Keesokan harinya, Diandra terbangun lebih dulu dari pada kakaknya. Hujan telah lama berhenti, tetapi jalanan masih lembap. Diandra segera meletakkan telapak tangan kanannya di kening Liliana, mengecek suhu tubuh kakaknya. Saat mengetahui suhu panasnya menghilang, Diandra menghela napas lega, bibirnya pun sempat tersenyum tipis sambil bergumam,”Syukurlah ….”
Tak lama setelah itu, Liliana terbangun dengan membuka matanya pelan. Melihat ke kanan dan kiri, memperhatikan hujan deras semalam yang kini telah berhenti.
“Kakak, ayo kita sarapan dulu! Masih ada banyak roti di kantung plastik ini,” ajak Diandra sambil menunjukkan isi kantung plastic tersebut ke Liliana.
Liliana yang sudah mempunyai tenaga pun segera menarik kuping adiknya. “Diandra, katakan yang sejujurnya kepada kakak. Dari mana kau mendapatkan semua ini? Apakah kau berutang? Atau mencuri?”
Diandra yang ditarik kupingnya pun segera memberontak. “Aduh … aduh … duh! Lepas, kak! Sakit!”
Liliana segera melepaskan tangannya dari kuping Diandra, menatap adiknya dengan penuh kecurigaan. Diandra yang melihat ini berdecak,”Ck, aku tidak berutang apa lagi mencuri! Sungguh, kak, ada wanita misterius yang tidak aku kenali memberikan ini!”
Diandra sengaja menutup fakta bahwa wanita misterius itu adalah perampok mini market, jika dia ceritakan bagian ini, Diandra takut kakaknya akan berpikir bahwa dia berteman dengan orang-orang yang tidak baik.
Lagi pula … dirinya benar tidak mencuri ‘kan? Dia mendapatkan semua ini karena diberikan oleh perampok itu sendiri, yang merampok adalah wanita itu, bukan dirinya. Jadi bukankah benar jika dia tidak bersalah?
Liliana menghela napas, bahkan sampai saat ini Diandra masih mengeluarkan jawaban yang sama. Wanita misterius?
Melihat raut wajah adiknya, sulit untuk mengatakan bahwa Diandra berbohong. Apakah dia harus melupakan ini begitu saja?
Melihat seperti adiknya bersungguh-sungguh dan tidak berbohong, Liliana menghela napas lagi. Mungkin lebih baik dia lupakan, karena bertanya dan berdebat dengan adiknya hanya akan buang-buang waktu. Diandra pasti akan mengeluarkan jawaban yang sama. Kini yang Liliana harus lakukan adalah berterima kasih, mengirim doa untuk orang itu karena sudah berumurah hati kepada mereka berdua.
Diandra berdiri, membuat Liliana menatapnya bingung.
“Kakak, aku harus pergi sebentar. Aku akan kembali sore hari nanti,” ucap Diandra.
Liliana mnegerutkan keningnya. “Ke mana kau akan pergi?”
Diandra tersenyum tipis. “Gereja! Aku ingin berdoa kepada Tuhan agar ia berpihak kepada kita. Bukankah lebih baik demikian? Jika hanya dunia saja yang berpihak kepada kita sedang Tuhan tidak, rasanya sama saja ….”
Liliana tertegun, kemudian dia tersenyum lembut menatap Diandra. Mengangguk singkat. “Benar, pergilah. Kakak akan menunggu di sini. Ingat, jangan sampai kembali terlambat.”
Diandra balas mengangguk juga, senyum cerianya kembali muncul. Sebelum berlari menjauh dari kakaknya, wanita itu sempat berkata,”Aku juga akan meminta kesehatan untukmu kepada Tuhan!”
Liliana tertawa pelan. “Ya, terima kasih banyak.”
Diandra terus berlari dengan penuh semangat menuju Gereja, dia sempat berhenti di depan mini market yang semalam dia kunjungi. Mini market itu mendadak menjadi sepi, pecahan semalam juga masih ada. Ada garis polisi yang melintang di sana, kejadian semalam seolah bukan tragedi perampokan biasa, tetapi pembunuhan.
Diandra menggelengkan kepalanya pelan, setelah itu melanjutkan berlarinya menuju Gereja. Ia telah memutuskan, sepulang dari Gereja, Diandra akan pergi ke taman sebentar untuk mencari bunga kesukaan kakaknya, bunga Liliy.
Sesampainya di Gereja, Diandra segera berdoa, duduk di kursi kosong yang telah disediakan. Hari ini hari jumat, masih sepi, tidak seramai hari minggu.
“Tuhan, aku Diandra. Aku sangat menyayangi kakakku, saat ini ia sedang sakit demam, walaupun sudah tidak separah tadi malam. Aku ingin kakakku sembuh total seperti sedia kala, berikanlah kebahagiaan kepada kami berdua. Tuhan, aku berjanji akan menjadi anak yang baik, tidak lagi melawan kepada kakakku. Maka dari itu, berpihaklah kepadaku dan kakakku. Kakakku berkata, dunia akan berpihak kepada manusia yang baik, namun aku tidak ingin hanya dunia saja yang berpihak kepadaku, tetapi juga engkau, Tuhan.”
Selesai berdoa dan membuka mata, Diandra terkejut karena ada Pendeta yang duduk di sampingnya, tersenyum ke arahnya.
“Tu – tuan pendeta?” kaget Diandra, namun setelah itu dia memberikan senyum hangatnya kepada Pendeta.
Sang pendeta balas tersenyum lebih dalam, lalu berkata,”Kau anak yang baik, Tuhan pasti akan mendengar doa-mu. Siapa namamu, nak?”
“Namaku Diandra,” jawab Diandra, masih dengan senyumannya yang hangat.
“Oh, Diandra? Lalu siapa nama kakakmu?” tanya Pendeta itu lagi, Diandra yang diatanya pun segera menjawab,”Liliana, kami saudara kandung yang berbeda lima tahun.”
Pendeta itu mengangguk. “Oh, nama kalian berdua terdengar indah. Lalu … bagaimana dengan kondisi kakakmu sekarang? Di mana kalian tinggal? Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu.”
Senyum hangat Diandra berubah menjadi sedikit getir. “Kami yatim piatu yang tidak mempunyai rumah, dan kondisi kakakku saat ini sudah sangat membaik, tidak separah kemarin malam. Kemarin ia diguyur hujan hingga demam.”
Pendeta itu membelalakkan matanya sedikit. “Ya Tuhan … Demam? Lain kali jika hendak mencari tempat berteduh, datanglah kemari. Rumah Tuhan selalu terbuka kapan saja dan untuk siapa saja.”
Diandra menganggukkan kepalanya cepat. “Hum, baik!”
“Ini untukmu.” Sang Pendeta menyodorkan satu buah apel kepada Diandra. “Hadiah karena telah menjadi adik yang baik,” sambung si Pendeta.
Melihat apel merah yang lezat, kedua mata Diandra berbinar. Dengan senang hati Diandra menerimanya. “Terima kasih banyak, tuan Pendeta!” sang Pendeta pun tertawa pelan sambil mengangguk. Selesai mengucapkan terima kasih, Diandra segera mengucapkan kalimat perpisahan dengan sopan. Sekarang saatnya dia menuju taman terdekat untuk mencari bunga Liliy.
Saat sedang sibuk mencari bunga Liliy, tiba-tiba dari belakang Diandra muncul wanita dewasa.
“Aih, bukankah ini anak yang kemarin malam? Bagaimana kabarmu hari ini, nak?”
Diandra yang terkejut segera berbalik dan menatap siapa yang mengajaknya bicara, dia segera menghela napas lega setelah mengetahui bahwa orang itu adalah wanita misterius yang tadi malam.
“Nyonya—“ baru satu kata Diandra bicara, wanita misterius itu langsung memotongnya dengan cepat. “Jangan panggil aku dengan sebutan ‘Nyonya’, tetapi panggil aku dengan sebutan ‘Madam’.”
Diandrayang mendengar ini segera mengangguk cepat. “Baik, Madam!” wajah Diandra terlihat lucu saat mengatakan ini, membuat bibir wanita misterius itu tersenyum.
“Nah, nak, sekarang bagaimana kabarmu dan kakakmu yang sedang sakit ini? Dan lagi, apa yang sedang kau lakukan di taman membosankan ini?” tanya wanita misterius tersbeut yang kini dipanggil ‘Madam’ oleh Diandra.
“Hm … aku sedang mencari bunga Liliy untuk kakakku, sebelumnya aku baru saja selesai mengunjungi Gereja,” jawab Diandra, bibirnya mencoba untuk tersenyum.
Madam menaikkan alis kirinya. “Gereja?”
Diandra mengangguk. “Ya, Gereja. Apakah Madam tidak mengetahui apa itu Gereja? Gereja adalah tempat di mana kita semua berdoa kepada Tuhan!”
Madam itu memperdalam senyumnya, kali ini Diandra masih tidak mengetahui seperti apa rupa asli Madam tersebut, karena setengah wajahnya masih ditutup oleh topeng berawarna merah yang cantik.
“Berdoa kepada Tuhan? Apa yang sedang kau doakan?” tanya Madam.
“Aku berdoa untuk kakakku dan agar Tuhan berpihak kepadaku! Kakakku berkata, dunia akan berpihak kepada orang yang baik, namun aku tidak hanya ingin dunia saja yang berpihak, tetapi Tuhan juga,” jawab Diandra, matanya terlihat berbinar saat menjelaskan isi doanya kepada Madam.
Madam itu terdiam sejenak, lalu duduk di atas rumput hijau yang segar dengan diteduhi pohon besar yang rindak. Samar-samar terdengar suaranya yang berkata,”Konyol.”