"Anda baru kembali? Selamat datang," ucap Marry, menyambut kedatangan Big Papa begitu pintu ruangan pribadi pria tua itu terbuka dan muncul dirinya. Marry duduk santai di sofa panjang yang empuk berwarna hitam, kakinya menyilang santai serta tangannya memegang satu batang rokok. Tak lama dari ucapan sambutannya, wanita itu menghisap kembali ujung batang rokoknya.
Big Papa tersenyum melihat wajah suram Marry, kemudian pria itu merentangkan kedua tangannya sambil berjalan mendekat ke arah Marry. "Oh, Marry! Terima kasih karena sudah menyambutku, aku terharu! Jarang sekali kau sangat perhatian seperti ini. Kira-kira, apa yang sudah terjadi? Dengan sikapmu yang berubah drastis menjadi manis ini, sepertinya ada sesuatu yang sangat baik terjadi kepada Black Shadow, tetapi aku tidak mengetahuinya."
Marry menatao datar Big Papa, setelah itu tangan kirinya merogoh bagian dalam jaket hitamnya dan mengeluarkan pistol. Dengan bidikan yang tepat dan tidak mungkin meleset, Marry mengarahkan pistolnya ke kepala Big Papa seraya berkata,"Berhenti bersikap tidak tahu. Untuk apa kau menyerahkan penulis itu padaku? Apa aku memiliki waktu luang untuk menemani bocah laki-laki bermain?"
Big Papa terkekeh. "Dia bukan bocah, Marry. Umur penulis itu tiga tahun lebih tua darimu."
Marry memutar bola matanya malas. "Siapa peduli."
Big Papa menghela napas sebentar, setelah itu duduk di sofa seberang yang berhadapan langsung dengan Marry. Dengan santai Big Papa menuang teh ke cangkir yang ada di depannya, sebelum meminum teh tersebut, Big Papa bertanya,"Apa ada masalah dengan pria itu?"
Marry menarik pistolnya, memasukkannya kembali ke dalam jaket. Dengan kesal dia menjawab,"Tentu iya. Untuk apa kau memberikan orang seperti itu kepadaku? Aku memiliki urusan yang jauh lebih penting dari pada mengawal bocah mengamati suasana markas."
Big Papa menyeruput teh-nya santai, setelah itu menghela napas lagi karena perasaan lega yang muncul setelah meneguk teh segar. Lalu dia membalas,"Aku tahu tulang bahumu retak, Ivana sudah menceritakan semua itu kepadaku. Dan aku juga tahu bahwa kau mudah sekali bosan dengan suasana markas jika hanya berdiam diri di kamar seperti pengangguran. Oleh karena itu, aku mengirimkan Jordan kepadamu, kebetulan pria itu baru saja melakukan kesalahan dan kau pun butuh hiburan. Menemani bocah mengamati lingkungan sekitar misalnya."
Marry yang mendengar ucapan Big Papa mulai merasa kesal, sebelum sempat menjawab, Big Papa langsung menyelak dengan berkata,"Untuk apa kau membuat sulit sesuatu yang sebenarnya tidak sulit, Marry? Urusan AQM-304 tetap menjadi milikmu, dan untuk Sawamura, aku mengalihkannya ke Diandra agar kau tidak kesulitan. Kau bisa bersantai sambil menunggu tulang bahumu sembuh total, dan menunggu Diandra memberi kabar baik bahwa kau dapat segera terbang ke Italia."
Marry menggelengkan kepalanya pelan, kali ini dia langsung menjawab cepat agar Big Papa tidak menyelaknya lagi. "Aku tahu, tetapi itu bukan meringankanku, justru memberatkan. Bagaimana bisa misi yang seharusnya menjadi milikku kau oper ke anggota lain? Bukankah itu sama saja dengan mengolokku bahwa aku gagal menjalankan misi tersebut? Aku tidak masalah menghadapi Sawamura, bahkan jika tulang bahu kananku yang retak ini berubah menjadi tangan kananku yang putus."
Big Papa menggelengkan kepalanya pelan. "Jika tanganmu putus karena mereka, maka aku akan membantai habis akar mereka, tidak peduli risiko. Dan lagi, aku tidak mengatakan bahwa kau gagal menjalani misi, aku hanya mengkhawatirkan tulang bahumu yang retak. Jika saja kau tetap menghadapi Sawamura dan terus bertarung, maka keadaan tulang bahumu akan semakin buruk, maka semakin kecil pula keberhasilanmu untuk mengantarkan AQM-304 ke Italia. Jika aku mengganti orang pun, tidak mungkin akan ada yang berhasil jika kau sendiri pun tidak berhasil."
Marry tersenyum miring, tatapan matanya kepada Big Papa tetap datar. "Tidak perlu berusaha untuk memenangi hatiku dengan ucapan manis. Tidak mungkin ada yang berhasil jika aku sendiri pun tidak berhasil? Omong kosong. Ada sekitar lima orang anggota 'sss' di Black Shadow."
Big Papa mengangguk. "Ya, tetapi hanya kau yang paling spesial. Ada tiga orang anggota 'sss' spesial di sini, dua lagi terpisah di divisi yang berbeda. Ivana, ahli dalam ilmu medis dan eksperimen gila. Diandra, wanita yang sama kuat sepertimu, kau dan dia sama. Tetapi, tetap dirimu yang paling aku sukai. Kenapa? Tentu saja karena kau tidak mempunyai hati. Hatimu dingin. Jika kau mempunyai hati, maka kau tidak akan sanggup membunuh orang-orang di luar sana. Karena tak sering juga kau salah membunuh orang, namun raut wajahmu tetap datar dan tidak menunjukkan rasa bersalah apa pun. Hatimu mati, Marry, itu yang aku sukai. Jika anggota Mafia bekerja menggunakan otaknya, maka dia akan mudah menuntaskan misinya. Tetapi jika anggota Mafia bekerja menggunakan hatinya, maka dia akan mati tertelan gagal di dalam misinya sendiri. Dan jika dia menggunakan keduanya, dia akan terjebak dilema sulit."
Marry tetap menatap Big Papa datar, lalu tak lama mematikan rokoknya di asbak, setelah itu memijit pelan kening kepalanya pelan. "Kau menambahkan sesuatu yang tidak perlu, Big Papa. Aku merasa heran, mengapa dari aku, Diandra, dan Ivana, hanya aku yang sering sekali kau buat repot dan pusing? Dari pada sibuk membuatku pusing, lebih baik sekarang kau menikah dan menghasilkan keturunan. Kursi ketua akan kosong setelah kau mati."
Big Papa tertawa. "Aku sudah terlalu tua untuk menikah. Bagaimana jika kau saja yang meneruskan posisiku setelah aku mati?"
Marry memutar bola matanya jengah. "Kau bisa memilih Diandra atau Ivana, aku sama sekali tidak tertarik. Nyawaku akan lebih terancam sepuluh kali lipat jika menggantikan posisimu."
Big Papa tertawa lagi, lalu menyeruput teh-nya kembali sebelum menjawab,"Mengapa tidak mau? Seluruh anggota elite, tinggi, senior, dan rendah akan tunduk kepadamu."
Marry menyeringai tipis, menatap Big Papa dengan alis kiri yang sedikit naik. "Kau yakin semuanya akan tunduk?"
Big Papa mengerutkan keningnya sebentar saat mendengar pertanyaan Marry, lalu tak lama dia segera tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Astaga! Aku lupa! Benar, memang tidak semuanya. Contohnya adalah dirimu, Satu-satunya anggota yang berani mengacungkan pistol ke kepalaku. Bahkan Diandra atau Ivana tidak berani melakukan tindakan tidak sopan tersebut, kecuali membalas ucapanku."
"Namun begitupun aku tetap setia kepada Black Shadow," balas Marry, sebelum akhirnya dia tersadar bahwa topik mulai melenceng dari pembicaraan utama. Marry menatap Big Papa kembali dengan tajam, lalu berkata,"Jangan coba-coba untuk mengalihkan topik pembicaraan, Big Papa. Aku menuntut misiku kembali. Lagi pula, seharusnya anggota 'ss' pun sudah pantas menjadi pengawasnya."
Big Papa menggelengkan kepalanya pelan. "Kali ini aku menginginkan dirimu agar menjadi pengawasnya, tidak ada penawaran, Marry. Ingat, siapa ketuanya di sini." Big Papa mulai menekan ucapannya, tetapi mulutnya masih tetap tersenyum ramah.
Marry berdecak. "Ck, aku tidak tahu apa tujuanmu membuatku disibukkan oleh kesibukan yang tidak berarti."
Big Papa menaikkan alis kirinya. "Aku tidak mengatakan bahwa kesibukan yang tengah kau alami itu adalah kesibukan yang tidak berarti."
"Tetapi fakta berkata demikian," balas Marry.
Big Papa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Marry, perlu kau tahu, situasi penulis itu tidak sesederhana yang dia kira. Karena dia telah mengetahui rahasia Black Shadow di divisi kelima, maka mungkin akan ada banyak beberapa kelompok yang berusaha menculiknya. Tidak ada jaminan bahwa rahasia kita aman di tangan penulis itu."
"Memangnya apa yang dia tahu?" tanya Marry.
"Data AQM-304," jawab Big Papa, membuat Marry menghela napas gusar. "Serius? Kali ini tentang AQM-304 lagi?"