“Aku serahkan kepada kalian,” ucap Marry begitu melewati motor besar yang dikendarai oleh wanita. Wanita itu adalah Ana.
“Tentu,” balas Ana singkat. Sebelumnya Marry sempat menghubungi Ana untuk meminta bantuan, karena jika dia kembali turun tangan di pertempuran kali ini, Marry khawatir polisi akan datang dan semakin banyak menemukan jejaknya.
“Sepertinya tadi aku sempat melihat bahwa batu nisan milik ayahmu retak,” ujar Jordan.
Marry melirik Jordann sekilas, lalu menjawab,”Ya, aku tahu. Memangnya kenapa?”
Jordan tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, aku hanya memberitahu. Karena kau terlihat sangat menyayangi kedua orang tuamu, jadi aku pikir pecahnya nisan ayahmu adalah suatu masalah.”
Marry mengangguk singkat. “Ya, memang masalah, tetapi tidak terlalu besar. Aku bisa mengirim orang untuk memperbaikinya.”
Sesampainya di markas, Marry dan Jordan segera berjalan masuk dan menemui Diandra. Saat sampai di ruangan Diandra, mereka berdua melihat Diandra tengah berbincang santai dengan Madam Shofia.
“Sepertinya waktumu sangat luang sehingga dapat mengobrol santai seperti ini, Diandra,” ucap Marry begitu masuk dan duduk di sofa panjang yang berseberangan dengan Diandra, sedangkan Jordan hanya mengikuti Marry.
Diandra dan Madam Shofia segera menoleh ke arah Marry. Diandra mengerutkan keningnya. “Ada apa denganmu?”
Marry menghela napas. “Sawamura sepertinya berhasil menemukanku, dia merusak hari kunjunganku ke makam.”
Berbeda dengan Diandra yang sibuk memperhatikan Marry, Madam Shofia kini sibuk memperhatikan Jordan dari ujung kepala hingga kaki.
“Siapa anak muda ini? Aku baru pertama kali melihatnya,” tanya Madam Shofia dengan bibirnya yang tersenyum manis.
Jordan yang ditanya sekaligus ditatap oleh Madam Shofia segera balas tersenyum dan memperkenalkan dirinya. “Aku Jordan, penulis yang sedang melakukan riset di Black Shadow.”
Saat Madam Shofia mendengar profesi Jordan, alis kiri wanita itu segera sedikit terangkat. “Sejak kapan Black Shadow mengizinkan orang luar seperti penulis untuk melakukan riset di sini?” tanya Madam Shofia heran.
“Dia telah mendapatkan izin khusus dari Big Papa, proses mendapatkan izinnya pun tidak mudah, Madam Shofia tidak perlu khawatir,” jawab Diandra, menjelaskan semuanya.
Madam Shofia menganggukkan kepalanya mengerti. “Oh, begitu. Baiklah jika memang Big Papa sendiri sudah mengizinkannya.”
Walaupun berkata demikian, mata Madam Shofia masih lekat menatapnya dengan berbagai macam arti tersirat, membuat Jordan merasa tidak nyaman secara diam-diam.
“Bagaimana tentang penyelidikanmu kepada Sawamura? Kapan aku dapat mengunjungi Italia?” tanya Marry, menatap Diandra dengan serius. Menurut Marry, jika dirinya tidak segera berangkat ke Italia untuk mengantar AQM-304 maka semuanya hanya akan menjadi masalah yang tidak pernah selesai, selalu berlarut-larut dan stuck di titik yang sama. Persetan dengan retak tulang bahunya, Marry tidak menginginkan posisi ketua Black Shadow jika Big Papa suatu saat meninggal.
Diandra yang mendengar Marry bertanya dengan nada terburu-buru pun segera menjawab,”Saat ini masih sulit, tetapi mungkin jika kita melakukan beberapa trik pengecoh yang rumit kau akan berhasil."
Marry menganggukkan kepalanya mengerti. “Baik, itu bisa dipikirkan nanti seperti apa kita akan mengecoh mereka. Aku mengerti saat ini situasi kita sangat sulit, jika mengerahkan pasukan terlalu banyak untuk memperlancar jalanku, itu pasti akan membuat ekor para kepolisian bergoyang dan mulai menggonggong untuk mengejarku. Namun jika aku beraksi sendirian, itu justru akan menjadi jauh lebih rumit karena aku harus menghadapi Sawamura sendirian. Jika kau bertanya yang mana yang akan aku pilih, aku lebih memilih nomor dua.”
Diandra yang mendengar apa yang Marry katakana barusan pun hendak mengatakan sesuatu juga, namun segera Marry selak dengan kembali berkata,”Selamanya masalah ini akan menjadi rumit, Diandra. Tidak peduli mau kapan aku berangkat ke Italia, bahkan jika retak di bahuku telah pulih, situasi kita dengan Sawamura akan sama sengitnya. Masalah ini hanya akan terus berlarut-larut jika aku tidak segera mengambil tindakan untuk terbang ke Italia.”
Diandra terdiam sejenak, kemudian dia menghela napas pelan sambil menganggukkan kepalanya. “Kita akan bicarakan ini dengan Big Papa nanti malam, dan sekarang adalah … apakah kau baik-baik saja?”
Marry menganggukkan kepalanya juga. “Ya, aku baik-baik saja, tetapi batu nisa ayahku retak karena pistol orang Sawamura. Aku bersumpah akan membolongi kepala mereka sebagai gantinya.”
Madam Shofia yang mendengar ucapan arogan Marry terkekeh. “Astaga, seram sekali Marry.”
Marry hanya menatap Madam Shofia dan tidak menjawab apa pun, toh wanita itu hanya berlagak, memangnya dia semasa muda tidak pernah membolongi kepala manusia? Justru total manusia yang mati di tangannya lebih banyak dari pada total manusia yang mati di tangan Marry, karena Madam Shofia sudah lebih dulu bergabung dengan Black Shadow.
“Di mana Big Papa sekarang?” tanya Marry kepada Diandra.
Diandra menggelengkan kepalanya pelan. “Saat ini dia sedang tidak ada di markas, tak lama setelah kepergianmu ke pemakaman, dia juga keluar untuk menemui Amado di divisi keempat. Nanti malam dia pasti akan kembali.”
Marry menghela napas ringan, lalu mengangguk. “Oh, baiklah.”
“Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?” tanya Madam Shofia, wanita itu merasa ingin sekali bergabung dan membantu, dia juga ikut merasa tidak tenang secara diam-diam. Marry menatap lagi Madam Shofia dan menggelengkan kepalanya pelan. “Anda sudah pension lima tahun lalu, Madam Shofia. Sekarang waktunya anda menikmati masa bebas anda, tidak perlu pedulikan Black Shadow untuk saat ini. Aku bisa mengurusnya.”
Diandra mengangguk. “Benar, Madam Shofia tidak perlu ikut turun tangan, saatnya generasi muda maju dan mengurus segalanya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Diandra tertawa.
Madam Shofia dan Jordan pun ikut tertawa, sedangkan Marry hanya tersenyum tipis.
“Asataga, mendengar perkataan kalian berdua aku merasa sudah sangat tua. Padahal aku masih sanggup untuk menembak jantung seseorang,” ucap Madam Shofia.
“Waktu akan terasa berjalan sangat cepat jika kau menikmatinya, dan juga sebaliknya. Jika kau tidak menikmatinya, maka waktu akan berjalan sangat lama,” ucap Jordan, mencoba ikut ke dalam obrolan.
Madam Shofia yang mendengar kalimat milik Jordan pun mengangguk setuju. “Benar, karena aku sangat menikmati setiap momen yang ada di hidupku, waktu jadi terasa sangat cepat. Padahal rasanya baru kemarin aku menemukan anak ini kesepian di g**g gelap yang sempit.” Mata Madam Shofia menatap Diandra lembut.
Diandra tersenyum tipis. “Asataga, kenangan itu, ya … Lucu sekaligus miris jika diingat. Benar, waktu berjalan sangat cepat tanpa kita sadari, kenangan itu telah berlalu sembilan tahun yang lalu.”
Marry menaikkan alis kirinya. “Kenangan pertama kali kau ditemukan oleh Madam Shofia?” kemudian Marry tersenyum miring. “Itu bukan kenangan, tepatnya adalah tragedi. Mengapa kau dan Ivana selalu menyebut ingatan buruk itu dengan ‘kenangan’? kata ‘kenangan’ terlalu indah digunakan.”
Diandra kini tersenyum tipis dan menatap Marry kembali. “Tentu saja itu kenangan, Marry. Ya … walaupun memang sedikit suram, namun kejadian itu juga menjadi awal mula pintu terang di hidupku. Karena hari itu aku bertemu dengan Madam Shofia dan berkenalan dengan Black Shadow, walaupun di hari itu juga saudaraku mati di depan mataku. Tetapi aku sudah lama mengikhlaskannya, maka dari itu aku menyebutnya dengan kenangan.”
Marry hanya diam dan tidak menjawab, wanita itu beralih menyenderkan bahunya sambil memejamkan mata santai, mendengarkan ocehan nostalgia mereka tanpa tertarik ingin menimbrung sedikitpun.
*
Malam itu hujan deras, Diandra terduduk lemas bersama saudara kandungnya di dalam g**g gelap dan sempit. Tidak ada benda apa pun yang dapat digunakan untuk melindungi tubuh mereka dari guyuran air hujan, udara dingin yang mencekik dan perut keroncongan benar-benar memaksa mereka untuk bertahan.
“Kakak, sepertinya kau demam! Apakah kita harus berlari keluar dan meneduh di depan toko orang lain?” tanya Diandra, matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam kepada saudara kandungnya, Liliana.
Liliana tersenyum pucat dan menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak perlu, itu perbuatan yang sia-sia. Ujungnya pun pasti kita akan diusir karena telah mengotori pemandangan toko mereka.”
Diandra terdiam dengan perasaan sedih karena mendengar jawaban kakaknya.