Episode 6

1043 Kata
Sejak perkenalannya satu Minggu yang lalu itu, hubungan Resha dan Agha semakin dekat. Biarpun mereka belum bertemu kembali dan hanya berkomunikasi melalui ponsel tapi itu tak mengurangi keakraban mereka. Ayah dan ibu sudah kembali ke kota B dari dua hari yang lalu. Ayah belum membicarakan mengenai perjodohannya dengan anak tuan Gadendra. Ayah akan membicarakannya ketika Resha main ke kota B nanti. Masih terlalu cepat jika ayah membicarakannya sekarang. Bukan hanya itu ayah juga belum menemukan ide yang pas supaya Resha tak menolak perjodohan ini. Malam ini Resha ada janji untuk ketemuan dengan Agha. Ini kali ke dua pertemuannya dengan Agha setelah pertemuan siang itu. Tepat pukul tujuh malam Agha menjemput Resha di kontrakannya. Agha begitu bersemangat dan pria itu juga nampak begitu tampan. Karismanya sungguh keluar malam ini. Dengan semangat yang begitu menggebu, Agha keluar dari mobil dan mengetuk pintu kontrakan Resha. Tok tok tok... Tak lama pintu itu terbuka dan sang pemilik menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis. Gadis itu mempersilahkan tamunya untuk masuk. "Masuk mas" ujarnya dengan begitu sopan. "Iya" jawab Agha dan pria itu ikut masuk. Resha sengaja tak menutup pintu karna dia tak ingin tetangga yang lain berpikir yang tidak tidak tentangnya. Ya begitulah kebiasaan Resha. "Kamu sendiri di ibu kota?" tanya Agha memulai pembicaraan "Enggak, ada Ayu dan Arif" jawab Resha "Kenapa Arif gak pernah cerita ya punya sepupu cantik seperti kamu?" ujarnya dengan sedikit tawa. Agha memang seperti itu jika lagi salting. salah tingkah. "Aduh Resha gak ada uang receh mas" "Untuk apa uang receh?" "Tadi mas sudah memuji Resha cantik tapi makasih lhow mas pujiannya" ujarnya sambil memainkan bulu matanya. "Oh ya aku baru tau kalau ternyata mbak Kanaya itu mantannya mas Abi" lanjutnya "Bukan, Kanaya itu sahabat aku dia bukan mantan aku" Agha berusaha menjelaskan tak ingin Resha salah paham soal hubungannya dengan Kanaya. "Sahabat rasa pacar ya mas" goda Resha. Gadis ini memang sedikit keterlaluan namun itulah Resha, gadis apa adanya yang selalu ingin menjadi dirinya sendiri. "Jangan keras keras nanti orang tau semua" jawab Agha yang membuat Resha tertawa lepas. Bukan hal lucu namun mampu membuat Resha tertawa hingga susah berhenti. "Puas amat ketawanya" lanjut Agha. "Habis mas Abi lucu, masak iya sahabat rasa pacar itu" ujarnya masih menahan tawa. "Lalu bagaimana ceritanya kamu bisa di tinggal menikah sama pacar kamu dulu?" tanya Agha dengan hati hati, takut jika Resha tersinggung. "Kalau jodoh ya duduk di kursi pelaminan kalau tidak jodoh ya jadi tamu undangan, seperti aku kemarin" Jawab Resha "Intinya memang aku sama dia bukan jodoh" lanjutnya "Berarti kamu jodoh aku" celetuk Agha "Mas Abi ngarep" seru Resha "Tapi kalau memang Allah mentakdirkan kita berjodoh, apa bisa kamu menolak" ujar Agha "Iya mas Agha benar" kali ini Resha tak bisa berkata lagi. Satu Minggu berlalu, sejak pertemuan ke dua malam itu hubungan Agha dan Resha semakin tambah dekat. Agha sering mengantar jemput Resha kuliah ketika ia tak sedang sibuk. Pria itu terlihat lebih bersemangat dan juga banyak perubahan positif pada diri Agha sejak ia kenal Resha. Pun dengan Resha. Wajahnya kini tak sering murung seperti kemarin. Gadis itu lebih banyak tertawa. Seperti tak ada beban hidup sejak ia mengenal Agha. Beda seperti saat ia bersama Gavin. Gadis itu seperti menyimpan beban yang begitu berat. Bukan mantra atau rayuan apa yang Agha berikan pada Resha, namun mampu mengubah hidup Resha menjadi lebih berwarna. "Sepertinya loe sama kak Agha semakin dekat aja Re?" Ayu selalu senang jika menggoda sahabatnya ini. "Siapa bilang, ini sekarang aku lagi deket sama loe bukan sama mas Abi" dan selalu, Resha selalu ngeles jika Ayu sudah menggodanya. "Mas Abi, ada panggilan khusus ni?" godanya kembali "Iya kan waktu dia kenalan sama aku, dia memperkenalkan diri Abian bukan Agha" memang waktu itu Agha memperkenalkan diri dengan nama Abian dan sudah kebiasaan Resha memanggilnya Abi. Sepertinya sangat mengganjal jika ia memanggilnya Agha. "Tapi kalau gue perhatiin, hidup loe sekarang lebih berwarna Re" "Loe kira gue pelangi lebih berwarna" "Bukan gitu Re, hidup loe sekarang lebih lepas dan loe juga sering ketawa, beda sama dulu, hidup loe seperti menanggung beban Berton ton" ujar Ayu berkata jujur "Iya Yu, mas Abi selalu membuat gue untuk menjadi diri gue sendiri dan dia juga suka ngajak gue bercanda" ucap Resha. "Apa loe ada perasaan sama kak Agha Re?" lagi lagi Ayu menggoda Resha dengan pertanyaan konyolnya "Gue kenal mas Abi baru sepuluh harian Yu, gak segampang itu jatuh cinta. Semua butuh proses dan waktu" ujar Resha menjelaskan, supaya sahabatnya tak lagi menggodanya dengan pertanyaan konyolnya. ~~~~~~~~~~ Hari ini Arif dapat shift pagi, setelah selesai jam kerjanya Arif langsung ke kantor Agha dan kebetulan hari ini Agha lagi kosong. "Gha, jalan yuk?" ajaknya setelah berada di ruangan Agha "Jalan kemana Rif, lagi malas gue" jawab Agha singkat. "Oh ya loe kemarin habis ketemuan lagi ya sama Resha?" "Macam paranormal kau sekarang Rif" Arif hanya tertawa mendengar celetukan temannya. "Gimana sepupu gue?" "Ya loe sudah tau dia lalu kenapa loe tanya gue lagi" "Bukan gitu maksud gue gha" "Lalu, apa maksud loe?" "Loe jangan pura pura gak ngerti deh gha?" Agha hanya tersenyum, sebenarnya dia paham akan maksud Arif namun terkadang dia hanya pura pura tak paham. Agha berdiri dari tempat duduknya lalu melipat lengan kemejanya. Menaruh ke dua tangannya ke dalam saku celananya. Pria berjalan menuju jendela ruangannya. Dia menatap jalanan ibu kota yang begitu padat. "Dia gadis yang baik, periang dan dia juga gadis yang begitu tegar dan satu lagi dia selalu menjadi dirinya sendiri. Itu yang gue suka dari Resha dan dia selalu bikin gue nyaman. Ya selama ini gue nyaman bersama dia" Agha masih fokus menatap ke luar. Pikirannya entah melayang kemana. Ataukah dia lagi memikirkan Resha? entahlah, tak ada yang tau perasaannya. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Dia suka tersenyum sendiri jika teringat Resha. Gadis yang sudah merubah hidupnya. "Apa loe menyukainya?" Arif ikut beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Agha. "Iya gue menyukainya" jawab Agha jujur "Apa loe mencintainya?" Arif terus mencecarnya dengan pertanyaan konyolnya. "Gue nyaman Rif sama Resha" jawabnya "Tapi kalau cinta, gue masih belum tau Rif. gue baru kenal dia belum ada satu bulan dan tidak semudah itu jatuh cinta Rif tapi kalau loe tanya gue nyaman atau tidak, gue nyaman Rif sama dia tapi kalau cinta, gue juga gak tau Rif" lanjutnya "Lalu bagaimana perasaan loe sama Qainara?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN