"Apa yang telah kau ajarkan padanya, itu sangat buruk, Vivian," Vasco menatap Vivian tajam, mereka bicara berdua di ruangan yang terpisah dari ruangan para anggota elite lain saat ini tengah berkumpul.
Vivian menaikkan alis kirinya. "Apa?"
"Apa? Kau masih bertanya? Aku tidak bisa menerima Ivana menjadi seperti itu!" jawab Vasco.
Vivian yang mendengar ini segera menggelengkan kepalanya pelan. "Tunggu, maksudku adalah ... apa urusanmu dengan itu? Ivana adalah anakku, Vasco."
Vasco menggelengkan kepalanya lagi. "Dia bukan hanya anakmu, tetapi juga anakku! Ivana adalah anak kandungku!"
Vivian tersenyum tipis. "Tidak perlu kau pertegas, para petinggi juga mengetahui hal itu."
"Jika kau tahu, tidak seharusnya kau mendidik Ivana menjadi seperti itu. Di perjanjian kita, Ivana akan dididik dengan caramu dan aku. Dia boleh mendalami ilmu kedokteran gila milikmu, tetapi kenetralan warasnya harus tetap terkontrol. Baru saja aku melihat anak itu menusuki seorang penyusup tanpa ekspresi, dia bahkan berbicara sesuatu yang seharusnya tidak anak kecil ucapkan."
Vivian membuang tatapannya ke samping. "Big Papa tidak setuju anak itu memiliki akal yang waras, Vasco. Ivana lahir bukan untuk menjadi anakmu dan anakku, dia lahir untuk s*****a pamungkas BlackBerry Shadow," balas Vivian, di akhir kalimat dia kembali menatap Vasco, tatapan mata Vivian terlihat sangat dingin.
Vasco tersenyum tipis. "Menjadi s*****a pamungkas tidak harus terlihat gila seperti itu, melihatnya sama seperti melihatmu. Itu membuatku muak, aku tidak rela darah dagingku menjadi seperti itu. Ivana adalah anak yang manis, bukan-"
"Cukup, Vasco! Mau seperti apa pun kau dan aku mendidiknya, anak itu kelak akan tetap membunuh seseorang! Dia lahir dari orang tua yang memiliki kehidupan gila! Sejak malam itu, dia sudah ditakdirkan lahir untuk membunuh!" sentak Vivian, matanya menatap Vasco tajam, hatinya mulai tidak senang.
Ya, dia dan Vasco memanglah bukan sebuah pasangan, mereka benar-benar hanya rekan. Namun, atas perintah gila Big Papa, Vivian diperintahkan melahirkan seorang anak untuk meneruskan posisinya, dan Vasco lah yang dipilih untuk menjadi ayah dari anak Vivian kelak. Tidak ada cinta sama sekali, murni perintah Big Papa.
"Tidak, Vivian. Menurut perjanjian, Ivana berhak memilih jalan hidupnya sebelum sepuluh tahun. Memahami ilmu kedokteran tidak waras milikmu memang sebuah kewajiban, tetapi tetap dia memiliki hak keputusan tersendiri untuk memilih jalannya. Big Papa yang mengatakan itu," jawab Vasco, membuat Vivian merasa geram.
"Sekarang pun jika kau meneriakiku, itu tidak akan merubah apa pun. Karakter Ivana sudah terbentuk, dan apa masalahnya jika karakternya serupa denganku? Dia anakku," ujar Vivian, setelah itu berjalan keluar ruangan meninggalkan Vasco. Namun, saat masih di ambang pintu, Vivian sempat menghentikan langkah kakinya dan berkata,"Lagi pula, aku juga tidak akan membiarkan siapa pun melukai anakku, bahkan Big Papa sekalipun. Kejadian empat tahun lalu, itu memang kelalaiannya karena tidak berhasil memenuhi perintah Big Papa."
"Anak itu masih di bawah umur, namun dia sudah mendapatkan pelajaran gila. Kita semua penjahat, b******n yang lebih parah dari seorang b******n," ucap Vasco sambil memijit pelan pelipis kepalanya.
"Kita memang seorang kriminal kelas kakap, sekaligus b******n yang lebih parah dari seorang b******n. Kau baru menyadari itu?" balas Vivian setelah mendengar ucapan Vasco, dia segera pergi setelah mengatakan hal tersebut tanpa menunggu Vasco membalasnya.
_____________________
Hal lain lagi terjadi, membuat kehidupan Ivana menjadi lebih kelam. Tepatnya ketika kematian Vivian. Saat itu umurnya sudah menginjak lima belas tahun, Diandra saat itu juga sudah ada.
Penyebab kematian Vivian meninggal adalah terjadinya kesalahan atau korsleting mesin, alasannya abu-abu. Pesawat yang ditumpangi Vivian meledak, dan naasnya Vasco juga menumpangi pesawat yang sama dengan Vivian.
Ivana baru mengetahui fakta besar bahwa Vasco adalah ayahnya ketika pria itu meninggal, membuat Ivana semakin tidak bisa berpikir jernih.
"Alasan konyol! Bagaimana mungkin pesawat yang ditumpangi anggota 'sss' terbaik meledak?! Apa tidak ada pengecekan terlebih dahulu?! Gila!" Teriak Ivana di depan Big Papa, matanya memerah, akal sehatnya terasa hampir hilang.
"Tenang dulu, Ivana," Marry meletakkan telapak tangannya di pundak kiri Ivana. Ivana segera menepis tangan Marry, lalu berbalik dan membalas,"Tenang?! Kau masih bisa menyuruhku tenang?!" Setelah itu Ivana tertawa kencang.
"Ini gila, Marry! Aku tidak bisa menerima proses kematian rendahan seperti ini untuk kedua orang tuaku! Dan lagi, fakta gila baru saja aku dengar, aku tidak bisa tenang sama sekali!" sambung Ivana setelah berhenti tertawa.
Marry mengerutkan keningnya, kemudian kembali menaruh telapak tangannya di pundak Ivana. "Aku mengerti, maka dari itu kita dengarkan dulu penjelasan lengkap dari Big Papa. Rendahan? Apa pun jenis cara seorang anggota Black Shadow mati, selama tujuan matinya untuk setia kepada BlackBerry Shadow maka kematiannya adalah terhormat."
Ivana terdiam mendengar ucapan Marry, tetapi matanya masih terlihat marah.
Diandra berjalan mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di pundak Ivana satunya lagi. "Benar, kau dengarkan dulu penjelasan dari Big Papa."
Setelah itu, Ivana mulai terlihat tenang. Dengan cepat wanita itu kembali berbalik menghadap Big Papa, menatap pria itu tajam. "Berikan aku penjelasan yang masuk akal. Jika memang kedua orang tuaku mati karena kelalaian orang dalam, maka aku tidak akan segan membunuh rekan satu organisasi sendiri."
Diandra yang mendengar ucapan Ivana tertegun, sedangkan Marry hanya memasang raut wajah datar yang serius. Saat tahun keempat Marry datang di markas divisi utama, perlahan senyuman manis, keceriaan, serta kepolosan dirinya hilang. Auranya terasa mencengkam, suram, dan bengis.
Big Papa tersenyum, lalu menyenderkan punggungnya di senderan kursi empuk miliknya. Big Papa mensedekapkan kedua tangannya, lalu tangan kanannya bergerak untuk memijit pelipis kepalanya.
"Lima belas tahun kau lahir dan tumbuh di lingkungan yang sama denganku, namun baru kali ini aku melihatmu meledak marah dan berteriak di depanku," ucap Big Papa sambil tetap tersenyum.
"Berhenti berbicara yang tidak penting, Big Papa," balas Ivana, dia terburu-buru ingin mengetahui alasan jelas mengapa kedua orang tuanya meninggal di tragedi konyol.
Big Papa menganggukkan kepalanya pelan, setelah itu tatapan matanya berubah serius, senyumnya terlihat sedikit memudar. "Kau tahu organisasi Mafia asal Jepang, Sawamura?"
Ivana terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Sedangkan Marry, wanita itu sudah menegang dan raut wajahnya terlihat jauh lebih keras, hal ini membuat Big Papa kembali tersenyum penuh. "Mungkin Marry tahu."
"Jangan ungkit itu," ucap Marry dengan nada mengancam, matanya menatap tajam Big Papa. Ivana yang melihat Marry terlihat menegang bingung, membuat wanita itu segera bertanya,"Siapa itu Sawamura?"
"Organisasi Mafia asal Jepang, mereka memang lama mengincar Black Shadow." Bukan Marry yang menjawab, tetapi Diandra. Sepertinya wanita itu tahu lebih banyak dari pada Ivana. Mungkin karena Ivana lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam lab, tidak seperti Marry dan Diandra yang dilepas menggila di luar.
"Walaupun Big Papa baru menyebutkan nama organisasi itu, tetapi aku berani bertaruh, kedua orang tuamu celaka karena rencana licik mereka. Memang hal konyol jika mendengar pesawat yang ditumpangi anggota tinggi Black Shadow meledak, seolah tidak ada pengecekan mesin sebelum terbang," kini Marry mulai berani bicara tentang Sawamura, tetapi tetap, raut wajah wanita itu terlihat datar dan keras. Sepertinya luka lama miliknya masih basah dan kini menjadi dendam serius.