Wulan meninggikan kerah jaketnya. Udara masih begitu dingin. Ia wajib segera masuk ke gedung itu & melesat ke lantai paling atas. Ia sahih-sahih tidak tabah. Tetapi waktu kakinya baru saja melangkah memasuki lobby gedung, seseorang petugas cleaning sevice datang-datang menegur. "Tumben Bu pagi sekali datangnya?" ujar petugas itu seraya tersenyum. Wulan sahih-sahih terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka akan menemukan seorang pada sini. Walau beliau telah menganggap bahwa akan terdapat satu 2 petugas pada gedung ini, akan tetapi beliau sunguh tidak mengharapkan buat berpapasan menggunakan galat satunya pada area gedung yg sebenarnya luas ini. "Iya lagi poly kerjaan," jawab Wulan akhirnya menggunakan singkat. Sebenarnya beliau ingin mengatakan, "apa urusan engkau ," saking kesalnya karna terkejut, akan tetapi beliau urungkan. Ia tidak ingin petugas itu penasaran nantinya apajika beliau menjawab menggunakan emosi. Dan lagi beliau tidak perlu khawatir. Seperti halnya petugas keamanan tersebut, petugas cleaning service inipun cuma menjalankan tugasnya misalnya biasa tanpa bermaksud meragukan keberadaannya. Perempuan itu berusaha menenangkan diri. Paling nir seluruh masih berjalan menggunakan terkendali. Tapi yg Wulan tidak habis menyesalkan sebenarnya merupakan loka yg dipilih Pak Hendra. Kenapa bukan pada hotel atau pada puncak, misalnya cerita-cerita yg acapkalikali didengarnya mengenai perselingkuhan biasa terjadi. Tapi apa itu cuma cerita-cerita saja. Toh beliau jua belum pernah melihat eksklusif apalagi menjalaninya. Kecuali hari ini bila beliau sahih-sahih melakoninya. Kini Wulan jadi selalu saja merasa terdapat orang yg mengikutinya berdasarkan belakang. Berkali- kali beliau menoleh menggunakan perasaan berdebar. Dia mulai menyangsikan alasan yg dikemukakan Pak Hendra yg mengungkapkan bila mereka melakukannya pada lingkungan kerja, kemungkinan orang mencurigainya akan lebih kecil. Dibanding jibila mereka melakukannya pada hotel atau loka lain. Sebab dari laki-laki yg selalu tampil klimis itu, dirinya sudah dikenal luas menjadi eksklusif yg gila kerja & tidak sporadis berada pada tempat kerja sampai pagi buta. Jadi akan terlihat masuk akal bila seseorang atasan datang-datang membutuhkan sekretarisnya. Tapi bukankah ini jua yg acapkalikali memunculkan rumor tidak sedap mengenai interaksi antara atasan & bawahan itu. Hati Wulan jadi kecut. Ia takut jibila-jibila terdapat orang yg mencium interaksi ini. Apalagi bila petugas cleaning service tersebut mampu membaca kegugupannya. Wulan meningkatkan kecepatan langkahnya! Baru waktu berada pada pada lift & berdiri seseorang diri Wulan mampu menarik nafas lega. Ia mencoba menenangkan diri. Perasaan-perasaan gelisah & takut yg tersebut mulai menghantui berangsur-angsur menghilang. Dalam keheningan ruangan persegi empat berdinding kaca itu Wulan teringat Dimas - suaminya - yg tersebut begitu lapang mengijinkanya pergi. Selama masa empat tahun pernikahannya Dimas selalu baik padanya. Sikapnya menjadi suami begitu paripurna. Tak pernah sekalipun lelaki itu melontarkan istilah-istilah yg menciptakan hati wulan yg peka terluka. Perangainya pun tidak pernah kasar. Tapi mengapa pria yg paripurna itu begitu lemah pada hal yg begitu intim. Mungkin Wulan wajib melepaskan lebel paripurna yg sempat ialekatkan dalam Dimas semenjak masa pacaran. Mungkin sahih bahwa pada global ini tidak terdapat yg paripurna. Kini pernikahannya sahih-sahih diuji, pikir wulan. Tidak, bukan pernikahannya yg diuji, melainkan insting & kebutuhannyalah menjadi wanita normal yg diuji. Dan misalnya istilah statistik, pernikahan umumnya akan bertahan usang selesainya masa 5 tahun. Maka ini merupakan masa yg penuh tantangan baginya. Wulan tercenung. Gairah yg semenjak berdasarkan tempat tinggal begitu menggebu datang-datang menguap entah kemana. Tapi waktu terdengar suara ting & pintu lift membuka pada lantai paling atas, Wulan begitu tidak tabah buat menjumpai laki-laki menggunakan rambut yg mulai ditumbuhi uban itu. Apa yg akan terjadi nanti terjadilah! Senyum Dimas berganti senyum Pak Hendra. Segera Wulan menghambur menyusuri koridor menuju ruangan yg sudah disepakati. Tubuhnya serasa berkeringat membayangkan apa yg pertama kali akan pada ucapkan sang Pak Hendra dalam dirinya : komentar nakalkah? Atau ucapan mesra? Rasa geli jua menyelimuti hatinya ketika menganggap-duga sandang apa yg dikenakan laki-laki yg pandai merayu itu; masih berpakaian piyamakah? Sudah berpakaian tempat kerja? Atau tidak berpakaian sama sekali? d**a Wulan berdesir. Perlahan-huma Wulan membuka pintu ruangan yg sudah disepakati. Ruangan itu begitu sepi, sahih-sahih mati. Bahkan beliau mampu mendengar bunyi detak jantungnya sendiri yg berdegup kencang. Wulan jadi gelisah membayangkan bila saja Pak Hendra lupa dalam janjinya atau datang-datang mengurungkan niat. "O nir, apa ini?" datang-datang saja Wulan mencicipi seorang menyergapnya berdasarkan belakang & menciumi rambut dan lehernya. Begitu beliau membalikkan badan pak Hendra tengah tersenyum. "Wulan saat kita nir poly," ucap Pak Hendra menggunakan bunyi bergetar. & segera manciumi bibir Wulan . Wulan relatif tergagap, akan tetapi beliau maklum. Ia jua akhirnya mengerti mengapa Pak Hendra bagitu menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Wulan pun lalu mulai menikmati apa yg selama ini tidak pernah didapatnya berdasarkan Dimas. Akhirnya waktu seluruh harapan sudah terbayar lunas, 2 manusia yg tengah mabuk kepayang itu lemas terduduk pada sofa panjang. "Apa engkau bahagia Wulan?" tanya Pak Hendra. Wulan mengangguk , "Begitulah Pak." "Jangan panggil Pak, misalnya jam kerja saja, terlalu formil. Cukup Mas," ucap Pak Hendra sembari mengelus paras wanita yg masih berkeringat itu. Wulan balik mengangguk & tersenyum. "Tapi Mas, kita tersebut kan nir sempat gunakan pengaman, bagaimana bila ini berbuah?" "Gugurkan saja," jawab Pak Hendra tegas, misalnya menciptakan keputusan bisnis." Apalagi bila butir itu berjenis kelamin wanita . Nanti karir kita berdua mampu hancur." Tiba-datang saja d**a Wulan misalnya runtuh. Ia bagai berhadapan menggunakan laki- laki berdasarkan zaman arab jahiliyah yg merasa beruntung bila mampu mengubur hayati-hayati bayi wanita mereka. Segera saja Wulan berdiri & mengatakan menggunakan nada formal, "Selamat pagi Pak, aku minta biar ke belakang." Seingatnya Dimas - suaminya - tidak