14. Flashback Marry 2

1596 Kata
“Anak itu adalah putri kandung pasangan William dan Maria?” tanya salah satu rekan misi Ivana, sambil menatap Marry. Vivian yang mendengar ini mengangguk. “Ya, dua pasangan gila itu meninggalkan putri yang cantik seperti ini ke neraka.” “Big Papa sudah tahu tentang kematian mereka berdua?” tanya orang itu lagi, membuat Vivian menggelengkan kepalanya. “Tidak, Big Papa belum mengetahuinya.” Orang itu menganggukkan kepalanya mengerti. “Kalau begitu, segera kau masuk dan jelaskan semuanya kepada Big Papa, biar aku yang akan mengurus anak ini.” Vivian balas mengangguk juga. “Baiklah.” Kemudian Vivian hendak mengambil tas AQM-304 dari pelukan Marry, Marry yang melihat ini tentu saja langsung mengeratkan pelukannya kepada tas tersebut, tidak membiarkan Vivian mengambil tasnya begitu saja. “Mengapa kau menahannya?” tanya Vivian, menatap Marry bingung. Marry menggelengkan kepalanya, menatap Vivian tanpa rasa takut. “Ibu dan ayah berpesan bahwa aku tidak boleh memberikan tas ini ke orang lain, kecuali kepada pria yang bernama Big Papa. Kata ibu, dia bisa menolongku, dan kata ayah, dia bisa melindungiku.” Vivian dan pria di sebelahnya tertegun, kemudian pria itu tersenyum tipis dan berjongkok di depan Marry, telapak tangannya bergerak mengelus kepala Marry. “Hei, bocah. Ini adalah markas divisi utama Black Shadow, kau tidak perlu ragu atau takut lagi. Kau tahu? Pria bernama Big Papa yang tadi kau sebutkan itu ada di gedung ini. Dan kita berdua adalah anak buahnya, begitu juga dengan mendiang kedua orang tuamu, William dan Maria.” “Benar, Marry. Kau tidak perlu merasa ragu atau takut lagi sekarang, karena kau sudah berada di tempat yang aman. Jika kau merasakan sesuatu yang mencurigakan, sebagai anak dari anggota kelas ‘sss’ yang sangat berjasa, kau boleh membunuh orang yang kau curigai, loh….” Di akhir kalimat, Vivian mengecilkan suaranya, lalu tersenyum, senyuman Vivian tak pernah gagal untuk membuat Marry merinding. “Jangan tersenyum seperti itu, Vivian. Wajahmu terlihat menyeramkan jika tersenyum,” ucap pria yang berada di sampingnya, membuat Vivian terkekeh. “Padahal aku ini wanita cantik, bisa-bisanya mendapatkan cemoohan seperti itu.” “Mungkin karena kau sudah terlalu lama di Black Shadow, makanya aura gelap dan jahat selalu mengelilingimu. Jangankan tersenyum, lirikan matamu saja sudah terlihat sangat berbisa, seperti ular,” balas pria tersebut. “Dari pada kau banyak bicara, lebih baik segera membawa Marry menemui Ivana anakku. Mereka pasti dapat menjadi teman yang baik,” ujar Ivana, berhenti sejenak untuk mmeberi jeda, melirik Marry dan melanjutkan,”Kau dan Ivana pasti akan menjadi teman yang sangat baik, putriku mirip seperti diriku, kau tidak akan kesulitan atau merasa bosan saat bermain dengannya.” Pria yang tadi berjongkok di depan Marry, kini mengulurkan telapak tangannya. “Nah, sekarang ayo berikan aku tas itu. Tidak perlu ada yang kau ragukan, setelah ini besoknya kita akan secara diam-diam datang ke pemakaman kedua orang tuamu. Karena mereka berdua masuk ke dalam golongan orang elite Black Shadow, tentu saja pemakaman dan kematian mereka akan dikenang secara terhormat.” Marry menatap pria tersebut ragu, namun mau tidak mau akhirnya Marry menyerahkan tas AQM-304 tersebut ke telapak tangannya. Pria tersebut menggenggam tas AQM-304, lalu dia serahkan ke Vivian. Vivian tersenyum, mengangguk pelan, lalu tangannya mengusap lembut kepala Marry. “Kalau begitu, aku akan menemui Big Papa terlebih dahulu. Bermainlah yang akur bersama Ivana, setelah selesai menemui Big Papa, aku berjanji akan menemui kalian.” “Apa … apa aku boleh bertemu dengan Big Papa?” tanya Marry, menatap Vivian dengan penuh harap. Matanya yang sembab karena baru saja menangis hebat sangat menyentuh hati Vivian. Vivian menghela napas, mengusap dadanya menggunakan tangan kirinya. “Astaga … bagaimana bisa mereka meninggalkan putri yang imut begini?” lalu Vivian beralih menatap Marry lagi. “Maaf, Marry sayang. Saat ini kau belum bisa bertemu dengan Big Papa, ketika kau akan beranjak dewasa dan siap menjadi Black Shadow, kau pasti akan bertemu dengan Big Papa.” “Apa … apa tidak masalah jika aku tidak menemuinya? Apa Big Papa akan tetap melindungiku walaupun aku tidak menemuinya?” tanya Marry lagi, matanya kembali memerah dan berkaca-kaca, takut jika tidak ada yang melindunginya. Ibu dan ayahnya berkata bahwa Big Papa akan melindunginya, hal ini membuat Marry sangat bergantung dan berharap kepada Big Papa. Memikirkan Big Papa adalah satu-satunya perisai pelindung dirinya, setelah kedua orang tuanya tiada. Pria yang tadi berjongkok di depan Marry, kini beralih berdiri sambil menggendong Marry ke dalam pelukannya. “Tenang saja, Big Papa akan melindungimu. Tidak hanya Big Papa, tetapi aku dan Vivian akan melindungimu.” “Ah … ya, namaku Vasco, salam kenal, Marry. Aku berutang budi kepada ayahmu, William. Aku akan menjagamu untuknya setelah ini, kau tidak perlu khawatir,” sambung Vasco. Setelah Vivian pergi meninggalkan mereka untuk menemui Big Papa, Vasco segera membawanya pergi entah kemana. Marry dibawa Vasco masuk ke dalam ruangan yang berisi banyak sekali mainan seperti boneka. Tetapi … rasanya agak horror, karena rupa seluruh boneka itu terlihat menakutkan, membuat Marry menegang dan memeluk Vasco erat. “Hallo, Ivana,” sapa Vasco kepada anak perempuan yang tengah berjongkok di pojok ruangan. Anak itu segera menoleh ke belakang, tatapan matanya dingin dan tajam, tetapi kemudian dia tersenyum lebar dan hangat. “Paman Vasco!” seru Ivana ketika melihat Vasco, dia segera berdiri dan berlari menghampiri Vasco. Ketika melihat Marry, Ivana terdiam dan memperhatikan Marry. Marry yang ditatap sangat lekat oleh Ivana merasa tidak nyaman, pelukannya kepada Vasco semakin erat. “Kamu … siapa?” tanya Ivana, menatap Marry, setelah itu beralih menatap Vasco dan bertanya,”Paman Vasco, dia siapa?” Vasco tersenyum tipis, kemudian menurunkan Marry dari gendongannya. Awalnya Marry merasa enggan untuk turun dari gendongan Vasco, tetapi mau tidak mau akhirnya dia turun dari gendongan. Marry dan Ivana berhadapan, mata mereka berdua saling menatap. “Nah, Marry, sekarang kau perkenalkan dirimu. Seperti siapa kedua orang tuamu, dan namamu! Dengan saling berkenalan, kalian berdua akan saling mengenal,” ucap Vasco. Marry diam, dia tidak mengeluarkan sepata kata pun, dia entah mengapa merasa takut dengan Ivana. Tetapi tak lama kemudian Ivana mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum manis. “Aku Ivana, ibuku adalah Vivian, anggota ‘sss’ Black Shadow. Bagaimana denganmu?” Marry menatap uluran tangan Ivana, lalu dengan ragu membalas uluran tangan Ivana dan saling berjabat tangan. “Namaku … namaku Marry, ibuku adalah Maria dan ayahku adalah William.” Ivana yang mendengar ini tertegun. “Tante Maria dan Om William? Aku mengenal mereka! Mereka mengajarkanku bermain pisau satu minggu yang lalu!” “Ivana!” tegur Vasco tiba-tiba, membuat Ivana menatap Vasco kesal, sedangkan Marry merasa bingung. Kedua orang tuanya mengajarkan anak itu bermain pisau? Bukankah mereka sendiri yang juga melarang dirinya bermain pisau? “Ck, mengapa begitu, sih? Bukankah dia adalah anak dari tante Maria dan om William? Ada apa? Seperti dia adalah orang luar saja,” ujar Ivana kesal. Vasco yang mendengar ini menepuk jidatnya. “Bukan begitu, kau dan Maria itu berbeda. Jadi jangan mengucapkan sesuatu yang tidak mungkin anak seusiamu lakukan.” “Memangnya anak seusiaku biasanya melakukan hal apa saja? Paman Vasco bodoh,” balas Ivana sambil mendengus kecil. “Baikalah, lupakan saja. Sekarang bukankah lebih baik kalian berdua bermain bersama?” ujar Vasco, ingin buru-buru mengganti topik pembicaraan. Ivana memutar bola matanya jengah, lalu kembali menatap Marry dan menggenggam tangan Marry. “Hei, mainan seperti apa yang kau suka? Petak umpet? Guru-guruan? Rumah-rumahan? Atau dokter-dokteran? Kalau aku, sih … dokter-dokteran!” Marry yang mendengar ini tersenyum, senyumannya terlihat sangat terpaksa. “Aku … aku apa saja.” Ivana menganggukan kepalanya. “Oh, begitu? Kalau begitu baiklah, kita akan bermain dokter-dokteran. Marry, bagaimana jika aku ceritanya menjadi suster pribadiku? Kebetulan sebelum kau datang aku tengah bermain dokter-dokteran sendirian, sekarang aku merasa senang karena memiliki teman bermain.” Marry mencoba tersenyum tulus kali ini, menurutnya Ivana ternyata tidak seseram yang ada di pikirannya. Ivana terlihat seperti anak sepuluh tahun pada umumnya. “Ya,” jawanb Marry sambil menganggukkan kepalanya pelan. Vasco yang melihat Marry dan Ivana mulai saling terbuka dan bersedia bermain bersama, pria itu segera berkata,”Kalau begitu, aku keluar dulu, ya. Masih ada urusan yang harus aku tangani, kalian bermainlah baik-baik.” Lalu Vasco berbalik dan berjalan keluar ruangan. Ivana dan Marry melambaikan tangannya ke arah Vasco, setelah itu Ivana menarik tangan Marry. “Marry, kemari, ayo. Aku tadi sedang mengoperasi pasien baru, karena kau suster pribadiku, kau harus berada di sampingku selama operasi.” Marry yang mendengar ini mengangguk, lalu berjalan mengikuti Ivana. Setelah sampai di pojok ruanga tempat Ivana berjongkok sebelumnya, Marry mengerutkan keningnya. “Di amna pasiennya? Apakah aku harus mengambil salah satu boneka dulu?” Ivana yang mendengar ini terdiam, membuat Marry bingung, lalu tak lama kemudian Ivana tertawa. “Ivana, ada apa?” tanya Marry, keningnya mengerut heran. Ivana masih terus tertawa, sampai tak lama kemudian, anak kecil itu berhenti dari tawanya dan menjawab,”Marry, bagaimana mungkin ada boneka yang dioperasi? Operasi yang berlaku untuk makhluk hidup.” “Maksudmu?” tanya Marry. Ivana tidak menjawab, anak kecil itu kini beralih berjongkok dan membuka kotak yang ditutupi oleh kain. Saat kain itu dibuka, Marry terkejut bukan main. “Nah, Marry, kelabang dan kecoa ini adalah pasien kita. Aku menemukan mereka sekarat di lantai bawah tiga jam yang lalu,” ujar Ivana dengan bibir tersenyum. Marry lemas, anak itu jatuh duduk di lantai dengan wajah pucat. Anak kecil mana yang tidak takut dengan kecoa dan kelabang? Tetapi … Ivana…. Ivana yang melihat Marry hanya diam segera mengerutkan keningnya, lalu segera mengguncang pelan bahu Marry. “Marry, kau tidak kenapa-kenapa?” “Marry?” “Marry, jawab aku! Kau kenapa?” “Paman Vasco! Marry mendadak bisu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN