Marry saat ini tengah berpegangan erat di bebatuan dinding jurang. Napasnya terengah-engah, tatapan mata Marry dingin sempurna menatap ke atas, darah segar mengalir pelan keluar dari pelipis kepalanya, tangan kiri dan kanannya dia paksa untuk tetap bertahan, terutama tangan kanan, tangan kanan milik Marry sudah mulai bergetar. Marry menggertakkan giginya, berusaha menahan rasa sakit di tulang pundak tangan kanannya.
Marry brusaha memencet anting kanannya, setelah berhasil, sambungan telepon otomatis segera terhubung ke Diandra.
“Aku akan mengirimkan lokasinya, kau segera siapkan helikopter untuk menjemputku.”
________
Tiga menit kemudian, muncul bola sebesar bola kasti jatuh dari udara, membuat ledakan kecil dan asap tebal, menutup pandangan mata seluruh orang yang berdiri tak jauh dari lokasi Marry jatuh. Mereka tidak merasakan apa pun selain angina kencang dan suara helikopter yang terdengar sangat kencang, seperti berada tidak jauh dari mereka. Ingin melihat, tetapi selalu gagal karena asap tebal itu benar-benar tebal.
Marry naik ke atas helikopter dengan bantuan Diandra, wanita itu segera menyenderkan punggungnya di kursi, lalu mengatur napasnya yang masih terengah-engah sampai sekarang. Sesekali dia meringis kecil, melirik bahu kanan tajam.
“Sepertinya retakan tulang di bahu kananmu bertambah parah,” ucap Diandra, memperhatikan Marry yang sibuk memegang bahu kanannya dengan wajah menahan sakit.
“Ivana s****n, wanita itu harus bertanggung jawab tiga kali lipat. Dia membuatku terlibat masalah karena tugasnya,” ujar Marry, raut wajahnya terlihat kesal saat mengingat Ivana. Diandra yang mendengar ini tertawa pelan. “Aku tidak peduli seperti apa nantinya kalian berkelahi, tetapi yang aku pikirkan saat ini adalah … bagaimana bisa kau nekat menerabas pembatas antara jalan raya dan jurang, Marry? Kau gila, jika tanganmu tidak kuat menahan berat tubuhmu, kau bisa saja mati karena jatuh ke jurang, bukan dibunuh komplotan Sawamura.”
“Tidak ada pilihan lain, Ndra. Mereka mengejarku menggunakan sepeda motor, sulit untuk melarikan diri dari mereka. Secepat apa pun mobilku, tetap akan kalah lincah dengan motor mereka. Apa lagi jumlah mereka ada lima orang,” jawab Marry sambil mengusap cepat peluh di keningnya yang sudah tercampur debu.
Diandra hanya menggelengkan kepalanyapelan mendengar cerita Marry, setelah itu sudah tidak ada percakapan apa pun lagi. Tak lama kemudian, mereka kembali tiba di markas utama Blackk Shadow. Marry dan Diandra segera turun, lalu berjalan masuk. Di depan pintu, terlihat Ivana berdiri menunggu mereka dengan senyuman yang menyebalkan menurut Marry. Marry segera mengeluarkan pistolnya, dan dia arahkan ke wajah Ivana.
“Bayar aku lima puluh ribu dollar untuk ini,” ucap Marry, tangannya masih mengarahkan moncong pistolnya ke wajah Ivana.
Ivana menatap moncong pistol Marry sekilas, setelah itu menggeser moncong pistol Marry ke kiri, menjauh dari wajahnya. “Hei, baiklah, aku mengaku salah. Lagi pula bukankah aku sudah menjelaskan situasiku kepadamu? Aku tidak bisa keluar dan terkena sinar matahari sembarangan untuk saat ini.”
Marry mendengus kesal, setelah itu menarik pelatuk pistolnya dan menyimpannya kembali. Marry berjalan masuk ke dalam, melewati Ivana dan meninggalkan Diandra sambil berkata,”Cepat lihat kondisi tulang bahuku sekarang. Jika sampai tidak bisa disembuhkan, aku akan mematahkan kedua tulang bahumu.”
“Baiklah, nona Marry, anda tidak perlu khawatir. Cerewet sekali….” Balas Ivana, kemudian terkekeh. Sedangkan Diandra hanya memutar bola matanya malas, dia tidak berminat masuk ke dalam masalah kedua temannya.
Di tengah perjalanan menuju ruangan pribadi Ivana, Diandra memecah keheningan dengan berkata,”Aku mendengar akan ada seorang penulis yang ingin melakukan riset besar di Black Shadow.” Ivana yang mendengar ini segera melirik Diandra. “Mustahil, tidak sembarang penulis atau wartawan dapat masuk dan melakukan riset serta wawancara pribadi sembarangan.”
“Big Papa tentu tidak akan mengizinkannya,” timpal Marry, hal ini pun diangguki oleh Ivana.
“Kalian salah, bahkan aku dengar juga Big Papa sudah memberinya izin. Proses yang penulis itu alami memang sangat rumit, dia bahkan terancam hampir kehilangan nyawa saat sedang melakukan proses izin. Peraturan Black Shadow ketat, seharusnya penulis itu sudah banyak menyerah dari awal tes, tetapi dia tetap bertahan,” balas Diandra.
Ivana menaikkan alis kirinya saat mendnegar ucapan Diandra. “Sejak kapan Black Shadow kita diperbolehkan mengundang orang luar masuk? Memangnya siapa penulis itu? Mungkin saja dia berhasil mendapatkan izin karena memiliki hubungan dengan petinggi Black Shadow? Bahkan walaupun memiliki hubungan dengan petinggi Black Shadow pun, mereka tetap orang asing yang bukan anggota Black Shadow tetap akan mendapatkan tes izin masuk yang sama beratnya.”
Diandra mengangkat kedua bahunya singkat. “Aku tidak tahu, lagi pula siapa yang peduli? Jika dia benar hanya seorang penulis dan bukan mata-mata, itu tidak masalah untukku. Tetapi jika dia terbukti suatu saat sebagai mata-mata, maka tugas kitalah yang langsung membunuhnya di tempat, bahkan sebelum izin kepada Big Papa pun, kita mempunyai wewenang untuk membunuh pengkhianat atau mata-mata.”
“Menurutmu bagaimana, Marry?” tanya Diandra, matanya beralih menatap Marry. Marry yang mendengar ini segera melirik Diandra sekilas, sejujurnya dia tidak terlalu peduli dengan masalah ini. Selama penulis itu tidak mengganggu waktu misi, makan, dan tidurnya, Marry tidak akan menembak kepalanya.
“Tidak peduli. Lagi pula, jika Big Papa sudah mengizinkannya, maka berarti orang itu aman. Jangan membuat rumit sesuatu yang tidak rumit,” jawab Marry acuh, lalu dia segera berbaring di ranjang pasien begitu memasuki ruangan pribadi Ivana.
Ivana terkekeh sambil berjalan mengambil perlengkapannya untuk mengecek kondisi tulang Marry. “Kau bertanya kepada orang yang salah, Diandra. Bahkan jika penulis itu adalah seorang alien penghancur bumi pun, dia tidak akan tertarik.”
Diandra memutar bola matanya jengah. “Dia memang bukan orang yang cocok untuk diajak berdiskusi.”
Marry yang mendengar ini hanya memasang wajah datar, kemudian menghela napas sambil memejamkan matanya pelan. “Hanya ada satu hal di dunia ini yang menarik. Uang.”
Diandra tertawa. “Bagaimana dengan cinta?”
“Lima huruf yang membentuk satu kata menjijikan, hal konyol apa yang kamu bicarakan? Lagi pula, orang seperti kita akan terlihat aneh jika membicarakan hal itu,” balas Marry, kedua sudut alisnya saling bertaut ketika mengatakan hal tersebut.
“Semua orang akan merasakan jatuh cinta, Marry. Termasuk dirimu, kelak kau akan merasakannya,” ucap Ivana, membuat Marry kembali membuka matanya dan menatap Ivana jijik. "Untuk orang yang kesehariannya melakukan eksperimen gila ilegal tidak cocok mengatakan hal tersebut.” Lalu matanya beralih menatap Diandra. “Begitu juga dengan kau yang tangannya sudah tidak bersih lagi.”
Diandra tertawa pelan. “Bahkan iblis pun dapat jatuh cinta, Marry.”
“Lalu sekarang apakah kalian mempunyai orang yang dicintai? Jangan konyol,” balas Marry, kembali memejamkan matanya.
“Tentu saja ada, bukankah kau sudah mengetahuinya, Marry?” jawab Ivana, membuat Marry sekali lagi membuka kedua kelopak matanya. Marry tersenyum tipis. “Terlalu tragis dank au terlihat bodoh, Ivana. Aku lebih rela dipatahkan kaki serta tanganku, dari pada harus merelakan hatiku dipatahkan oleh orang lain. Rasa menjijikannya berkali-kali lipat.”
“Cinta terkadang membuat seseorang bodoh, maka dari itu, kaulah yang seharusnya mengendalikan cinta, bukan sebaliknya. Aku juga pernah jatuh cinta, tetapi tidak berlangsung lama karena pihak musuh yang mengincarku, tiba-tiba beralih target ke orang yang aku cintai. Terkadang, menganggap cinta itu konyol dan menjijikan, serta menerapkan peraturan dilarang jatuh cinta untuk orang seperti kita juga ada baiknya,” ujar Diandra, tersenyum. Ivana dan Marry masih dapat melihat senyum pahit Diandra.