12. Anggota Spesial

1154 Kata
“Sebaiknya untuk saat ini kau tidak lebih dulu berangkat ke Italia, keadaannya masih sedikit mengkhawatirkan. Jika mereka melakukan sesuatu saat kau berada di luar, itu akan merepotkan. Lebih baik simpan dan jaga dulu barang itu, kita fokus mengurus Sawamura,” ujar Big Papa melalui panggilan telepon. Marry yang mendengar ini mengangguk. “Baik, aku mengerti.” “Aku dengar dari-“ belum selesai Big Papa bicara, Marry sudah langsung menyelak karena sudah tahu kiranya apa yang ingin Big Papa katakana. “Benar, dan itu salahku karena ceroboh, aku bersedia menerima hukuman.” Hening sejenak, namun tak lama kemudian terdengar suara Big Papa yang terkekeh pelan. Suara kekehannya sama sekali tidak menghilangkan suasana tegang, tetapi justru malah meningkatkan suasana tegang. “Marry, kau ceroboh,” ucap Big Papa. Marry mengerutkan keningnya, lalu diam-diam memijit pelipis kepalanya dan menjawab,”Ya, aku akan segera mengambil hukuman. Masalah para polisi itu, biarkan aku yang mengurus, tidak perlu melibatkan dirimu atau Diandra.” Big Papa yang mendengar ini menganggukkan kepalanya di seberang sana, lalu menjawab,”Baiklah, atur semaumu, aku percaya padamu. Tetapi, pastikan kali ini kau tidak melakukan tindakan ceroboh lagi, Marry. Belakangan ini aku perhatikan kau selalu melakukan tindakan ceroboh yang tidak berguna.” “Ya, maafkan aku,” jawab Marry. Big Papa tertawa pelan, membuat Marry memutar bola matanya jengah. Mengapa pria tua itu selalu tertawa dan tersenyum tanpa sebab? Seperti orang yang mengalami gangguan jiwa, hal ini juga terjadi kepada Ivana. Jika mereka berdua bertemu, mereka sering sekali melemparkan tatapan dan senyum atau tiba-tiba tertawa pelan dengan sejuta arti tersirat. Menghadapi mereka lebih menjengkelkan dari pada menghadapi musuh manapun. “Kalau begitu aku matikan sambungannya, lebih baik sekarang kau urus masalah Sawamura, lupakan polisi. Untuk kali ini aku akan memberi sedikit bantuan kepadamu, jadi jangan pedulikan para polisi itu,” ujar Big Papa. “Mengapa tidak Diandra saja yang kau perintahkan untuk mengurus barang ini? Wanita itu juga sepertinya bisa, aku terlalu bentrok dengan barang ini. Situasiku sulit,” balas Marry, kali ini dia mencoba bertanya. Mengapa harus dirinya? Diandra pun tidak buruk dan wanita itu pasti sanggup menyelesaikan misi seperti ini. Hening sejenak, Big Papa tidak langsung menajwab. Tetapi, tak lama kemudian terdengar pria tua itu mulai menjawab. “Marry, apa kau tahu? Misi spesial hanya bisa dilakukan oleh anggota yang spesial. Kau bukan hanya anggota sss biasa, tapi kau masuk ke dalam kelompok asset serta s*****a kesayanganku.” Marry mengerutkan keningnya lagi, kali ini raut wajahnya terlihat menyebalkan. “Spesial apa pun itu, aku tidak peduli, hanya omong kosong. Baiklah, panggilannya aku matikan sekarang.” Suara tawa Big Papa terdengar begitu Marry selesai menjawab ucapannya. “Baiklah, sampai bertemu kembali. Aku mungkin untuk saat ini akan berdiam diri di markas divisi kelima karena masalah serius, jadi katakana kepada Ivana untuk menjaga divisi utama selagi kau dan Diandra sibuk.” “Ya, aku mengerti,” jawab Marry, lalu langsung mematikan sambungan teleponnya. Marry melmepar ponselnya ke kasur, lalu gantian melempar tubuhnya ke kasur. Menghela napas, matanya menatap langit-langit kamar dengan dingin dan sulit. Otaknya berkelana kemana-mana, sibuk memikirkan ini dan itu. Bagaimana jika dirinya bukanlah seorang Mafia? Bagaimana jika dirinya adalah manusia yang memiliki keseharian biasa? Seperti apa hidupnya? Apakah akan seperti orang-orang biasanya? Pagi bekerja, sore hari pulang, berbelanja, memasak santai, membaca majalah atau menonton televise dengan santai ditemani oleh segelas cokelat panas, apakah akan sedamai itu? Kehidupan tanpa k*******n, saling membunuh, dikelilingi musuh dan n*****a. Apakah jika dia adalah orang biasa hidupnya akan sedamai itu? Marry memejamkan matanya, tersenyum tipis. Konyol. Apa yang baru saja dia pikirkan? Kehidupan bebas dan damai? Itu tidak akan pernah terjadi, mimpi dan khayalannya terlalu tinggi. Takdirnya sudah sangat suram, sulit untuk dirubah dan dibersihkan. Mengingat ucapan Diandra, bahkan setelah kita berusaha menghilangkan noda hitam masa lalu yang sudah terlanjur sangat pekat, noda itu tidak seratus persen hilang. Pasti masih memiliki noda samar dan meninggalkan jejak. Tok … Tok … Tok …. Suara ketukan pintu terdengar, membuat Marry menghela napasnya gusar. Baru dua puluh menit dia berada di dalam kamarnya, namun kali ini sudah ada orang yang mengetuk kamarnya. Siapapun yang mendatangi dirinya, sudah pasti dia membawa masalah. Ck, jika bukan Diandra, maka yang mengetuk pintu tersebut adalah Ivana. Hanya dua orang itu yang selalu mengusik kehidupan tenangnya. “Masuk, cepat jika keperluanmu tidak penting. Aku ingin cepat-cepat tidur agar dapat mengurus masalah tiada henti ini,” jawab Marry. Tak lama pintu terbuka, terlihat Ivana muncul dengan senyumannya. “Kau sibuk, Marrya?” tanya Ivana. Marry yang mendengar ini menjawab singkat. “Ya, sangat sibuk.” Ivana terkekeh, lalu berjalan mendekati Marry dan duduk di tepi kasur. “Aish, lebih dari sepuluh tahun kita berteman, dan lebih dari ribuan kali kita dihadapkan masalah antara hidup dan mati, kau masih bersikap seperti ini kepadaku?” “Berhenti membuang-buang waktu dengan ucapanmu yang tidak jelas, Ivana. Katakan inti dari apa yang ingin kau katakana,” balas Marry malas, lalu wanita itu segera mengambil sikap duduk sambil bersender ke dipan ranjang. “Big Papa memintaku untuk mengantarkan obat ini,” ucap Ivana, lalu mengeluarkan botol kecil yang berisi cairan berwarna hijau. Marry yang melihat ini menaikkan alis kirinya. “Lalu?” “Aku butuh bantuanmu untuk mengantarkan obat ini ke tempat Big Papa, divisi kelima. Saat ini aku tidak bisa kemana-mana, Marry. Aku sedang melakukan eksperimen kepada kulit tubuhku,” jawab Ivana. “Eksperimen macam apa?” tanya Marry. “Kau akan mengetahuinya nanti setelah eksperimen selesai, aku mungkin juga akan menawarkan benda itu kepadamu jika kau menginginkannya. Intinya, aku tidak dapat keluar untuk sekarang, kulit tubuhnya tidak boleh terkena angin luar sembarangan,” jawab Ivana. “Mengapa kau tidak meminta bantuan anggota lain saja? Kita memiliki lebih dari dua ratus ribu anggota, mengapa aku yang selalu repot dengan barang-barang yang kau buat?” tanya Marry lagi, kali ini raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang lebih terlihat. Ivana menaikkan alis kirinya, balas menatap kesal Marry. Tangan kanannya yang memegang botol kecil itu mengocok pelan botol tersebut. “Kau pikir ini obat apa, Marry? Ini bukan sembarang obat.” Marry yang mendengar ini menghela napas, mengangguk, kemudian mengambil botol kecil tersebut secara cepat dari tangan Ivana. “Kau yang memarahiku karena aku tidak berhati-hati dan tidak banyak berdiam diri di markas saat sedang melakukan proses penyembuhan tulang bahu, namun saat ini kau juga yang merepotkanku. Ivana, seharusnya kau membayarku seribu dolar untuk ini.” Ivana terkekeh. “Seribu dollar? Kau ini bicara apa, hanya untuk mengantarkan obat itu kau meminta bayaran seribu dollar?” Marry memutar bola matanya jengah. “Kau pikir aku ini anggota dengan gelar apa, Ivana? Dan kau pikir, obat yang sedang aku antarkan ini adalah obat sembarangan?” tanya Marry, mengembalikan ucapan Ivana yang barusan. Ivana terkekeh lagi. “Baiklah, akan aku bayar seribu dollar.” Marry mengangguk, bibirnya tersenyum tipis, lalu setelah itu dia berkata,”Entah masalah apa yang akan menimpaku saat keluar nanti. Memancing perhatian polisi terlalu sering bukanlah hal yang baik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN