“Apa yang telah kau dapatkan dari riset di sana?” tanya Marry sambil menyetir, tatapannya fokus ke depan.
“Cukup banyak, walaupun hanya sebentar aku di sana. Terima kasih banyak, Marry,” jawab Jordan, kemudian tak lama dia menyadari bahwa telah melakukan kesalahan saat memanggil Marry. “Ah! Ma – maaf, maksudku … nona Marry.”
Marry menganggukkan kepalanya singkat. “Marry saja tidak masalah.” Jordan yang mendengar ini pun menganggukkan kepalanya juga. “Baik, terima kasih banyak.”
Setelah percakapan itu, hanya hening yang ada. Tetapi tak lama Jordan memecah keheningan dengan berkata,”Aku masih mempunyai satu pertanyaan, apakah aku boleh bertanya?”
Marry melirik Jordan singkat, lalu kembali menatap lurus ke depan dan menjawab singkat,”Ya.”
“Setelah aku perhatikan, mengapa semua anggota Black Shadow menggunakan cincin di jari mereka? Terlebih lagi, jenis cincin itu berbeda-beda, apakah memiliki maksud tertentu?” tanya Jordan.
Marry menganggukkan kepalanya lagi dengan singkat. “Ya, cincin itu digunakan sebagai tanda keanggotan dan tinggi pangkat setiap masing-masing anggota.”
Jordan termenung sejenak saat mendengar jawaban Marry, lalu kembali bertanya,”Lalu mengapa anda tidak memakai cincinnya? Dan … mengapa setiap di orang tertentu mempunyai bahan dasar cincin yang berbeda?”
Marry tersenyum tipis. “Untuk apa aku menggunakannya? Cincin itu tidak wajib dikenakan, tetapi boleh juga jika ingin mengenakannya. Lagi pula, beberapa anggota mengenakan cincin itu dengan tujuan pamer pangkat mereka, untuk orang berkelas sepertiku untuk apa pamer dengan orang rendah seperti mereka?”
Jordan tertawa pelan. “Ya, memang kamu yang terbaik Marry.” Jordan mulai menghilangkan cara bicara formalnya kepada Marry.
“Dan untuk mengapa bahan cincin mereka ada yang berbeda dan sama, itu juga karena perbedaan kasta atau pangkat. Semakin bagus bahan dasar cincin itu, maka semakin tinggi pangkatnya. Seperti aluminium kualitas tinggi, digunakan oleh mereka yang baru bergabung. Lalu cincin berdasar perak, digunakan oleh anggota senior, tetapi pangkatnya masih terbilang rendah. Dan ….” Marry menjelaskan semuanya tentang cincin yang digunakan oleh seluruh anggota Black Shadow.
“Lalu … apa bahan dasar cincin anda? Bukankah pangkat anda adalah yang paling tinggi? Seperti nona Diandra dan Ivana,” tanya Jordan sekali lagi.
Marry tersenyum lagi. “Tentu saja bahan dasar yang paling mulia, berlian. Berliannya pun bukan berlian sembarangan, satu cincinku cukup untuk membeli lima pulau.”
Jordan tertegun sejenak. Tidak, dia tidak tertegun dengan fakta bahwa cincin Marry sangat berharga, tetapi dia tertegun karena senyum Marry. Jordan menyadarkan dirinya, lalu tersenyum tipis. “Benar, tentu saja. Bahan dasar terbaik untuk anggota terbaik. Banyak sekali yang aku dapatkan di sini, aku merasa beruntung dapat melakukan riset bersama anda. Tidak sia-sia usahaku untuk tetap bertahan waktu itu.”
Marry melirik Jordan sekilas lagi. “Oh, justru aku berharap saat itu kau menyerah. Karena saat ini kau sudah merepotkanku. Ngomong-ngomong, mengapa mereka mengganggumu?”
Jordan termenung sejenak, mengingat kejadian beberapa saat lalu, setelah itu berkata,”Wanita yang kau patahkan tulang lengannya itu ingin memperkosaku.”
Marry yang mendengar ini terdiam, lalu tak lama dia tertawa keras, membuat Jordan terkejut.
“Asataga! Bisa-bisanya!” ucap Marry sambil tertawa keras, ini adalah pertama kalinya Jordan melihat Marry lepas dari raut wajah seriusnya, kini wanita itu tengah tertawa lepas di depannya.
Jordan awalnya sama sekali tidak ikut tertawa, namun saat melihat Marry tertawa, entah mengapa dirinya juga ingin ikut tersenyum dan tertawa. “Benar, wanita itu sepertinya gila. Dia memaksaku untuk tidur dengannya, katanya dia terpesona dengan wajahku. Saat itu aku malu sekali, apa lagi saat dia melepaskan bajuku, beruntung celanaku masih aman.”
“Terpesona dengan wajahmu?” tanya Marry, mengulang penggalan kalimat Jordan, kemudian menoleh singkat ke arah Jordan untuk menatap wajahnya, setelah itu kembali menatap lurus ke depan sambil berkata,”Tidak salah, sih, wajahmu memang tampan.”
Jordan yang mendengar Marry berkata demikian, wajahnya segera memerah. Marry yang mendengar Jordan mendadak hening pun sekali lagi melirik ke arah pria itu. Marry menaikkan alis kirinya. “Ada apa dengan wajahmu? Memerah.”
Jordan menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku hanya tersanjung. Sangat jarang aku mendengar pujian se-frontal itu.”
Marry tersneyum tipis. “Aku hanya memujimu, bukan menggodamu. Tidak perlu malu, kau ini pria tetapi seperti wanita. Jika kau menikah, bagaimana dengan istrimu nanti? Kau harus bisa memimpin. Dan lagi, tidak ada wajah pria yang lebih tampan dari pada uang.”
Jordan terkekeh. “Benarkah? Entahlah, malu adalah bawaan lahirku. Terkadang aku rishi melihat pandangan orang lain terhadapku, tak jarang juga ada rasa takut saat diperhatikan intens oleh mereka, karena aku meragukan diriku sendiri. Aku merasa-“
“Menurutku kau adalah pria yang baik, walaupun kau suka membuatku repot, tetapi di penilaianku kau mendapatkan ‘B’,” potong Marry, dia terdiam sejenak saat selesai berbicara demikian, kemudian melanjutkan,”Menjadi orang baik adalah hal bagus, teruslah seperti itu. Jangan menjadi orang jahat sepertiku, untuk orang sepertimu, kau mungkin akan mudah terbunuh jika main-main di dunia gelap.”
“Lalu mengapa kau tidak menjadi orang baik juga? Bukan dirimu sendiri barusan yang berbicara bahwa menjadi orang baik adalah hal yang bagus?” tanya Jordan tak lama setelah Marry berkata demikian. Marry yang mendengar ini langsung menyeringai tipis, setelah itu mengangkat kedua bahunya acuh. “Aku hanya ingin membuat dunia seimbang. Asal kau tahu, dunia akan hancur jika semua orang di muka bumi ini menjadi baik. Jadi, biarkan aku jahat sesukaku.”
Jordan tertawa pelan. “Pola pikir yang luar biasa, aku bahkan sampai geleng kepala.”
Marry tidak menjawab Jordan lagi, wanita itu hanya tersenyum singkat. Senyum serta aura bersahabat Marry segera hilang setelah mobil mereka mulai memasuki gerbang utama markas divisi utama Black Shadow. Pintu besar itu segera terbuka, ada skeitar sepuluh orang yang ditugaskan menjaga gerbang pintu masuk, masing-masing dari mereka mengenakan cincin emas yang memiliki ukiran serigala di atasnya. Mereka semua terlihat kekar dan sigap jika seandainya ada musuh yang mendekat, di pinggang kanan dan kiri mereka terpampang pistol dengan jelas.
“Kau lihat sepuluh orang yang berjaga di gerbang utama ‘kan? Cincin mereka semua adalah emas serigala, namun mereka ditugaskan untuk menjaga gerbang. Sedangkan di Kasino tadi, jangankan emas serigala, perak pun sudah diagungkan. Mereka terlalu sombong, tidak ada gunanya. Di sini mereka bukan apa-apa,” ucap Marry tiba-tiba, ini adalah pertama kalinya Marry memulai topik pembicaraan lebih dulu.
Jordan menganggukkan kepalanya mengerti. “Semakin tinggi pangkatmu, maka semakin rendah rasamu untuk pamer, benar?”
Marry menganggukkan kepalanya singkat. “Ya, karena semakin tinggi pangkatmu, maka itu artinya semakin banyak musuh serta berat tanggung jawabmu. Black Shadow adalah organisasi gila yang tertutup, tidak terlalu banyak media massa yang mengetahui keberadaan kami. Tetapi tidak untuk sekarang, saat ini karena banyaknya anggota rendahan yang menyalah gunakan identitas mereka untuk berbuat seenaknya, membuat perlahan media massa menemukan keberadaan kita. Dulu, Black Shadow sama sekali tidak memiliki status di media massa, kami datang, membunuh, lalu menghilang tanpa jejak.”
Jordan menganggukkan kepalanya lagi. “Aku tahu Black Shadow bukan dari berita di televisi atau koran, namun aku mengetahuinya dari cerita mendiang kakekku. Dulu dia bercerita pernah bertemu oleh seorang anggota Mafia di dalam rumahnya sendiri, katanya anggota Mafia itu masuk ke dalam rumahnya di malam hari dan terluka parah. Jarinya memakai cincin berlian dengan ukiran naga, saat bajunya dibuka, terdapat tato naga di punggungnya. Anggota Mafia itu membawa n*****a terlarang, dia segera pergi saat matahari terbit. Dua bulan kemudian dia saat musim dingin tiba, dia datang kembali dengan membawa dua koper misterius. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah lembaran uang dollar dan emas batangan, luar biasa.”
Marry hanya diam mendengar cerita Jordan, tidak terlalu tertarik. Jordan yang melihat Marry hanya diam pun tetap melanjutkan ceritanya. “Namun sayang, kakekku menolak pemberian itu, dengan alasan takut terseret ke dalam bahaya, mengingat orang itu adalah Mafia kelas kakap. Menerima pemberian darinya pun pasti memiliki risiko tersendiri.”
Marry yang mendengara ini tersneyum singkat. “kakekmu membuang kesempatan kaya dengan instan.”