21. Diandra yang Cerewet

1255 Kata
“Kalian berdua sudah kembali?” tanya Diandra ketika hendak keluar melewati pintu gedung, merasa heran karena Marry dan Jordan kembali sangat cepat, karena setahunya riset untuk sebuah novel itu tidak sebentar. Marry menjawab sambil terus berjalan melewati Diandra. “Terjadi sedikit masalah di sana tadi, jadi kami memutuskan untuk langsung kembali.” Diandra menaikkan alis kirinya, setelah itu berbalik menoleh ke Marry yang telah melewatinya. “Kau tidak berkelahi di sana ‘kan? Tulang bahu kananmu belum pulih total, jika bertambah parah karena berkelahi di sana, Ivana bisa saja memarahimu.” Marry melambaikan tangan kirinya. “Tidak berkelahi, aku hanya menembak paha seseorang.” Diandra yang mendengar ini pun melotot kaget, dia segera berlari kecil mendekati Marry. “Kau serius? Bagaimana mungkin kau menembak paha orang satu organisasi?” “Dan mematahkan tulang lengannya,” timpal Jordan, membuat Diandra semakin terbelalak menatap Marry. “Dia serius?” matanya masih menatap Marry, Diandra menahan langkah kaki Marry. Marry menghela napas gusar. “Kau tahu? Jika aku tidak mematahkan lengan kanannya, maka wajahku akan memar. Dan jika aku tidak menembak paha-nya, maka tengkorak kepalaku akan retak seperti tulang bahu kananku karena tendangan kakinya.” “Tetapi … aku tidak mengerti, mengapa mereka menyerangmu? Seharusnya tidak ada yang berani,” tanya Diandra, mengerutkan keningnya. Bukankah Marry adalah anggota ‘sss’? Mengapa mereka bernai melawan Marry? Kecuali memang Marry tidak menunjukkan identitas aslinya. “Kau tidak memakai cincinmu saat ke sana?” tanya Diandra lagi, tatapan matanya menyelidik. Marry menaikkan alis kirinya, menatap Diandra kesal. “Untuk apa? Ke sana dan memamerkan pangkat tinggiku? Untuk apa pamer di hadapan orang bodoh seperti mereka?” Diandra menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan begitu. Maksudku, saat ini kan kau sedang terluka, sebaiknya kau menggunakan cincin itu untuk menghindari keributan dengan mereka yang tidak mengenalmu. Jika kau ke sana menggunakan cincin itu, kau akan disegani, tidak akan ada yang berani lewat sembarangan di depan wajahmu sebelum meminta permisi. Lalu … aku bertanya-tanya, bagaimana bisa kau menghindari keributan itu? Dari perangaianmu, rasanya sulit untukku mempercayainya. Kau adalah orang yang menyelesaikan apa pun secara instan menggunakan peluru atau uang.” Marry sekali lagi menghela napas gusar. “Sepertinya banyak sekali yang ingin kau tahu, mengapa tidak langsung menerima saja bahwa faktanya sekarang aku baik-baik saja? Terlalu merepotkan jika kau bertanya apa yang terjadi sebelumnya.” Diandra menggelengkan kepalanya pelan, menatap Marry kesal. “Kau pikir aku banyak bertanya untuk apa? Karena kau saat ini tengah masuk ke tahap pemulihan, jadi aku yang diperintahkan Big Papa untuk memantau Sawamura. Jika sekiranya ada kesempatan untukmu pergi ke Italia, maka kau akan segera terbang ke sana. Dan jika pun di pertengahan jalan kau bertemu mereka, kau bisa menghajar mereka dengan santai, karena tulangmu tidak separah sekarang. Namun jika saat ini kau sudah berkelahi lagi dan tulangmu bertambah parah, maka kesulitan baru akan muncul untukmu.” Marry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Diandra benar-benar banyak bicara. Marry tahu wanita itu banyak bicara untuk kebaikannya jua, tetapi dia terlalu sering banyak bicara. Entah mengapa dia sedikit kesal dengan takdirnya, harus hidup di dunia gelap, memiliki teman berkepribadian banyak bicara dan yang satu lagi aneh seperti psikopat. Tidak, Ivana memang psikopat gila, dia dokter yang salah memilih jalan. Belum sempat Marry menjawab, Diandra sudah kembali berkata,”Ah, atau mungkin ada salah satu anggota yang mengenali tato naga milikmu?” Mata Diandra menatap punggung Marry, gambar naga terlihat dibalik tanktop hitam wanita itu. Marry mengangguk singkat. “Ya, ada anggota ‘ss’ di sana. Dia tahu karena dulu kakaknya adalah anggota ‘sss’ Black Shadow, namun gugur di sebuah misi yang dia jalankan bersama denganmu. Namanya kakanya Felix, dan dia Zack.” Diandra yang mendengar ini menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mengenali bocah itu. Dia memiliki kemampuan dan ambisi luar biasa, mungkin jika Big Papa ke sana dan meliriknya, dia akan segera diangkat menjadi anggota ‘sss’.” “Ya … ya … terserah padamu, aku ingin ke atas. Dan kau, cepat cari kesempatan yang baik untukku terbang segera ke Italia. Kau tahu, waktunya hanya satu minggu. Dasar orang-orang Italia gila, aku ingin sekali menaruh racun di dalam narkobanya,” balas Marry, setelah itu melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Sedangkan Jordan, pria itu segera mengikuti Marry. “Marry, ini jaketmu, terima kasih banyak,” ucap Jordan, tersenyum manis. Marry melirik Jordan sekilas, lalu mengambil jaketnya dari tangan Jordan. “Kau beruntung, biasanya orang yang menyentuh barangku tanpa izin akanku tagih dua ribu dollar.” Jordan terkekeh. “Tentu, terima kasih.” Setelah lift sampai di lantai dua, Jordan segera keluar lift sambil melambaikan tangannya. “Sampai bertemu lagi, Marry.Terima kasih banyak untuk hari ini.” Marry menatap Jordan datar. “Kau terlalu banyak mengucapkan terima kasih.” Sebelum pintu lift tertutup rapat kembali, Jordan terlihat terkekeh sambil meggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal. Dan Marry, wanita itu segera keluar lift di lantai selanjutnya. Marry berjalan menuju kamarnya, dan nasib s**l langsung menimpanya karena dia bertemu dengan Ivana. Seperti biasa, Ivana menyapanya dengan senyum penuh arti khas milik seorang psikopat sejati. “Hallo, Marry.” Marry melewati Ivana begitu saja sambil menjawab,”Jangan bicara padaku jika topiknya tidak penting. Aku sibuk.” Ivana menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik dan berjalan mendekati Marry, membuat Marry memutar bola matanya jengah. “Astaga … sepertinya saat menemani penulis itu riset di Kasino membuat perasaanmu menjadi buruk,” ucap Ivana. “Diam, Ivana. Lebih baik sekarang kau kembali ke ruanganmu, buat n*****a baru lebih baik dari pada harus menggangguku,” balas Marry. Ivana tersenyum tipis, telapak tangannya bergerak menutup bibirnya. “Astaga … jahat sekali, tetapi menurutku dua-duanya menyenangkan!” Marry yang mendengar ini sekali lagi memutar bola matanya jengah, lalu mencibir,”Menjijikan.” Ivana tertawa saat mendengar cibiran Marry, wanita itu terus mengikuti Marry sampai memasuki kamarnya. Di dalam kamar Marry, Ivana duduk sembarangan di atas meja dekat dengan jendela. Tangan wanita itu kini telah memegang satu punting rokok, dengan santai dia menghembuskan napasnya keluar jendela. Sedangkan Marry, wanita itu menuang kopi dingin ke gelasnya, lalu duduk di sofa kamarnya dengan santai. “Apa saja yang kau lakukan di Kasino itu?” tanya Ivana, memecah keheningan. Sebelum menjawab pertanyaan Ivana, Marry sempat meneguk satu teguk kopi dinginnya, lalu baru menjawab,”Berbaring di kasur, mematahkan tulang lengan orang, lalu menembak paha-nya.” Ivana yang mendengar ini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Bagaimana mungkin mereka berani pada anggota ‘sss’? Kecuali memang dirimu tidak menunjukkan identitas aslimu.” Marry menaruh cangkir kopinya di atas meja sambil menjawab,”Cukup sampai di situ, jangan bertanya panjang lebar lagi seperti Diandra. Jika kau penasaran, kau bisa bertanya kepada Diandra, yang terpenting sekarang adalah aku baik-baik saja, begitu juga dengan tulang bahu kananku yang retak.” Ivana menghisap kembali puntung rokoknya, menghembuskannya keluar jendela dan berkata,”Jika retak di tulangmu bertambah parah, maka aku akan memutuskan untuk memutilasinya. Itu sama saja dengan perlahan-lahan mengobatinya agar pulih. Untuk orang sepertimu, sulit untuk diobati jiak sering berkelahi. Lagi pula, kau masih bisa membunuh orang dengan tangan kirimu itu ‘kan?” Marry tersenyum singkat. “Jika kau memotong tangan kananku, maka aku akan membunuhmu menggunakan tangan kiriku.” “Menurutmu, bagaimana dengan penulis bernama Jordan itu?” tanya Ivana, kini topiknya berubah. Marry kembali mengambil cangkir kopinya yang barusan dia letakkan di meja, sebelum menyeruputnya, Marry menajwab,”Biasa saja, tidak ada yang spesial. Lagi pula dia kelihatan memiliki kepribadian yang pemalu, untuk apa orang seperti dia dikhawatirkan?” Ivana tersenyum singkat, lalu membalas,”Entahlah … tetapi sejujurnya aku tidak terlalu suka dengannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN