Perempuan yg menyebarkan kopi untukku itu, namanya Listya. Aku pertama kali mengenalnya pada f*******:, & relatif usang berteman. Sejak 2 minggu ke belakang, saya sudah berjumpa dengannya secara eksklusif. Itu pun lantaran kebetulan. Atau, mungkin memang telah ditakdirkan. Kupesan padanya, supaya nir terlalu poly memberi gula dalam kopiku, lantaran beliau sendiri telah manis, & orangtuaku punya riwayat diabetes. Dia malah tertawa, kemudian mengataiku ‘gombal’. Mengesankan. Pertemuanku yg tidak disengaja itu, alih-alih sudah memberi satu rutinitas yg baru buatku. Bagaimana nir, aktivitas kuliah yg umumnya datar menggunakan cara pergi-pulang yg membosankan, kini mampu sedikit kuisi menggunakan mampir ke ‘tempat tinggal makan’ milik Listya. Dan memesan kopi, bukanlah alasanku satu-satunya. “Sudah berapa usang kuliah pada Tangerang, Dit?” Tanya Listya dalam kesempatan pertama saya nyasar pada kedainya. “Yaa, hampir 2 tahunan lah” jawabku. Aku, sejatinya tinggal pada kota Cirebon. Memiliki pekerjaan pada sana menggunakan hari kerja Senin hingga Jum’at. Dan 2 hari sisanya kugunakan buat kuliah pada Tangerang. Jauh memang, & nir akan mungkin kulakukan apabila bukan lantaran terdapat Bibi yg memberiku loka tinggal selama kuliahku pada sana. Listya memang sahabat yg mudah akrab. Aku bercerita poly hal dengannya. Bahkan hingga yg nir krusial sekalipun. Katakanlah lelucon. Tetapi justru itu yg lebih membuatnya senang. Tapi, saya nir bergurau waktu kukatakan beliau manis. Dan saya senang menggunakan senyumnya jibila sedang tersipu. Atau, jibila sedang menyambutku -yg telah berulang kali- tiba pada kedainya. Dia tampak sumringah. “Kamu jangan lewatkan mampir ke sini ya, jibila misal mau pergi” pintanya yg tak jarang kudengar. — Perempuan yg sedang membuatkanku kopi itu, namanya Mila. Aku mengenalinya empat tahun yg kemudian, & 2 tahun lalu, saya menikahinya. Terlalu bertele-tele. Jelasnya, Mila itu istriku. Aku pesan padanya, jangan gunakan air yg terlalu mendidih buat kopiku. Sudah siang, nir terdapat ketika buat meniup-niup kopi yg panas menyengat hingga sahih-sahih mampu kuteguk. “Siapa suruh tidur larut malam? Repot sendiri kan jibila kesiangan?” gerutu Mila waktu memberikan kopi itu pada meja. “Bukannya engkau telah tidur ketika semalam saya pergi? Tahu menurut mana saya tidur larut malam?” Tanyaku heran. Semalam, saya memang datang pada tempat tinggal sempurna pukul 2. Bukan jam sepuluh misalnya hari-hari sebelumnya. Saat kubuka pintu kamar, Mila tampak sedang nyenyak pada tidurnya. Tanpa perlu membangunkannya, saya hanya masuk buat menarik satu bantal kemudian keluar lagi menuju sofa. Di sana saya nir eksklusif menutup mata, lantaran handphoneku terus berkiprah mengindikasikan pesan-pesan yg masuk menurut Listya. Isinya, ‘Aku belum mampu tidur, Dit’ Balasku, ‘Kenapa? Lupa beli obat nyamuk?’ ‘Bukan. Tapi ciumanmu terlalu berkesan’. Seperti itu katanya Ya Tuhan, beliau menyukai apa yg telah kulakukan padanya. Saat sore kemarin, sebelum saya meninggalkan Tangerang, saya pulang ke loka kerjanya misalnya yg dia minta. Kemudian, selesainya beberapa usang , beliau memberitahuakn rasa keberatan waktu melihatku hendak pulang selesainya habis secangkir kopi. “Bisa bantu saya tutup kedai ini dulu kan, Dit?” rayunya. “Lho? Masih sore begini?” “Sudah pegel, hehe. Lagipula telah sepi” Aku nir menolak. Kedai Listya pun akhirnya tutup sebelum isya. Dan saya , gagal mengucap pamit waktu Listya malah memintaku buat menemaninya pergi. Aku berdasarkan saja dengannya. Kuantar beliau cuma hingga depan pagar rumahnya. “Sudah malam. Aku pergi ya, Lis?” Pamitku setibanya pada kediaman Listya. Tak terdapat jawab yg keluar menurut bibir manisnya, melainkan senyum hangat yg mampu k****a makna pada dalamnya. Sepasang mata Listya menatapku lekat-lekat, lalu dia membenamkan tatapan itu waktu wajahku mendekat. Selanjutnya… “Memang semalam mas pergi jam berapa?” lanjut tanya Mila “jam 12 saya masih nonton tv, & mas belum pergi tuh” “Aku mulai ikut aktivitas ekstra, Mila… & buat kedepan mungkin akan selalu pergi lebih lambat menurut umumnya” kilahku setelah satu teguk kopi. Aku telah nir terdapat ketika buat membahas keterlambatan pulangku lebih lanjut. Kuharap, Mila relatif percaya menggunakan satu alasanku itu. Matahari nir sedang menanti, beliau terus meninggi menuju siang hari. Apalah daya saya wajib cepat permisi. “Aku berangkat dulu. Sudah siang” kukecup kening Mila, & lekas angkat kaki. Setelah beberapa langkah, saya sempatkan satu kali buat melirik Mila yg masih mematung pada loka duduknya. Saat itu, rasa risi datang-datang mengetuk. Sepanjang jalan, ketua pun mulai dibuahi bermacam pikiran. Mungkinkah Mila mencurigaiku? Dan pada satu cabang pikiran lain, apa jadinya jika suatu waktu Listya memahami bahwa saya sudah beristri? Pertanyaan demi pertanyaan bergantian, pada kepalaku yg masih sedikit dibuai rasa kantuk. Aku nir menduga, waktu datang-datang pada depanku telah terdapat seseorang penyeberang jalan yg menjerit melihat laju kendaraanku sedang menghampirinya. Spontan bercampur kaget, ditambah panik pula. Kubanting setir sedapat mungkin buat menghindari tubuh itu. Dan akhirnya berhasil kulewati beliau tanpa mencelakainya. Tetapi, kendaranku yg telah memakan jalur lawan, dalam akhirnya wajib pasrah disambar minibus yg memang nir sempat lagi buat memberi rem dalam lajunya. Menjadikan sepeda motorku ringsek. Dan melemparkan tubuhku sejauh 7 meter. Juga, merenggut nyawaku pada hitungan dtk saja