“Menurutmu, bagaimana dengan penulis bernama Jordan itu?” tanya Ivana, kini topiknya berubah.
Marry kembali mengambil cangkir kopinya yang barusan dia letakkan di meja, sebelum menyeruputnya, Marry menajwab,”Biasa saja, tidak ada yang spesial. Lagi pula dia kelihatan memiliki kepribadian yang pemalu, untuk apa orang seperti dia dikhawatirkan?”
Ivana tersenyum singkat, lalu membalas,”Entahlah … tetapi sejujurnya aku tidak terlalu suka dengannya.”
_________________
“Tidak terlalu suka dengannya? Mengapa?” tanya Marry, alis kirinya sedikit terangkat.
Ivana mengangkat kedua bahunya acuh. “Tidak tahu, aku merasa tidak senang saja, mungkin karena dia terlihat lebih perhatian kepadamu? Padahal anggota ‘sss’ di sini bukan hanya dirimu, namun fokusnya hanya kepada dirimu.”
Marry memutar bola matanya jengah. “Gila, untuk apa kau memikirkan hal seperti itu? Tidak ada gunanya.”
Ivana tertawa. “Bisa saja dia jodohmu, Marry. Dia adalah satu-satunya pria yang dapat pergi berduaan denganmu ke Kasino, seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan-!” belum selesai Ivana bicara, Marry sudah langsung melempar sepatunya ke kea rahana. Ivana menghindar, membuat sepatu itu hanya membentur tembok.
“Melakukan kencan!” Ivana melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti karena serangan tiba-tiba milik Marry.
“Terdengar sangat menjijikan, kau saja sana yang kencan jika ingin, jangan menyeret namaku,” balas Marry, kemudian kembali menyeruput kopi dinginnya dengan santai.
Ivana tertawa. “Siapa yang akan tahu? Dan lagi, kepribadiannya sangat cocok denganmu. Dia memiliki sifat lembut dan malu seperti wanita, tetapi tidak sampai seperti wanita sungguhan. Sedangkan dirimu kasar, tidak tahu belas kasihan, bengis, kejam, pembunuh, buron, memiliki banyak musuh, target pembunuhan beberapa komplotan besar,” ucap Ivana, kemudian dia tertawa.
“Astaga, itu jika kalian menjadi pasangan pasti akan terlihat sangat lucu,” lanjut Ivana. Marry mengerutkan keningnya kesal, menatap jengkel Ivana. “Sekali lagi kau bicara tentang sesuatu yang menggelikan, aku bersumpah akan menendangmu keluar melewati jendela kamarku. Kebetulan ini lantai empat, setidaknya cukup untuk membuat dirimu koma.”
Sekali lagi Ivana tertawa. “Benar, tidak salah. Tetapi jika aku koma, maka tidak aka nada lagi dokter terbaik yang akan menyembuhkan setiap luka yang kau dapatkan.”
Marry memutar bola matanya jengah. “Aku bisa mengurus lukaku sendiri.”
Ivana yang mendengar ini hanya mengangkat acuh kedua bahunya singkat, setelah itu membuang punting rokoknya ke luar jendela dan segera berjalan menuju sofa, duduk di depan Marry. Ivana menuangkan kopi dingin ke dalam cangkir, setelah itu meminumnya tanpa permisi.
“Aku dengar Diandra tengah sibuk mengawasi Sawamura sekarang,” ucap Ivana, lalu menyeruput kopinya.
“Ya, hal itu karena aku ditugaskan untuk mengawasi Jordan, serta kebetulan tulang bahuku belum sepenuhnya pulih. Sebenarnya aku bisa saja tetap mengawasi Sawamura, namun Big Papa terlalu khawatir, takut aku tidak bisa bertarung normal seperti biasanya dan berujung kalah telak. Tch, padahal sebelumnya dia pernah membiarkanku bertarung dengan luka bocor di kepala serta memar di sekujur tubuh,” jawab Marry.
Ivana mendecak pelan. “Ck, kau tidak perlu sinis begtu kepada Big Papa, di dalam hatinya tentu dia menyayangi kita. Dulu dia keras karena sedang membentuk karakter kuat kita.”
Marry memutar bola matanya malas. “Pembentukan karakter apa yang sampai menngancam nyawa? Jika saat itu kebetulan mental kitab sedang tidak kuat bagaimana? Nyawaku bisa saja melayang.”
Ivana menganggukkan kepalanya pelan. “Aku mengerti, memang orang tua itu tidak laying dijuluki orang tua. Tetapi apa yang dia lakukan dulu itu bukankah berbuah manis? Buktinya saat ini kau, aku, dan Diandra dapat berdiri menduduki puncak tertinggi di Black Shadow. Banyak serta bahayanya musuh yang mengincar kita adalah bukti bahwa kita adalah orang elite yang luar biasa.”
Marry tersenyum tipis. “Aku juga tahu, tetapi terkadang perilakunya yang suka semena-mena itu menjengkelkan. Jika dia bukan Big Papa, aku sudah membunuhnya dari lama.”
Ivana menghela napas, lalu menaruh cangkirnya di atas meja dan mulai menyenderkan punggungnya di senderan sofa yang empuk. “Membahas Big Papa membuatku teringat dengan kenangan masa lalu.” Marry yang mendengar ucapan Ivana segera mengerutkan keningnya. “Itu terlalu buruk untuk dijuluki kenangan, mungkin tepatnya tragedi.”
Ivana tertawa. “Justru tragedi itu adalah kenangan bagiku, aku menyukainya.”
Ivana terdiam, matanya menatap langit-langit kamar Marry, bibirnya tersenyum simpul sambil mengingat kenangan sepuluh tahun lalu. Momen di mana ibunya masih hidup dan Marry belum menginjakkan kaki di Balck Shadow.
Saat itu tengah hujan deras, Diandra berdiri di depan jendela dari dalam, menatap hujan yang turun dari langit dengan mata berbinar. Ibunya Vivian tengah sibuk di meja kerjanya, Ivana menoleh menatap Vivian, saat itu juga mata berbinarnya hilang, senyum senangnya juga.
Ivana berjalan dengan penuh perasaan ragu menuju Vivian, berdiri di samping kursi kerja wanita itu dan memanggilnya. “Ibu….”
Vivian melirik singkat Ivana, kemudian menjawab,”Ada apa? Saat ini ibu sedang sangat sibuk, ibu berjanji akan bermain denganmu setelah semua pekerjaan ini selesai.”
Ivana menggelengkan kepalanya. “Bukan itu, tetapi aku ingin bermain hujan di luar. Apakah boleh?” tanya Ivana, matanya yang terlihat polos menatap Vivian manja dan memohon.
Vivian menoleh sebentar ke jendela, melihat hujan deras turun, setelah itu kembali menatap pekerjaannya dan menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa, setelah ini ibu harus menyuntikkan racun ke tubuhmu.”
Ivana mengerutkan keningnya, matanya menatap merengek ke arah Vivian. “Tidak mau! Rasanya sakit! Aku tidak suka!”
Vivian menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak bisa menolak, sayang. Ibu harus membuat tubuhmu terbiasa dengan racun, agar kelak saat kau siap berdiri di puncak tertinggi Black Shadow tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Seperti ibu.” Mata Vivian menatap mata Ivana sambil tersenyum penuh arti.
Ivana mendengus kesal. “Aku tidak mau menjadi puncak tertinggi, jika aku ada di sana, bukankah berarti posisi ibu akan tergeser?”
Vivian yang mendengar ini tertegun, setelah itu mengusap lembut kepala Ivana. “Kelak ibu akan mati, dan ibu mau yang menggantikan posisi ibu adalah dirimu. Jadilah dokter yang hebat dan baik, kau akan berdiri di puncak tertinggi.”
Ivana yang mendnegar ini memperdalam kerutan keningnya. “Siapa yang akan membunuh ibu?”
Vivian mengangkat kedua bahunya. “Tidak tahu, yang pasti adalah musuh Black Shadow.”
Ivana yang mendengar ini terdiam, setelah itu memeluk Vivian dan berkata,”Aku tidak akan membiarkan mereka memeluk ibu. Ibu, jika ada yang menyakitimu maka biarkan aku yang akan membunuhnya!”
Vivian tertawa, lalu membalas pelukan Ivana, menggendong anak itu untuk duduk di pangkuannya. Jari telunjuk Vivian menoel pelan hidung mungil Ivana. “Benarkah? Memangnya sudah sekuat apa dirimu?” Ivana yang mendengar pertanyaan Vivian yang seperti meremehkannya segera mendengus kesal. “Aku sudah jauh lebih banyak berkembang akhir-akhir ini, Big Papa dan ibu saja yang terlalu meremehkanku!”
Vivian tertawa dan mengangguk. “Baiklah-baiklah, ibu percaya kau sudah lebih banyak berkembang akhir-akhir ini. Kalau begitu, sekarang ayo kita suntikkan racunnya!”
Ivana mengerutkan keningnya kembali. “Ugh … aku benci ini, bu. Bukankah aku sudah kebal dan mencoba banyak sekali racun sebelumnya?”
Vivian menggelengkan kepalanya pelan. “Masih banyak racun di dunia ini yang belum pernah kamu cicipi, Ivana. Perjalananmu menuju puncak tertinggi masih sangat panjang.”
Ivana menghela napas sedih. “Baiklah, tapi setelah ini carikan aku kelinci putih yang gemuk sebagai imbalannya! Aku ingin bermain dokter-dokteran dengan kelinci putih gemuk! Rasanya bosan bermain dengan buruk merpati dan cicak!”
Vivian mengangguk lagi.” Okay, sesuai permintaan tuan putri.”