29. Makam Kedua Orang Tua Marry

1164 Kata
“Nona Marry, kemana anda akan pergi?” tanya Jordan ketika melihat rapih memakai baju hitam yang lebih tertutup. Marry hanya melirik Jordan sekilas, tidak menjawabnya. Melihat Marry tidak tertarik menjawabnya, Jordan mengerutkan keningnya bingung. Ada apa? Apakah dirinya melakukan kesalahan kepada Marry? Jordan bertanya-tanya di dalam hati. “Apa aku pernah berbuat kesalahan yang tidak aku sadari kepadamu?” tanya Jordan lagi, tidak menyerah untuk membuat Marry membalas pertanyaannya. Marry menghela napas pelan sambil memakai kacamata hitam di depan cermin. “Hari ini aku harus ke suatu tempat, menemui kedua orang tuaku.” Jordan menganggukkan kepalanya pelan, dia sempat tertegun ketika mendengar bahwa Marry hendak menemui kedua orang tuanya. Berpikir bahwa Marry masih memiliki kedua orang tua walaupun hidup di dalam dunia gelap seperti ini. Marry melirik Jordan sekilas di cermin, lalu dengan samar dia tersenyum tipis dan menawarkan,”Kau mau menemaniku?” Jordan yang mendengar tawaran Marry segera mengangguk. “Tentu saja, aku bersedia. Aku penasaran seperti apa orang tua dari seorang anggota ‘sss’ Black Shadow.” Marry menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu kamarnya untuk keluar. “Orang tua ya orang tua, tidak ada bedanya. Sudah cepat, aku tidak mau terlambat untuk mengunjungi mereka.” Jordan segera berjalan cepat menyusul Marry, seharusnya sekarang saatnya dia melakukan riset ditemani oleh Marry, namun karena hari ini Marry hendak menemui kedua orangtuanya, mungkin tidak apa-apa. Kemarin malam dia sudah bekerja dengan sangat keras, menulis sampai jam tiga pagi, anggap hari ini adalah saatnya dia menenangkan otaknya. “Hai, Marry,” sapa Ivana ketika mereka bertemu di pintu masuk lift. Sepertinya Ivana juga hendak turun ke lantai satu untuk menemui Diandra. Marry hanya melirik Ivana sekilas dan tidak menjawab sapaan wanita itu. “Hendak pergi ke tempat kedua orang tuamu?” tanya Ivana. Marry menganggukkan kepalanya singkat. “Ya, apa kau hendak menemui Diandra?” Kini giliran Ivana yang mengangguk dan menjawab,”Ya, ada urusan yang ingin aku bahas dengan dia.” “Oh.” Marry hanya membalas singkat, tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut. Setelah keluar dari lift, Marry dan Ivana berpisah, sedangkan Jordan mengikuti Marry. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dengan Marry sebagai penyetir, dengan kecepatan sedang mereka menelusuri jalanan kota New York. Kali ini mereka pergi dengan mobil yang berbeda, agar tidak ada anggota Sawamura atau kepolisian yang mengejar mereka. Saat memasuki pintu gerbang pemakaman, kening Jordan mengerut. “Pemakaman?” tanya pria itu. Marry melirik Jordan sekilas, lalu kembali fokus menatap ke depan untuk menyetir dan menjawab. “Ya, kedua orang tuaku telah lama meninggal.” Jordan tertegun. “Sungguh? Maaf, aku tidak tahu. Saat kau berkata ingin mengunjungi kedua orang tuamu, aku kira—“ Belum selesai Jordan bicara, Marry telah memotong cepat. “Ya, tidak masalah. Lagi pula aku pun tidak menceritakan apa pun kepadamu.” Marry memarkirkan mobilnya di pinggiran pemakaman, lalu mereka berdua turun dari mobil. Jordan berjalan di belakang Marry seperti penjaga, sedangkan Marry terus melangkah maju tanpa peduli dengan Jordan. Tak sampai lima menit untuk sampai di pemakaman kedua orang tua Marry, akhirnya mereka sampai. Angin di pemakaman terasa sejuk, mungkin karena masih jam delapan pagi. “Ini makam kedua orang tuamu?” tanya Jordan memastikan, matanya menatap ke batu nisan berbentuk salib. Marry menganggukkan kepalanya singkat. “Ya, ini.” Saat menjawab pertanyaan Jordan, terlihat bibir Marry tersenyum, membuat Jordan yang tidak sengaja melihatnya pun tertegun. Mungkin sebelumnya pria itu sudah pernah melihat senyum Marry, tetapi dia merasa senyum Marry kali ini terlihat berbeda. Kali ini lebih tulus dan lembut, berbeda dengan senyuman-senyuman sebelumnya. Marry meletakkan dua bucket bunga di tanah pemakman kedua orang tuanya, lalu berdiri mematung menatap dua makan yang saling bersebelahan tersebut. “Kedua orang tuamu meninggal sebelas tahun yang lalu?” tanya Jordan setelah melihat tahun kematian yang tertulis di batu nisan kedua orang tua Marry. Dengan tatapan yang terlihat hampa, Marry menjawab,”Ya, hari ini tepat kesebelas tahun kematian mereka.” “Jika aku boleh tahu, apa penyebab kematian orang tuamu?” tanya Jordan, terdengar nada bicaranya menjadi jauh lebih lembut. Tatapan hampa milik Marry yang barusan kini segera berubah menjadi tatapan yang sangat dingin dan penuh dendam. Jordan yang merasakan perubahan emosi di hati Marry pun segera berkata,”Ah … itu … tidak masalah jika kau—“ belum selesai Jordan bicara dengan perasaan yang tidak enak kepada Marry, Marry sudah langsung memotong dan menjawab,”Sawamura.” Jordan tertegun, kemudian dia bertanya lagi,”Sawamura? Jika aku tidak salah, bukankah Sawamura adalah Mafia asal Jepang yang saat ini tengah memiliki konflik serius dengan Black Shadow? Aku mendengar ini dari nona Diandra.” Marry mengangguk lagi. “Ya, selain itu mereka juga bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuaku. Tidak hanya orang tuaku, tetapi juga ibu kandung dari Ivana, Sawamura telah merenggut kebahagiaan dari anak kecil yang tidak mengerti apa pun. Orang-orang menjijikan seperti mereka yang hanya tahu mencari masalah dan merebut tidak akan pernah mengerti. Mereka membunuh kedua orang tuaku di malam itu, aku masih ingat jelas suara tembakkannya.” Tubuh Marry terlihat menegang, bulu di badannya juga segera berdiri, dia merasa merinding setiap kali mengingat tragedi malam itu. Jordan yang melihat Marry sepertinya benar-benar terpukul atas kematian kedua orang tuanya malam itu sampai saat ini segera tanpa sadar menggenggam tangan kanan Marry. Marry yang digenggam pun terkejut, dia segera menoleh dan menatap Jordan. Jordan tersenyum hangat kea rah Marry, lalu berkata,”Sekarang apa sudah terasa lebih baik? Maafkan aku karena memintamu menceritakan kematian kedua orang tuamu. Sepertinya itu adalah ingatan yang buruk, maaf, aku tidak tahu soal itu.” Marry terdiam, ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal lembut sambil tersenyum dan menggenggam tangannya untuk memberikan ketenangan kepadanya. Marry yang masih terdiam tiba-tiba kembali terkejut karena Jordan menariknya ke dalam pelukan pria itu. “Apa pelukan sudah cukup untuk menenangkanmu?” tanya Jordan sambil memeluk Marry. Dor! Tak lama ada suara tembakkan dan peluru yang melesat ke arah mereka, namun meleset dan malah mengenai batu nisan ayah Marry. Marry segera melepas pelukan Jordan, lalu menatap tajam ke arah sekitar, dengan cepat dia langsung menarik tangan Jordan menjauh dari pemakaman. Namun sebelum benar-benar pergi, Marry sempat melirik ke arah batu nisan ayahnya yang retak karena tembakkan peluru, keningnya mengerut tidak senang. Marry dan Jordan masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu Jordan sudah duduk dalam posisi yang benar, wanita itu segera menyalakan mesin mobil dan membanting stir. “Gunakan sabuk pengamanmu,” ucap Marry setelah membanting stir, setelah itu mereka segera meninggalkan wilayah pemakaman dengan kecepatan penuh. “Aku tidak mengerti, dari mana Sawamura mendapatkan informasi tentang keberadaanku,” ucap Marry kesal, matanya menatap tajam ke depan, menerobos lampu merah, kembali membuat keributan di jalan. “Apa mungkin ada pelacak canggih di benda sekitarmu?” tanya Jordan, menebak-nebak menggunakan dugaan paling keren yang biasanya ada di film-film action. Marry segera menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, jika ada aku pasti telah menyadarinya. Karena anggota Black Shadow juga dilatih untuk menyadari adanya benda pelacak sesamar apa pun.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN