///Kasino Black Shadow
“Kasino ini adalah tempat bersantai para anggota, biasanya kami akan minum-minum bersama di lantai satu, berjudi di lantai dua, dan lantai tiga biasanya digunakan untuk menginap, serta lantai empat adalah tempat latihan menembak dan tinju. Setiap hari minggu akan ada pertarungan tinju antar anggota.” Marry menjelaskan semua yang dia tahu tentang Kasino Black Shadow secara singkat kepada Jordan.
Jordan menganggukkan kepalanya mengerti,
Setengah jam yang lalu dia meminta Marry untuk membawanya ke tempat bersantai para anggota Black Shadow, tidak jauh dari dugaannya, pasti tempat seperti inilah tempat mereka melepas penat.
Jordan melonggarkan sedikit ikatan dasinya, suasananya terasa sesak begitu dia masuk ke dalam gedung Kasino. Marry yang melihat Jordan seperti sedikit tidak nyaman tersenyum tipis. “Kau tidak perlu khawatir, tidak akan ada yang akan menganggumu jika kau tidak menarik perhatian mereka. Sekarang, kau bebas ingin pergi ke mana, aku hendak tidur di lantai tiga.” Kemudian Marry berjalan ke arah tangga, meninggalkan Jordan. Jordan membeku di tempatnya, dia terlihat tidak nyaman jika ditinggal sendirian.
“Nona Marry! Tunggu! Hei!” Jordan berjalan cepat menyusul Marry, lalu segera berhenti ketika Marry melambaikan tangan kirinya di udara sambil terus berjalan meninggalkan Jordan. Jordan menghela napas gusar, kemudian dia menatap sekitar ruangan yang pekat dengan bau minuman keras. Jordan mulai melangkahkan kakinya ke arah lain, dia memulai riset dengan mengamati tempat ini dulu.
Marry berjalan naik ke lantai tiga, selama menuju lantai tiga, banyak pasang mata yang memperhatikannya. Mungkin mereka smeua bertanya-tanya tentang siapa dirinya, tentu saja tidak ada yang mengenal dirinya di sini. Marry sejujurnya jarang menghabiskan waktu atau beristirahat di sini, terakhir dia kemari pun adalah dua tahun lalu, dia kemari jam dua pagi setelah selesai menyelesaikan misi dari Big Papa, lalu tidak sengaja kebelet buang air besar. Identitas Marry juga sangat istimewa, jika bukan orang-orang penting Black Shadow, maka mereka tidak akan mengenalinya, hanya orang tertentu yang mengenalinya.
Satu-satunya anggota ‘sss’ Black Shadow yang terkenal adalah Diandra, wanita itu sering narsis di mana-mana. Jika Diandra kemari, mereka semua langsung berkerumun dan menyambut, hal itu karena pangkat Diandra yang tinggi. Di dunia gelap seperti ini, hukum rimba berlaku.
Marry masuk ke dalam kamar yang kosong, kemudian mengunci pintunya agar tidak dapat diganggu oleh siapapun. Dia tidak peduli soal Jordan, lagi pula seharusnya baik-baik saja.
Marry mulai merebahkan tubuhnya dikasur, menghela napas dan memejamkan matanya. Dia tidak ingin tertidur, Marry hanya menginginkan ketenangan agar dapat berpikir. Kali ini dia sibuk memikirkan bagaimana caranya agar Sawamura berhenti mengejarnya dan dengan lancar terbang ke Italia.
Lima belas menit berlalu, Marry masih memikirkan hal yang sama. Apa yang harus dirinya lakukan? Tak lama kemudian, ponsel yang ada di saku jaket Marry bergetar. Marry membuka matanya dengan malas, tangan kirinya merogoh saku jaketnya. Ketika dilihat, ternyata yang menelepon dirinya adalah Jordan. Asataga … mengapa pria itu harus menelepon? Bukankah sebelumnya sudah ia katakan bahwa dia ada di lantai tiga untuk tidur? Dengan penuh rasa malas, Marry mengangkat panggilan dari Jordan. Baru saja hendak membuka mulut untuk mengomel, di seberang sana Jordan sudah langsung berbicara dengan nada yang tergesa-gesa.
“Nona Marry, apa … apa anda bisa menemui saya sekarang?” tanya Jordan, membuat Marry mengerutkan keningnya. “Hah?”
“I –iya, bisakah anda menemui saya sekarang? Saat ini saya tengah dilanda situasi yang mendesak, panjang jika diceritakan. Saya ada di lantai-“ belum selesai Jordan bicara, tiba-tiba ada suara pria asing yang berkata,”Oi, di mana temanmu? s****n, cepat suruh dia kemari!”
Kemudian disusul dengan gelak tawa ramai, setelah itu terdengar lagi suara asing, kali ini dari seorang wanita. “Ck, mengapa lama sekali? Kau anak baru, cepat suruh temanmu kemari, biar dia juga mendapatkan pelajaran bersamamu di ring tinju!” sekali lagi gelak tawa ramai muncul.
Tatapan mata Marry langsung berubah menjadi dingin setelah mendengar ini, dia segera mengambil sikap duduk dan bertanya,”Ring tinju? Apakah lantai empat?”
Jordan terdengar terdiam, tidak menjawab pertanyaan Marry dengan cepat. Marry menggertakkan giginya kesal. “Oi, b*****t, jawab aku!”
“E – eh, iya! Benar, lantai empat,” jawab Jordan, terkejut mendengar nada bicara Marry yang membentak.
Marry segera mematikan sambungan telepon, menyimpan kembali ponselnya di saku jaketnya, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya dengan kasar. “b******n, mengganggu saja,” umpat Marry kasar, dia kesal.
Marry dengan cepat berjalan menuju lantai empat, tangan kirinya merogoh kantung jaketnya yang lain, lalu mengeluarkan satu batang rokok dan korek api, Marry mulai merokok. Tangan kanan Marry saat ini belum pulih sepenuhnya, jadi sebisa mungkin Marry kali ini ingin menghindari pertempuran.
Ketika Marry sampai di lantai empat, terlihat banyak sekali orang-orang yang berkerumun, gelak tawa keras juga terdengar nyaring di telinganya. Marry terus berjalan maju melewati kerumunan dengan wajah datar, sorot matanya sedingin es. Sampai akhirnya Marry di tengah-tengah kerumunan, sulit untuk terus menerobos maju karena mereka tidak memberikan celah sedikitpun. Marry menatap ke arah ring tinju, alis kirinya sedikit naik ketika melihat Jordan berdiri di tengah ring tanpa baju atasan. Sepertinya sebentar lagi dia akan dibuat t*******g sepenuhnya.
Marry menghela napas, lalu segera membuat keheningan dengan berseru,”s****n, singkirkan tanganmu dari priaku!”
Semua orang segera menoleh ke arah belakang, mencari siapa orang yang berseru seperti itu tanpa takut. Marry menyeringai tipis, kemudian berjalan maju dengan menyingkirkan paksa oranng di depannya. “Ada apa? Mengapa ekspresi kalian seperti orang t***l?”
Semua orang segera menatap Marry ketika berhasil memastikan bahwa yang berseru itu adalah Marry.
“Nona Marry! Anda sungguhan datang?!” seru Jordan senang, pria itu tersenyum, walaupun wajahnya sudah mendapatkan satu memar tinju.
“Diam, jangan berisik,” balas Marry kesal, dia tiba di situasi merepotkan ini karena ulah Jordan. Entah apa yang dilakukan pria itu sampai membuat keributan sebesar ini.
“Um!” balas Jordan juga setelah Marry menyuruhnya diam, pria itu segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Wanita yang tadi sempat menyentuh wajah Jordan dan yang sudah menerima hinaan dari Marry itu pun segera berjalan ke pinggir ring, matanya menatap Marry tajam. “Oh, jadi kau yang namanya Marry?”
Marry tidak mempedulikan wanita itu, dia segera naik ke atas ring dengan cepat dan menarik Jordan ke dekatnya. Wanita yang tadi Marry tidak hiraukan itu merasa kesal, dia segera berjalan cepat menuju Marry dan hendak memukul wajah Marry dengan tinju kanannya. Namun belum sampai tinjunya di wajah Marry, Marry segera menangkap tangan kanannya, kemudian memutarnya seratus dua puluh derajat hingga terdengar bunyi ‘krek’ dari tulang wanita itu. Marry kemudian menghempaskan tubuh wanita itu ke pembatas ring, lalu menatap dingin para anggota Black Shadow yang ada di luar ring.
“Dari divisi mana dirimu berasal?” tanya pria bertubuh tinggi besar yang ada di dalam ring juga, dia berdiri tak terlalu jauh dari samping kanan Marry.
Marry menoleh, menatap pria tinggi besar itu dengan dingin. Kemudian mata Marry beralih ke arah cincin pria itu, sepertinya dia anggota Black Shadow berpangkat ‘s’. Pangkat itu juga spesial, biasanya mereka yang menjadi ketua atau wakil ketua di sebuah divisi, berbeda dengan ‘ss’ dan ‘sss’, tempat anggota berpangkat tinggi ini berada di divisi utama, tempat Big Papa berada. Mungkin aka nada anggota berpangkat ‘ss’ atau ‘sss’ di sebuah divisi lain selain utama, biasanya karena memang divisi itu mempunyai ruangan yang bersifat ‘sangat pribadi’, contohnya divisi kelima.
Dan soal cincin, seluruh anggota Black Shadow memang mempunyai cincin khusus yang melambangkat pangkat mereka. Marry, Diandra, dan Ivana jarang memakai cincin ini, mereka memakainya hanya sesekali jika keluar bersama Big Papa untuk urusan kelewat penting.
Untuk cincin berbahan dasar aluminium berkualitas tinggi, biasanya digunakan oleh anggota yang baru saja bergabung dengan Black Shadow.
Cincin berbahan dasar perak, tandanya dia adalah anggota senior, namun belum meraih gelar tinggi apa pun.
Cincin berbahan perak namun memiliki ukiran singa di atasnya, maka berarti dia adalah anggota berpangkat ‘s’.
Cincin berbahan dasar emas dengan ukiran srigala, maka berarti dia adalah anggota berpangkat ‘ss’.
Sedangkan cincin paling tinggi kastanya, adalah cincin berbahan dasar berlian dengan ukiran naga di atasnya, biasanya yang menggunakannya adalah anggota ‘sss’ atau petinggi penting Black Shadow.