13. Flashback Marry

1104 Kata
Marry saat ini tengah mengendarai mobil milik Ivana menuju markas divisi kelima. Kali ini dia mengendarai mobil dengan santai dan mentaati peraturan rambu lalu lintas, tidak berani menarik perhatian polisi lebih dalam lagi. Tetapi, entah bagaimana jika Sawamura justru yang menyadarinya. Karena mau sepelan apa pun dirinya mengendarai mobil, kelompok s****n itu sudah pasti akan menemuinya. Namun kali ini dirinya beruntung, perjalanannya berjalan lancar. Setelah memakan waktu hingga satu setengah jam, akhirnya Marry tiba di markas divisi kelima. Letak markas satu dengan yang lainnya memang memiliki jarak yang cukup jauh. “Marry, anggota sss divisi utama,” ucap Marry saat dia diicegah masuk ke dalam ruangan pribadi yang terlihat tertutup dan sangat dijaga. Dua orang yang menjaga pintu masuk tertegun. Anggota divisi utama dengan gelar ‘sss’? “Maafkan kami, silahkan masuk,” ucap salah satu penjaga pintu, mereka berdua sempat membungkuk singkat, lalu bergegas membuka pintu ruangan untuk Marry. Tanpa banyak bicara, Marry segera berjalan masuk dengan membawa tas kecil di tangannya. “Di mana Ivana?” tanya Big Papa begitu menoleh dan melihat Marry, bukan Ivana. Ivana menggelengkan kepalanya pelan. “Wanita itu saat ini tidak dapat keluar sembarangan karena baru saja melakukan eksperimen kepada kulit tubuhnya sendiri. Dia berkata kulitnya tidak boleh terpapar sinar matahari terlalu lama atau terkena hembusan angin luar.” Big Papa mengangguk mengerti, lalu segera bertanya,”Lalu di mana obat kecil itu?” Marry yang mendengar ini segera memberikan botol kecil yang berisi obat tersebut kepada Big Papa, entah obat apa lagi itu kali ini. Black Shadow terlalu gila menciptakan obat-obatan ilegal. “Jika tidak ada urusan lagi, aku pamit undur diri,” ucap Marry, lalu bergegas keluar ruangan, namun Big Papa tiba-tiba berkata,”Pihak Italia meminta proses nark**a itu dipercepat.” Marry yang mendengar ini langsung meghentikan gerakan kakin ya, mengangkat sedikit asli kirinya dan menatap Big Papa. “Kapan deadline yang mereka inginkan?” “Satu minggu, dan sudah dihitung dari hari ini,” jawab Big Papa sambil membuka tutup botol obat tersebut. Marrya mengerutkan keningnya sulit. “Terlalu gila, Big Papa. Sawamura ketat mengejar kita.” “Halalkan segala cara, Marry. Kita tidak boleh mengecewakan klien, dan lagi, pihak Italia bukanlah klien biasa. Mereka memegang kartu kematian Black Shadow,” balas Big Papa. Marry termenung sejenak, kemudian mengangguk singkat dan menjawab,”Baik, aku akan berusaha lebih lagi.” “Kali ini kau harus membuktikan bahwa kau adalah seorang Black Shadow, Marry. Sawamura adalah masalah kecil, bantai mereka semua. Jangan pedulikan polisi, itu mudah aku urus,” ucap Big Papa, tersenyum ke arah Marry. Marry menatap wajah Big Papa yang tersenyum datar, setelah itu mengangguk singkat tanpa menjawab dan segera berjalan keluar ruangan. Satu minggu … itu terlalu singkat untuknya, tetapi jika dia berusaha lebih keras lagi, mungkin satu minggu akan menjadi lebih dari cukup. Marry menggunakan masker penutup wajahnya kembali sebelum berjalan keluar dari gedung markas. Saat sudah di dalam mobil, tanpa berlama-lama, wanita itu segera menekan pedal gas mobilnya dan meninggalkan lapangan parkir divisi kelima. Selama di perjalanan, Marry memikirkan banyak hal. Entah itu AQM-304, Sawamura, dan tragedi masa kecilnya yang berkaitan dengan dua hal tersebut. Sebenarnya Marry merasa ragu dan enggan untuk bertemu n*****a itu lagi, bohong jika Marry mengatakan bahwa dia sudah lupa sepenuhnya dengan tragedi itu. Wajah kedua orang tuanya yang terlihat pucat, khawatir, dan nada bicara memohon serta bergetar mereka, masih terekam jelas di otak Marry. Malam itu, seandainya dia bisa membunuh mereka, pasti kedua orang tuanya masih ada sampai sekarang. Sayangnya saat itu dia masih berumur sepuluh tahun, anak kecil biasa yang tidak dapat melakukan apa pun di situasi genting seperti itu. Bibir Marry tersenyum miris, mengingat kejadian tersebut di masa lalu. ***** *Flashback* Selesai berhasil melarikan diri dari rumahnya, di tengah jalan menuju markas, Marry kecil bertemu dengan wanita yang mengenakan kemeja berwarna kuning. “Kamu anak dari pasangan William dan Maria?” tanya wanita kemeja kuning tersebut. Marry saat melihat wanita tersebut langsung gemetar ketakutan, tangannya memeluk tas AQM-304 lebih erat lagi, lalu menganggukkan kepalanya kecil dengan wajah menahan tangis. “Mm.” Saat Marry menjawab demikian, wanita berkemeja kuning tersebut tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Marry. “Bagus, aku Vivian, rekan kerja kedua orang tuamu. Aku kemari atas permintaan mereka untuk menjaga sesuatu, ternyata itu adalah dirimu dan benda itu, ya?” mata Vivian melirik sekilas ke arah tas AQM-304, kemudian dia mengangkat tubuh Marry dan menggendongnya. “Kau aman sekarang,” ucap Vivian, lalu memasukkan Marry ke dalam mobil di kursi depan. Marry menatap Vivian erat, takut. Selesai menaruh Marry di kursi kanan, Vivian segera menutup pintu mobil dan beralih berjalan menuju pintu mobil sebelah kiri. Di tengah-tengah menuju pintu kiri mobil, tiba-tiba ada peluru melesat dan mengenai kaca jendela depan mobil. Track! Marry terkejut bukan main, dia segera meringkuk dan memeluk tas AQM-304 jauh lebih eratm jantungnya kembali berdebar ketakutan. Air mata yang tadi Marry tahan saat ketakutan melihat Vivian, kini langsung menetes. Isak tangis Marry terdengar, Vivian tanpa berbasa-basi segera berlari dan masuk ke dalam mobil. “Pegang ini, tembak mereka jika kau melihatnya,” ucap Vivian sambil melemparkan pistol ke arah Marry. Marry tertegun, menatapa pistol itu ragu dan takut. “Tapi….” “Kau pasti bisa mengguanakannya, anakku juga seumuran denganmu, dia sudah pandai menggunakannya, seharusnya kau juga bisa karena mengandung darah pasangan William dan Maria,” selak Vivian, lalu dengan cepat segera menginjak pedal gas. Mereka melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tangan Marry gemetar memegang pistol tersebut, wajahnya pucat dua kali lipat. Anak sepuluh tahun sepertinya sudah memegang pistol? Ini adalah tindak ilegal. Lima belas menit mereka berusaha melarikan diri dari Sawamura hingga membuat keributan kecil di jalan raya, tidak sedikit pengguna jalan yang terkejut karena ulah Vivian. Vivian sesekali melirik ke arah spion kaca mobil, tersenyum tipis saat lirikannya yang kali ini tidak menemukan Sawamura. “Berhasil,” ucapnya pelan, lalu kecepatan mobil segera melaju dengan normal. Marry sedari tadi hanya diam membeku, memegang pistol yang tidak dia gunakan sama sekali. Vivian sekilas mleirik Marry, tersenyum tipis dan berkata,”Apa yang kau pikirkan?” “Takut,” jawab Marry singkat. “Takut? Untuk apa? Kau aman bersamaku,” balas Marry. Vivian tersenyum tipis. “Mulai saat ini, kau harus menghilangkan rasa takutmu. Kau tahu? Orang tuamu jauh lebih gila dari ini, dan juga, mungkin ini sulit untuk diterima oleh anak kecil, tetapi … kau harus melupakan orang tuamu.” “Willian dan Maria, mereka adalah teman baikku. Kami pernah menjalani misi bersama, menghadapi malaikat maut yang hampir mengambil nyawa kami. Untuk mereka berdua, aku berjanji akan merawatmu. Kamu juga bisa berteman dengan putriku, dia sesusiamu, namanya adalah Ivana,” sambung Vivian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN