Suasana kini menjadi ribut, beberapa penghuni kafe bahkan ada yang sampai melontarkan beberapa ucapan kasar kepada dua anggota polisi tersebut. Marry tersenyum tipis, kemudian hendak berjalan keluar kafe, namun anggota kepolisian tersebut menahannya. “Nyonya, tunggu sebentar."
Marry menoleh, lalu sedidikit menurunkan kaca matanya sedikit untuk memperlihatkan tatapan tajam matanya. “Apa? Anda ingin menghentikanku lagi? Pak, percayalah, perasaanku telah menjadi lebih buruk dari pada yang sebelumnya. Sungguh, ucapan rekanmu sangat menyakiti perasaanku. Aku tidak bertanggung jawab jika ada rekaman kejadian barusan tersebar dan mempengaruhi posisi kalian saat ini.”
Kedua petugas kepolisian itu tertegun, kemudian pria kepolisian yang tadi menghentikan langkah kakinya pun menjawab,”Tidak, nyonya, kami tidak bermaksud untuk melukai hati anda. Rekanku yang ini adalah anak baru, jadi lebih sembrono dan agresif saat bertugas. Atas namanya, saya memohon maaf kepada anda, maaf telah melukai perasaan anda.” Kemudain pria itu menarik temannya dan memaksa dia untuk membungkuk ke arah Marry. Marry tersenyum tipis, kemudian mengangguk. “Ya, aku akan memaafkan kalian. Tetapi sungguh, aku tidak akan melupakan kajadian memalukan dan menyakitkan yang diberikan oleh petugas kepolisian yang terhormat!” lalu Marry berjalan keluar kafe, meninggalkan kafe tersebut dengan lancar. Mulus, aksi kaburnya berjalan mulus.
“Sekali lagi kami meminta maaf, kami sangat menyesal. Semoga kandungan anda sehat dan-“ saat petugas kepolisian itu kembali bicara setelah menegakkan badannya kembali, tiba-tiba ada satu bungkusan plastik yang berisi seperti butiran gula yang jatuh dari baju Marry.
Puk!
Kedua anggota polisi itu terdiam, memperhatikan bungkusan plastic tersebut, sedangkan Marry membelalakkan matanya dan segera mengambil bungkusan n*****a tersebut. Marry kemudian menoleh ke arah mereka berdua, setelah itu menyeringai tipis. “Ups.”
Petugas kepolisian yang Marry pukul bereaksi lebih dulu dengan berseru,”s****n! Sudah aku duga dia!-“
Dor!
Marry mengeluarkan pistol dari kantung jaketnya, setelah itu menembakkan peluru tepat di depan kaki kedua petugas kepolisian tersebut, membuat mereka terpaksa melompat mundur dengan terkejut. Marry tertawa pelan, lalu berlari menjauhi kafe menuju mobilnya. Marry berlari secepat mungkin, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan dengan terburu-buru menyalakan mesin serta memasukkan AQM-304 kembali ke dalam tas.
Tepat saat itu, Marry melihat salah satu petugas kepolisian berlari menghampiri mobilnya, tangannya sudah memegang pistol aktif, sedangkan yang satunya lagi berlari ke arah mobil patroli, seperti setelah ini akan terjadi kekacauan kembali di jalan raya.
Marry mengeluarkan tangannya yang memegang pistol melewati jendela, lalu membidik polisi tersebut.
Dor!
Polisi tersebut terkejut bukan main, dia segera melompat mundur dan menghindari peluru Marry, membuat Marry mendapatkan jalannya kembali untuk kabur. Tanpa banyak basa-basi, Marry segera mnginjak pedal gas. Mobil Marry melaju cepat, meninggalkan parkiran kafe.
Marry terus berusaha melarikan diri dari kejaran polisi, jalan raya kembali kehilangan ketenangannya. Para pengendara dan pejalan kaki kembali mengeluh, mengapa belakangan ini sering kali terjadi kejar-kejaran kasar di jalan raya? Sangat mengganggu pengguna jalan yang lain, entah kriminal mana yang membuat keributan sebesar ini secara terus menerus.
Marry memencet anting kanannya singkat, anting ini sudah dirancang dan dibuat khusus, menghubungkan anggota sss satu dengan anggota sss lainnya. Bentuknya bulat dan kecil, berwarna hitam mengkilap.
“Diandra, di sini Marry,” ucap Marry, nada bicaranya datar, sama sekali tidak menunjukkan bahwa sebenarnya saat ini dia tengah dijekar oleh mobil polisi.
“Ya, menjawab. Ada apa, Marry?” tanya Diandra, beruntung wanita itu menjawab cepat seperti biasanya.
“Dengar, saat ini aku tengah dikejar oleh polisi. Mungkin sekarang masih satu mobil, bisa jadi beberapa menit kemudian bertambah menjadi lima atau tujuh mobil. Bungkus n*****a AQM-304 sudah mereka lihat, kali ini mereka mengejarku bukan menganggapku sebagai pelanggar dan pengacau lalu lintas saja, tetapi juga p**************a,” jawab Marry.
“Si*lan, Marry, kau sama sekali tidak memiliki kabar baik apa pun jika keluar. Lalu, apakah mereka mengetahui bahwa bungkusan n*****a itu adalah jenis n*****a baru yang tidak pihak kepolisian serta hukum tahu?” tanya Diandra. Marry menggelengkan kepalanya. “Tidak, tenang saja. Jadi sekarang, cepat kirim beberapa orang untuk mengacaukan mereka. Mereka terus mengikutiku, mnasalahnya sudah menjadi sangat rumit.”
Dor!
Suara tembakkan terdengar, Marry segera menoleh saat tidak merasakan apa pun yang menabrak mobilnya dnegan peluru.
“Kau bail-baik saja Marry? Aku sedang menuju keluar kamar dan menemui beberapa anggota sekarang. Bisa menunggu sekitar sepuluh menit?” tanya Diandra.
Marry mengangguk lagi. “Ya, aku baik-baik saja, barusan hanya tembakkan peringatan ke udara.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengirim enam orang anggota dengan dua mobil, mereka segera menuju ke arahmu, mengikuti titik dari antingmu,” jawab Diandra.
“Ya, aku tahu.” Lalu Marry segera memencet kembali anting kanannya untuk mematikan sambungan.
Marry kembali fokus menyetir, matanya sesekali melirik ke arah spion kaca mobil. Marry menggertakkan giginya tanpa sadar ketika hampir saja menabrak wanita lansia yang tiba-tiba muncul di hadapan mobilnya. Bunyi klakson mobil lain yang terkejut pun terdengar sangat keras dan saling bersautan, beberapa dari mereka langsung membuka kaca jendela dan mengacungkan jari tengah ke arah mobil Marry.
Marry tidak peduli, wanita itu langsung mengambil arah kanan dan menyalip wanita lansia tersebut, saat melirik kembali ke kaca spion mobil, mobil polisi tersebut sudah hampir sangat dekat dengannya. Beberapa detik kemudian muncul mobil polisi lain dari arah pertigaan sebelah kanan, Marry yang tadinya ingin berbelok ke kanan, kini terpaksa menginjak pedal rem, lalu memutar stir mobilnya ke arah kiri dengan sangat cepat.
Jalanan menjadi lebih kacau saat bus sekolah yang ditumpangi banyak sekali anak-anak terguling, kecelakaan besar terjadi di depan mata. Supir bus tersebut terkejut karena mobil Marry tiba-tiba muncul di depannya dengan kecepatan sangat tinggi, membuatnya banting stir hingga terguling dan menabrak beberapa ruko di samping trotoar.
Marry juga sempat berhenti sejenak, dia tak kalah terkejut dengan supir bus tadi. Dua mobil polisi yang mengejarnya tadi pun segera memberhentikan kejaran mereka dan mulai sibuk mengurus kecelakaan besar bus sekolah. Marry mengerutkan keningnya, hatinya merasa gelisah saat melihat bus besar yang menampung banyak sekali anak-anak lugu tersebut terguling. Namun, Marry segera menepis kasar pikiran gelisahnya, lalu lanjut menginjak pedal gas dan melaju menjauh dari tempat kejadian tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi, menghindari kejaran berikutnya.
Tanpa sadar, di atas atap gedung salah satu restoran besar, terdapat pria yang berdiri di sana sambil mengawasi tentang apa saja yang baru terjadi. Bibirnya menyeringai tipis saat melihat Marry melakukan kejar-kejaran dengan polisi di jalan raya hingga membuat kecelakaan besar bus yang mengangkut puluhan anak sekolah lugu tak berdosa. Kepalanya menggeleng pelan ketika melihat Marry sama sekali tidak tergerak oleh anak-anak kecil yang menjadi korban di pelariannya demi melindungi benda haram tersebut.
“Anda kejam, nona,” ucapnya.