Waktu telah menunjukkan tujuh lewat empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi jam kantor akan segera dimulai. Sudah tak terhitung berapa lama sejak wanita muda itu menempelkan telinganya pada pintu besi unit apartemen serta netranya mengintip layar interkom untuk melihat keadaan diluar. Lengan kirinya yang terpasang arloji keluaran brand asal Eropa itu berkali-kali terangkat, meskipun baru beberapa detik yang lalu Alice memeriksa waktu.
Brakk
Suara pintu tertutup dari unit disampingnya membuat Alice terperanjat sesaat. Wanita muda itu lalu sedikit merapikan pakaiannya dan kemudian membuka pintu unitnya dengan tenang.
“Boss,” pekiknya girang seolah tanpa sengaja berpapasan dengan pimpinan perusahaan tempatnya magang tersebut. Padahal sejak setengah jam yang lalu ia sudah menunggui Andra dari balik pintunya.
“Selamat pagi, Bos,” sapa Alice setelah memastikan pintu unitnya terkunci sempurna dan menghampiri Andra yang hendak menuju lift.
“Hmm,” balas Andra dengan gumaman singkat.
“Tidak kusangka kita bisa keluar bersamaan, benar-benar jodoh,” seloroh Alice disertai kekehan.
Andra bergeming. Atensinya masih lurus menatap balok besi yang masih tertutup dihadapannya. Bukannya ia tak berminat menanggapi candaan Alice, Andra hanya tidak tahu bagaimana caranya menanggapi kalimat semacam itu.
TING
Pintu lift terbuka dan tak ada seorang pun didalamnya. Andra segera masuk kedalam lift dan Alice mengekor di belakangnya.
“Apa agendaku hari ini?” tanya Andra kemudian.
Alice mengedikkan bahunya acuh. “Tidak tahu.”
Andra memalingkan wajahnya untuk menatap Alice dengan dahi yang berkerut lalu berkata, “Bukankah kamu sekretarisku?”
Wanita muda dihadapannya mengangkat kedua sudut bibirnya lebar dan jahil. “Hey, ini belum jam kerja. Secara formal, aku belum jadi sekretarismu.”
“Tapi tadi kamu sudah memanggilku Boss,” sanggah Andra mengingatkan.
“Bukankah itu terdengar lucu? Aku suka memanggilmu bos kapan pun, tapi bukan berarti setiap saat kamu bosku,” balas Alice diakhiri dengan kedipan sebelah mata dan melanjutkan. “lagipula yang mengurus jadwalmu Kak Wildan, bukan aku.”
Sial. Andra merutuk dalam hati. Gerakan itu tampak menggemaskan dimatanya. Namun, Andra berhasil menutupinya dengan memutar kedua bola matanya malas.
“Kamu jalan kaki juga ke kantor?” tanya Alice yang sudah siap berbaur dengan orang-orang lainnya di trotoar.
“Aku bos, tidak pantas jalan kaki,” sahut Andra datar.
“Ck, hanya lima ratus meter dan kamu mau menggunakan mobil? Boros sekali anda, Senor,” cibir Alice. “Yang seperti ini membuat kampanye smart city eco friendly, cih,” lanjut Alice seraya melangkah lebih dulu keluar dari dalam lift.
Kontradiksi dengan cibirannya, Alice malah mengikuti Andra menuju tempat dimana pria itu memarkirkan mobilnya. Tanpa rasa malu ataupun berdosa, wanita muda itu hendak menumpang pada si boss yang sudah siap berkendara ke kantor.
“Mau apa?” tanya Andra ketus.
“Bareng,” jawab Alice santai.
“Bukannya kamu sudah mengataiku?” Andra menaikkan sebelah alisnya.
“Itu yang tadi, sekarang yang ini,” sahut Alice tanpa dosa. “Cepat buka pintunya!”
Andra yang belum membuka kunci otomatis mobil sport kesayangannya tersebut segera memerintah. “Jalan saja! Aku tidak bisa terlihat berangkat bersama denganmu.”
“Memangnya kenapa? Semua orang tahu kita kerabat, jadi tidak ada salahnya berangkat bersama,” ujar Alice tak paham.
“Jangan membantah, Alice!” tegas Andra tak ingin memberikan penjelasan.
“Tapi,-”
Andra semakin menajamkan tatapannya, tatapan tak ingin dibantah dan secara mutlak harus dituruti oleh siapa pun lawan bicaranya. Tak terkecuali Alice.
Wanita muda itu menghentakkan kakinya kesal seraya beranjak pergi tanpa berpamitan. Ada sekelumit rasa kecewa menghampiri dirinya. Ia sudah bersiap-siap bahkan menunggu sejak pagi, tetapi pria itu malah mengusirnya tanpa penjelasan.
“Awas saja nanti di kantor, aku tidak akan ramah padanya,” gerutu Alice sepanjang perjalanan. Ia juga terus mengomel menggunakan bahasanya sendiri hingga membuat setiap orang yang berpapasan menatap aneh padanya. Walaupun begitu, tak sedikit juga yang melayangkan tatapan kagum atas paras jelita seorang Alicia Noella Sanchez.
Sementara itu di area parkir apartemen, Andra masih belum kunjung menjalankan mobilnya. Jauh dari lubuk hatinya, ia tidak suka bersikap ketus apalagi kasar pada wanita yang sejak bertahun-tahun lalu menghuni sebagian tempat di otaknya tersebut. Hanya saja, Andra benar-benar tak ingin terlihat bersama seorang wanita muda saat di kantor. Ia tak ingin mengambil resiko yang nantinya tak hanya akan membahayakan dirinya, tetapi juga Alice. Terlalu banyak mata-mata di kantor yang akan dengan senang hati melaporkan setiap tindak-tanduknya pada kedua orang tuanya.
=====
“Kopinya, Boss,” ujar Alice yang melakukan rutinitas paginya.
“Hmm,” balas Andra tak acuh bahkan tanpa menatap si bule dihadapannya dan terus fokus pada layar komputer.
Alice menggerutu tanpa suara dan ia segera berbalik tanpa banyak bicara lagi. Malas sekali rasanya pagi ini berhadapan dengan tembok bernyawa itu.
“Istirahat nanti ikut aku,” ujar Andra datar, masih tanpa memalingkan wajahnya.
Alice berhenti beberapa langkah sebelum mencapai pintu lalu berbalik dan berkata, “Setahu saya hari ini anda tidak ada jadwal meeting di luar. Jadi maaf, saya tidak akan ikut. Selamat bekerja, Boss,” balas Alice seraya buru-buru pergi hingga Andra tak lagi bisa menghentikan pergerakannya.
Gerakan jari Andra diatas papan ketik terhenti, ia menatap pintu yang tertutup dihadapannya sambil mengernyit heran. “Tidak biasanya dia menolak kuajak keluar,” gumamnya.
Andra mengedikkan bahu seraya melanjutkan pekerjaannya. Namun, kegiatannya terganggu oleh getar ponsel yang beberapa kali menginterupsi. Setelah melihat nama pemanggil, Andra tampak gugup dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Beberapa kali mengambil napas dalam serta menghembuskannya perlahan, barulah setelah itu ia berani menjawab panggilan telefon tersebut.
“Ya, Ma?” sapa Andra yang ternyata sedang berbicara dengan ibunya, Dyah.
“Lagi gak sibuk ‘kan, Le?” tanya Dyah tanpa basa-basi.
“Sibuk, sibuk banget, Ndoro Ratu,” ujar Andra yang hanya bisa ia sampaikan dalam benaknya.
Pria itu mengangkat kedua sudut bibirnya, berpura-pura baik-baik saja pada dirinya sendiri, lalu menjawab, “Gak kok, Ma. Cuma ada beberapa kerjaan. Ada apa?”
“Syukur deh kalau kamu gak sibuk,” balas Dyah terdengar lega. “Kalau gitu, kamu buru deh ke Bandara! Danisha sampai di Jakarta sekitar dua jam lagi. Dia sengaja gak bilang kamu katanya mau bikin kejutan, tapi gak ada salahnya kalau kamu duluan kasih kejutan buat Danisha. Mama pengertian banget ‘kan, Le?”
Sebelah tangan Andra mengepal kuat hingga rasanya kuku jarinya mampu menembus epidermis. Rahang pemuda itu mengetat serta netranya menajam. Dyah memang selalu semaunya sendiri, memerintah tak kenal waktu, dan tak peduli dengan apa yang sedang Andra kerjakan. Jika Dyah bilang sekarang, maka saat itu juga Andra harus melakukannya. Tak heran jika pria itu menjuluki ibunya sendiri sebagai Ndoro Ratu. Wanita paruh baya itu hampir tak ada bedanya dengan mendiang eyang putrinya yang telah tiada tiga tahun silam.
“Tapi, Ma, siang ini aku ada meeting penting,” kilah Andra mencari cellah.
“Andra, kamu berani bohong sama Mama, Le?” Terdengar suara sendu seperti hendak menangis dari ujung sana.
“Ma,” tegur Andra yang sesungguhnya sangat ingin meninggikan suaranya, tetapi ia tahan sekuat tenaga.
“Mama udah periksa jadwal kamu dari databasenya Wildan, kamu gak ada meeting apa-apa siang ini. Siapa yang ajari kamu bohong, Ndra? Mama udah gagal didik kamu jadi anak yang jujur,” suara Dyah kini terdengar terisak.
Selain suka memaksa, wanita paruh baya itu benar-benar seorang ratu drama. Hal ini juga yang sangat tidak Andra sukai dari mamanya, wanita itu selalu memantaunya melalui siapa pun di diperusahaan ini, bahkan Andra sampai tidak tahu siapa saja yang ada di pihak mamanya.
Andra pernah bertanya pada Wildan, maupun sekretaris sebelumnya tentang posisi mereka. Keduanya mengatakan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam kubu siapa pun, baik itu Dyah maupun Andra. Mereka hanya ingin bekerja dengan tenang dan mendapatkan gaji bulanan dengan lancar. Keputusan yang tepat. Namun, mereka juga tidak bisa menyembunyikan seluruh jadwal Andra saat sang ndoro ratu memiliki semua akses database perusahaan.
“Maaf, Ma. Iya, aku berangkat sekarang,” ujar Andra pasrah.
Barulah setelah itu Dyah kembali bersemangat dan buru-buru meminta putra semata wayangnya itu untuk pergi.
Andra kemudian merapikan mejanya lalu menyambar jas serta kunci mobilnya dengan malas. Setelah keluar dari ruangannya, ia menghampiri meja Wildan yang membuat sekretarisnya itu terperanjat.
“Lain kali, isi penuh jadwal saya meskipun saya tidak ada kegiatan. Buat tanda supaya kamu bisa membedakan mana agenda yang benar-benar ada dan mana yang hanya buatan,” pinta Andra menahan kesal.
“Maksud Bapak?” tanya Wildan tidak paham.
“Kamu tahu Mama saya bisa melihat semua jadwal saya dan sering memanfaatkannya, jadi buat saya selalu sibuk entah itu benar atau tidak,” jelas Andra yang diangguki oleh Wildan.
“Baik, Pak,” sahut Wildan sopan.
Kepala Andra menoleh ke kanan-kiri, lebih tepatnya pada meja Alice yang terlihat kosong. Pelipisnya mengernyit, seolah menanyakan dimana keberadaan si bule itu saat jam kerja seperti ini.
“Kemana anak magang itu?” tanya Andra kemudian.
“Tadi saya akan mengambil berkas ke departemen keuangan, lalu Alicia menawarkan diri untuk mengambilnya. Sudah hampir dua puluh menit, seharusnya dia sudah kembali,” jawab Wildan yang juga tidak terlalu tahu.
“Ajari dia dengan benar, jangan biarkan keluyuran saat jam kerja!” perintah Andra tegas.
“Iya, Pak,” sahut Wildan.
Setelah itu Andra melangkah pergi untuk menjalankan perintah sang ratu. Waktu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi saat ia keluar dari dalam lift di lobi utama. Niatnya yang akan segera menuju area parkir terhenti saat ia melihat sosok Alice tengah berbincang dengan beberapa pria seumuran dengannya di depan lift yang lain.
Wanita itu tampak memeluk map berwarna coklat, bibirnya tersungging, begitupula dengan netranya yang tampak antusias mendengarkan cerita dari orang-orang disekitarnya. Sesekali suara tawa terdengar dan itu mengganggu telinga Andra.
“Saya tidak menggaji kalian untuk mengobrol saat jam kerja,” tegur Andra tegas yang langsung membuat karyawan-karyawannya itu terkesiap.
“Pp-Pak Andra,” ujar mereka terbata bersamaan.
“Kembali ke kubikel masing-masing!”
“Baik, Pak,” sahut mereka sambil menunduk. “Kami pergi, Al.”
“Ya, tapi jangan lupa nanti siang makan bareng, ya!” pekik Alice mengantarkan kepergian teman-temannya dengan ceria.
Andra semakin tidak suka melihat si bule terlalu akrab dengan karyawan-karyawan pria di kantornya. Ada bagian dalam dirinya yang tidak terima akan hal itu, tetapi Andra tidak yakin apa? Kekesalannya bertambah saat Alice hanya menatap datar dirinya seraya mengangguk singkat lalu melewatinya begitu saja tanpa berkata-kata, seolah ia bukanlah atasan yang perlu diperhatikannya.
“Dimana sopan santunmu pada pimpinan?” tanya Andra kesal.
Alice berhenti dari jalan, berbalik badan, lalu sedikit mengangguk dan berkata permisi dengan tanpa ekspresi. Bahkan wanita itu juga kembali pergi setelahnya tanpa berniat berbasa-basi seperti biasanya.
“Apa dia marah karena tadi pagi?” gumam Andra menebak.
Pria itu mengacuhkan sementara pemikiran tersebut dan melanjutkan kegiatan yang sangat tidak di sukainya, menjadi supir Danisha yang tak lain adalah tunangan yang tak diinginkannya. Seandainya saja Danisha juga menolak perjodohan ini, mungkin Andra bisa menambah alasan untuk menentang permintaan orang tuanya tersebut. Sayangnya, Danisha malah sangat antusias saat tahu dijodohkan dengannya.
Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal dalam benak Andra. Sudah dua kali Danisha berusaha menunda hari pernikahan mereka. Pertama saat Andra baru lulus kuliah, tetapi Andra merasa wajar karena Danisha masih berstatus mahasiswi saat itu. Lalu yang kedua saat Danisha lulus kuliah, gadis itu beralasan baru mendapatkan beasiswa untuk jenjang master, sehingga ingin meraih mimpinya terlebih dahulu.
Nanti, setelah Danisha lulus S2, Andra sangat berharap gadis itu kembali mendapatkan tawaran untuk pendidikan yang lebih tinggi agar hari pernikahan mereka bisa semakin mundur lagi. Andra sangat tahu bahwa Danisha tak akan mungkin mengorbankan pendidikannya demi mengubah status sebagai seorang nyonya. Semoga saja harapannya terkabul.