SF 04

1527 Kata
Setelah Andra memberikan pagi yang cukup buruk untuk magang baru yang tak lain adalah Alice itu, ia tak lagi mengganggu Alice sejak jam makan siang dimulai. Semua tak lepas dari padatnya jadwal seorang Andra yang bahkan saat makan siang saja harus menemui rekan bisnis. Pria itu bahkan tidak kembali ke kantor lagi dan tak bisa dipungkiri jika Alice merasa cukup lega, meskipun tak ada pemandangan indah untuk cuci mata. Wildan sebagai sekretaris senior pun mengikuti jadwal Andra, sementara Alice mendapatkan pelatihan dari staf HRD yang dipilih secara langsung oleh sang CEO. Andra yang ditemani oleh Wildan bergabung dengan beberapa orang anggota direksi serta partner perusahaan sedang membahas mengenai proyek kota pintar yang akan dibangun di salah satu kota di Pulau Jawa. Ini adalah proyek yang cukup besar dan melibatkan banyak pihak, salah satunya adalah arsitek yang sejak awal pembuatan desain hingga presentasi maket kali ini selalu di kritisi oleh Andra. “Sepertinya sejak awal proyek ini kalian lebih menarik sisi hedonis calon penghuni. Lalu, bagaimana tanggung jawab kita sebagai pengelola terhadap lingkungan? Bahkan disini kalian hanya membuat satu pusat pengumpulan sampah untuk sebuah kota. Apakah kalian para arsitek tidak berkonsultasi dengan ahli lingkungan?” tanya Andra tidak puas. “Sudah, Pak,” jawab perwakilan arsitek. Jawaban itu membuat sebelah alis Andra terangkat seraya menatap perwakilan kontraktor yang bertanggung jawab terhadap sisi lingkungan. “Memang hanya ada satu, Pak Andra, tetapi sebagai pusat pengumpulan, ukurannya sudah sesuai dengan perhitungan. Nantinya juga akan ada titik-titik pengumpulan yang lebih kecil dan secara langsung mengharuskan setiap individu untuk melakukan pemilahan secara mandiri. Cara itu lebih efektif daripada pengumpulan langsung dalam skala besar,” jelas si ahli lingkungan. “Ya, saya paham dengan bagian itu. Tetapi anda tidak lupa ‘kan di pusat pengumpulan nantinya juga akan di instal mesin pengolahan waste to energy sekaligus daur ulang sampah plastik?” tanya Andra lagi. “Sudah sesuai perhitungan, Pak.” “Baiklah, kalau begitu tolong jelaskan secara rinci pada orang awam ini!” pinta Andra tegas yang langsung dilakukan oleh tim yang bertanggung jawab. Seperti rapat besar pada umumnya, kali ini agenda tersebut juga berlangsung cukup alot. Beberapa orang bahkan sampai terlihat kelelahan karena pembahasan yang cukup berat. Hebatnya, Andra sama sekali tidak bergeming dan terus fokus pada tujuan utama pertemuan ini. Rapat baru berakhir sekitar pukul tujuh malam dan semua orang tampak begitu lega setelah Andra menyudahi agenda mereka. Beberapa bagian sudah final, tetapi ada beberapa lagi yang masih harus dibahas kedepannya. Selepas berpisah dengan semua rekan bisnisnya, Andra telah membelah jalanan ibukota dengan Aston Martin miliknya. Jarum akselerasi menunjukkan angka yang bisa dikatakan cukup kencang di jam-jam ini. Alunan musik pop barat dengan volume sedang mengisi gendang telinga pria itu. Sesekali jemarinya mengetuk kemudi, kepalanya mengangguk, dan bibirnya berkomat-kamit seirama dengan musik. Menikmati kesendirian saat mengemudi dengan ditemani musik adalah salah satu hal yang paling menyenangkan untuk Andra. Lalu, ada satu lagi kegemaran Andra yang hampir tak diketahui oleh siapa pun. Mobil berwarna merah metalik itu terparkir didepan sebuah kafe dengan rapi. Tak langsung turun, Andra melepaskan jas, dasi, serta kemejanya dan hanya menyisakan kaos tanpa lengan berwarna putih yang menempel pada tubuhnya. Setelah itu ia meraih paper bag di jok belakang dan mengambil kaos lengan panjang berwarna abu-abu untuk di kenakannya. Tak lupa pula ia mengganti celana bahannya menjadi denim biru beraksen robek, sepatu pantofel berganti menjadi sepatu kets, dan terakhir Andra juga melepas lensa kontak dan menggantinya dengan kacamata minus berbentuk bulat. Merasa telah berubah kedudukan sosialnya, Andra menyunggingkan senyum yang begitu langka di wajahnya. “Malam, Bos!” Seorang pemuda berusia awal dua puluhan menyapa Andra yang baru saja memasuki bangunan kafe dari pintu belakang. Pemuda itu bernama Kenzie atau sering Andra panggil sebagai Ken itu mengenakan celemek berlogo kafe Vine Bean. “Sudah dibilang jangan panggil aku bos, masih aja lupa,” dengus Andra seraya membuka loker milikinya. Pria itu mengeluarkan kain celemek persis dengan yang Ken kenakan, lalu memasang kain itu pada tubuh atletisnya. “Aneh, ada seorang bos tapi gak mau dipanggil bos,” cibir Ken. “Berisik, kamu,” sahut Andra kesal. “Udah sana keluar, banyak pengunjung jam segini!” “Siap, Bos!” seru Ken sigap dan bermaksud mengolok bosnya tersebut. “Kenzie, potong gaji!” pekik Andra yang tak diindahkan oleh Ken karena telah berada jauh dari jangkauan Andra. Vine Bean adalah kafe pribadi yang Andra bangun sejak satu tahun yang lalu setelah mengumpulkan gajinya. Kepimilikan seratus persen milik Andra sendiri, karena ia sama sekali tidak mengambil haknya sebagai pewaris Sagara Grup untuk memulai bisnis ini. Bahkan orang tuanya saja tidak mengetahui keberadaan Vine Bean. Pernah satu kali Andra terpergok berada di kafe oleh orang tuanya yang tak disangka datang sebagai pelanggann, tetapi Andra dengan cepat bisa berkelit bahwa ia baru saja bertemu klien di kafe ini, lalu ingin bersantai sejenak. Pakaian santainya memang mencurigakan, tetapi Andra mampu melepas celemeknya sebelum ketahuan dan penjelasannya pun meyakinkan. Alasan Andra membuat kafe ini selain untuk investasi juga sebagai sebuah terapi untuk stress yang seringkali dialaminya. Andra menyukai kopi, ahli membuat kopi, pernah mengikuti kelas barista, dan ia suka bereksperimen dengan kopi. Sebagian besar menu di kafe ini adalah hasil dari uji cobanya yang ternyata juga cukup digemari oleh pelanggann. “Skinny Matcha Latte, Flat White, sama Americano masing-masing satu, ukuran medium,” pesan salah seorang pengunjung pria yang tampak masih mengenakan pakaian kantoran. “Ice atau hot?” tanya Ken yang menjaga mesin kasir. “Ice.” “Atas nama siapa?” “Prabu.” “Ada tambahan lain, Kak? Makanannya mungkin? Kami sedang ada paket,-” “Sudah, itu saja dulu,” Pengunjung itu menyela dan Ken tersenyum tulus. “Baik, saya ulangi sekali lagi pesanan, Kak Prabu. Ice skinny Matcha Latte, Flat White, Americano ukuran medium masing-masing satu.” “Iya.” “Semuanya jadi seratus tiga puluh ribu,” ujar Ken seraya menerima uluran kartu pembayaran dari si pemesan. Setelah pesanan selesai dibuat, Ken segera menyampaikannya pada Andra yang sudah siap dibalik mesin kopi. Pria dua puluh enam tahun itu tampak tanpa beban melakukan aktivitas ini. Senyum yang sangat jarang menghiasi wajah tampannya itu hampir tak pernah terlepas saat ia berada di Vine Bean. Saking seriusnya membuat pesanan, Andra tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya dengan tatapan serius. Seseorang itu tengah bersedekap di dekat pantri dan pandangannya terkunci hanya pada Andra. Netranya terus menelisik, memastikan jika yang dilihatnya adalah benar, pasalnya penampilan Andra saat ini tampak lebih sederhana daripada yang publik tahu. Ditambah lagi kacamata bulat yang bertengger di pangkal hidungnya membuat kesan yang berbeda dan mengubah aura Andra. Tak lama setelahnya, Andra telah selesai dengan minuman yang diraciknya. Melihat nama yang tertulis di gelas plastik membuatnya mengurungkan niat untuk memanggil si empunya minuman. Kegugupan tampak jelas pada gerak-geriknya hingga membuat seseorang yang tadi menatapnya mulai memberanikan diri mendekat. “Andra?” sapa orang itu memastikan. Andra yang gugup pun berjengkit kaget saat mengangkat wajahnya dan netra coklat gelapnya mengenali sosok dihadapnnya. Bagaikan memiliki tombol otomatis, Andra kembali pada mode datar dan dinginnya. Ia memang terpergok bekerja di kafe, tetapi sepertinya ia akan bisa membuat orang itu merahasiakan pekerjaan sampingannya. “Kenapa kamu disini?” tanya Andra datar. “Beneran Andra? Dios mio, aku hampir tidak mengenalimu,” ujar perempuan yang ternyata Alice tersebut. “Aku bosmu kalau kamu lupa,” sahut Andra tidak suka dan membuat Alice berdecak. “Ini sudah diluar jam kerja, Senor. Aku bukan pegawaimu lagi,” bantah Alice sambil mengedipkan sebelah matanya. Andra mendengus, tetapi tak ingin mendebat. “Pura-puralah tidak melihatku,” pinta Andra datar. Seulas senyum menyeringai terbit dari bibir tipis Alice yang dibalut lipstik berwarna nude. “Kenapa aku harus melakukannya?” tanya Alice penasaran. “Lakukan saja!” Alice mencebik sesaat, lalu kembali tersenyum. “Apa untungnya untukku?” tanya wanita itu dengan nada menggoda. Alice bahkan mencondongkan tubuhnya keatas pantri dengan kedua lengan yang bertumpu diatasnya. Jika dalam posisi tegak ia bisa sedikit lebih tinggi dari Andra berkat sepatunya, dalam posisi ini Alice bisa melihat Andra dari sudut yang lebih rendah dan itu lebih sempurna. “Nilai A plus untuk hasil magangmu,” jawab Andra logis. Alice tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Aku tidak tertarik. Nilaiku tidak penting, karena ini bukan program wajib dari kampus.” “Ya sudah, terserah,” sahut Andra yang kini tak peduli. Ia hanya tidak ingin membuat kesepakatan yang ia tahu hanya sedang dimanfaatkan. Pria itu kemudian memanggil Ken untuk memberikan pesanan serta beranjak pergi dari bar kafe. Secepatnya ia harus menghilang dari hadapan Alice agar tidak menumbuhkan lebih banyak rasa penasaran wanita itu. Namun, tanpa Andra duga, Alice justru mengikutinya dari belakang dan meninggalkan kedua teman yang datang bersamanya. Sebenarnya pemesan minuman yang Andra buat tadi adalah teman-teman baru Alice yang juga merupakan karyawan Andra. Sebab itulah Andra enggan bertemu mereka. “Aku akan memberitahu orang-orang kalau bos besar kami bekerja di sebuah kafe,” ujar Alice mengikuti Andra. “Terserah!” Langkah Andra yang cepat membuat Alice tak bisa mengejar. Apalagi sepatu hak tingginya membuat ia harus berhati-hati saat melangkah. Meskipun kehilangan jejak Andra, tetapi Alice mendapatkan sebuah ide yang terbersit dalam benaknya untuk mengerjai bos sekaligus sepupu kakak iparnya tersebut. “Tunggu kejutanku besok, Senor!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN