SF 05

1268 Kata
Sekitar pukul delapan kurang lima menit, mobil SUV berwarna hitam berhenti di depan lobby kantor pusat Sagara Grup. Keadaan di sekitar sudah cukup ramai mengingat jam kerja akan segera dimulai. Namun, banyak dari mereka yang mengalihkan perhatian pada sosok pengemudi mobil yang bersebelahan dengan wanita cantik berparas bule dengan rambut coklat terangnya. “Nanti dijemput Kak Ara, ya Dek,” pesan Arjuna yang pagi ini kedapatan mengantar adiknya ke kantor. “Tidak perlu! Aku akan pulang sendiri seperti semalam,” sahut Alice sambil melepas sabuk pengamannya. “Dianter cowok lagi?” tanya Juna tidak suka. “Kamu tuh, baru tiga hari disini udah dapet gebetan baru. Gimana Kakak mau kasih kepercayaan kamu buat tinggal sendiri?” “Aku aman, Kak! Aku pasti akan aman,” bantah Alice yang membuat Juna memutar bola matanya malas. “Aku masuk dulu, nanti gak perlu dijemput.” Setelah mengecup pipi kakak sulungnya tersebut, Alice segera keluar dari dalam mobil. Tindakannya yang memberikan kecupan pada sang kakak itu ternyata menjadi perhatian orang-orang yang tak sengaja melihat mereka. Status Juna yang merupakan mantan aktor terkenal di negeri ini membuat orang-orang segera menggosipkan mereka. “Arjuna adalah kakakku, jadi jangan salah paham dan membuat gosip, oke?” jelas Alice tanpa diminta. Wanita muda itu tersenyum manis pada setiap orang yang sedang mengoperasikan ponselnya. Mereka telah mengambil gambar yang mungkin akan membuat salah paham. Ia tidak mengkhawatirkan respon Ara jika melihat foto tersebut, tetapi Alice lebih khawatir pada reaksi publik yang salah paham. “Jadi kamu adiknya Arjuna?” tanya seorang pria muda yang kemarin sudah berkenalan dengannya, Tommy. “Ya, kami memiliki ibu yang sama,” jawab Alice santai. “Tapi kalian tidak mirip sama sekali,” sanggah Tommy yang kini berjalan beriringan dengan Alice masuk ke lobi. “Dia mirip papinya dan hanya mewarisi warna mata mami, sementara aku lebih mirip dengan daddy. Rambut saja yang sama dengan mami,” jelas wanita muda itu. “Ah, pantas saja. Kalau kamu gak bilang, kami semua bakalan salah paham,” sahut Tommy mulai paham. “Kalau kata Kak Ara, istrinya Kak Juna, jangan julid,” balas Alice secara terkekeh. “Sudah jadi naluri alamiah, Al,” Tommy ikut terkekeh. “Oh ya, nanti makan siang bareng, ya! Aku kenalin ke temen-temenku yang lain.” “Oke!” seru Alice antusias dan tanpa berpikir panjang. “Ehem.” Sebuah deheman dengan suara yang dalam menghentikan obrolan ringan kedua orang itu. Mereka berbalik dan menemukan si bos telah berada di belakang keduanya bersama dengan Wildan. Alice yang terpaku segera ditarik mundur oleh Tommy dan membuat Alice tergagap. Barulah kemudian ia ikut menyapa sopan Andra yang menatap datar mereka. “Pagi, Bos!” sapa Alice dan Tommy bersamaan. Seperti biasanya, Andra tak membalas dan hanya menatap keduanya tajam hingga Tommy menunduk ngeri, sementara Alice malah menunjukkan senyum lebarnya yang tanpa dosa. Andra mengisyaratkan pada Alice agar segera mengikutinya tanpa kata lalu melangkah pergi. “Duluan, ya!” pamit Alice pada Tommy sambil melambaikan tangan. “Selamat bekerja,” ujar pria yang sepertinya seumuran dengan Andra tersebut memberikan semangat. Alice yang sudah berada di belakang Andra pun berbalik dan memberikan tanda oke melalui jarinya. Tak lupa ia juga mengucapkan kalimat yang sama tanpa menimbulkan suara. Ucapan serta senyuman Alice yang sesungguhnya ditujukan untuk Tommy itu nyatanya juga bisa menaikkan semangat kerja pegawai pria lain yang tanpa sengaja melihat. Wanita bule itu benar-benar menjadi penyejuk mata sekaligus mood booster sejak kedatangannya di kantor ini. ===== “Buatkan kopi yang benar dan antar ke ruangan saya!” pinta Andra tepat sebelum pria itu memasuki ruangan khusus CEO. “Baik, Pak,” sahut Alice dan Wildan bersamaan. “Jangan salah lagi, lidahnya pak Andra terlalu sensitif,” pesan Wildan kemudian. “Ya, tentu saja,” balas Alice seraya meletakkan tasnya diatas meja. Bule itu kemudian bergerak kearah pantry dan membuatkan pesanan sesuai permintaan Andra. Lima menit kemudian, cairan hitam bercitarasa pahit itu telah selesai diracik. Alice mengetuk pintu ruangan Andra dan baru membukanya setelah dipersilakan. Saat sampai didalam ternyata Andra sedang berbincang di telepon entah dengan siapa. Pria itu lebih banyak mendengarkan dan tak banyak menimpali. Hanya saja, sebelah tangannya yang berada dibawah meja tengah mengepal erat dan emosinya sedang dipancing oleh lawan bicaranya. “Kopinya, Pak,” ujar Alice seraya meletakkan cangkir diatas meja. Andra tak menyahut, sehingga Alice hendak beranjak pergi. Namun, Andra segera mengisyaratkan dengan tangan agar wanita bule itu menunggu. Alice pun menurut dan mengambil duduk dibalik meja Andra tanpa dipersilakan. Netranya terus mengamati sang CEO, berharap menemukan perubahan ekspresi dari wajah datarnya, namun tetap saja ia tak mendapatkan keistimewaan itu. Beberapa kali indra pendengar Alice menangkap kata ‘ya’ dan ‘ma’ yang meluncur dari bibir tipis Andra. “Ya, nanti aku kabari lagi, Ma. Aku kerja dulu,” ujar Andra mengakhiri pembicaraannya dengan Dyah sang mama. Andra meletakkan begitu saja ponselnya diatas meja. Setelah itu ia menatap Alice yang memandangnya lekat. “Kenapa masih disini?” tanya Andra seraya menyesap kopinya. Sedetik kemudian ia mengangguk sebagai isyarat bahwa minuman itu sesuai dengan yang diinginkannya. “Loh, ‘kan kamu yang gak bolehin aku keluar. Gimana, sih?” Alice mengerucutkan bibirnya kesal. “Oh,” balas Andra tak acuh. “Keluar dan lanjutkan pekerjaanmu!” Tanpa diduga, Alice mencondongkan tubuhnya mendekat pada Andra. Meskipun terdapat meja yang memisahkan mereka, tetapi Andra cukup terkejut hingga menarik tubuhnya mundur hingga punggungnya bertumbukan dengan sandaran kursi. Alice yang berharap mendapatkan perubahan ekspresi Andra pun berdecih karena tak mendapatkan reaksi tersebut. “Mau apa kamu?” tanya Andra datar. “Apa otot wajahmu sudah mati?” Alice balik bertanya penasaran. “Jangan melewati batas hanya karena kita saling mengenal! Gunakan bahasa baku!” tegur Andra lagi. “Ah, kemarin kamu bilang akan menghukumku kalau aku berbahasa santai ‘kan? Apa hukumannya?” Alice menantang. “Aku akan membatalkan izin magangmu,” jawab Andra yang dibalas gerutuan kesal Alice. “Apa tidak ada hukuman yang lain?” tanya Alice menawar. “Keluar!” “Kalau kamu membatalkan izin magangku, aku akan memberitahu semua orang kalau kamu juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai barista,” ancam Alice mencoba membuat kesepakatan. “Alice!” seru Andra dengan nada rendah. “Ayolah, it’s a win-win solution, Boss!” Alice melancarkan aksi merayunya. Tak ada balasan dari Andra yang kini menatap tajam iris hazel Alice. Perpaduan warna coklat dan hijau itu selalu membuat Andra terkesima, bahkan sejak pertama kali ia melihatnya delapan tahun silam. Semakin Andra menatap netra indah itu, detak jantungnya pun semakin bertambah cepat dan ini sungguh tidak baik. Pria itu kemudian berkedip, mengalihkan pandangannya serta berdehem membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. “Baiklah, tapi bicaralah dengan formal padaku. Ini perusahaan, Al bukan kampus,” putus Andra tegas. “Oke, setuju! Saya akan berbicara formal,” balas Alice dengan seulas senyum menyeringai. “Hanya pada saat jam kerja. Selebihnya saya akan berbicara dengan santai,” lanjutnya seraya beranjak pergi tanpa menunggu reaksi Andra. “Jam makan siang nanti ikut aku dan Wildan menghadiri meeting dengan klien!” seru Andra tepat saat Alice hendak membuka pintu ruangannya. Wanita itu berbalik dan menatap Andra dengan alis yang mengernyit. “Saya sudah ada janji makan siang dengan teman.” “Apa temanmu lebih penting dari perintah bos?” “Tapi ikut meeting ‘kan tugas sekretaris senior?” Sekali lagi Alice membantah. “Jadi menurutmu sekretaris juniior hanya bertugas untuk membuat kopi? Lalu apa bedanya dengan barista?” Andra balik bertanya. “Ck, mengganggu saja,” gerutu Alice lirih. “Tanyakan pada Wildan apa saja yang harus kamu pelajari nanti!” perintah Andra. “Yes, Sir!” sahut Alice cepat lalu buru-buru pergi sebelum pekerjaannya ditambah oleh Andra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN