15. Sawamura Mengejarnya Dengan Gila

1111 Kata
Kira-kira seperti itu kejadian pertama kali dirinya dan Ivana bertemu. Ah … mengapa dia harus mengingat pertemuan pertamanya dengan Ivana yang menyebalkan? Setelah kembali mengingat ini, Marry jadi tersadar bahwa Ivana sudah gila sejak kecil, kasihan. Setelah dirinya terdiam kaku saat itu, Vasco segera datang dan menggendongnya keluar dari ruangan Ivana. Dirinya dulu tidak terlihat seperti anak berumur sepuluh tahun karena badannya yang kecil dan mungil seperti anak tujuh tahun. Hm, bisa dikatakan pertumbuhannya tidak terlalu baik dulu. Marry tidak menyalahkan orang tuanya setiap kali mengingat ini, karena mengerti bahwa pekerjaan orang tuanya sangat sibuk dan sulit, mempertaruhkan nyawa. Mungkin saat kecil dulu Marry tidak mengerti apa itu pertumbuhan yang tidak baik, dia hanya merasakan kesepian dan menyalahkan kedua orang tuanya karena jarang menghabiskan waktu bersama dirinya. Tetapi, semakin dirinya beranjak dewasa di Black Shadow, Marry semakin mengerti. Mereka melakukan itu untuk melindungi dirinya, akan bahaya jika dirinya terus menerus berada di samping mereka. Mengingat kedua orang tuanya dulu adalah anggota ‘sss’ Black Shadow, selain banyak misi, mereka juga pasti memiliki banyak musuh. Sewaktu kecil, Marry juga sempat berpikir … bagaimana bisa Ivana sering menghabiskan waktu bersama dengan Vivian padahal Vivian jugalah seorang anggota ‘sss’? Mengapa Ivana bisa dibawa ke dalam markas tetapi dirinya tidak? Bukankah jika seperti itu dirinya akan sering bermain bersama kedua orang tuanya? Sekali lagi, seiring berjalannya waktu, Marry kembali mengerti. Lebih baik menempatkan dan melindungi anak di luar markas dari pada di dalam. Di dalam markas jauh lebih berbahaya dari pada di luar, efeknya sangat buruk untuk anak kecil. Suasana dan apa-apa saja yang ada di dalam markas, semuanya tidak ramah untuk anak kecil di bawah umur. Jika penasaran tentang apa efek sampingnya, lihat saja Ivana, wanita itu gila sebelum waktunya. Menjadi mesin pembuat n*****a, mengikuti jejak Vivian yang sudah meninggal lima tahun lalu. Ketika sibuk dengan pikiran dan berkendara, Marry terkejut karena ada pengendara lain yang menabrak bagian belakang mobilnya, membuat dirinya tersundul ke depan. Marry mengerutkan keningnya kesal, setelah itu melirik ke kaca spion kiri mobil. Berdecih. Kali ini entah siapa lagi yang mengejarnya, tetapi Marry yakin bahwa yang mengejar dirinya adalah orang-orang Sawamura. Seperti biasa, tanpa banyak omong lagi, Marry segera menekan pedal gas dalam, membuat semua pengguna jalan terkejut. Teguran bercampur cacian kembali terdengar untuk Marry, rasa iba di hati Marry untuk para petugas kepolisian kembali muncul. Kasihan mereka, belakangan ini disibukkan oleh kejar-kejaran liar berbahaya, dan sampai saat ini belum berhasil menangkap pelakunya. Mata Marry kembali melirik ke arah spion kaca kiri lagi, tetapi dia tidak melihat apa pun. Setelah itu Marry beralih melirik ke spion kaca kanan, masih sama, dia tidak melihat apa pun. Lanjut, Marry melirik cepat menuju spion dalam mobil, bibirnya tersenyum tipis ketika melihat ada satu mobil yang mengekorinya di belakang. Kecepatan mobil tersebut menyeimbangi kecepatan mobilnya, jadi sudah pasti orang yang mengejar sekaligus menabrak mobilnya barusan adalah dia. Tulang bahu kanan Marry yang retak pun tiba-tiba mulai terasa nyeri, membuat hati Marry merasa kesal. Mengapa rasa nyerinya harus muncul di situasi yang seperti ini? Marry mengambil napas dalam, lalu menekan dan menyimpan dalam rasa nyeri di tulang bahunya tersebut. Baiklah, kali ini hiaraukan dulu nyeri di bahunya, bahkan jika tulangnya bergeser atau tambah retak sekalipun. Bukankah itu lebih baik dari pada dirinya harus tertangkap di tangan musuh? Masalah dan suasana akan menjadi lebih rumit jika demikian. Dor! Satu suara tembakkan berbunyi nyaring, bersamaan dengan itu, mobil Marry terasa terhantam oleh sesuatu dari belakang, sepertinya tembakan itu dipersembahkan untuk mobilnya. Marry segera berkendara lebih fokus dari pada sebelumnya, lalu membanting stir ke samping, membuat pengendara mobil di belakangnya terkejut. Bertepatan dengan itu, dari depan ada truk yang melaju kencang, karena rem mendadak yang dilakukan sang pengemudi truk, mobil truk tersebut akhirnya terguling, badan truknya ingin menghantam mobil Marry. Tak mau kalah dan tidak takut, Marry segera menekan pedal gas lebih dalam, setelah itu tanpa ragu menekan rem mobil, membuat mobil terlihat terbalik dan berjalan maju menggunakan dua roda dari satu sisi. Marry melihat celah sempit dari detik-detik truk tersebut terguling, wanita itu segera memasuki celah tersebut, dan hanya berbeda beberapa millimeter jaraknya dengan badan truk. Semua orang yang menyaksikan ini berteriak histeris, termasuk dengan pengemudi mobil belakang yang mengejar Marry, dia tercengang dengan aksi nekat Marry. Brak! Mobil Marry kembali ke posisi normal semula, wanita itu terlihat terdiam sejenak untuk mengatur napas dan fokusnya, setelah itu kembali menginjak pedal gas mobil dalam-dalam, melarikan diri dari pengejar tersebut selagi orang itu tercengang dengan aksinya. Marry terus mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata tanpa berhenti, lalu tak lama terdengar suara tembakan pistol di udara, membuat Marry kembali melirik ke spion kaca mobilnya. Keningnya terlipat kesal, terlihat di belakangnya ada lima orang pengendara motor dengan pakaian yang tertutup rapat, tentu saja dengan pengamanan terbaik pula. Sepertinya para pengendara itu juga orang-orang Sawamura, ckck … Sawamura benar-benar mengejarnya dengan gila. Marry terus melaju kencang, berusaha menjauh, tetapi apa daya, secepat-cepatnya mobil, tetap akan kalah lincah dengan motor. Suasana hatinya bertambah buruk, ditambah, sekeras apa pun dia melupakan rasa nyeri di tulang bahunya, rasa sakit itu tetap ada dan tidak memudar sama sekali. Mata Marry menatap tajam ke depan, melihat jurang di samping pembatas jalanan. Apa yang kalian pikirkan sekarang? Berpikir bahwa Marry akan menerabas pembatas jalan tersebut dengan rasa nekat? Tentu saja iya, tidak salah. Gila memang, tetapi tidak ada Mafia yang tidak gila di dunia ini. Semenjak awal bergabung dan menerima dirinya sebagai anggota Black Shadow, Marry juga secara otomatis telah merelakan akal warasnya, terutama perasaan takut. Hatinya terlalu hambar untuk merasakan sensasi ketakutan. Seluruh pengguna jalan kembali dikejutkan dengan Marry, mobil yang Marry kendarai terus melaju tanpa henti dengan kecepatan tinggi dan menerabas pembatas jalan antara jalan raya dan jurang. Kelima pengendara motor itu segera berhenti, menatap kaget ke arah jurang. Mata mereka tajam memperhatikan mobil yang Marry kendarai, mobil itu kini telah terjun bebas ke jurang, sesekali menabrak pohon, membuat suara benturan kasar yang keras. Sampai akhirnya ke ujung jurang, suara ledakan mobil terdengar sangat nyaring, semua orang segera berlari ke pembatas jalan yang hancur, sementara lima pengendara motor itu segera melajukan motor mereka menjauh dari tempat kejadian. Semua orang ribut, berteriak meminta tolong untuk segera menelepon 911. Sementara itu, Marry saat ini tengah berpegangan erat di bebatuan dinding jurang. Napasnya terengah-engah, tatapan mata Marry dingin sempurna menatap ke atas, darah segar mengalir pelan keluar dari pelipis kepalanya, tangan kiri dan kanannya dia paksa untuk tetap bertahan, terutama tangan kanan, tangan kanan milik Marry sudah mulai bergetar. Marry menggertakkan giginya, berusaha menahan rasa sakit di tulang pundak tangan kanannya. Marry brusaha memencet anting kanannya, setelah berhasil, sambungan telepon otomatis segera terhubung ke Diandra. “Aku akan mengirimkan lokasinya, kau segera siapkan helikopter untuk menjemputku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN