Sekembalinya dari makan siang tadi, Andra tak lagi bersemangat melakukan apapun. Namun, berdiam diri juga sepertinya terlalu menyia-nyiakan waktu, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke Vine Bean Cafe. Bergelut dengan bubuk hitam beraroma khas itu secara perlahan mampu mengembalikan suasana hati Andra yang mendung. Belum lagi sejak senja menjelang sudah mulai ada live music dari band-band indie yang menemani waktu bersantai para pengunjung.
Seandainya saja hidupnya bisa sebebas saat ini. Sebenarnya Andra bisa saja menolak kehidupan yang sudah diatur oleh orang tuanya, terlebih setelah melihat keberanian Ara dan ayahnya yang tak segan meninggalkan kemewahan mereka demi bisa lebih bebas. Namun, ini tak semudah itu untuk Andra.
“Jadi, kapan bos akan menikah?” tanya Ken basa-basi saat semua pesanan pengunjung telah di transfer pada pegawai yang lain.
“Jangan membicarakan itu, Ken,” gerutu Andra tidak suka.
“Kasihan Mbak Danisha harus menikah sama papan tulis,” cibir Ken yang memang tak pernah mau mendengarkan larangan Andra.
Pemuda dua puluh satu tahun yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu mengenal Andra sejak empat tahun yang lalu. Andra menyelamatkannya dari ancaman putus sekolah akibat kekurangan biaya. Ken yang tidak ingin dibantu secara cuma-cuma pun menawarkan jasanya hingga Andra mempercayakan kafe ini pada Ken sebagai pengawas. Keakraban yang terjalin diantara keduanya membuat mereka lebih cocok sebagai kakak adik dengan karakter yang berlawanan dibandingkan bos dan karyawannya.
“Kamu gak kasihan sama aku?” tanya Andra.
“Orang yang gak mau berusaha keluar dari masalahnya gak patut dikasihani, Bos. Dia aja gak kasihan sama diri sendiri yang selalu tertekan, gimana orang lain mau simpati sama keadaannya?” Kenzie balik bertanya.
Andra tak menanggapi kalimat itu dan terus meracik minuman pesanan pelanggaan. Dalam hati ia menyetujui pernyataan anak buahnya tersebut. Selama ini Andra memang pasrah atas keadaannya, tetapi itu hanyalah yang tampak di permukaan.
“Mas Andra loh meskipun ninggalin nama besarnya Sagara juga gak akan kesulitan. Kafe ini profitnya cukup lah buat biaya hidup yang layak,” saran Ken yang kerap kali menyaksikan betapa tertekannya Andra.
Pria dua puluh enam tahun itu terus terdiam. Selain membenarkan kalimat Kenzie, Andra juga tak ingin terkesan membuat alasan. Ia membenarkan letak kacamata bulatnya lalu memanggil nama pelanggaan untuk memberikan pesanan mereka.
“Ada sesuatu yang bikin Mas Andra gak berani keluar dari zona tertekan ini?” tanya Kenzie lagi setelah Andra menyelesaikan pekerjaannya.
Andra menghela napasnya panjang, membersihkan telapak tangannya dengan kain, lalu bersidekap dan menatap Ken datar. “Ini bukan masalah uang atau nama besar keluarga, Ken. Bukan juga tentang perjanjian orang tuaku dan Danisha. Lebih dari itu.”
“Terus?”
Andra tersenyum simpul seraya mendekati Kenzie, lalu menepuk bahu pemuda itu, “Kamu gak akan paham, Ken,” ujarnya seraya melepaskan celemek.
“Ya mana mungkin paham kalau gak dijelasin? Bos kebiasaan banget, gak pernah mau kasih tahu, tapi mintanya orang-orang langsung paham. Dikira kami ini cenayang kali,” gerutu Ken yang berhasil membuat kekehan mahal Andra terlontar.
“Udah, aku balik duluan! Niatnya mau refreshing malah kamu tanya-tanyain begini, bikin gak mood.”
Ken memutar kedua bola matanya malas. Butuh kesabaran ekstra jika ingin mengorek isi hati maupun pikiran seorang Andra. Sejauh ini, hampir tak ada yang bisa melakukannya.
=====
Alunan musik DJ menghentak, memekakkan telinga, menggema diseluruh bangunan yang menjadi salah satu pusat hiburan malam di kota Jakarta tersebut. Sejak beberapa menit yang lalu, Alice telah meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa seirama dengan musik. Disekitarnya cukup padat, pria dan wanita semua becampur baur menari bersama.
Tak lama kemudian, Alice merasakan seseorang mendekapnya dari belakang dan mulai bergerak seirama. Telapak tangan besar itu bertengger dengan sempurna di pinggangnya sementara pundaknya yang terbuka sudah menjadi sandaran dagu seorang pria dengan nyaman.
Alice tersenyum simpul lalu membalik tubuhnya agar bisa berhadapan dengan pria itu. Senyumnya semakin lebar saat mendapatkan Tommy lah yang tengah memeluknya. Tatapan manis pria itu membuat Alice mulai mengalungkan lengannya pada leher Tommy dan mereka menari bersama hingga larut.
“Aku haus,” pekik Alice kemudian.
“Ayo ke bar,” ajak Tommy yang juga dengan suara yang tinggi, “Kamu mau minum apa?”
“Martini,” jawab Alice yang langsung disanggupi Tommy.
Keduanya kemudian berbincang-bincang di bar sambil menikmati minumannya. Minuman beralkohol itu membuat mereka semakin lepas kendali. Tommy mulai berani menyentuh paha Alice yang hanya tertutup separuh saja, mengusapnya lembut dengan netra yang fokus pada wajah cantik si bule. Alice tak bereaksi banyak atas sentuhan itu dan terus menikmati suasana serta minumannya.
“Jadi, kamu tinggal sendiri di apartemen?” tanya Tommy.
“Begitulah,” jawab Alice, “Ini adalah pertama kalinya untukku, jadi aku sangat antusias.”
“Bukannya di Eropa setelah berusia legal mereka akan pindah dan berpisah dari orang tua?” tanya Tommy lagi.
“Tak perlu menyamaratakan, Tuan! Tidak semua orang Eropa melakukannya,” balas Alice dengan menggoyangkan jari telunjuknya.
“Kalau begitu, nikmatilah kebebasanmu, Nona,” ujar Tommy yang kini merapikan anak rambut Alice ke belakang telinga.
“Tentu,” sahut Alice seraya menolehkan kepala yang mau tak mau membuat sentuhan Tommy terlepas.
Meskipun otaknya sudah terpengaruh oleh alkohol, Alice masih bisa menyadari setiap perlakuan Tommy pada tubuhnya. Perlahan ia juga menepis tangan Tommy yang ada di pahanya tanpa menimbulkan kesan sebuah penolakan. Setelah itu ia beranjak dan mengambil jaket denim serta tas selempang yang tadi dilepaskannya.
“Aku mau pulang,” pamit Alice pada Tommy dan beberapa temannya yang masih asik minum.
“Kenapa? Ini masih sore, girl,” tanya seorang pria yang mengapit batang rokok dijarinya.
“Iya, baru juga jam satu,” tambah seorang perempuan berambut ombre.
“Kamu baik-baik saja, Al?” tanya Tommy.
“Hmm, hanya sedikit mabuk saja,” jawab Alice seraya menyugar rambut coklat terangnya.
“Satu jam lagi ya, nanti aku antar,” tawar Tommy yang masih belum ingin pulang.
Namun, Alice menolak dengan menggelengkan kepalanya. “Aku bisa benar-benar mabuk nanti kalau terlalu lama disini. Aku pulang sendiri saja kalau kamu masih mau disini,” balasnya.
“Satu gelas lagi, lalu kuantar pulang,” ujar Tommy mengulurkan segelas kecil whiskey dengan tatapan menantang.
Alice mendengus. Ia ragu untuk mengambil minuman itu. Selain tidak terbiasa dengan whiskey, bisa dipastikan bahwa kadar alkohol dalam minuman itu jauh lebih tinggi daripada wine serta cocktail yang biasa diminumnya.
“Ayolah, satu saja,” bujuk Tommy yang didukung oleh teman-temannya.
Wanita itu pun menghela napas lelah lalu meraih gelas minuman tersebut. “Oke yang terakhir!”
Sorakan langsung terdengar meriah begitu cairan berwarna mirip teh tersebut tandas dan berpindah tempat membasahi tenggorokan Alice. Sensasi panas yang menyapa kerongkongan membuat wanita muda itu meringis selama beberapa saat.
Tommy tersenyum puas begitu Alice menyelesaikan tantangannya. Seperti janjinya, ia segera pamit pada teman-temannya untuk mengantarkan Alice ke apartemen. Sebenarnya Tommy sendiri telah mengkonsumsi beberapa gelas alkohol yang seharusnya tak diizinkan untuk mengemudi, tetapi lemahnya pemeriksaan serta kondisi dini hari membuatnya bisa dengan santai berkendara tanpa terpikirkan bahaya.
=====
Andra baru saja selesai menyaksikan pertandingan sepak bola babak pertama dari layar TV. Saat ia menengok pada jam dinding yang tergantung di atas TV, waktu ternyata telah menunjukkan dini hari. Namun, lambungnya terasa kosong dan minta segera diisi. Ia pun beranjak kearah dapur dan mencari makanan pengganjal perut.
Sayangnya hanya ada mi instan dan Andra paling anti memakan makanan sejuta umat itu ditengah malam seperti ini. Akhirnya Andra pun mengambil ponsel untuk membuka aplikasi pesan antar yang sayangnya juga hanya ada kedai-kedai dengan menu utama daging yang masih buka di jam ini. Sebagai seorang vegetarian, tentu saja ini adalah kabar buruk.
“Hah, kenapa susah sekali cari makanan sehat malam-malam begini?” gerutunya sambil terus memindai setiap menu yang ditawarkan.
Mata Andra yang terbalut kacamata bundar itu membesar tatkala ia menemukan sebuah kedai ayam panggang yang juga menjual beberapa jenis tumis sayuran. Akhirnya Andra pun memutuskan membelinya meskipun hanya tersisa paket yang harus membuatnya membeli ayam panggang pula.
“Ayamnya kasihin ke penjaga aja ntar,” gumam Andra dengan kepala mengangguk beberapa kali.
Sembari menunggu pesanannya tiba, Andra kembali ke ruang TV. Ponsel dalam genggamannya terus menunjukkan pemberitahuan pesan masuk sejak beberapa jam lalu yang ia abaikan.
Andra sudah sangat hafal jika tunangannya akan selalu memborbardirnya dengan beragam pesan yang menurutnya tidak penting. Padahal Danisha tahu jika di jam ini adalah waktunya Andra istirahat, berbeda dengannya yang sedang ada di New York dengan waktu yang dua belas jam lebih lambat dari Jakarta.
Danisha
[Tunggu aku pulang, Sayang! Miss you so much :*]
Tanpa sengaja Andra melihat pop up pesan tersebut saat ia hendak menjawab panggilan telepon dari kurir yang mengantar makanannya. Andra mendengus kesal dan tak membalas. Ia pun bangkit dari duduknya dan segera turun ke lantai dasar untuk mengambil pesanannya.
=====
“Totalnya tujuh puluh lima ribu, Mas,” ujar kurir yang mengantarkan pesanan Andra.
Pria itu kemudian menerima bungkusan makanannya dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan sebagai gantinya.
“Ambil aja kembaliannya, Mas,” balas Andra yang membuat kurir itu terkejut.
“Eh, beneran nih, Mas? Banyak loh ini.”
“Iya, Mas. Terima kasih malem-malem gini masih mau nerima orderan,” sahut Andra seraya berbalik.
Sebelum kembali naik keatas, Andra hendak memilah makanannya untuk diberikan pada penjaga. Namun, saat sedang fokus telinganya mendengar suara seorang pria dari arah pintu masuk. Sebenarnya Andra tak mau ikut campur, tetapi kali ini ia merasa begitu ingin melihat kearah sumber suara. Irisnya segera membesar dan tubuhnya mendadak kaku melihat pemandangan dihadapannya.
Alice dalam balutan pakaian seksi itu tengah berada dalam kondisi antara sadar dan tidak. Ia berjalan sempoyongan dengan Tommy yang memapahnya. Beberapa kali terdengar Tommy yang menanyakan keberadaan unit Alice, tetapi wanita itu malah meracau ingin pulang tanpa menjawab pertanyaan tersebut..
“Iya, ini aku mengantarmu, Cantik,” balas Tommy dengan sebelah lengan menahan pundak Alice dan lengan sebelahnya mengungkung pinggang wanita itu.
“No, no! Mi hermano se enojará conmigo si llevo a un hombre a casa,” racau Alice sekali lagi.
Saat dalam kondisi ini, Alice tak bisa mengontrol bahasa apa yang terucap dari bibirnya, sehingga ia akan mengoceh dengan bahasa Spanyol. Walau tidak sadar, tetapi ia terus menolak menggunakan alasan takut pada sang kakak.
“Kamu bicara apa, heum?” tanya Tommy mencoba sabar. “Dimana unitmu? Kita bisa segera beristirahat kalau kamu memberitahuku. Bukankah kamu bilang sudah merindukan kasur? Aku juga sama, Cantik.”
“Solo vete a casa! No me sigas!” Seru Alice seraya melepaskan papahan Tommy.
Gerakannya yang mendorong Tommy membuat Alice semakin sempoyongan hingga hampir saja ia terjatuh. Beruntung Andra menginterupsi dan menahan tubuh mabuk Alice, sehingga wanita muda itu tidak sampai tersungkur.
“Dia memintamu pulang,” ujar Andra menerjemahkan dengan nada datar.
“Pp-Pak Andra?” Tommy bersuara gagap.
“Biar aku yang membawanya pulang,” balas Andra seraya menggendong Alice di punggungnya lalu membawa wanita itu pergi.
Tommy terus memandang keduanya dengan pandangan kesal. Padahal ia sudah sangat berharap bisa mencicipi sosok bule seperti Alice. Ini seperti ia dipaksa mundur oleh bosnya sendiri.
Selama beberapa saat ia cukup bingung dengan keberadaan Andra di gedung apartemen ini. Setahu Tommy, bosnya itu memiliki sebuah rumah besar di bilangan Jakarta Selatan. Namun kemudian ia sadar jika Andra dan Alice masih memiliki hubungan kerabat.
“Ah, mungkin saja mantan artis itu menitipkan adiknya sama pak Andra,” gumamnya seraya meninggalkan gedung apartemen dengan kecewa.