraan Ayu dan Arif yang ujung-ujungnya meledek Agha. "Iya sekarang sudah ada yang ngelonin, puas loe" sahut Agha karena kesal. Arif dan Ayu tertawa terbahak mendengar ucapan fulgar Agha. "Sepertinya lagi seru?" ujar ibu yang baru datang entah dari mana. "Iya Tan, katanya Agha sudah tidak_" dengan segera Agha menginjak kaki Arif untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Nak Agha, mana Resha?" tanya ibu pada Agha dengan begitu lembut. "Resha" Agha bingung mau menjawab apa, karena sedari selesai ijab Qabul terus di lanjut foto-foto, Agha belum mengobrol sama sekali dengan Resha. Jangankan mengobrol, berdekatan dengan Resha pun belum ia lakukan. "Resha, ada dikamar Bu. mau mandi katanya" lanjut Agha ingat apa yang di ucap Ayu tadi jika Resha ingin mandi. "Itu anak, suami masih mengobrol sudah ditinggal masuk" oceh ibu. "Gak papa Bu, mungkin dia kelelahan" balas Agha. "Maafkan Resha ya, dia memang begitu" ujar ibu sembari mengelus lengan manja Agha dengan penuh kasih sayang. "Gak apa-apa Bu, Resha belum terbiasa saja" "Ya sudah kalau begitu" ibu mengalihkan pandangannya pada Arif dan Ayu. "Kalian menginapkan?" tanya ibu. "Tadinya mau langsung balik Tan cuma gak di bolehin sama menantu Tante" jawab Arif dengan manjanya yang lagi-lagi membuat Agha kesal. Agha lebih senang jika Arif pulang duluan karena si curut satu ini pasti tidak akan meledek dan menggodanya seperti ini. Ingin rasanya Agha menonjok mulut Arif yang asal jeplak itu. Namun, tidak. Ada ibu disini, dia tidak akan melakukan itu sekarang. Dia akan membalasnya nanti. Ibu tersenyum begitu tulus. "Iya sudah, kamu tidur sama Reza gak papa kan? biar nak Ayu tidur di kamar tamu" "Iya Tan gak papa" jawab Arif. "Ya sudah kalau begitu Tante ke dalam dulu. Oh ya, nak Agha kalau butuh apa-apa bilang saja sama Resha biar Resha layani" ujar ibu. "Agha tidak perlu apa-apa Tan, dia hanya butuh Resha saja" gurau Arif yang membuat Agha semakin kesal sampai ke ubun-ubun. Ibu hanya tertawa mendengar gurauan Arif. Ibu sangat hafal dengan sifat keponakannya yang sangat suka bercanda itu. Oh ya, orangtua Arif tidak bisa datang karena mereka sedang berada di luar negeri. Selama empat tahun terakhir ini, Mereka memutuskan untuk menetap di sana karena usaha yang mereka kembangkan di sana semakin maju. Hanya sesekali mereka ke tanah air untuk menengok putalranya jadi orangtua Arif menitipkan Arif pada orangtua Resha. Adik papanya Arif. "Aku ke kamar dulu" pamit Ayu dan berlalu. "Aauu, sakit bodoh" Agha sengaja memukul aset berharga Arif dengan sedikit keras. Tak menghiraukan kesakitan dan ocehan Arif. Agha berlalu meninggalkan Arif yang masih kesakitan begitu saja. Di dalam kamar, Resha sudah selesai membersihkan diri, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Menghindar lagi dari Agha, tidak mungkin. Karena cepat atau lambat Agha pasti akan masuk juga ke kamar ini dan mereka pasti akan bertemu. Kklleekk, pintu kamar terbuka. Resha menoleh, dan benar, ada Agha di sana. Resha merasa canggung, tidak tau apa yang harus dia lakukan. Bukan hanya Resha, Agha juga sama seperti Resha, tidak tau harus berbuat apa. Diam atau menyapa. Bukan Resha, jika tak bisa mencairkan suasana. Resha, berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Agha yang masih dengan setia berdiri di tempatnya. "Mas Abi mau mandi?" tanya Resha memulai percakapan. "Ee iya" jawab Agha sedikit terbata. "Mau aku siapin air hangat?" tanya Resha perhatian. "Tidak usah. Aku tidak terbiasa mandi air hangat" jawab Agha. Resha hanya mengangguk, lalu kembali duduk di sofa. "Kamu sudah selesai mandinya?" kini ganti Agha yang bertanya. Resha tersenyum, tidak perlu ia bertanya harusnya Agha sudah tau kalau Resha sudah selesai mandi. Karena ia sudah mengganti pakaiannya dan menghapus make up-nya. "Sudah" jawab Resha. "Kalau begitu aku mandi dulu" ucap Agha dan langsung masuk ke kamar mandi. Hanya sekitar lima menit saja Agha membersihkan badannya setelahnya Agha keluar dari kamar mandi karena udara di kota B sangat dingin ditambah hujan yang semakin lebat. "Sudah mas mandinya?" tanya Resha sesantai mungkin untuk menutupi rasa groginya karena ini kali pertamanya mereka berduaan di dalam kamar seperti ini. "Iya, dingin sekali ternyata" jawab Agha yang sudah mulai santai. "Mau aku bikinin teh hangat?" tawar Resha. "Enggak usah, re" jawab Agha. Agha duduk di tepi ranjang sedang Resha, gadis itu duduk di sofa. Suasana kembali hening, mereka lebih memilih untuk saling diam. Tak lama Agha menguap karena dari semalam ia tak tidur. "Mas Abi ngantuk?" tanya Resha memecahkan keheningan. Agha tersenyum. "Maaf dari kemarin tidak tidur" "Ya udah kalau begitu mas tidur gih tar sakit lho kalau kurang istirahat" Resha berdiri dari duduknya. "Malam ini mas Abi tidur di kasur saja biar Resha tidur di sofa" Ujar Resha sambil berjalan menuju almari untuk mengambil selimut. "Kenapa di sofa?" tanya Agha bingung. "Eng_" belum sempat selesai Resha berkata Agha sudah memotong ucapan Resha. "Tidak akan berdosa Resha jika kita tidur saja ranjang, akan lebih berdosa lagi kalau kita tidur terpisah. karena sekarang aku suami kamu dan kamu istri aku" Resha tersenyum kecut. Apa Agha amnesia atau apa? jelas-jelas di dalam perjanjian itu tertulis kalau tidak boleh tidur dalam satu ranjang. "Tapi mas?" Agha menghampiri Resha, mengambil tangan Resha dan membawa gadis itu untuk tetap tidur di kasur bersamanya. "Kita baru saja menikah tadi siang dan aku tidak ingin kita tidur terpisah" ucap Agha begitu sangat lembut. Belum pernah Resha melihat Agha selembut ini. Tak ingin menjadi istri durhaka, Resha akhirnya menuruti keinginan Agha. Dengan sedikit ragu, Resha menaiki ranjangnya dan di susul Agha, dan mereka akhirnya tidur bersama. _________ Semoga suka dengan ceritaku..... ??❤️❤️ Maaf masih banyak kekurangan karena masih belajar....??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN