“Kau belum mendengar rahasianya?”
Marry yang mendengar pertanyaan misterius Ivana segera menaikkan alis kirinya. “Rahasia?”
*
Ivana mengangguk. “Rahasia. Kau ingin tahu?”
Marry memutar bola matanya jengah. “Jika itu tidak penting sebaiknya jangan beritahu aku. Aku tidak peduli.”
Ivana tiba-tiba tersenyum semakin dalam, wanita itu pun sampai berhenti di acara menulisnya yang terlihat asik barusan. “Kau yakin tidak ingin mengetahuinya? Ini tentangmu, aku, Diandra, dan penerus posisi penting Big Papa.”
Marry tertegun, lalu menatap datar Ivana. “Memangnya ada apa denganmu, aku, dan Diandra? Apa lagi tentang posisi Big Papa.”
Ivana terkekeh, wanita itu di mata Marry terlalu banyak tertawa dan tersenyum tidak jelas. Sungguh, sepertinya sudah sering sekali Marry mengatakan hal ini di dalam hati dan pikirannya jika melihat Ivana.
“Aku mendengar gosip dari para anggota ‘ss’, katanya kau, aku, dan Diandra dipilih menjadi kandidat penerus posisi Ketua di Black Shadow untuk menggantikan Big Papa. Mereka tidak mungkin berani menyebarkan rumor sembarangan tentang Big Papa, apa lagi untuk penerus posisi Big Papa ‘kan?” jawab Ivana, membuat Marry memutar bola matanya lagi dengan jengah.
“Lalu? Apa hubungannya dengan sikap berlebihan Big Papa?” tanya Marry, matanya menatap kesal Ivana. Ivana yang mendengar Marry malah bertanya segera berdecak kesal. “Ck, masa kau tidak mengerti hal mudah seperti ini, Marry? Big Papa bersikap berlebihan ke kita bertiga itu karena kita menjadi kandidat penerus posisi Big Papa. Tentu saja dari ujung kepala sampai kaki harus baik-baik saja.”
Marry tersenyum tipis, wajahnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak peduli.
“Apa raut wajahku terlihat sedang peduli?” tanya Marry, menatap Ivana. Tak lama setelah dia melontarkan pertanyaan tersebut, pintu ruangan kerja Ivana terbuka, terlihat Diandra berjalan masuk dengan wanita yang tidak asing lagi di mata mereka berdua.
“Hei, lihat siapa tamu spesial yang datang mala mini,” ucap Diandra begitu memasuki ruangan kerja Ivana sambil menutup pintu.
Ivana yang melihat siapa yang Diandra bawa segera tersenyum dan berdiri menghadap Madam Shofia. “Madam Shofia, astaga, sudah lama sekali sejak upcara pensiunanmu.”
Madam Shofia balas tersenyum hangat Ivana dan berusaha untuk mengelus kepala Ivana. “Astaga, lihat, kau bertambah tinggi. Jujur, aku sangat pangling saat melihatmu.”
Lalu mata Madam Shofia melirik Marry yang masih dengan santai bersender di sofa sambil menatap dirinya. Madam Shofia tersenyum lebih dalam dan mengatakan,”Lihat, siapa ini? Ada ratu es yang dingin di sini, dia sepertinya tidak banyak berubah.”
“Ya … seperti itulah Marry, tidak banyak yang berubah. Hidupnya terlihat hambar dan hampa, hanya da warna hitam dan putih,” ucap Ivana, membuat Diandra dan Madam Shofia tertawa, kecuali Marry sendiri.
Marry memutar bola matanya jengah, kemudian kembali fokus menatap Madam Shofia. Raut wajah ketus milik Marry terlihat sedikit melunak saat menatap Madam Shofia. “Bagaimana kabarmu? Sudah muak jalan-jalannya sehingga kembali ke markas?” Marry terkekeh di akhir kalimatnya.
Madam Shofia tetap tersenyum, walaupun pertanyaan Marry terdengar tidak sopan, namun Madam Shofia sama sekali tidak tersinggung karena sudah tahu sikap Marry yang sejak kecil menjadi keras dan ketus karena perubahan pola hidupnya yang berubah drastis.
“Tidak juga, aku belum mengunjungi Mesir dan Indonesia, mungkin lain kali aku akan ke sana jika niatku telah terkumpul. Aku kemari karena merindukan kota asal serta teman-temanku.”
Ivana yang mendengar kalimat akhir Madam Shofia segera teringat akan sesuatu dan berkata,”Oh, ya … bukankah besok adalah hari kematian kedua orang tuamu, Marry? Apakah besok kau akan pergi ke pemakaman?”
Marry yang mendengar pertanyaan Ivana mengangguk singkat, terlihat raut wajahnya berubah menjadi sedikit murung dan dingin. “Ya.”
“Jika sempat,” sambung Marry, membuat Diandra, Madam Shofia, dan Ivana mengerutkan keningnya.
Diandra tersenyum tipis. “Kau tidak perlu sibuk memikirkan Sawamura, Marry.”
“Sawamura? Ada apa dengan orang Jepang itu?” tanya Madam Shofia begitu mendengar apa yang Diandra katakana.
Ivana yang mendengar pertanyaan Madam Shofia segera menjawab,”Belakangan ini terjadi masalah serius antara Sawamura dan Black Shadow. Kau tentu sudah tahu tentang AQM-304 itu, bukan? Yap, mereka berusaha untuk merebut n*****a itu. Marry dikejar secara gila oleh mereka, kacau.”
Sorot mata Madam Shofia berubah menjadi dingin, wanita itu segera berkata,”Sungguh, tidak pernah ada habisnya mereka mencari masalah dengan Black Shadow.” Kemudian mata Madam Shofia kembali melirik Marry, memperhatikan raut wajah Marry yang telah berubah menjadi keras dan dingin. Madam Shofia tahu dan mengerti, sepertinya Marry masih belum sepenuhnya melupakan tragedi pilu masa kecilnya.”
“Lalu bagaimana kelanjutannya sekarang?” tanya Madam Shofia lagi.
Diandra berjalan duduk di sofa yang bersebrangan dengan sofa Marry sambil menjawab,”Rumit. Karena tulang bahu Marry retak, Big Papa melarang dia untuk melawan Sawamura. Namun tetap, Marry yang ditugaskan untuk mengantarkan benda itu ke Italia. Bisa dibilang, aku yang ditugaskan untuk ‘membersihkan jalan’ Marry menuju Italia. Jangan tanyakan mengapa hanya karena tulang bahu retak sehingga Big Papa langsung membatasi pergerakan Marry, karena kami pun tidak tahu. Diacari tahu sendiri pun yang kami dapatkan hanya malah mendengar rumor tidak jelas.”
“Oh, jadi pihak Italia membeli obat terlarang itu?” tanya Madam Shofia, alis kirinya sedikit naik sekilas.
Marry yang sedari tadi hanya diam pun kini mulai bicara, pertama-tama wanita itu menganggukkan kepalanya singkat. “Benar, mau tidak mau kita menjualnya ke Italia, karena mereka memegang kartu kematian Black Shadow.”
Madam Shofia tersenyum tipis. “Duh, kartu kematian, ya? Memang susah jika sudah membahas ini. Data penting seperti itu jika dikirim ke pihak kepolisian sangat berbahaya sekali, mau kemana pun kita pergi, pasti tetap akan tertangkap.”
“Entah anggota mana yang telah melakukan kecerobohan sehingga Italia memiliki kartu kematian Black Shadow,” ucap Diandra dengan nada bicara jengkel.
“Untuk apa memusingkan hal seperti itu sekarang? Bukankah ditransaksi ini juga ada untung bagi Black Shadow selain uang? Kita jadi memiliki data pihak Italia. Jika sewaktu-waktu Black Shadow terendus tentang AQM-304, kita dapat dengan mudah mengopernya ke Italia. Ada caranya, kalian tidak perlu memusingkan hal ini,” ujar Madam Shofia setelah mendengar Diandra terlihat jengkel serta raut wajah Marry dan Ivana yang berubah menjadi dingin.
Marry menganggukkan kepalanya lagi dengan singkat. “Memang benar, tetapi tetap saja merepotkan.”
Ivana menyeringai tipis. “Aku tidak masalah direpotkan, yang terpenting adalah jutaan dollar dengan lancar masuk ke dalam rekeningku setiap bulan. Persetan Sawamura.”
Marry ikut menyeringai saat mendengar ucapan Ivana. “Aku tidak pernah setuju dengan ucapanmu, tetapi yang ini aku setuju.”
Diandra menatap kedua temannya aneh, namun tak lama dia menghela napas tipis dan ikut tersenyum. “Baiklah, biarkan hidup ini berjalan semaunya. Hidup untuk uang dan mati karena takdir.”
Madamm Shofia ikut tersenyum. “Sudah lama sekali aku tidakk melihat kalian tersenyum bersama seperti ini.”