Marry merebahkan tubuhnya perlahan ke atas kasur, lalu memejamkan matanya. Dia memutuskan untuk beristirahat sebentar, matanya terasa berat sekali.
Baru sebentar matanya terpejam, suara dering panggilan dari ponselnya terdengar. Marry menggertakkan giginya kesal, setelah itu membuka matanya kembali dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.
“Hallo? Sungguh, jika ini panggilan tidak penting aku akan membunuhmu,” ucap Marry saat mengangkat telepon.
“Oh – hallo, nona Marry.” Suara pria asing terdengar, membuat Marry menjadi tersadar sepenuhnya, wanita itu segera mengambil sikap duduk, dan sorot matanya pun berubah tajam.
“Kau siapa?” tanya Marry, nada bertanyanya dingin.
“Ma – maaf, aku akan memperkenalkan diri. Namaku-“ belum selesai pria itu bicara, Marry sudah langsung memotong. “Sebelum itu, dari mana kau mendapatkan nomorku?”
“Eh? Itu, aku mendapatkan nomormu dari salah satu anggota divisi kelima yang berlevel sedikit di bawahmu, ‘ss’. Orang itu memberi nomormu atas perintah Big Papa, sungguh. Sebelum menghubungimu aku sudah mendapatkan izin dari Big Papa,” jawab pria itu.
Marry yang mendengar ini terdiam sejenak, lalu memejamkan matanya kembali sambil mengangguk pelan. “Lalu, untuk apa kau menghubungiku? Seharusnya bukan masalah sepele. Siapa identitasmu? Dari komplotan besar mana?”
“Komplotan? Tidak, aku bukan Mafia atau pelaku kriminal lainnya. Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan diri. Aku Jordan, profesiku adalah seorang penulis,” ujar pria itu, memperkenalkan dirinya sebagai Jordan. Marry yang mendengar ini segera mengerutkan keningnya, perasaan tidak enak seperti rasanya sesuatu yang merepotkan akan datang menimpanya. Marry berdecak pelan, lalu menjawab,”Oh, aku sudah pernah mendengar tentang seorang penulis yang kekeuh sekali ingin melakukan riset di Black Shadow.”
“Syukurlah, setidaknya aku tidak terlalu menjadi orang asing,” balas Jordan, pria itu terkekeh pelan. Marry membuka matanya kembali, matanya melirik ponsel yang kini tertempel di telinganya dengan tajam. “Kau tetap orang asing.”
Setelah Marry berkata demikian, terdengar Jordan tertawa. “Baiklah, maafkan aku, aku hanya berusaha untuk mencairkan rasa tegang. Jika aku boleh jujur, sebenarnya aku merasa gugup karena harus melakukan panggilan telepon secara langsung dengan salah satu anggota ‘sss’ Black Shadow, aku dengan pun anda masuk ke dalam anggota sss terbaik, makanya ditempatkan di divisi utama.”
“Kau ini banyak bicara, ya?” balas Marry, membuat tawa pelan Jordan terhenti.
“Maafkan aku,” ucap Jordan dengan nada memelas.
Marry tidak menghiraukan ucapan maaf Jordan, wanita itu segera bertanya langsung ke intinya. “Lalu apa tujuanmu meneleponku? Lucu sekali, untuk apa aku berurusan denganmu. Big Papa semakin hari semakin sering menugaskanku di pekerjaan yang tidak penting.”
Jordan yang mendengar ini terdiam sejenak, setelah itu baru berkata,”Aku tidak sengaja masuk ke dalam tempat yang bersifat ‘sangat pribadi’ di divisi kelima, oleh karena itu untuk menjaga bahwa aku benar-benar tidak mempunyai niat untuk membocorkannya, Big Papa mengubah anggota Black Shadow yang mengawasiku menjadi anda. Tetapi sungguh, niat hatiku murni hanya ingin melakukan riset yang hebat, aku tidak mempunyai niat buruk sama sekali.”
“Mengapa dari tiga anggota ‘sss’ divisi utama yang dipilih adalah diriku?” tanya Marry lagi. Pertanyaannya yang ingin terdengar cukup konyol, dia menanyakan ini hanya untuk melampiaskan rasa kesal di hatinya saja.
“A – aku pribadi tidak mengetahui hal itu, tetapi Big Papa sempat berkata bahwa saat ini kaulah yang paling luang waktunya,” jawab Jordan, membuat Marry yang mendengar ini mencengkeram erat ponselnya karena kesal. “Luang? Mulut rubah tua itu sembarangan bicara. Justru aku yang paling sibuk saat ini, sialan.”
“M – maaf, aku tidak tahu soal itu,” balas Jordan setelah mendengar Marry menggerutu.
“Di mana posisimu sekarang?” tanya Marry.
“Eh … depan pintu kamar anda,” jawab Jordan, membuat Marry menaikkan alis kirinya.
“Sungguh?” tanya Marry lagi, kemudian beranjak berdiri dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah pintu. Begitu Marry membuka pintu kamarnya, benar. Pria tinggi berkulit putih, rambut pirang dan bola mata biru, berdiri di depan pintunya.
“Oh? Selamat datang,” ucap Marry dengan nada bicara datar, membuat Jordan tersenyum tipis. Senyum pria itu terlihat sangat menawan. “Nada bicara anda seperti menolak kehadiranku, nona.”
“Aku memang tidak pernah menerima kehadiranmu. Ini terpaksa. Cepat masuk,” balas Marry, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, diikuti Jordan.
Jordan duduk di sofa empuk, berhadapan dengan ranjang king size milik Marry. Marry duduk di ranjangnya, tangan kanannya kini sudah memegang satu batang rokok. Kakinya duduk menyilang, dan matanya menatap tajam serta penuh menyelidik ke Jordan.
“Memangnya apa yang telah kau lihat di divisi kelima?” tanya Marry, matanya sebenarnya terasa sangat berat, dia mengantuk. Namun, kali ini dia tidak dapat tertidur. Ck, Big Papa mengirim orang seperti ini padanya tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu.
“Hm? Saya pikir anda sudah tahu apa yang ada di divisi kelima, nona Marry?” jawab Jordan, membuat Marry termenung.
Ughh … sungguh, Marry saat ini benar-benar mengantuk. Tidak tahu apa yang sudah Ivana suntikkan padanya, sepertinya obat tidur dengan dosis tinggi (?).
Jordan yang melihat Marry sepertinya terlihat tidak fokus seperti orang yang mengantuk berat, dia segera ingin mengatakan sesuatu agar Marry lebih baik beristirahat sekarang dan dia akan keluar. Namun, belum sempat bicara, Marry sudah langsung berkata,”Oh, divisi kelima. Ya, aku tahu.”
Divisi kelima … tempat itu memang mempunyai ruangan rahasia yang bersifat ‘sangat pribadi’. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk, karena di sana terdapat banyak sekali koleksi n*****a Black Shadow yang belum memiliki nama, karena memang n*****a-n*****a itu adalah mahakarya Ivana, wanita itu mengikuti jejak ibunya, Vivian, gemar menciptakan ‘sesuatu’.
“Nona Marry, apakah anda sedang tidak enak badan?” tanya Jordan, keningnya mengerut, memperhatikan wajah Marry yang terlihat sangat mengantuk.
Marry menatap Jordan sekilas, lalu memejamkan matanya pelan sambil menjawab,”Bukan urusanmu. Dan lagi, bisakah sekarang kita mulai masuk ke dalam inti pembicaraan? Sebenarnya, apa yang kau lakukan di sini? Riset? Riset besar apa yang kau lakukan sehingga melibatkan orang penting sepertiku?” Di akhir kalimat, Marry membuka matanya lagi.
“Sungguh, aku tidak ada niatan buruk apa pun selain untuk melakukan riset. Kau bisa mengawasiku dua puluh empat jam, tidak akan ada tindakan mencurigakan yang kau temukan dari diriku,” jawab Jordan, berusaha meyakinkan Marry.
Marry terdiam sejenak, saat hendak menajwab, Jordan sudah menyelak cepat. “Sebelum itu, bolehkah aku meminta izin untuk beristirahat dan melanjutkan percakapan besok? Jarak divisi kelima dan utama sejujurnya memang cukup jauh.”
Marry menatap Jordan, lengang sejenak, tidak ada yang berbicara. Sepertinya Jordan meminta Marry untuk cepat beristirahat, alasan bahwa pria itu ingin beristiarahat adalah omong kosong, mengingat pria itu sebelumnya berdiri di depan pintu kamarnya cukup lama di sepanjang pembicaraan telepon. Dan lagi, Marry juga sepertinya tidak senang jika Jordan ikut campur tentang dirinya, membuat pria itu menjadi ide lain.
“Baiklah, aku akan menurutimu. Keluar dan turun ke lantai satu, temui salah satu anggota di bawah sana, dan katakana bahwa kau adalah tamuku yang wajib dijamu sempurna,” ujar Marry, kemudian berdiri, begitu juga dengan Jordan. Sebelum benar-benar pergi, pria itu sempat berkata,”Baiklah, senang bertemu dengan anda, nona Marry, dan maaf karena aku harus merepotkanmu. Selamat beristirahat.”
Setelah Jordan mengatakan demikian, Marry tidak menjawab apa pun, wanita itu langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya, setelah itu berlari cepat ke ranjang dan melempar tubuhnya ke sana, lalu memejamkan matanya, mulai tertidur.