23. Masa Lalu Ivana 2

1022 Kata
"Katakan kepada Big Papa! Aku berjanji tidak akan salah lagi! Ibu! Panggil ibuku! Ah!" Ivana kecil berteriak histeris, sekujur tubuhnya bergetar karena rasa sakit. Darah segar dari anak berumur tujuh tahun itu menetes ke lantai, luka cambukkan basah terlihat jelas, cukup untuk membuat manusia normal mengerutkan dahinya ngeri. Dua jam lalu, Ivana dinyatakan gagal membuat racun yang setara dengan ibunya, Vivian. Kelinci percobaan yang digunakan adalah manusia sungguhan, diketahui identitasnya adalah seorang anggota polisi yang mengatur lalu lintas. Setelah disuntikkan racun buatan Ivana, pria itu hanya mengalami koma dan tidak mati. "Racun ini tidak membunuhnya, hanya membuatnya koma," ucap Vivian setelah memeriksa kondisi anggota polisi yang dijadikan kelinci percobaan tersebut. Ivana yang mendengar ibunya berkata demikian menegang, kemudian dia segera menatap Big Papa khawatir. Big Papa tersenyum tipis, setelah itu menjawab,"Benarkah? Kau tidak salah?" Vivian mengangguk. "Ya." Raut serta tatapan matanya terlihat dingin. Sepertinya wanita itu juga tidak puas dengan hasil akhir Ivana. Big Papa berdiri dari kursinya, kemudian berjalan mendekati ranjang pasien yang ditiduri anggota polisi tersebut. Big Papa mengambil pistol yang tergantung di pinggang kanannya, setelah itu mengarahkan moncong pistol tepat ke jantung anggota polisi tersebut, membuat Ivana segera memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Big Papa menarik pelatuk pistolnya dan terdengar lah suara tembakkan nyaring di dalam ruangan. "Ivana gagal," ucap Big Papa, setelah itu menoleh ke arah Ivana. Ivana kecil mematung, menatap wajah Big Papa yang semula datar dan dingin, kini berubah menjadi senyum ramah. Merinding. Itu yang dia rasakan. Big Papa jauh lebih menyeramkan ketika tersenyum. "Aku akan mencoba membuatnya ulang," ujar Ivana sambil berjalan mendekat ke arah Big Papa dan menarik pelan jaz hitam pria itu. Big Papa mengangguk, setelah itu berdiri sepenuhnya menghadap Ivana, lalu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Ivana. Masih dengan senyum yang terlihat sangat ramah, Big Papa mengelus kepala Ivana lembut. "Ya, tentu saja. Tetapi, bukan berarti kau bisa menghiraukan kegagalanmu yang ini. Apa yang kiranya ingin kau lakukan setelah ini, Ivana sayang?" "Jangan tatap putriku seperti itu," ujar Vivian tiba-tiba, wanita itu segera menarik Ivana mendekat ke arahnya. "Jika anda ingin memberinya hukuman, maka langsung saja berikan. Jangan tersenyum seperti itu. Dia masih enam tahun, belum genap sepuluh." Big Papa melirik Vivian, lalu terkekeh dan membalas,"Tersenyum seperti apa? Bukankah kau juga memiliki senyum yang sama? Dua puluh tahun kau berada di bawah bimbinganku, dan kini hasilnya kau memiliki yang sama persis seperti apa yang aku miliki." "Lagi pula, kau mempunyai keturunan bukan untuk dimanja-manja, Vivian," lanjut Big Papa, tatapan matanya tiba-tiba terlihat lebih tegas. Vivian mengangguk. "Aku tahu." "Kalau begitu biarkan dia melewati prosesnya. Tidak akan berkembang jika kau menjadi lembek," balas Big Papa, setelah itu berjalan keluar dari ruangannya dan berbisik sesuatu kepada orang yang ada di depan pintu ruangannya. Tak lama setelah itu, Vivian kembali menatap Ivana dan berkata,"Turuti apa yang dia mau, jangan melawan." Ivana yang mendengar Vivian berkata seperti itu segera mendongakkan kepalanya, menatap Vivian. Pancaran mata Ivana terlihat dingin dan kosong, bibir mungil Ivana tersenyum tipis, dengan imut dia menganggukkan kepalanya sekali. "Ya, tentu." ___________ Satu tahun setelah hari itu, Ivana menjadi jauh lebih pemurung. Anak kecil itu jarang terlihat ceria, tatapan matanya selalu kosong dan dingin. Seperti dokter gila, anak kecil itu tanpa bosan menghabiskan besar waktunya di dalam lab Vivian. Terkadang dia menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya sendiri, tentu saja sudah memiliki obat penawarnya. Tubuh Ivana memang kenal terhadap racun, beberapa racun memang hampir tidak bisa menimbulkan apa pun di tubuhnya. Tanda bahwa racun baru yang dia ciptakan berhasil dan benar-benar mematikan, tubuh wanita itu akan bergetar, keringat dingin muncul dan akan hilang beberapa saat kemudian. Ivana semakin terlihat tidak waras ketika terjadi p*********n tiba-tiba ke dalam markas divisi utama Black Shadow. Saat itu umurnya sudah menginjak sepuluh tahun, dan Marry sudah masuk ke dalam Black Shadow selama tiga tahun. "Penyusup di kamar nona Ivana! Cepat!" Vasco berseru, berlari cepat menuju kamar Ivana sambil membawa pistol dan memimpin kelompoknya. Brak! Pintu kamar Ivana dibuka kencang oleh Vasco, setelah pintu terbuka, mereka berenam terdiam di tempat. Terlihat Ivana yang masih berumur sepuluh tahun sedang menusuk-nusuk tubuh sang penyusup berkali-kali dengan tatapan dingin. Tubuh penyusup itu sudah tidak bergerak, darah mengalir banyak sekali, baunya juga menyengat, sudah dipastikan bahwa penyusup itu telah mati di tangan Ivana. Vasco menoleh ke pojok ruangan setelah mendengar isak tangis, dirinya segera berlari ke arah pojok ruangan ketika melihat Marry tengah duduk terdiam, menatap Ivana syok sambil menangis. Vasco menutup kedua mata Marry menggunakan telapak tangan besarnya. "Jangan dilihat," ucap Vasco. "Ivana," panggil Vasco, pria itu kembali menatap Ivana. "Cukup," sambung Vasco. Melihat Ivana tak kunjung berhenti dan masih menusuk-nusuk penyusup tersebut, Vasco kembali bicara,"Hentikan, Ivana. Cukup. Dia sudah mati. Buang pisaumu." Namun, Ivana tak juga berhenti. Anak kecil itu masih dengan gila menusuki sang penyusup. Vasco geram, dia sebenarnya tidak terlalu suka melihat Ivana berubah menjadi bengis seperti Vivian. Segera Vasco menggendong Marry, lalu memberikan Marry ke salah satu rekannya, setelah itu berjalan ke arah Ivana dan mencengkeram tangan kecil Ivana. "Cukup Ivana!" bentak Vasco. Ivana berusaha menepis kasar tangan Vasco, tetapi tentu gagal karena perbandingan tenaga yang sangat jauh. "Ivana!" bentak Vasco sekali lagi, kali ini sambil menarik paksa pisau yang Ivana gunakan, lalu melemparkannya ke sembarang arah. "Cukup!" sambung Vasco. Ivana terdiam, setelah itu melirik Vasco dingin. "Cukup? Masih ada dua lambung lagi yang harus aku tusuk. Barusan aku menusuk anggota organ tubuhnya secara berurutan," ucap Ivana. Vasco menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, cukup. Jika musuh sudah mati, maka kau tidak perlu tetap menyakitinya, itu hanya membuang-buang waktu serta tenagamu." Matanya menatap Ivana dengan serius. Ivana mengerutkan keningnya. "Tidak bisa begitu, jika hanya begitu, aku jadi tidak bisa menikmati prosesnya." Setelah itu Ivana menyeringai. "Paman Vasco, kau pernah membunuh seseorang 'kan? Katakan kepadaku, seperti apa rasa sensinya? Bukankah menyenangkan?" Vasco terdiam mendengar ucapan Ivana, sepertinya otak anak ini sudah sepenuhnya memiliki pemikiran yang sama persis dengan Vivian. Vasco menghela napas pelan. "Lupakan, sekarang kamu harus mandi dan berganti pakaian. Ibumu ada di lantai tiga, segera menyusul ke sana setelah selesai." Vasco berdiri, lalu melirik salah satu rekannya yang lain untuk menemani Ivana. Ketika Ivana berusaha dibantu untuk berganti pakaian dan mandi, Vasco sudah keluar dan menuju lantai tiga lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN