“Apa kau sungguh baik-bak saja, kak? Wajahmu semakin terlihat pucat,” tanya Diandra dengan perasaan penuh khawatir, sudah dua puluh menit lamanya mereka diguyur hujan, tidak menemukan tempat meneduh.
Liliana yang melihat adiknya sangat mengkhawatirkannya pun tersenyum, lalu menarik Diandra ke dalam pelukannya sambil berkata,”Aku baik-baik saja. Wajahku pucat? Mungkin kau salah lihat karena hujan yang ribut ini. Aku sangat baik-baik saja, tidak perlu khawatir.”
Diandra kembali diam, sebenarnya dia tidak percaya sam sekali dengan apa yang kakaknya ucapkan barusan. Apanya yang baik-baik saja? Sedari tadi Diandra menyadari tubuh kakaknya yang sesekali bergidik kedinginan, wajah pucatnya pun sangat jelas, matanya masih cukup tajam untuk digunakan melihat di bawah hujan deras.
Diandra berdiri dari duduknya, melepas pelukan kakaknya dan berkata,”Kakak, tunggu lah di sini sebentar. Aku akan kembali.” Tanpa memberikan kesempatan Liliana membalas, Diandra segera berlari pergi meninggalkan kakaknya.
“Eh? Diandra! Kemana kau akan pergi?!” teriak Liliana sambil melihat punggung adiknya yang beralri menjauh. Perlahan Diandra mulai hilang dimakan jarak, membuat Liliana sangat khawatir. Dia ingin berlari dan menyusul, namun gagal karena tubuhnya yang terasa sangat lemah. Gawat … sepertinya tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi, kepalanya mulai terasa sangat pening, detakan jantungnya juga terdengar sangat jelas di telinganya.
Sementara itu Diandra kini telah berlari menuju toko mini market terdekat, mencari sesuatu yang sekiranya dapat menolong kakaknya dari kedinginan. Saat masuk ke dalam mini market dengan tubuh basah kuyup, beberapa pegawai terkejut dan bingung, namun Diandra tidak peduli dan segera mengambil barang yang telah terlintas di pikirannya.
Dengan cepat Diandra mengambil dua jaz hujan, satu paying, dan obat yang memiliki kemasan gambar anak kecil yang tengah demam.
“Dapat,” gumam Diandra.
Para pegawai mini market masih tak sempat bereaksi banyak karena tertegun oleh kedatangan serta kecepatan Diandra dalam mencari barang-barang tersebut, lalu salah satu pegawai senior maju mendekati Diandra, membuat Diandra ketakutan dan menatapnya tajam.
“Apa kau mempunyai uang untuk membayar itu semua, nak? Kau tidak berniat untuk mencuri ‘kan?” tanya pegawai senior mini market tersebut.
Diandra masih menatap tajam pegawai mini market tersebut, lalu diam-diam dia menelan air liurnya. Jantung Diandra ribuan kali berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Kau sungguh tidak akan mencurikan? Dari mana kau berasal?” tanya pegawai mini market itu lagi setelah melihat Diandra hanya diam mematung dan menatapnya tajam.
Diandra memejamkan matanya pelan sambil menghembuskan napas untuk menenangkan hatinya, setelah itu dia kembali membuka matanya dan menatap pegawai toko itu kembali.
Diandra berlutut, membuat para pegawai toko yang lain terkejut. “Aku sama sekali tidak ingin mencuri, aku pasti akan membayar barang-barang ini, tetapi maaf … aku tidak bisa membayarnya sekarang.”
“Hm?” gumam pegawai toko mini marker itu, wajahnya terlihat menyepelekan Diandra.
Diandra ingin menangis, bukan karena dia takut dengan situasi ini, tetapi karena memikirkan kakaknya yang sudah pucat seperti orang sekarat di tengah hujan. Dia tidak boleh berlama-lama di sini, kakaknya harus segera mendepatkan pertolongan pertama.
“Kakakku saat ini tengah demam tinggi karena hujan, kami sudah berdiri kehujanan selama dua puluh menit. Tempat meneduh pun tidak ada karena jarang sekali toko yang mengizinkan kami meneduh, kakakku benar-benar butuh pertolongan, hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya. Sebagai gantinya aku akan bekerja bersih-bersih di sini, aku mohon …” ujar Diandra sambil menangis, hatinya benar-benar terasa sesak sekarang. Untuk kali ini saja, dia berharap Tuhan berpihak padanya. Biarkan dia pergi dari sini dengan cepat untuk menemui kakaknya, jika nanti terlambat, Diandra tidak bisa membayangkan hal buruk apa lagi yang lebih berbahaya menimpa kakaknya.
Salah satu pegawai mini market yang lain maju dan berkata,”Lalu apa peduli kami? Jika kau mengambil barang dari sini tanpa membayar, justru itu akan merugikan kami. Kami jadi terpaksa harus mengganti uang dari barang yang telah kau ambil.”
Diandra mengerutkan keningnya lelah, untuk itu dia memperdalam berlututnya. “Aku mohon! Sungguh, besok aku usahakan akan membayar ini semua, yang terpenting untukku sekarang adalah kakakku. Dia saat ini demam parah dan—“ belum selesai Diandra bicara, pegawai mini market senior tadi pun langsung mengambil paksa barang yang ada di tangan Diandra.
Diandra yang terkejut segera mendongakkan kepalanya, dia kembali menangis. “Aku bersumpah! Aku bersumpah akan membayar barang-barang itu besok, sungguh ....”
“Untuk apa percaya kepada anak kecil berandalan sepertimu? Saat ini sedang marak kasus penipuan yang dilakukan oleh anak kecil sepertimu, aku tidak akan terkecoh,” ujar pegawai mini market senior, matanya menatap tajam dan menyelidik ke arah Diandra.
Diandra yang mendengar ini segera menggelengkan kepalanya kencang. “Tidak-tidak, aku bukan penipu. Sungguh, aku benar-benar membutuhkan barang-barang ini untuk kakakku, dia saat ini tengah demam parah dan menungguku. Aku mohon ….”
Diandra terus memohon dan berusaha membujuk mereka, tetapi tetap gelengan kepala dan ucapan penolakan lah yang dirinya dapat. Hampir menyerah, tiba-tiba dari arah belakangnya melesat sebiji peluru dan menghantam jendela mini market.
Pranggg!!!
Seluruh pegawai mini market dan Diandra terkejut bukan main, mata mereka segera menatap syok ke arah jendela mini market yang pecah. Tak lama setelah itu, terdengar suara wanita dari belakang Diandra yang berkata,”Toko ini aku jarah, jangan ada satupun yang berani menelepon polisi jika masih ingin hidup.”
Diandra segera menoleh ke belakang dengan cepat, dia melihat wanita tiga puluhan berambut panjang tengah menodorkan pistol ke para pegawai mini market. Wajah wanita itu dapat dilihat utuh, karena bagian mata sampai hidung tertutup topeng berwarna merah, hanya bibir yang tebal serta t**i lalat manis di pojok atas kanan bibirnya yang terlihat.
Diandra terpaku, tidak bisa berbicara apa pun lagi saat melihat pistol yang dengan gagah teracung ke kepala salah satu pegawai mini market.
Apakah … setelah pegawai itu ditembak dirinya lah yang akan menjadi giliran?
Tiba-tiba mata wanita misterius itu melirik ke bawah untuk menatap dirinya, lalu dia melemparkan kantung plastik besar ke arahnya sambil berkata,”Bawa ini dan sana temui kakakmu, bocah. Aku akan meloloskanmu karena perasaanku sedang sangat baik, dan lagi, aku tidak membunuh anak kecil tanpa sebab.”
Diandra segera menangkap kantung plastic besar itu, dia masih terpaku dan menatap wanita itu dalam. Siapa wanita itu sehingga murah hati menolongnya?
“Padahal dunia ini sudah kelewat kejam untuk anak seusiamu, mengapa saat ini kau masih menjadi orang baik? Dan lagi, jika aku yang ada di posisimu barusan, aku tidak akan berlutut. Aku lebih memilih mematahkan leher mereka dari pada berlutut dan menurunkan harga diriku,” sambung wanita misterius itu lagi.
Diandra sekali lagi tertegun karena ucapannya. Benar … padahal dunia sudah kelewat kejam padanya, tetapi mengapa sampai saat ini dia masih menjadi orang baik ya?
Tak lama setelah berpikir demikian, bayangan akan Liliana yang tersenyum hangat muncul di kepalanya.
Kakak … benar … Astaga! Kakak! Kakak pasti sudah menungguku sangat lama!