SF 08

1464 Kata
Sinar matahari berlomba merangsek masuk kedalam ruangan melalui kisi-kisi yang terbuka. Sepasang mata yang tadinya tertutup itu perlahan mengerjap, menyesuaikan intensitas cahaya yang memasuki retina. Sebelah tangan Alice mengucek matanya sembari ia mengumpulkan kembali kesadaran. Rambut coklat terangnya yang semalam begitu rapi dan tergerai indah, siang ini tak ada bedanya dengan sarang burung saking berantakannya. Selama beberapa saat wanita itu mulai mempelajari keadaan di sekitarnya dan ia menyadari jika ini bukanlah kamarnya. Tempat ini jauh lebih maskulin dengan dominasii warna abu-abu gelapnya. Barang-barang minimalis yang mengisi setiap sudut ruang tampak rapi dan bersih. “Aku dimana?” gumam wanita itu dengan suara serak dan tangan yang mencengkeram rambutnya. Ingatan Alice kembali melayang pada kejadian semalam. Ia terpaksa meminum alkohol saat sudah mencapai ambang toleransinya. Selama perjalanan kembali ke apartemen dengan diantar oleh Tommy, kesadarannya perlahan semakin menghilang dan ingatannya terputus. Alice menghela napas panjang. Otaknya menyimpulkan bahwa saat ini ia berada di kamar Tommy dan ini berarti adalah berita buruk. “Sial,” gumamnya sekali lagi setelah memberanikan diri melihat kondisinya diatas ranjang. Tubuh semampainya tertutup selimut tebal berwarna hitam. Dibalik selimut itu ia tak lagi mengenakan pakaiannya dan hanya tersisa dalaman saja. Pandangannya kembali beredar pada sekitar dan ia sama sekali tak menemukan barangnya tercecer dimana pun. Wanita itu mengangkat tubuhnya dan berjalan kearah pintu yang sepertinya adalah toilet. Ia pun segera membersihkan wajahnya dan memeriksa tubuhnya. Sebuah helaan napas lega Alice hembuskan saat ia akhirnya mengkonfirmasi jika tak terjadi apa-apa semalam, karena tak ada bekas apa pun yang tampak serta tubuhnya pun tak merasakan apapun. Selesai dengan membersihkan diri, Alice membuka lemari untuk mengambil pakaian secara asal untuk menutupi tubuhnya. Ia mengambil sebuah kaus berwarna hitam yang saat dikenakannya hanya menutupi sampai batas paha atas. Alice kembali mengambil sebuah celana santai pendek agar kakinya tertutup. “Aku sempurna tak peduli apa pun yang kukenakan,” ujarnya percaya diri serta mengedipkan sebelah mata didepan kaca. Setelah itu ia segera keluar dari dalam kamar untuk mencari penghuni unit ini yang ia perkirakan adalah Tommy. Namun, keadaan didalam apartemen itu sangat sepi seperti tanpa penghuni. Bahkan di beberapa ruangannya juga tampak sangat minimalis. Tak ada foto di tempat ini yang bisa menjadi petunjuk. Alice yang pada dasarnya cukup cuek tersebut lalu mengedikkan bahu tak acuh. Tenggorokannya terasa kering dan ia mulai mencari dapur. Wanita itu kemudian membuka kulkas dan mendapati deretan botol air mineral yang segera diraihnya. Sambil membasahi kerongkongannya, Alice kembali mengedarkan pandangan pada sekitar. Netranya membola saat mendapati satu bungkus ayam panggang diatas mini bar. Perutnya yang terasa kosong membuat Alice sama sekali tak merasa sungkan bahkan menganggap tempat asing itu seperti rumahnya sendiri. Ia segera duduk di kursi tinggi lalu menyantap ayam itu tanpa ragu. “Terima kasih,” pekiknya girang. ===== Bip bip bip bip Andra menekan kode kunci pintu apartemennya dari luar, lalu membukanya perlahan. Satu sisi lengannya membawa sebuah kantong belanja yang cukup penuh. Pria itu segera menuju dapur dan cukup terkejut saat mendapati Alice dengan tenangnya menikmati ayam panggang yang semalam tidak sempat Andra berikan pada security. Meskipun terkejut, Andra tetap mampu menampilkan wajah datarnya. Sementara Alice yang menemukan sosok bosnya tersebut justru memekik kaget. Wanita itu sama sekali tidak menyangka akan bertemu Andra hari ini. “Bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Alice yang sudah turun dari kursi tingginya dan mendekat pada Andra. Kelima jarinya masih penuh bumbu yang mana hal itu membuat Andra cukup bergidik. “Ini rumahku,” jawab Andra tenang lalu membuka pintu kulkas untuk menata belanjaannya. “Sungguh? Ini bukan rumahnya Tommy?” tanya Alice sekali lagi yang masih belum yakin. “Kamu berharap ini rumah Tommy?” Alice menggeleng kuat. “Tidak. Tapi, bagaimana bisa aku berakhir di rumahmu?” “Si berengsek itu yang mengantarmu,” jawab Andra. Dahi Alice mengkerut. Penjelasan setengah-setengah yang Andra ucapkan tak mampu mengobati rasa penasarannya, hingga ia pun ikut berjongkok saat Andra sedang menata sayuran di bagian bawah kulkas. “Dia mengantarku ke rumahmu? Kenapa? Apa dia menghubungimu? Kenapa tidak mengantar ke apartemen? Atau mungkin ke rumah kak Juna?” tanya Alice bersemangat, “Ah, terlalu malam jadi tidak mungkin mengantar ke rumah kakak. Aku juga bisa diomeli habis-habisan kalau sampai ketahuan pulang diantar pria lagi.” Andra cukup malas menanggapi pertanyaan Alice yang seolah tidak ada ujungnya tersebut. Ia hanya memilih untuk mendengarkan yang anehnya suara serta rentetan pertanyaan itu terdengar menyenangkan. “ANDRA!” pekik Alice yang merasa kalimatnya diabaikan oleh pria dihadapannya. “Apa?” tanya Andra tanpa minat. “Dimana bajuku?” Gerakan Andra terhenti sesaat, lalu ia kembali menormalkan sikapnya. “Di jemuran.” Paprika terakhir telah tersimpan rapi di kulkas. Andra segera berdiri dan melipat kantong belanjanya diikuti Alice yang juga berdiri. “Bagaimana bisa?” Mata Andra memicing dan memandang aneh Alice yang baru ia sadari tengah mengenakan pakaiannya. Kaus serta celana pendek itu sedikit kebesaran, tetapi mengapa justru membuat si wanita bule itu tampak lebih seksi daripada saat mengenakan gaun kurang bahannya semalam? Sepertinya otak Andra mulai tidak beres. “Ehem,” pria itu membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat. “Kamu muntah dan bajumu kotor, jadi aku melepasnya. Tenang saja, aku menutup mataku saat melakukannya.” “Oh ya?” tanya Alice yang kini menatap Andra penuh minat. Andra mengangguk singkat lalu meneguk air mineral dari dalam botol. “Sayang sekali. Padahal aku tidak keberatan kalau pun kamu melihat dan menikmatinya,” ujar wanita muda itu yang berhasil membuat Andra tersedak. Alice terkekeh lalu kembali menghampiri ayam panggangnya diatas mini bar. “Jadi, bisa kamu ceritakan bagaimana aku bisa berakhir di rumahmu?” Andra mendekat pada Alice dan duduk diseberang mini bar sehingga keduanya kini saling berhadapan. Cerita tentang semalam saat Tommy mengantarkan Alice pun mengalir dengan terlalu singkat, karena Andra hanya mengambil intinya saja. Lalu, mengenai keberadaan Andra yang ada di gedung apartemen yang sama adalah karena ia memiliki unit di gedung ini. Apartemen tipe satu kamar yang Andra beli secara diam-diam bahkan menggunakan nama Kenzie ini adalah zona nyamannya saat tidak ingin tinggal di rumah. “Jadi kita tinggal di gedung yang sama?” tanya Alice memastikan dan dijawab anggukan oleh Andra. “Lalu, ini lantai berapa?” “Delapan,” jawab Andra singkat. “Wah? Sungguh?” Kedua netra Alice tampak berbinar-binar. “Sepertinya kita memang berjodoh,” selorohnya. “Jangan bilang,-” “Unitku juga di lantai ini, nomor 812,” sahut Alice girang. “Lalu ini nomor berapa?” “Kalau saja aku tahu apartemenmu ada di sebelah, aku lempar saja lewat balkon,” Andra mendengus kasar. “811.” “Dios mio, kebetulan sekali. Ini semakin menyenangkan saja,” ujar Alice senang. Andra pun turun dari kursinya lalu meninggalkan Alice tak acuh. “Cepat habiskan makanmu dan pulanglah! Aku mau tidur.” “Butuh teman?” canda Alice disertai kekehan. “Jam segini baru bangun, masih mau tidur lagi. Dasar,” gerutu Andra lirih. Pria itu menutup pintu kamarnya lalu menutupnya rapat. Semalam, setelah mengurusi Alice ia memang hanya tidur di sofa ruang tamu, sehingga tubuhnya terasa pegal-pegal. Mengetahui bahwa unit ini adalah milik Andra membuat Alice semakin menyamankan diri disana. Ia bahkan tidak menuruti permintaan Andra untuk segera pulang. Selesai menghabiskan ayam panggang Andra, ia kembali menyusuri apartemen minimalis tersebut tanpa kembali masuk ke kamar pria itu. Meskipun Alice cukup ceroboh dan asal, tetapi ia tetap menghargai Andra dan tidak ingin mengganggu tidurnya. Menggunakan alasan pakaiannya yang masih basah, Alice tetap tinggal di apartemen Andra bahkan sampai sore menjelang. Andra yang sudah bangun kembali pun tak habis pikir dengan Alice yang tampak nyaman menonton film dari TV-nya sambil menikmati keripik yang tadi dibelinya. “Aku sampai berpikir sedang ada di rumah orang lain,” sindir Andra tajam. “Kamu tidak ada rencana, ‘kan? Temani aku belanja malam ini di mall sebelah,” pinta Alice seraya beranjak kearah balkon dimana pakaiannya semalam berada. “Aku sibuk,” sahut Andra. “Ayolah! Aku belum punya banyak teman disini,” rengek Alice dengan kelopak mata yang berkedip-kedip memelas. “Pergi saja sendiri!” Alice mengerucutkan bibir seraya menghela napasnya panjang. “Ya sudah, aku minta ditemani Tommy saja lagi,” keluh wanita itu seraya melipat pakaiannya. “Aku pulang dulu.” “Tiga puluh menit dari sekarang. Cepatlah bersiap-siap!” Alice menghentikan langkahnya dan menatap Andra tak yakin. “Sungguh? Mau menemaniku?” “Dua puluh sembilan menit lima puluh detik,” sahut Andra seperti sedang menghitung waktu. “Tidak boleh dibatalkan loh, ya!” “Dua puluh sembilan menit empat puluh detik.” “Ck, iya-iya. Aku akan cepat, awas kalau jadi kamu yang terlambat,” dengus Alice. “Bye, Bos!” Brakk Tepat setelah pintu unitnya ditutup oleh Alice dari luar, Andra menghela napasnya lega. Sebelah tangannya berkacak pinggang dan sebelah lagi memijit pelipisnya yang berdenyut. “Sadarlah, Andra! Anak itu berbahaya untukmu,” gumamnya seraya bersiap-siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN