"Intinya, tidak ada masa lalu menyenangkan untuk orang-orang hebat. Manusia yang berdiri di puncak tertinggi, pasti pernah mempunyai masa lalu yang suram," ucap Ivana, matanya menatap Marry, begitu juga sebaliknya.
Marry tersenyum tipis. "Aura milikmu terlihat aneh kita mengucapkan ucapan yang sok bijak." Kemudian dia tertawa samar.
Ivana tertawa. "Ayolah, saat ini aku sedang serius."
Marry menganggukkan kepala pelan. "Kau terlalu banyak bercanda, berbohong, dan tersenyum seperti orang tidak waras. Pembohong yang suka berbohong sulit untuk dipercaya bahwa dia sedang jujur. Begitu juga dengan orang yang suka bercanda, sulit untuk dipercaya bahwa dia sedang serius."
Di tengah asyiknya waktu bersantai mereka, tiba-tiba suara keributan dari luar terdengar. Suara pistol yang memuntahkan peluru terdengar nyaring, Ivana dan Marry dengan cepat segera berlari pelan menuju jendela.
Ivana mengerutkan keningnya. "Mengapa Diandra berbuat keributan? Siapa yang ditembak itu?"
Marry menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak tahu, tetapi kemungkinan besar dia adalah mata-mata. Kesalahan besar jika seorang mata-mata baru langsung menguntit ke markas divisi utama, karena sebagian besar yang tinggal di tempat ini adalah anggota elite."
Ivana menyeringai tipis, matanya menatap penuh arti ke arah mayad mata-mata tersebut. "Kebetulan aku butuh seorang mayad manusia untuk eksperimen terbaru."
Marry menaikkan alis kirinya. "Eksperimen apa lagi kali ini? Dan lagi, untuk apa kau harus menunggu ada mayad di sini? Tidak seperti dirimu, biasanya kau langsung mencari korban di luar, membuat keributan besar di berbagai macam media berita."
Ivana terkekeh. "Aku terharu, ternyata kau mengenaliku sampai seperti itu. Terima kasih." Ivana berhenti sejenak, memberi jeda, setelah itu baru melanjutkan,"Kau lupa? Saat ini aku juga sedang menjalani eksperimen lain kepada tubuhku sendiri, kulitku tidak boleh terkena cahaya serta angin luar sembarangan."
Marry menganggukkan kepalanya. "Oh, lalu eksperimen baru apa yang tadi kau bicarakan?"
Ivana terkekeh lagi, kali ini kekehannya membuat Marry bingung. Wanita itu sering tersenyum tanpa hal yang orang-orang tahu, hanya wanita itu sendiri yang mengenali pikirannya. Dan biasanya, ide-ide mengerikan berasal dari otaknya, bahaya.
"Kau tahu? Ada sebuah negara besar dan maju yang saat ini tengah melakukan penelitian serta eksperimen gila, kabarnya mereka ingin menghidupkan kembali manusia yang telah meninggal," jawab Ivana.
Marry menggelengkan kepalanya lagi, kali ini dengan helaan napas. "Manusia yang menentang kehendak Tuhan biasanya tidak akan berakhir dengan baik."
"Dari awal hidupku memang tidak pernah baik," balas Ivana, sambil mengangkat kedua bahunya acuh.
"Tidak ada salahnya menjadi baik walaupun terlambat," jawab Marry.
"Aku sudah ditakdirkan untuk menjadi sisi gelap dunia."
"Manusia bisa mengubah takdir. Tuhan memang menentukan, tetapi manusia memiliki kehendak untuk memilih jalannya. Sekarang, ditakdirkan atau memang dirimu yang tidak berusaha?" balas Marry, tersenyum penuh kemenangan ke arah Ivana.
Ivana tertawa. "Sejak kapan kau menjadi sebijak ini, Marry?"
Marry mengangkat kedua bahunya acuh. "Tidak tahu, mungkin karena sudah terlalu banyak mendengar ceramah bijak Diandra."
Ivana tertawa lagi, setelah itu bertanya,"Mau turun?"
Marry menganggukkan kepalanya singkat. "Ayo." Setelah itu mereka segera berjalan keluar dari kamar Marry.
Setelah sampai di lantai bawah, Marry dan Ivana segera berjalan mendekati Diandra.
"Kali ini dari mana?" tanya Marry, matanya menatap dingin mayad tersebut.
Diandra menggelengkan kepalanya pelan. "Tanpa identitas. Tidak ada informasi apa pun mengenai dirinya, gelap."
Di situasi saat ini, hanya Ivana yang masih tersenyum. "Yang gelap biarkan saja gelap, tidak perlu dipedulikan. Lagi pula, langsung menerobos masuk dan menjadi mata-mata ke markas divisi utama adalah hal bodoh dari dulu. Haruskah kita membuat pengumuman agar mereka tahu?"
Diandra yang mendengar ucapan konyol Ivana ikut tersenyum. "Jika hal seperti itu terjadi, maka pekerjaanku akan semakin sulit dan bertambah. Untuk orang yang sering menjalani misi di luar dan sibuk di dalam laboratorium mana tahu kesusahanku sebagai perisai utama markas."
Marry meletakkan kedua tangannya di belakang. "Lalu apa? Kau ingin tukar pekerjaan denganku? Menyamar, menipu, membunuh, menghadapi situasi sengit, dikejar oleh waktu, begitu?"
Diandra menggelengkan kepalanya. "Untuk apa? Tidak ada gunanya, pekerjaan kita serupa kotor dan lelahnya."
Ivana menginjak kepala mayad tersebut menggunakan high heels miliknya sambil berkata,"Anggota setingkat kita tidak ada yang menganggur, semuanya memiliki bagian masing-masing. Walaupun aku tidak bertarung gila seperti kalian, tetapi jika aku tidak ada, nama Black Shadow tidak akan setinggi sekarang. Kau tahu? Black Shadow dikenal di dunia gelap karena n*****a yang kita miliki. Dan sekarang, kalian tahu betul bukan siapa yang menciptakan n*****a dan obat gila lainnya?" Ivana menoleh ke arah Diandra dan Marry, kemudian tersenyum tipis sambil menambahkan sedikit tenaga di kakinya. "Ngomong-ngomong, aku menginginkan mayad ini. Boleh?"
Diandra mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"
Marry tersenyum miring, lalu mengeluarkan korek api serta satu batang rokok dari sakunya, sebelum menyundut ujung rokok menggunakan korek api, wanita itu menjawab pertanyaan Diandra lebih dulu. "Untuk apa lagi? Wanita itu ingin bermain dokter-dokter an." Lalu Marry segera menyalakan korek api.
Diandra yang mendengar ucapan Marry balas menggelengkan kepalanya pelan, menatap Ivana dengan tatapan bosan. Tetapi setelah itu dia mengangguk, mengizinkan Ivana untuk mengambilnya.
Ivana tersenyum semakin dalam, lalu memanggil sembarang anggota Black Shadow yang lewat, meminta bantuannya untuk membawa mayad itu masuk ke dalam lab-nya.
"Jordan?" Tiba-tiba Diandra menyebutkan nama Jordan, tatapan mata Diandra mengarah ke belakang Marry. Marry dan Ivana segera menoleh, lalu melihat Jordan yang mematung di belakang Marry.
Ivana yang melihat ekspresi pucat Jordan segera berkata,"Ini bisa menjadi bahan riset sekaligus pengalaman yang bagus."
Jordan tersadar dari lamunannya, kemudian menatap Ivana dan menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, te -- tentu."
"Lebih baik sekarang kau kembali ke dalam, wajahmu terlihat pucat dan seperti menahan mual," ujar Marry, tatapan matanya seperti biasa tajam kepada orang yang baru atau tidak mengenalnya.
Jordan beralih menatap Marry dan mengangguk. "Te -- terima kasih, kau mengingatkanku akan-"
Hoek!
Jordan masih memuntahkan angin, sepertinya sedikit lagi dia akan muntah sungguhan. Pria itu segera berbalik dan berlari ke dalam gedung. Marry yang melihat ini hanya memutar bola matanya jengah. "Hanya seperti ini namun reaksinya berlebihan."
Diandra yang mendengar ini terkekeh. "Tidak akan ada orang biasa yang tidak takut saat melihat mayad itu, Marry." Diandra menunjuk kepala mayad tersebut menggunakan jari telunjuknya. "Ada beberapa benda menjijikan dari kepalanya yang ikut keluar terdorong peluru."
Ivana yang mendengar ucapan Diandra segera melirik kepala mayad tersebut, lalu menyeringai tipis. "Padahal itu adalah pemandangan yang menyenangkan, tetapi mengapa dia justru merasa mual? Di dalam kepalanya bukankah juga ada benda yang kau sebut 'menjijikan' itu barusan?"
Marry membuang tatapannya ke samping dengan malas. "Hanya kau yang berpikir bahwa itu adalah pemandangan yang menyenangkan."