“Te – terima kasih!” ucap Diandra cepat, kemudian berlari keluar dari mini market. Para staf mini market yang melihat Diandra berlari sambil membawa kantung plastik besar yang berisi barang-barang mini market mereka pun hendak menghentikan Diandra, namun kalah cepat dengan tarikan pelatuk pistol wanita misterius itu yang memuntahkan peluru ke samping kaki staf tersebut.
“Jika kau bergerak sedikit saja, maka aku akan membolongi kepalamu dengan pistol,” ucap wanita misterius itu dengan nada bicara yang arogan.
Sementara Diandra, wanita itu sempat berhenti kala mendengar suara tembakkan, namun kembali melanjutkan jalannya ketika teringat dengan kakaknya yang sudah menunggu lama.
Diandra terus berlari dengan sangat cepat dan lincah, memeluk erat kantung plastik besar tersebut. Sesampainya di g**g sempit serta gelap itu, Diandra segera memanggil Liliana yang sudah terllihat lemas tak berdaya di guyur hujan, tergeletak di aspal.
“Kakak! Aku kembali!”
Liliana yang mendengar suara adiknya segera mendongakkan kepalanya dengan lemas, setelah itu tersenyum lemah. “Di … Diandra, kamu …” Liliana mencoba untuk bangkit, melawan rasa pening dan menggigilnya yang sangat kuat.
Diandra yang melihat kondisi mengenaskan kakaknya merasa sangat sedih, kedua mata cantik anak itu langsung berkaca-kaca. Dengan cepat Diandra membuka plastik besar yang diberikan wanita misterius tadi di mini market.
Diandra tertegun saat melihat isinya, di dalamnya ada dua buah paying dan jaz hujan, setelah itu banyak sekali roti, buah, dan dua syal ranjut panjang yang hangat, serta air mineral kemasan, dan … obat penurun panas? Sepertinya wanita itu mendengar ucapan memohonnya kepada pegawai mini market barusan. Tersenyum tipis, Diandra merasa sangat berterima kasih kepada wanita itu, tetapi di waktu yang bersamaan dia juga merasa tidak enak dengan pegawai mini market yang tokonya di jarrah wanita misterius tersebut. Diandra menjadi semakin bingung, sebenarnya wanita itu adalah orang baik atau jahat?
Tetapi sekarang ada sesuatu yang lebih penting yang harus Diandra pikirkan, yaitu kakaknya. Liliana terlihat sakit sangat parah, dengan cepat Diandra mengambil paying dan membukanya, meneduhkan kepala Liliana.
Liliana yang melihat ini pun tertegun, dia segera mengerutkan keningnya dan bertanya,”Dari mana kamu mendapatkan payung ini, Diandra?”
Namun yang ditanya tak kunjung menjawab, sibuk dengan pikirannya sendiri dan mengeluarkan beberapa barang lainnya dari dalam plastik besar tersebut.
Saat melihat adiknya mulai mengeluarkan syal dan memakaikannya ke leher mereka berdua, Liliana terkejut, tetapi masih diam. Tidak sampai di situ, Diandra segera mengeluarkan jaz hujan dan memakaikannya ke tubuh mereka masing-masing.
Liliana semakin bingung, dari mana adiknya mendapatkan ini semua?
“Dari mana kamu-“ belum selesai Liliana menyempurnakan pertanyaannya, dia sudah kembali terkejut karena adiknya mengeluarkan dua bungkus roti dan dua botol air mineral.
Liliana mulai berpikir macam-macam, akankah adiknya mencuri?
“Diandra, jawab kakak. Dari mana kamu mendapatkan semua ini? Kau berutang? Atau mencuri?” tanya Liliana sambil memberikan cengkeraman lemah di lengan adiknya. Diandra kini beralih menatap Liliana, tersenyum tipis. “Aku mendapatkan ini dari wanita misterius, aku tidak mengenalinya, namun dia memberikan semua ini secara cuma-cuma kepadaku.”
Liliana kembali mengerutkan keningnya, kali ini lebih dalam. Wanita misterius? Apakah adiknya mencoba untuk berbohong? Tetapi dari raut wajah adiknya barusan sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia berbohong.
“Kakak, berhenti berpikir, kau harus beristirahat agar cepat kembali pulih. Tenang saja, aku sama sekali tidak mencuri barang-barang ini,” ujar Diandra, berusaha untuk menenangkan kakaknya.
Liliana menghela napas pelan, akhirnya dia hanya mengangguk lesu dan mulai memakan roti yang dibawa Diandra. Sejujurnya dia masih merasa curiga sekaligus bingung saat mendengar cerita adiknya, tetapi saat ini dia tidak ada tenaga lebih untuk bertanya atau pun berdebat.
Selesai mereka berdua memakan roti tersebut, Diandra segera memberikan obat penurun demam ke kakaknya. Kali ini Liliana tidak banyak bertanya seperti sebelumnya, dia langsung menerima dan meminum obat Pereda demam yang diberikan adiknya. Lagi pula jika harus bertanya pun adiknya pasti hanya akan menjawab bahwa itu dari wanita misterius.
Setelah meminum obat, mereka berdua segera berpelukan dengan Diandra yang memegang payung untuk memberikan teduhan kepada mereka berdua. Kali ini sudah terasa lebih hangat dari pada sebelumnya, kakaknya juga tidak sering bergidik menggigil lagi seperti sebelumnya.
Saat sedang melamun, Diandra teringat dengan ucapan wanita misterius tadi yang ada di mini market.
“Padahal dunia ini sudah kelewat kejam untuk anak seusiamu, mengapa saat ini kau masih menjadi orang baik? Dan lagi, jika aku yang ada di posisimu barusan, aku tidak akan berlutut. Aku lebih memilih mematahkan leher mereka dari pada berlutut dan menurunkan harga diriku.”
Kalimat itu masih teringat jelas di otak Diandra, lalu dengan iseng dia memutuskan untuk bertanya sesuatu kepada Liliana.
“Kakak.”
“Ya?” jawab Liliana dengan mata terpejam, wanita itu memeluk adiknya erat.
“Mengapa kita harus menjadi orang baik?” tanya Diandra.
Liliana yang mendengar pertanyaan Diandra termenung sejenak, memikirkan jawaban yang bagus. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia tersenyum dan menjawab,”Karena dunia akan selalu berpihak kepada orang baik, Diandra.”
Diandra yang mendengar ini termenung, memikirkan jawaban kakaknya, lalu teringat tentang seluruh penderitaan mereka berdua selama hidup di jalanan. Diandra mengerutkan keningnya. “Lalu mengapa kita kesusahan untuk bertahan hidup seperti ini? Bukankah kita juga sudah baik? Mengapa dunia tidak pernah berpihak kepada kita?”
Liliana tertegun mendengar balasan adiknya, dia membuka matanya dan menatap adiknya yang tengah merengut kepada dunia. Liliana kembali tersenyum hangat, lalu berkata,”Benarkah Diandra sudah menjadi orang yang baik? Bukankah selama ini Diandra adalah anak yang nakal dan suka melanggar larangan kakak?”
Diandra yang mendenngar kakaknya berkata demikian segera mendongak untuk menatap wajah kakaknya. “Jadi … apakah maksudnya aku orang yang jahat?”
Liliana segera menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Diandra bukan orang yang jahat. Diandra adalah orang yang baik juga, tetapi mungkin akan lebih baik jika Diandra menjadi anak yang patuh kepada kakak, sehingga menjadi orang baik yang sempurna! Dengan itu, dunia bisa berpihak kepada kita dengan mudah.”
Diandra terdiam lagi untuk memikirkan ucapan kakaknya. Apa iya? Berarti … jika dia berhenti menjadi anak yang nakal, dunia akan berpihak seutuhnya kepada dia dan kakaknya? Baiklah, menjadi anak yang baik dan tidak nakal adalah hal yang mudah! Diandra bisa!
Liliana tersenyum semakin dalam saat melihat senyum samar di wajah adiknya, dia tahu apa yang saat ini sedang adiknya pikirkan. Namun … senyum Liliana perlahan memudar, tatapan matanya berubah menjadi dingin dan hampa. Kekosongan di hatinya yang selama ini dia rasakan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Diandra pun muncul.
Saat ini Liliana tidak mau menceritakan kejamnya dunia kepada mereka berdua, Liliana ingin Diandra tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh dengan energi positif.
Dia lebih memilih menanggung derita dan kesepian ini sendirian untuk Diandra, dari pada memikul seluruh derita ini berdua dengan adiknya namun hal itu justru malah menghilangkan senyuman manis milik adiknya.
Dua tahun semenjak kematian kedua orang tua mereka karena kecelakaan lalu lintas dan meninggalkan segudang utang, membuat rumah dan seluruh harta benda mereka disita, hanya menyisakan dia dan Diandra sendirian, menjadi gelandangan di tengah keramaian kota New York.
Diandra … bagaimana caranya aku menjelaskan kekejaman dunia tanpa harus menghapus senyummu, adikku?