SF 11

2095 Kata
Hiruk pikuk keramaian Bandara Soekarno Hatta di siang ini cukup padat. Setiap saat selalu padat, mengingat bandara yang terletak di daerah Cengkareng itu adalah salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara. Pesawat mendarat dan mengudara, kendaraan roda empat dan sejenisnya memenuhi area parkir, hilir mudik penumpang serta pegawai membuat suasana keadaan semakin terasa ramai. Setelah memarkirkan mobilnya, Andra yang malas terkena panas pun bergegas menuju area kedatangan internasional di terminal tiga. Jas necis, dasi yang melingkari leher, sepatu pantofel mengkilat, jam tangan seharga satu unit mobil, serta kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya membuat Andra tampak jauh lebih mencolok daripada penjemput lain yang lebih kasual. Namun, pria itu acuh atau lebih tepatnya tidak berselera ada di tempat ini. Pikirannya justru terus tertinggal di kantor yang berjarak berpuluh-puluh kilometer daru tempatnya berada kini. Tak lama sejak kedatangan Andra, pesawat milik maskapai yang bermarkas di Dubai itu mendarat. Namun, bukan berarti penantian Andra akan segera berakhir karena proses imigrasi masih berlangsung didalam sana. Setidaknya butuh sekitar tiga puluh menit sampai orang yang ditunggunya sampai. Benar saja. Tak jauh dari perkiraan Andra, perempuan yang ditunggunya itu terlihat keluar dari balik pintu kedatangan. Kedua tangannya mendorong troli berisi beberapa koper yang membuat Andra menggerutu. Mobil sportnya tidak akan muat membawa barang-barang itu. “Danisha!” pekik Andra sambil mengangkat sebelah tangannya ogah-ogahan. Si empunya nama tampak terperanjat dan ia segera mengedarkan pandangan. Begitu keduanya saling bertatapan, Danisha sempat berhenti beberapa saat. Seorang pria bule yang ada disampingnya juga berhenti untuk menanyakan reaksi gadis itu. Sesaat kemudian, Danisha menyunggingkan senyum lebarnya pada Andra sambil melambaikan sebelah tangan penuh antusias. Sebelum menghampiri Andra, ia sekali lagi menatap pada bule yang sejak tadi berbincang dengannya dan entah sedang membicarakan apa. “Kok bisa disini, Sayang? Padahal aku mau bikin kejutan, malah kamunya duluan,” ujar Danisha riang begitu sampai dihadapan Andra. “Kangen banget ya makanya sampai nyusulin?” Tak lupa gadis itu juga langsung memeluk serta mencium pipi Andra yang tak ditanggapi oleh pria itu. “Ayo cepat! Aku ada meeting sore ini,” sahut Andra tanpa menjawab. Pria itu memanggil seorang supir taksi untuk membawakan barang-barang Danisha yang terlalu banyak. Biarlah ia membayar lebih asal mobilnya tidak lecet oleh gesekan koper-koper itu nantinya. “Kamu dikasih tahu siapa kalau aku pulang hari ini?” tanya Danisha yang membelitkan tangannya pada lengan Andra dengan manja sekaligus posesif. “Tahu gitu tadi aku pakai jalur VIP aja biar cepet keluar. Udah kangen banget sama kamu.” Sayangnya, tembok bernyawa itu sama sekali tak menanggapi pertanyaan tersebut. Danisha yang sudah sangat hafal dengan tabiat tunangannya itupun merasa maklum saja. “Kamu kalau aku chat atau telepon sering-sering jawab dong, Sayang! Kan aku kangen, biar semangat cepet lulus juga kalau kamu juga antusias,” oceh Danisha sekali lagi. Gadis dua puluh empat tahun yang masih memiliki waktu satu tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikannya itu adalah putri salah satu keluarga terpandang di negeri ini. Keluarganya memiliki usaha pertambangan yang sangat besar. Belum lagi sang ayah, Damar yang juga berkecimpung dalam dunia politik. Baik Danisha maupun Andra sama-sama seorang pewaris tunggal dalam garis keluarga mereka, sehingga tidak heran jika perjodohan keduanya begitu diantisipasi oleh kumpulan orang-orang penting di negeri ini. Bahkan, sejak desas-desus hubungan Andra dan Danisha beredar, saham di kedua perusahaan terus meroket. Jadi, bisa dibayangkan akan sebesar apa kuasa mereka jika Andra dan Danisha benar-benar menikah nanti. Sayangnya, Andra membenci ide tersebut. Selama perjalanan dari bandara menuju rumah keluarga Danisha yang ada di Kemang, Jakarta Selatan, hanya ada suara Danisha saja yang mendominasi pembicaraan. Andra seperti biasa hanya diam dan fokus pada jalanan. Ia sempat beberapa kali menunjukkan tanggapan atas pertanyaan Danisha, itupun hanya jika jawabannya adalah iya atau tidak saja. Selebihnya, Andra bungkam. “Kamu gak mau mampir dulu, Sayang?” tanya Danisha dengan bibir mengerucut saat Andra hanya menurunkannya di depan rumah. Sekali lagi Andra memeriksa waktu melalui arlojinya, lalu berkata, “Hampir terlambat.” Danisha menghela napasnya panjang. Percuma saja meminta Andra untuk tinggal saat kedua orang tuanya tidak ada di rumah. Andra hanya akan mampir jika Damar dan Kirana mengundangnya, sebagai sopan-santun belaka. Lebih dari itu Andra selalu enggan. Danisha tahu Andra tidak menyukainya, tetapi mau bagaimana lagi jika hati gadis itu sudah terpaut kuat pada Andra. Gadis itu menghela napas panjang seraya melepaskan sang tunangan kembali ke kantor. “Ya sudah kalau gitu, tapi jangan lupa sempetin waktu buat kita kencan, ya!” seru Danisha yang lagi-lagi tidak ditanggapi. Andra bahkan langsung menutup kaca mobilnya seraya menginjak pedal gas meninggalkan rumah Danisha. Benar-benar seperti seorang supir yang hanya mengantarkan penumpangnya lalu kembali beranjak pergi. Danisha terus menatap kepergian sang tunangan dengan senyum lebar. Lengan kanannya melambai tinggi meskipun ia juga tahu jika Andra tak mungkin melihatnya. Tepat setelah mobil Andra melewati gerbang dan tak terlihat lagi, senyum lebar di wajah cantik Danisha melebur dan berubah datar. “Bawa masuk koper-koper gue!” perintah gadis datar itu pada asisten rumah tangga yang tadi menyambutnya. ===== Menjelang pukul tiga sore Andra baru sampai di kantor. Suasana gedung tampak lengang mengingat jam kerja masih berlangsung. Hanya beberapa orang yang berlalu-lalang dan Andra pun segera naik ke lantai dimana ruangannya berada. Lantai teratas ini hanya ada ruangan Andra, pantry, toilet umum, bilik kerja sekretaris, serta sebuah ruangan luas yang biasanya digunakan untuk rapat oleh para direksi saja. Maka tak heran jika suasananya lebih lengang daripada lantai lain. “Aku juga, Tuan. Aku juga merindukanmu.” Andra menghentikan langkahnya saat mendengar suara Alice yang berbicara menggunakan bahasa Spanyol dari arah pantri yang dilewatinya. Sebuah keuntungan untuk Andra yang paham dengan bahasa asing tersebut, karena ia bisa paham yang Alice ucapkan, meskipun kalimatnya sangat mengganggu Andra. Atensi pria itu segera fokus pada wanita yang tengah asyik bertelepon sambil membawa secangkir teh di tangan kanannya. Tubuh tinggi semampai Alice bersandar pada tembok dengan kaki yang saling bertumpuk. Meskipun wanita itu mengenakan flat shoes, nyatanya tak bisa menyembunyikan jenjangnya kaki Alice. “Jangan khawatir, aku akan segera kembali,” lanjut Alice. Andra seperti seorang yang tengah tersihir dan tak bisa bergerak. Ia terus mendengarkan pembicaraan Alice dari tempatnya berdiri. Mengetahui serta memahami bahasa Spanyol dengan baik membuat Andra memahami setiap ucapan wanita bule dihadapannya. “Atau kamu bisa terbang kesini dan menemuiku,” ujar Alice antusias dan itu tak lepas dari tatapan Andra. “Aku merindukan sentuhanmu, Tampan,” sambung Alice dengan nada menggoda. Cukup sudah. Andra tidak ingin mendengarkannya lagi. Ia pun berdehem cukup keras hingga membuat Alice menyadari keberadaannya. Wanita muda itu segera mengakhiri pembicaraannya, meletakkan cangkir teh keatas pantry, lalu mendekat pada Andra. Sayangnya tak ada ekspresi jahil seperti yang biasanya wanita itu tunjukkan, bahkan ia juga tak seceria saat sedang mengobrol entah dengan siapa pun itu di telepon. “Ikut ke ruanganku!” perintah Andra datar. “Kenapa?” Alice tak langsung menurut. “Kubilang ikut, ikut saja!” Andra mendengus seraya berjalan meninggalkan Alice. Wildan yang melihat kedatangan atasannya itu segera berdiri dan menyapa Andra, tetapi seperti biasa sapaannya seolah dianggap tak pernah ada. Dibelakang Andra berjalan Alice dengan malas. Melalui tatapan matanya, Wildan seolah bertanya ada apa, dan Alice hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu. “Tutup pintunya!” Alice mengikuti perintah si boss tanpa banyak bertanya. Setelah itu Andra memerintahkannya untuk duduk di sofa bersamaan dengan pria itu yang meletakkan satu buah paper bag di atas meja. “Ada yang harus saya kerjakan?” tanya Alice secara langsung. Andra tak segera menjawab dan terus melepas jas serta menggantungkannya. Tak lupa ia juga membuka kancing lengan kemeja lalu menekuknya hingga sebatas siku, memamerkan otot lengan yang tercetak jelas. “Sudah makan siang?” tanya Andra tak lagi terdengar ketus. Pria itu bahkan mengambil duduk di sofa tunggal samping Alice duduk. Alice mengernyitkan dahi merasa terkejut oleh pertanyaan tak biasa Andra. “Sudah. Anda tidak lihat sekarang jam berapa?” “Kalau begitu diam saja disana, temani aku makan,” balas Andra seraya mengeluarkan kotak makan dari paper bag dihadapannya. Sekembalinya dari mengantar Danisha tadi ia memang sempat mampir ke sebuah restoran mengingat dirinya sendiri melewatkan jam makan siang demi memenuhi permintaan sang mama. Entah ada angin apa tiba-tiba Andra ingin membeli dua porsi, tetapi pada akhirnya satu porsi tetap saja tidak terjamah karena Alice tentu saja sudah makan siang di jam ini. “Apa menemani bos makan siang juga tugas sekretaris? Saya akan panggilkan,-” “Diamlah, Al,” gerutu Andra yang membuat Alice mengerucutkan bibirnya kesal. Selama beberapa menit, keheningan mengisi ruangan khusus CEO tersebut. Alice yang biasanya cukup aktif, kali ini hanya duduk diam sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia baru menyadari jika ruangan ini memiliki CCTV yang bisa mengikuti gerak dari orang yang ada di dalamnya. Atensinya terus menatap kamera CCTV tersebut seolah sedang beradu pandang. Dalam hati Alice terkekeh sendiri dengan aksinya yang sangat kurang kerjaan tersebut. Mau bagaimana lagi, Andra tidak memberikannya kegiatan apapun dan Alice sangat bosan. “Jangan menunjukkan wajahmu ke kamera,” tegur Andra yang membuat Alice langsung mengalihkan pandangan padanya. “Kenapa?” Andra hanya melirik sekilas dengan tajam, mengisyaratkan agar Alice tak banyak bicara. Tak butuh waktu lama sampai ia menyelesaikan makan siangnya. Setelah membuang sampah bungkus makanan, ia kembali menghampiri Alice di sofa yang kini menatapnya kesal. Wanita itu merasa dijadikan pajangan selama beberapa menit ini. “Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Andra seraya meneguk air mineral yang tersedia di ruangannya. “Kenapa bos menahan saya disini dan tidak melakukan apa pun?” Alice balik bertanya. “Sepertinya kamu tidak punya pekerjaan dan sedang santai, jadi aku memberimu pekerjaan untuk menemaniku,” sahut Andra tanpa dosa. “Apa ini bagian dari pekerjaan saya?” tanya Alice dengan mata memicing. “Pekerjaanmu adalah menuruti perintahku, jadi ya ini adalah bagian dari pekerjaanmu,” jawab Andra yang menatap intense pada wanita yang tengah mendengus serta bersidekap di sampingnya. “Apa yang berbicara denganmu tadi pacarmu?” tanya Andra kemudian dengan nada yang lebih tenang. “Anda tidak berhak bertanya tentang privasi saya,” sahut Alice ketus. “Aku tidak bertanya kalau kamu tidak bermesraan saat jam kerja,” dengus Andra. Mengingat nada bicara menggoda Alice tadi membuat Andra kembali merasa kesal. “Apanya yang bermesraan? Saya hanya sedang berbicara melalui telepon,” balas Alice membela diri. Andra menghela napasnya panjang. “Ya sudahlah. Aku memang tidak berhak mencampuri urusanmu.” Alice mengangguk beberapa kali lalu berkata. “Apa tugas saya sudah selesai? Saya boleh keluar?” Untuk kesekian kalinya, Andra tidak menjawab. Pria itu bahkan hanya fokus menatap lurus kedepan dengan pandangan yang tak terbaca. Alice yang kesal pun hendak beranjak, sebelum Andra kembali bersuara. “Maaf yang tadi pagi,” ujar Andra datar. Alice mengernyit heran dan membatalkan niatnya untuk pergi. “Kalau sikap ketus dan tidak ramahmu hari ini padaku karena aku menolak berangkat bersamamu tadi pagi, aku minta maaf. Aku sungguh tidak bisa terlihat terlalu dekat denganmu,” lanjut Andra. Pria itu tidak sadar jika saat bersama dengan Alice, kalimat yang terucap dari bibirnya jadi semakin panjang. Bahkan mungkin ini adalah sesuatu yang sangat langka, Andra meminta maaf terlebih dahulu atas insiden kecil yang seharusnya tidak perlu berlarut-larut. “Kenapa? Bukankah kita kerabat dan semua orang di perusahaan mengetahuinya?” tanya Alice mencari jawaban. Andra mengangguk. “Ya, mereka tahu, paham, dan mungkin memaklumi, tapi tidak dengan orang tuaku. Mereka mungkin akan mengganggumu kalau sampai tahu kita sedang bersama.” “Mereka tidak melihat, kamu terlalu paranoid,” Alice mendengus. “Kamu tidak tahu bagaimana orang tuaku, Al. Bahkan saat ini ibuku mungkin sedang melihat kita berbicara,” balas Andra yang membuat Alice semakin tak paham. “Ibumu bukan Tuhan yang bisa setiap saat melihat aktivitasmu!” “Memang bukan, tapi aku tidak tahu ada berapa kamera yang ia pasang di ruangan ini hanya untuk mengontrolku. Karena itu aku melarangmu menatap CCTV.” Alice menundukkan kepalanya. “Aku tahu orang tuamu keras, tapi tidak menyangka sampai seperti ini. Pasti berat sekali untukmu.” Andra tersenyum tipis. “Maaf juga sudah mengacuhkanmu, aku tidak berpikir sampai sejauh itu.” “Itu karena kamu belum tahu alasannya. Berhati-hatilah mulai sekarang!” Alice mengangguk mengiyakan. Setelah itu Andra memintanya melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Pria itu pun juga kembali menuju mejanya setelah Alice keluar ruangan. Namun, sebelum kembali membuka pekerjaannya, Andra terlebih dahulu meraih gagang telepon untuk menghubungi seseorang. “Hapus video di ruanganku lima belas menit terakhir,” ujar Andra datar tepat setelah panggilannya dijawab dari seberang sana. “...” “Bilang saja sedang ada perbaikan,” lanjutnya seraya mengembalikan gagang telefon ke tempatnya. Pria itu menghela nafas kasar dan berdiam diri selama beberapa saat hingga akhirnya kembali larut pada pekerjaannya. Rutinitas yang terkadang terlali membosankan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN