Pagi hari, semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Namun belum dengan Resha dan Agha.
"Tumben Bu Kaka Resha belum ikut gabung, biasanya kan pagi-pagi kak Resha sudah bantu ibu" ujar Reza dengan polos.
"Mungkin kak Resha kecapekan karenakan dari kemarin kak Resha belum istirahat" ujar ibu dengan senyum khasnya. Reza menganggukkan kepalanya mengerti.
"Maaf yah, Bu, kita kesiangan" ucap Agha tidak enak hati karena membuat mereka menunggu.
"Iya iya gak papa ayah ngerti kok" jawab ayah "Iya kan Bu?" ibu hanya tersenyum, mengerti maksud suaminya.
"Ayo duduk, kita sarapan bersama" kata ibu mempersilahkan. Resha dan Agha duduk bersebelahan.
"Kak Resha tumben kesiangan?" tanya Reza di sela-sela Resha mengambilkan sarapan untuk Agha.
"Kak Resha semalam habis bertempur sama kak Agha makanya kesiangan" bisik Arif pada Reza.
"Bertempur?" tanya Reza tak mengerti maksud Arif.
"Kak Arif, jangan ajarin Reza yang aneh-aneh ya" omel Resha.
"Gue gak ngajarin aneh-aneh re, gue cuma bicara apa adanya kok" bela Arif.
"Kak Arif ngomong apa dek?" tanya Resha setelah selesai mengambilkan makanan untuk Agha.
"Katanya kak Resha sama kak Agha semalam habis bertempur makanya kesiangan" jawab Reza dengan sangat polosnya.
Agha memelototi Arif, jika sedang tidak ada orangtua Resha, Agha bersumpah akan memutilasi mulut Arif yang tak tau tempat itu.
"Kak Arif berani ngomong begitu lagi sama Reza gue patahin leher loe" sisi lain Resha yang selama ini tak Agha ketahui akhirnya sedikit Agha tau juga. Gadis yang selama ini dikenalnya kalem, periang ternyata bisa galak juga.
"Kalian selalu seperti kucing sama tikus kalau sudah bertemu" ujar ayah. "Arif jangan seperti itu lagi, Reza belum cukup umur untuk masalah begitu" Arif hanya mengangguk sambil cengingiran. "Kamu juga Resha jangan galak-galak jadi perempuan" lanjut ayah.
"Iya yah" jawab Resha seadanya.
Agha terus memperhatikan Arif dan Resha yang saling baku ancam dengan kode layaknya anak kecil yang takut ketahuan orangtuanya jika sedang bertengkar. Mereka terlihat begitu dekat dan sangat akrab. Tanpa terasa bibir Agha melengkung membentuk sebuah senyuman. Hatinya merasa damai dan bahagia melihat senyum Resha.
"Mas Abi mau nambah makannya?" tanya Resha.
"Tidak, terimakasih" jawab Agha "Kamu saja yang nambah makannya biar badannya agak gemukan" lanjut Agha menggoda Resha.
"Memang mas Abi mau punya istri yang gemuk begini" Resha menggembungkan pipinya. Agha yang melihatnya merasa sangat gemas, ingin rasanya ia mencubit pipi Resha namun tidak ia lakukan. Agha lebih memilih mengelus manja kepala Resha yang membuat Resha tersenyum malu.
"Iihh kalian pengantin baru pagi-pagi udah bikin orang iri aja" ujar Ayu yang melihat ke uwuan sahabatnya.
"Tu Rif, nak Ayu sudah memberi kode tu" sahut ayah.
"Kamu mau jadi tulang rusuk aku?" tanya Arif pada Ayu. "Aku sudah siap kok jadi tulang punggung kamu" belum sempat Ayu menjawab, Arif sudah melanjutkan ucapannya.
"Kak Arif jangan kebanyakan ngegombal, datengin dong orangtuanya" tantang Resha. "Iya kan yu?" tanyanya pada Ayu yang di balas gelengan oleh Ayu dengan cepat.
"Dokter muda, tampan di tolak oleh seorang mahasiswi cantik karena kebanyakan ngegombal" celetuk Reza dengan nada candanya.
Ayah merasa bahagia, sangat bahagia melihat kedua anaknya bisa tertawa lepas seperti ini. Tak ada yang lebih bahagia ketimbang kebahagiaan anak-anaknya. Namun, jauh di lubuk hati ayah, terbesit rasa bersalah. Demi keegoisannya, ayah mengorbankan kebahagiaan putrinya. Tapi rasa itu sedikit terkikis melihat senyum tulus Resha. Melihat Resha bercanda dengan suaminya tanpa beban.
Selesai sarapan, Ayu dan Resha membantu ibu beberes dapur dan juga rumah sedang ayah Arif lagi mengobrol serius di ruang kerja ayah. Agha tidak tau harus ngapain. Menghabiskan waktu di kamar seperti yang ia lakukan di rumah jika sedang tak ada acara? Tidak. Ia tidak enak dengan yang lain.
Agha berjalan ke halaman belakang rumah Resha. Ia ingin menikmati udara sejuk di kota B yang tak ia temui di ibukota. "Tidak terlalu besar, namun sangat nyaman" ujar Agha dalam hati. Ya kediaman keluarga Naja memang tak besar di banding kediaman keluarga Gadendra. Mata Agha menangkap Reza yang sedang melamun di sana.
"Kamu sama ya seperti kak Resha, suka melamun" ucap Agha yang sudah ikut duduk bersama Reza.
"Emang iya?" tanya balik Reza yang di balas anggukan oleh Agha. "Darimana kak Agha tau, bukankah kak Agha dan kak Resha baru kenalan kemarin?" kini Reza menatap Agha, menunggu jawaban dari Kakak iparnya itu.
Agha tersenyum ke arah Reza. "Kamu salah. Kak Agha sama kak Resha sudah lama kenal dan kita berteman baik" balas Agha.
"Apa kak Agha mencintai kak Resha?" speechless, Agha tak tau harus berkata apa. Jujur Agha pun juga tak tau apa dia mencintai Resha atau tidak? tapi dia selalu merasa nyaman jika berada di dekat Resha. "Kok kak Agha diam?" Agha menarik nafasnya, mengaturnya perlahan.
"Kak agha_"
"Kak Resha gadis baik kok kak" potong Reza dengan cepat. "Jika kak Agha saat ini belum bisa mencintai kak Resha, Eza mohon, tolong kelak jangan sakiti kak Resha karena kak Resha sudah banyak menderita" pinta Reza dengan begitu tulus. Agha memang tak terlalu banyak tentang Resha, yang ia tau Resha ialah gadis periang. Gadis yang selalu tersenyum dengan keadaan. "Dalam senyum, kak Resha banyak menyimpan beban. Eza bisa lihat dari mata kak Resha" lanjutnya.
Agha semakin penasaran dengan kehidupan Resha. Sebenarnya Agha ingin tau lebih banyak tentang Resha, namun dia malu untuk menanyakannya.
"Oh ya, kakak dengar kamu tinggal di pesantren ya?" tanya Agha mengalihkan pembicaraan.
"Iya kak. Eza mondok" jawab Reza.
"Apa kak Resha dulu juga mondok?" tanya Agha yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Mana mau kak Resha mondok kak" jawab Reza apa adanya. "Kak Resha lebih milih sekolah di sekolah umum karena kak Resha dulu anaknya nakal bahkan ayah sering di panggil ke sekolah kak Resha karena kak Resha sering bikin ulah" cerita Reza semakin menarik untuk Agha dengar. Ternyata, Resha tak jauh beda darinya waktu SMA dulu.
"Oh ya?"
Reza mengangguk. "Pernah ayah sampai marah sekali karena kak Resha ketahuan merokok di sekolahnya tapi kak Resha hanya tidak mengaku sampai ayah mengurung kak Resha dan tak mengizinkan kak Resha keluar dan dari situ kak Resha mulai berubah, karena mulai menutup kepalanya dengan berhijab"
"Emang kak Resha dulu tidak berhijab?"
"Kak Resha baru berhijab setelah kelas dua belas. Ayah dulu sempat lho kak tak mengizinkan kak Resha kuliah di ibukota, takut kak Resha melepas hijabnya kembali dan salah pergaulan tapi untungnya kak Resha punya teman seperti kak Ayu dan kak Gavin yang membantu kak Resha untuk lebih baik lagi"
"Kak Gavin?"
"Kak Gavin mantan pacarnya kak Resha kak. Orangnya sangat baik sama Eza, ayah dan ibu. Kak Gavin sangat mencintai kak Resha. Kak Gavin juga pernah melamar kak Resha tapi kak Resha menolaknya karena kak Resha tidak menikah muda" Agha tak percaya jika hubungan Resha dan Gavin sedalam itu. Pantas jika Resha sangat terpuruk waktu ditinggal Gavin menikah.
"Kak, Eza mohon jangan lagi membuat luka di hati kak Resha. Cukup kak Gavin yang membuat luka di hati kak Resha. Eza berharap kak Agha bisa menghapus luka kak Resha dan menggantinya dengan senyum" lagi-lagi pinta Reza.
"Kak Resha sudah banyak berkorban demi Eza. Demi kesembuhan Eza, kak Resha rela menerima perjodohan ini" lanjut Agha yang segera menutup mulutnya karena keceplosan.
"Kesembuhan. Eza sakit?" tanya Agha yang hanya di balas anggukan oleh Reza.
"Eza kanker darah stadium dua kak. Tapi Eza mohon, jangan kak Agha cerita sama kak Resha. Eza tidak mau kak Resha sedih. Eza sangat menyayangi kak Resha"
Agha terdiam, masih tak percaya. Reza yang masih remaja, yang masih waktunya senang-senang bersama teman seumurannya harus berjuang melawan penyakitnya. Masih sangat menyakitkan bagi remaja itu.
Agha mengelus pelan kepala Reza. "Iya kak Agha janji, kak Agha akan membuat kak Resha bahagia dan akan selalu membuat kak Resha tersenyum hingga kak Resha lupa akan lukanya" balas Agha dengan senyum manisnya.
Keesokan harinya. Agha, Resha, Ayu dan Arif pamitan sama ibu dan ayah untuk kembali ke ibukota. Sedih. Ya satu rasa itu yang ayah dan ibu rasakan. Sedang Reza, remaja itu sudah kembali ke pesantren sejak kemarin sore.
"Om Tante, Ayu pamit dulu ya. Makasih sudah ya sudah mengizinkan Ayu untuk tinggal di sini dalam beberapa hari terakhir" pamit Ayu.
"Iya nak Ayu. Sering-sering main kesini lagi ya" balas ibu.
"Ayah, ibu, Resha pamit dulu ya. Ayah sama ibu baik-baik ya. Resha akan sering-sering tengok ayah sama ibu" pamit Resha yang bergantian memeluk ayah dan ibu.
"Iya, jaga diri kamu baik-baik dan ingat. Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Layani suamimu dengan baik" pesan ayah yang di balas anggukan oleh Resha.
Kini giliran Agha yang pamitan. Agha menyalami tangan ayah dan ibu bergantian. "Ayah, ibu, Agha meminta izin untuk membawa Resha tinggal bersama Agha di ibukota"
"Iya. Jaga Resha baik-baik ya nak. Resha masih banyak kurangnya tolong bimbing Resha untuk menjadi istri yang baik untuk nak Agha ya?" pesan ibu.
"Iya Bu" semua sudah masuk ke dalam mobil. Hanya tinggal Arif.
"Om Tante, jangan lupa Minggu depan Reza ada pemeriksaan lagi dan setelah itu kita lakukan kemoterapi untuk Reza. Arif akan datang kembali untuk menemani Reza kemo" ucap Arif.
"Iya" jawab ayah. "Titip adikmu Resha ya?" pesan ayah.
"Pasti om. Agha anak yang baik kok, Arif yakin Agha bisa menjaga Resha dengan baik" balas Arif.
Setelah acara pamitan yang cukup menguras air mata untuk Resha. Secara pelan namun pasti, mobil Arif meninggalkan area rumah keluarga Naja dan melaju menuju ibukota. Dimana kehidupan yang sesungguhnya akan dimulai.
_______
Makasih yang sudah setia menunggu. Semoga kalian suka dengan cerita sederhanaku ini......