4. Si Pemilik Hati

1697 Kata
Aira Ah. Kenyang juga akhirnya. Menyusuri jalan ke arah fakultas, pikiranku pun mengudara. Entah kenapa serasa ga puas dengan jawaban Mas Air tadi. Tapi ga bisa apa-apa. Baiklah, berarti cuma Mas Abi yang masih susah buka hati. Ngapain juga ya aku mikirin mereka, hehe.. Mereka sudah dewasa, cukup umur dan cukup mapan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akan lebih baik aku mikir diriku sendiri, perjalanan kuliahku baru setengah. Masih ada KKN dan skripsi. Semangat euy!!! Hwaiting!!! "Dorrrrr!!!" "Ihhhh, Aninnnn ngagetin aja sih!!! Lo ngapain disini?" "Bayu parkir ditengah, biar adil jaraknya. Lo ngapain tadi dari FIB?" "Ketemu orang." "Siapa?" "Temen Mas Abi." "Siapa siapa???." "Ih kepo lo, Nin!" "Ya iya donk, Ra. Lo kan jarang kemana-mana. Mager aja di fakultas." "Hehe, iya baru aja ketemu semalem. Trus sengaja aja iseng nyari ke FIB" "Kalo temen Mas Abi berarti dosen, Ra?" "Yuhuuuu." "Dosen muda FIB palingan Pak Doni, Pak Alex, Bu Levi, Bu Yunda, sama Pak Air. Yang mana?" "Apal benerrrr. Mas Air temennya Mas Abi. Lo gitu cari dari database kampus apa gimana, Nin?! Hahaha" "Sial! Nggaklah. Semua juga tau mereka kalik, Ra. Lo aja yang kuper." "Emang kenapa gitu kudu tau?" "Ya kan mereka ada kelas juga di Sastra." "Semester bawah kan, Nin?! Lagian Mas Air kayaknya baru 1 tahun kan disini? Kok pada apal?" "Ya gimana ga apal orang bening gitu. Tapi tetep Mas Abi yang di hati." "Dihhh." "Gue laper, Ra!" "Kenapa belom makan? Sepuluh menit lagi kelas Mr. Brian mulai. Ga kekejar kalo ke kantin sekarang, Nin. Gue juga udah makan barusan sama Mas Air di depot deket kampus." "Aihhh. Enaknyaaa." "Udah ah, yuk buruan, tau sendiri kan gimana Mr. Brian kalo ada yang telat. Gue ga mau suruh writing berlembar-lembar." Anindya Safira, sahabatku dari jaman maba. Di kampus ini cuma dia pelipur lara. Lebay kan aku. Karna balik lagi, sahabatku ya itu-itu aja. Oh ya, ada satu lagi, Melky. Dia satu-satunya sahabat cowokku yang lolos seleksi Ayadhi. Soalnya seleksinya dari orok. Hehe.. Papa Melky, Om Hanzi, temen Ayadhi dari AKMIL. Kalo mau lanjut ngomongin Melky, dia kuliah pertanian di universitas yang sama. Terkadang kalau pas bareng jam kuliah, kami sering berangkat bareng. Hari sudah sore, saatnya pulang. Segera kupesan ojek online dan menunggunya di halte dekat kampus. Setelah selesai perkuliahan, aku memang lebih suka langsung pulang ke rumah. Anak rumahan memang akutu. "Ra!" "Eh, Mas Dimas. Baru mau pulang, Mas?" "Iya, tapi mo ke toko buku dulu, cari referensi buat skripsi. Anterin yuk!" "Yah, aku udah pesen ojek, Mas. Lagian ini udah jam 5 nanti dicariin orang rumah." "Aku deh yang minta ijin nanti ke Mas kamu. Aku butuh sharing nih, Ra. Kamu kan pinter." "Ojekku gimana?" "Tunggu dia nyampe aja, nanti kasih tips trus cancel." "Ya udahdeh." Dan sekarang aku udah nangkring di motor Mas Dimas. Dia beneran ngomong sama Mas Abi sendiri minta ijin ajak aku ke toko buku, yang pasti ga lebih dari jam 8 aku sudah akan dipulangkan ke rumah. Akhirnya setelah mengantongi ijin dari Mas Abi. Kami langsung cus ke toko buku. "Ini gimana Ra?" "Mas Dimas mau ngupas novel?" "Yang gampang itu, Ra!" "Wuthering Height berat loh, tapi cakep sih." "Ya udah ini aja ya." Akupun mengangguk. Setelah menemukan buku yang dirasa pas. Kamipun mencari food court terdekat untuk sekedar nyemil. Mas Dimas terlihat sumringah hari ini. Diapun jujur semua sikap dia sore ini tidak lain adalah karena akhirnya sukses ngajak aku jalan. Walaupun memang ada tujuan. Akupun hanya tersenyum menanggapinya dan berceloteh bahwa kalau tanpa alasan toko buku, Mas Abi ga mungkin kasih ijin. Iya, seprotektif itu Mas Abi ke aku. Jarak usia kami yang hampir tujuh tahun membuat Mas Abi selalu menganggap aku masih kecil. 'Jangan berani macam-macam loh, Dek. Mas Abi punya banyak mata di luar'. Uwuuu banget ga, punya mas kayak gitu. Hehe . . . Air "Eh, Bi. Masuk!" Aku dan Abi memang janjian untuk bertemu malam ini di apartemen. Kami sudah lama tidak berbincang santai. Pas sekali sekarang menunjukkan pukul tujuh, dinner time. Abi membawakan nasi bebek kesukaanku. "Thank youuuuu. Dapet salam dari Ayadhi, katanya suruh ke rumah wiken besok. Mau diajak tenis katanya." Kami merebahkan badan ke sofa sambil berbincang. "Haha.. Oke lah tapi tangan gue lagi ga fit. Salah posisi tidur. Tumben Ayadhi udah di rumah." "Iya tadi gue telpon, nanti kalo Aira balik biar rumah ga sepi. Nanti dia bingung lagi." "Aira belom balik? Udah dapet ijin keluar malem nih kayaknya si tuan putri." "Ga sih, Ir. Tadi dia bilang mau nganter temen ke toko buku. Trus si temennya juga minta ijin ke gue. Masa iya ga gue kasih. Yang penting adek gue jam 8 udah dipulangin." "Gue tadi juga ketemu Aira di kampus. Makan siang bareng juga." "Tumben. Lo nyamper?" "Nggak. Aira yang nyamperin." "Loh, tumben. Ada perlu apa dia ke fakultas lo?" "Sengaja mo nyamper katanya." "Ih, tumben." "Apaan sih lo Bi, tumben-tumben mulu dari tadi." "Ya emang tumben, Ir. Aira kan mager-an anaknya. Kalo udah di kelas ya ga kemana-mana dia. Mentok makan di kantin. Keseringan bawa bekal. Makanya kalo sampe niat ke tempat lo ya tumben kan." "Lo mata-matain Aira? Sampe tau banget dia di kampus ngapain." "Kebetulan si Anin temen deket dia suka laporan." "Oh yang tadi ijin ke toko buku?" "Bukan, kalo yang ijin tadi si Dimas, yang waktu itu ke rumah. Pas ada lo kan, Ir?" Wajahku langsung kaget. Wah gawat, ga bisa di kondisiin ini muka saat-saat genting. "Oh." "Eaaa, langsung berubah mukanya. Hahaha" "Apaan sih, Biii. Makan aja lah yuk." "Ir, kalo naksir Aira juga gapapa loh. Gue malah suka." Aku langsung beranjak dari sofa menuju dapur. Menyiapkan dua piring dan juga air putih untuk makan bersama Abi. "Aira tuh masih kecil, Bi. Dia juga kan sukanya be-la-jar. Tadi siang aja dia bilang kalo males banget pacaran, soalnya bakal ganggu hobi dia." "Ya udah, nikah aja!" "Whattt??? Lo gila ya, Bi." "Ya nggak donk, Ayadhi sama Iburi juga ga pernah larang-larang kita nikah muda." "Ya tapi Aira masih kuliah loh, Bi. Dia pasti ngomel-ngomel disuruh nikah muda." "Emangnya beneran mau dinikahin?" Seketika wajahku menggeram. Aku lempar plastik bekas bungkus nasi bebek ke arah Abi yang sedang puas tertawa mengerjaiku. "Sial! Sial! Sial ya lo, Biii!!! Awas lo!!!" "Hahahaha. Ya ampun, Aiiirrr! Gitu aja blushing lo." "Bodo!" Abi pun masih cekikikan melihat wajahku yang memerah. "Emang dari kapan naksir Aira?" "Bodo!" "Kalo gue liat udah lama ya? Aira SMA kelas 1?" "Bodo!" "Pas kita mo urus skripsi kan? Lo betah banget ngerjain di rumah gue." "Bodo!" "Cepetan ngomong, keburu Aira ditembak yang lain." "Lo ngapain deh urusin gue sama Aira? Mending lo urus diri. Lo juga masih jomblo." "Kalo gue kan emang belom ada yang gue suka, Ir. Beda kasus sama lo!" "Apa bedanya? Sama-sama jomblo ini." "Ya lo kan udah ada target, Ir. Mo sampe kapan lo suka dalam diam gini ke Aira. Ga sakit apa mendam perasaan gitu. Gue mah ogah." "Ya beda kasus, Bi. Gue kan emang susah ngungkapin begituan. Lo mah asal jeplak aja orangnya." "Katanya tadi ga ada beda, sekarang beda." "Lo rese ya lama-lama. Pulang aja sono!" "Hahahahaha. Ga nyangka si Air bisa jatuh cinta, ke adek gue lagi. Lo baik-baik, Ir, sama gue kalo mo dapet restu!" "Hmmmm." Setelah itupun kami asik dengan nasi bebek yang Abi bawa. Ada sih perbincangan ringan, tapi bukan bahas Aira lagi. Sejenak mikir, apa iya aku suka sama Aira. Selama empat tahun belakangan memang aku selalu menjaga jarak dengan perempuan manapun. Ada beberapa yang melakukan pendekatan, tapi aku anggap itu angin pantai atau air hujan. Belum pernah terpikir sama sekali untuk menyambut niat mereka. Satupun. Bahkan saat aku harus meneruskan S2 dan S3 ku di negeri seberang. Terbesitpun tidak untuk memulai suatu hubungan. Tapi saat aku datang ke rumah Abi saat itu, meski hanya sebentar, aku sadar. Sang pemilik senyum manis dan selalu manja, yang menghabiskan waktu makan siangnya tadi bersamaku, mungkin memang dia orangnya. Yang membuat hatiku penuh. Menolak untuk terisi yang lain. 'Ting' Ada pesan masuk ke ponselku. Segera aku cek. -Aria Abinaya- Contact card Aira Barsha Adek Manja 0821xxxxxxx4 "Apaan nih?" Tanyaku heran. Abi di depanku tapi mengirim pesan ke whatsappku. "Nomernya Aira. Belom punya kan lo?" "Biiiiii..." "Terserah lo, Ir. Gue ga maksa lo ngomong ke adek gue. Tapi ya kali lo ga mau berusaha, berjuang kek. Aira ga bakal paham kalo lo diem aja." "Hhhhh." Nafasku mulai berat. "Nanti kalo Aira akhirnya terima cowok lain dan dia baik. Gue ga akan halangi restu gue buat mereka loh, Ir. Kalo tu cowok baik ya bakal gue sambut baik. Walopun gue tau, sahabat gue, cinta mati sama adek gue." "Bi, kok lo ambil kesimpulan sendiri?! Emang gue pernah bilang gue suka Aira? Iya gue suka sebagai adek lo. Cinta? Gue aja ga ngerti apa artinya." "Ya terserah lo, Ir. Gue cuma kasih jalan. Mau diambil ya bagus, nggak juga gapapa. Aira banyak yang antri. Semenjak kuliah apalagi. Kalo ga ada Melky gue yang sibuk. Untung ada si Melky yang bisa sortir satu-satu." "Lo kata barang di sortir." "Makanya, lo tu udah enak ga kudu pake acara sortiran." "Sial!" "Ga usah kebanyakan mikir, Ir. Soal kesimpulan suka? Liat lo nge-treat Aira tuh beda sama kalo lo treat si Jasmine. Soal cinta? Kalo ada orang uring-uringan ga jelas, manggil nama lengkap pas Aira bareng sama cowok lain. Apa namanya kalo bukan cemburu? Cemburu itu tanda cinta, Ir." Biar kalian tau aja, Jasmine itu adeknya Keanu dan selisih 2 tahun di atas Aira. "Gue juga semalem ga bisa tidur, Bi. Alhasil gue tadi pagi telat." "Nahhhh, lo telat itu kan keajaiban!" "Kesialan itu, Biii.. Mana ada keajaiban begitu." "Ya ajaib kalo si Air telat. Lo orangnya kan ontime banget! Udahlah pokoknya gue udah kasih jalan. Take it or leave it. Gue cabut ya. Nanti Aira nyariin gue. Biasanya maleman dikit dia sesi curhat." "Enak ya jadi adek lo. Buka sesi curhat segala." "Ya udah, cabut ya, Ir. Jangan lupa wiken ditungguin Ayadhi!" "Yoi, thanks ya Bi!" Sudah ada sekitar setengah jam aku memandangi layar hape. Ketik? Nggak? Ketik? Nggak? -Air- Udah pulang, Ra? 1 menit 2 menit ... ... 5 menit Ting -Aira Barsha- Sudah, maaf ini nomor siapa ya? Belum ke save di hape Aira. Aku tersenyum membaca balasan itu. -Air- Ini Air, Ra! Mas Air Air Daniswara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN