Resha kembali ngampus seperti biasa. Ayah sama ibu masih di ibukota, mereka masih ingin mengunjungi teman kuliah mereka dulu. Ayah begitu bersemangat. Sudah hampir lima belas tahun ayah tak berjumpa teman dekatnya itu. Mereka hanya berhubungan lewat ponsel saja dan hari ini mereka membuat janji untuk saling bertemu.
Setelah dua puluh menit perjalanan akhirnya ayah dan ibu sampai di suatu restoran tempat mereka janjian.
Di sana sudah ada dua orang yang menunggu ke datangan ayah dan ibu. Sama seperti Ayah dan ibu, dua orang itu juga sudah menahan rindu.
Dulu mereka kemana mana selalu berempat namun karna orangtua ayah sakit akhirnya ayah dan ibu memutuskan untuk kembali ke kota B dan merintis usaha di kota B hingga saat ini.
Rasa senang dan rasa haru barcampur jadi satu ketika mereka bertemu. Ini kali pertama pertemuan mereka setelah hampir lima belas tahun tak bertemu. Saking bahagianya mereka sampai meneteskan air mata.
Ibu memeluk erat sahabat itu dengan begitu hangat pun dengan ayah. Ya mereka berpelukan begitu lama. Mereka ingin melepas rindu yang sudah hampir lima belas tahun ini terpendam.
"Apa kabarmu, Gadendra?" tanya ayah setelah melepaskan pelukan
"Seperti yang kau lihat Naja, aku sangat baik" ujar tuan Gadendra lalu mempersilahkan ayah dan ibu dan mereka kembali bernostalgia.
Raut bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Nyonya Gadendra terus menggenggam tangan ibu. Tak pernah dia temukan sahabat seperti ibu. Hanya ibu yang selalu mengertinya.
"Bagaimana putrimu?" tanya pak Gadendra penuh semangat "pasti dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik bukan?" lanjutnya
"Bukan hanya cantik tapi dia juga seorang gadis yang sangat tegar, satu Minggu yang lalu dia baru saja di tinggal menikah kekasihnya dan aku begitu bangga pada putriku dengan keikhlasannya dia rela melepas orang yang begitu dia cintai dan dengan begitu tegar dia sanggup menyalami dan memberi selamat untuk mantan kekasihnya itu" seru ayah Naja panjang lebar
"Berarti sama dong Pa seperti Abian, dia juga baru di tinggal menikah Kanaya tiga Minggu yang lalu" ujar Bu Gadendra
"Beda ma, Abian sama Kanaya itu tidak pacaran, mereka hanya sebatas sahabat" ucap pak Gadendra
"Ya intinya sama sama di tinggal menikah" tukas Bu Gadendra yang membuat mereka tertawa bersama.
"Oh ya Ja, bagaimana kalau kita jodohkan putri mu dengan putraku?" usul pak Gadendra
"Tapi putri ku masih kuliah dra, aku juga tidak yakin kalau dia mau nikah muda" Ayah sangat yakin kalau Resha tak ingin nikah muda karna selain ada problematik belum siap menikah muda adalah salah satu alasan Resha untuk mengakhiri hubungannya dengan Gavin.
"Tak masalah Ja itu semua bisa di atur, kita bikin sedikit drama supaya mereka mau menerima perjodohan ini"
"Baiklah, akan ku bicarakan pada putri ku nanti" mereka tersenyum bahagia berharap putra dan putri mereka bisa benar benar berjodoh dan hubungan yang sudah terjalin baik akan menjadi semakin baik.
______________________
Resha sudah ijin sama ayah dan ibu kalau dia ingin jalan sama ayu selesai kuliah. Gadis itu ingin refreshing. Bukan namun ia ingin menghapus bayang bayang Gavin.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar, banyak kenangan manis yang mereka lalui bersama tak mudah bagi Resha untuk melupakan itu semua. Butuh waktu. Mungkin kata itu yang tepat untuk Resha saat ini.
Ayu lagi PDKT dengan Arif, dia sengaja mengajak Resha bukan bermaksud untuk memanas manasin namun ia ingin mengenalkan Resha dengan teman Arif.
Ayu tak ingin melihat Resha terlalu larut dalam kesedihannya walaupun Resha mampu menutupi itu semua. Hanya satu harapan Ayu, Resha bisa sesegera mungkin membuka hatinya untuk pria lain.
"Sorry sorry kita telat" tanpa di persilahkan Arif langsung duduk lalu di ikuti Agha.
"Gaya loe kak mentang mentang udah jadi dokter baru janjian begini saja loe udah telat" Arif hanya tersenyum mendengar ocehan Resha yang seperti burung itu.
"Bukan gue Re yang lama tapi ni anak satu, gue harus nungguin dia rapat dulu" ujarnya sambil nunjuk Agha "Oh ya bro kenalin, ini sepupu gue Resha" Resha tersenyum memperkenalkan diri.
"Resha"
"Abi, Abian" selesai berjabat tangan Resha kembali fokus ke Ayu lagi.
"Udah cuma gitu aja kenalannya?" tanya ayu pada Agha dan juga Resha, Arif sudah pernah mengenalkan Ayu pada Agha dan mereka juga sudah sering bertemu.
"Lalu?" tanya Resha tak mengerti
"Oh ya gha, Resha ini dia senasib sama loe" ucap Arif
"Senasib?"
"Iya, sama sama di tinggal nikah" Ayu yang menjawab dan langsung mendapat tatapan tajam dari Resha.
"Oh ya.. yang semangat ya... Tuhan masih menyembunyikan orang yang lebih baik untuk kamu nanti" ujar Agha lembut memberi semangat
"Pasti dong" jawab Resha penuh keyakinan "Mas Abi yang sabar juga" lanjutnya tak lupa pula senyum manis itu ia perlihatkan
"Eh di sabarin lhow sama orang yang harusnya di sabarin juga" ujar Agha, Resha hanya tersenyum manis. Mereka kembali mengobrol dan dengan sangat mudah Resha dan Agha sudah begitu nyambung dalam bertukar kata.
"Oh ya, mas Abi tadi bilang apa? Tuhan masih apa?" tanya Resha
"Tuhan masih menyembunyikan orang yang lebih baik untukmu" jawab Agha mengulangi ucapannya tadi
"Mas Abi salah, Tuhan sudah mengirimkannya dan orangnya itu mas Abi" ya Tuhan dia sudah mulai berani menggodanya.
Wajah Agha memerah, dia hanya bengong. Sungguh dia tak percaya gadis yang baru di kenalnya sudah berani merayunya. Mungkin jika orang lain akan mengira jika Resha bukan gadis baik baik masak baru kenal sudah berani menggoda. Namun tidak bagi Agha, dia lebih suka cewek yang apa adanya seperti Resha. Gadis itu tetap menjadi dirinya sendiri.
Ayu dan Arif yang sudah mengenal Resha hanya bisa menggelengkan kepalanya. Resha memang begitu dia suka bercanda.
"Awas anak orang loe baperin Re" ujar Ayu, Resha hanya tersenyum lalu menyedot minumannya.
"Mulut gue gatal udah lama gak ngegombalin anak orang" bisik Resha pada Ayu "Apalagi cowoknya cakep begini" lanjutnya, dalam benak Ayu sangat bahagia karena sahabatnya secara tidak langsung sudah mulai bisa membuka hatinya untuk pria lain.
"Gha, loe masak kalah sama cewek, bales dong" seru Arif dengan penuh semangat, Arif berharap jika suatu saat Agha dan Resha bisa bersatu.
"Aku les privat dulu sama Resha buat ngerayu ya" ujarnya, jika di perhatikan. Sedari tadi dia mencuri pandang pada Resha, entah apa yang membuatnya tertarik pada gadis itu. Tak lama makanan yang mereka pesan datang. Mereka makan tanpa suara dan tak lama mereka selesai makan. Tak langsung kembali mereka masih melanjutkan obrolan seru mereka di tambah Agha dan Resha yang semakin akrab.
"Oh ya Re, kamu mau gak suatu saat aku jadiin yang ke dua?" Ayu dan Arif di buat bengong dengan pertanyaan Agha. Apa maksudnya coba tanya seperti itu. Apa dia ingin poligami.
"Kenapa harus yang ke dua?" tanya Resha masih bingung, tak mengerti mengapa Agha tiba tiba tanya seperti itu.
"Jadi yang kedua diurutan kartu keluarga kita nanti maksudnya" senyum manis kembali terukir di wajah Resha. Agha jauh berbeda dengan Gavin. Jika ini yang di gombalin Gavin sudah pasti laki laki itu akan marah, apalagi mereka baru kenal namun tidak dengan Agha. Resha tak percaya jika Agha akan membalas rayuannya.
Bukan hanya Resha, Arif pun tak percaya jika sahabatnya itu akan berani merayu wanita yang baru dia kenal. Agha bukan type laki-laki seperti ini. Yang Arif kenal Agha akan selalu dingin, apalagi dia di goda seperti tadi. Sudah bisa di pastikan Agha akan sangat ilfil pada cewek itu. Namun entah mengapa saat berkenalan dengan Resha, Agha bisa langsung cair.
Semoga mereka berjodoh. doa Arif dan Ayu dalam hati.