SF 12

1999 Kata
Setelah Andra memberikan pengertian di sore itu, Alice menjadi semakin paham dengan kondisi yang sedang pria dua puluh enam tahun itu alami. Sikap yang awalnya cukup santai mengandalkan status kerabat yang mereka miliki menjadi lebih formal bahkan tanpa diminta. Namun, begitu jam kerja usai dan mereka tak lagi ada di area kantor, Alice kembali menjadi dirinya sendiri. Terlebih saat di apartemen, tempat dimana mata-mata kedua orang tua Andra tak bisa mengawasi, mengingat keamanan di gedung ini cukup ketat. Tok tok tok Sekitar pukul delapan malam, saat Andra tengah sibuk dengan data keuangan kafe miliknya terdengar suara pintu yang diketuk beberapa kali. Pria itu menghentikan kegiatannya lalu menuju kearah interkom untuk melihat siapa yang datang. Meskipun ekspresi wajahnya tetap datar, tanpa ia sadari iris coklat gelapnya membesar ketika mendapati seorang Alice berdiri di depan unitnya dengan tampang memelas. “Andraaa, buka pintunyaaaa,” ujar si bule sambil mengerucutkan bibir. Si empunya nama yang dipanggil justru merasa lucu melihat perempuan dibalik pintu. Alice tampak seperti anak kecil yang dihukum oleh orang tuanya yang pulang terlalu larut hingga tidak diizinkan masuk ke rumah. “Andraaaa,” panggil Alice sekali lagi sambil bersandar di pintu. Cklek Pintu terbuka, menampilkan sosok Andra yang terlihat santai dengan kaos fit body berwarna abu-abu, celana training biru dongker, serta kacamata minusnya. Inginnya ia segera meminta Alice untuk kembali ke unitnya sendiri karena ia sedang sibuk, tetapi niat itu urung terucap saat dilihatnya si bule tengah tersenyum sumringah dihadapannya. Alice menampilkan senyum lima jari yang memamerkan barisan gigi putihnya, mata dengan iris hazel yang berbinar, rambut coklat yang dicepol acak, serta kedua tangan yang membawa sebuah piring besar penuh makanan. Andra pun memicingkan matanya menelisik olahan kuliner khas Spanyol yang Alicia bawa. “Aku tidak tahu kamu sudah makan malam atau belum, tapi sebagai gantinya kemarin, temani aku makan malam,” ujar Alice yang tanpa permisi merangsek masuk ke unit Andra. “Aku belum mengizinkanmu masuk,” protes Andra seraya menutup pintunya dan menyusul Alice. “Kamu sudah membuka pintu, aku mengartikan itu sebagai sebuah izin,” sahut Alice tanpa dosa. “Mau coba hasil karyaku?” tanya Alice sambil mengulurkan satu sendok baru yang masih bersih. “Aku sudah makan,” jawab Andra sambil berjalan menuju meja kerjanya di dalam kamar. Tak lama kemudian ia kembali ke ruang tamu membawa berkas-berkas serta laptop di tangannya. Alice mencibir melihat bosnya yang seperti pria gila kerja itu. Bahkan di rumah pun masih sibuk, bukannya beristirahat. “Rekeningmu mungkin akan bisa mengalahkan milik Elon Musk kalau kerja tanpa istirahat seperti ini,” sindir Alice. “Aku tidak akan berhenti sebelum mengalahkan Jeff Bezos,” seloroh Andra yang sudah duduk diatas karpet dan menatap layar laptopnya di meja yang sama dengan piring Alice berada. “Dios mio, aku tidak tahu kamu seambisius itu,” balas Alice sambil berdecak. Andra hanya membalasnya dengan tersenyum tipis. Ia benar-benar menemani Alice makan malam meskipun tanpa suara. Sambil mengunyah makanannya, sesekali Alice melirik pada data-data yang Andra perhatikan. Itu berbeda dari yang biasanya mereka kerjakan di kantor. Rasa penasaran segera menyelimuti wanita muda itu. Alice pun menggeser posisi duduknya hingga semakin mendekat pada Andra. Kesegaran musk bercampur mint segera merangsek masuk dalam indra penciumannya. Alice tersenyum kecil lalu membatin. "Aroma Andra." “Itu data apa?” tanya Alice kemudian. “Pemasukan dan pengeluaran di kafe,” jujur Andra. “Ah, Vine Bean?” Alice membaca tulisan yang diangguki oleh Andra. Meskipun selama delapan tahun keduanya tak pernah berkomunikasi, bahkan baru bertemu kembali minggu lalu, anehnya Andra bisa cukup terbuka pada Alice. Ia tidak ragu memberitahukan rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat, seperti keberadaan apartemen ini dan juga kafenya. “Bagaimana bisa orang tuamu tidak tahu tentang Vine Bean? Bukankah kamu perlu mendaftarkannya untuk mendapatkan izin usaha?” tanya Alice penasaran. “Sama seperti apartemen ini, aku menggunakan nama anak buahku,” jawab Andra. “Tidak takut ditipu?” suara Alice terdengar lebih rendah dan sangsi. “Dia memang sering kurang ajar, tapi bisa dipercaya,” sahut Andra diakhiri dengan senyum tipis. “Syukurlah,” balas Alice seraya kembali melanjutkan makan malamnya. “Kamu benar-benar tidak mau mencoba ini? Aku bahkan sampai membuatnya tanpa daging sama sekali, loh!” Andra mengalihkan perhatiannya dari layar komputer dan menatap penuh selidik pada bule disampingnya. Ditatapnya wajah Alice yang begitu menikmati makanan berbahan dasar beras tersebut lalu berpindah pada sendok ditangan si wanita. Sebenarnya ia cukup penasaran juga dengan rasa makanan khas Spanyol tersebut. “Aku tidak tahu kamu bisa memasak,” komentar Andra seraya meraih sendok dari tangan Alice. “Kemampuan dasar bertahan hidup,” balas Alice sambil melanjutkan makanannya. “Hanya masakan barat?” tanya Andra lagi. Pria itu menyuapkan sesendok Paella, beberapa saat mencicipi rasanya, lalu mengangguk mengakui cita rasa yang mampu diterima oleh lidahnya. “Sejauh ini iya. Masakan Asia sebenarnya enak dan aku menyukainya, tapi terlalu banyak memakai bumbu. Aku malas kalau terlalu rumit,” jawab Alice. Keduanya terus makan hingga tanpa terasa olahan berbahan dasar beras itu tandas tak bersisa. Andra bahkan tidak menyangka dirinya bisa makan dari piring yang sama dengan orang lain, terutama seorang perempuan. Sementara Alice tidak terlalu memikirkannya, karena untuk seorang Alice, ini bukanlah sesuatu yang istimewa. “Ish, kenapa aku tidak membawa wine? Setelah makan paling nikmat dilanjutkan dengan minum anggur,” keluh Alice sambil menatap piring kosongnya. “Jangan dikunci pintunya, aku ambilkan anggur di tempatku.” Alice hendak berdiri, tetapi Andra menahannya, “Aku ada kalau kamu mau.” “Oh ya?” Iris hazel itu tampak semakin bersinar. “Mau!” “Tunggu sebentar,” ujar Andra seraya beranjak menuju dapur. Tak berapa lama pria itu kembali lagi dengan membawa satu botol anggur serta dua gelas tinggi. Setelah membuka tutup botol yang terbuat dari gabus alami tersebut, ia menuangkan cairan berwarna merah keunguan itu kedalam gelas. “Aku tidak menyangka akan menemukan orang lokal yang menyimpan alkohol di rumahnya,” ujar Alice seraya menerima gelas yang Andra ulurkan. “Disini memang tidak di jual bebas, tapi kafeku memiliki izin edarnya dan terkadang aku membawa pulang beberapa botol,” jelas Andra. “Cheers!” “Cheers,” balas Alice. Keduanya pun menyesap minuman dengan kadar alkohol cukup rendah tersebut. Perpaduan rasa asam serta manis dengan aroma buah dalam suhu rendah segera mengaliri tenggorokan. Alice cukup menikmati minuman yang mengingatkannya pada tanah kelahirannya tersebut. “Hmm, ini enak,” komentar Alice kemudian. “Apa aku bisa membelinya?” “Untuk apa?” tanya Andra dengan sebelah alis yang terangkat. “Diminum lah, untuk apa lagi?” sahut Alice sambil terkekeh. “Saat aku sulit tidur, biasanya aku minum anggur. Kalau di Barcelona, biasanya aku akan ke gudang dan langsung mengambil dari drum penyimpanan.” Andra mengangguk paham. Ia tahu jika keluarga Alice memiliki perkebunan serta pabrik wine. Tentu saja sepupunya yang bercerita. Bahkan setiap kali berkunjung ke Barcelona, sepupunya itu akan membawakan oleh-oleh wine untuknya. Andra pun mengakui jika hasil olahan wine dari perkebunan keluarga Alice berkualitas tinggi. “Tidak perlu beli, kesini saja kalau mau minum,” balas Andra yang kembali menyesap minuman di gelasnya. “No, no, kamu tidak selalu ada di apartemen.” Alice menggoyangkan telunjuknya ke kanan-kiri. “Kalau begitu ambil saja sendiri. Passcode pintu itu adalah 8888,” ujar Andra memberikan solusi. Alice tidak mempercayai pendengarannya. Memberikan passcode pintu apartemennya sama saja dengan mengizinkannya memasuki ruang privasinya. Padahal Alice sendiri tahu jika Andra adalah tipe yang sangat tidak suka saat ruang pribadinya dimasuki oleh orang lain. Tadi saja pria itu sempat protes saat dirinya masuk ke unit ini sebelum diizinkan. “Kenapa kamu memberitahuku kode pintumu?” tanya Alice sangsi. Andra hanya mengedikkan bahunya. “Daripada kamu beli dan minum di luar lalu bertemu orang-orang yang tidak sebaik penampilannya.” “Dan aku akan aman kalau minum disini?” tanya Alice yang hanya dibalas Andra dengan menyunggingkan sebelah bibirnya. "Mungkin." Andra kembali menuangkan anggur setelah gelas keduanya kosong. Pengaruh alkohol membuatnya lebih santai dan menikmati setiap detik yang berlalu. Belum pernah rasanya Andra memiliki teman berbicara lawan jenis sesantai ini kecuali sepupunya. Tidak ada rasa canggung meskipun mereka baru bertemu kembali setelah bertahun-tahun. Entah status sebagai kerabat atau fakta jika hati keduanya pernah saling bertaut yang membuat kenyamanan itu hadir. Keduanya tak paham, bahkan tidak peduli. Hanya mengikuti arus yang mengalir begitu saja. Andra dan Alice saling berbincang ringan layaknya teman lama tanpa mempedulikan waktu yang semakin larut. Bahkan kini mereka telah membuka botol kedua untuk menemani obrolan santainya. Meskipun anggur itu memiliki kadar alkohol yang rendah, tetap saja mampu membuat mereka mabuk secara perlahan-lahan. “Mau tahu cara lain meminum anggur supaya terasa lebih nikmat?” tanya Alice kemudian. “Bagaimana?" Andra balik bertanya. Alice tersenyum kecil lalu meraih botol anggur di meja. Ia kemudian meneguknya secara langsung dari bibir botol, tetapi tidak segera menelannya. Tatapannya kemudian beralih pada Andra yang mengira Alice sedang mengajarinya meminum secara langsung tanpa menuangnya kedalam gelas. Namun, Andra salah. Alice justru menarik tengkuknya dan secara tiba-tiba menumbukkan bibir mereka. “Heump.” Kedua netra Andra membulat saat serangan tiba-tiba itu menghampirinya. Bibirnya yang sedikit terbuka memudahkan Alice mengalirkan minuman beralkohol itu kedalam rongga mulutnya. Tubuh Andra terasa seperti tersengat listrik saat bibir mereka bertaut meskipun hanya sesaat. Rasa yang belum pernah sekali pun Andra alami sebelumnya, mengingat ini bisa dikatakan sebagai ciuman pertamanya. Alice menjauhkan bibirnya setelah anggur dalam rongga mulutnya habis. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyerang dirinya saat tadi tanpa sengaja menyentuh cincin yang melingkar pada jari manis Andra. Rasa suka yang sempat ia miliki untuk Andra sempat mengaburkan penilaiannya hingga berbuat seceroboh ini. “Mm-maaf,” gumam Alice tak enak hati. “Sebaiknya aku pulang sebelum semakin mabuk.” Wanita muda itu beranjak dari duduknya dengan gugup. Namun, saat hendak berdiri lengannya justru ditarik oleh Andra hingga ia kembali terduduk di depan pria itu. Tanpa terduga Andra membuat wajah mereka kembali sangat berdekatan dan balik menyesap bibir Alice tanpa permisi. Andra memang sempat terkejut, tetapi saat ia mulai menyadari situasi menyesalkan Alice yang tiba-tiba menghentikan kecupannya. Tanpa pikir panjang, ia pun kembali ingin merasakan sensasi tersengat listrik itu lebih lama lagi. Gerakannya masih kaku, tetapi ia tidak mengizinkan Alice melarikan diri dari pagutan mereka. Andra bahkan menghiraukan Alice yang menepuk-nepuk bahunya meminta dilepaskan. Mungkin alkohol benar-benar telah mengambil alih kontrol dirinya saat ini. Ciuman itu baru terlepas saat pasokan oksigen keduanya mulai menipis. Napas keduanya terengah dengan dahi yang masih saling menempal. Sebelah tangan Andra bertengger pada tengkuk Alice dan sebelah lagi menahan pinggang wanita itu yang menjadi penghalang Alice untuk menjauh. “Seharusnya kita tidak melakukan ini,” gumam Alice. “Kenapa tidak? Bukankah kamu menyukaiku?” tanya Andra dengan intonasi rendah. “Memang, tetapi ada seseorang yang sudah memilikimu,” jawab Alice terdengar menyesal. “Aku tidak menginginkannya,” balas Andra, “Aku menginginkanmu.” “Aku tidak ingin menjadi perempuan jahat, kalian sudah terikat,” ujar Alice sambil menggeleng kecil. Tanpa diduga, Andra melepaskan cincinnya dan melempar benda terbuat dari emas putih itu kesembarang arah. Atensinya kembali fokus pada Alice yang tampak kebingungan. Kedua tangannya menangkup pipi Alice dan membuat keduanya saling bertatapan, menyelami kedalaman mata masing-masing dan tampaklah kabut gairahh yang menguasai keduanya. “Lupakan statusku, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan padaku. Aku mengizinkanmu,” kata Andra dengan suara seraknya. Alice masih berusaha menolak dengan menggeleng. Menjadi perusak hubungan orang tak pernah terlintas dalam benaknya, meskipun ia mengakui jika selama berada di dekat Andra perasaan lamanya perlahan kembali tumbuh dan ia justru terus ingin mendekat. Setidaknya, berada di dekat pria itu saja sudah cukup untuknya. “Bukankah kamu menginginkanku?” tanya Andra yang secara ragu dibalas anggukan oleh Alice. “Sentuh aku sepuasmu, Chica! Aku milikmu.” “Andra,-” Pria itu kembali memagut bibir Alice yang terbuka meskipun dengan gerakan yang kaku. Pada awalnya Alice terus melakukan penolakan, tetapi pikirannya yang sudah diselimuti kabut gairah membuatnya menyerah. Ia menuruti permintaan atau mungkin perintah bosnya tersebut. Bahkan tanpa kata ia mengarahkan Andra untuk menjadi lebih tenang. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat keduanya berpindah tempat untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai secara spontan tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN