34. Masa Lalu Diandra 4

1112 Kata
”Konyol.” * “Hm? Apakah Madam mengatakan sesuatu tadi?” tanya Diandra yang mendengar Madam itu berbicara sesuatu, tetapi tidak dia dengar dengan jelas. Madam itu menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. “Tidak ada, kau salah dengar mungkin?” Diandra yang mendengar ini pun tidak lagi banyak bertanya dan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyimpan kebingungan itu di hatinya sendiri. “Tetapi jika aku boleh jujur, kalimat yang dibuat kakakmu itu terdengar kosong di telingaku,” ujar Madam, membuat Diandra mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Kosong? Apa yang dimaksud Madam dengan kosong?” tanya Diandra dengan wajah polosnya. Madam tersebut menatap wajah polos Diandra, senyumnya sempat menghilang, tetapi tiba-tiba kembali muncul. “Sepertinya kakakmu memiliki alasan lain tidak menceritakan semuanya, melihat senyummu pun aku akan berpikiran yang sama dengan kakakmu. Ternyata kakakmu adalah orang yang baik, ya?” Diandra yang mendengar ucapan Madam semakin tidak mengerti, tetapi akhirnya dia tetap mengangguk untuk membenarkan kalimat bahwa kakaknya adalah orang yang baik. “Tentu saja, kakakku adalah orang yang sangat baik. Dia selalu tersenyum hangat ke arahku, dan tak pernah lupa untuk mengingatkan aku agar selalu menjadi orang yang baik!” Madam yang mendengar kalimat polos Diandra memperdalam senyumnya, setelah itu bersender di batang pohon yang rindang. Udara sekitar masih terasa sangat sejuk, waktu pun masih menunjukkan jam Sembilan pagi. “Memaksakan diri menjadi orang yang baik di dunia yang jahat itu sangat merepotkan,” ucap sang Madam, matanya masih terpejam karena menikmati angin. Diandra menggelengkan kepalanya tidak setuju setelah mendengar ucapan Madam. “Tidak, itu salah, Madam. Kakakku berkata, jangan hanya karena dunia tidak berpihak kepadamu, kau sampai memilih jalan yang salah dan berhenti menjadi orang yang baik. Itu adalah hal yang konyol.” Madam yang mendengar ini pun segera membuka sebelah matanya untuk melirik Diandra, bibirnya tersenyum simpul. “Oh? Lalu apa dirimu? Saat ini bukankah kau sedang berbicara dengan orang jahat? Kau lupa siapa aku, nak?” Diandra tertegun, spontan dia langsung menatap Madam lekat. “Aku baru ingat!” Madam tertawa melihat raut wajah Diandra yang lucu, setelah itu dia segera berkata,”Tidak semua orang jahat itu buruk, ada yang baik. Tetapi jika ada kejahatan, maka pelakunya pasti orang jahat. Dunia ini hidup perbedaan yang berpasangan seperti wanita dan pria, matahari dan bulan, dan di China ada Yin dan Yang. Begitu pula dengan hukum dunia, ada baik dan jahat. Orang jahat ada untuk membuat dunia seimbang, jika tidak ada orang jahat di dunia ini, maka akan terjadi ketidakseimbangan dunia. Pihak kepolisian akan menganggur dan memakan gaji buta, nak.” Saat Diandra hendak membalas ucapan Madam yang barusan, sang Madam sudah langsung memotong dengan kembali bicara. “Kau tidak perlu harus memaksakan dirimu untuk menjadi orang yang baik di dunia yang jahat ini, nak. Kau tidak perlu menahan emosi hatimu dan membiarkan orang lain mneginjak-nginjakmu dengan mudah hanya karena kau adalah ‘orang baik’. Orang baik juga memiliki emosi dan batas kesabaran, konyol jika kau terus tersenyum selagi mereka merusak apa yang kau cintai. Menjadi jahat lebih baik dari pada harus membohongi hatimu sendiri.” Diandra tertegun saat mendengarkan sang Madam berbicara. Saat sang Madam kembali menutup mata sebelahnya yang tadi sempat kembali terbuka, Diandra segera berkata,”Tetapi, bukankah Tuhan memerintahkan semua orang menjadi baik? Bukankah salah jika kita menjadi orang jahat? Itu sama saja seperti melanggar perintah Tuhan.” Madam kembali tersenyum, dia kali ini benar-benar merasa tertarik dengan Diandra, terutama pola pikir anak itu. “Nak, apakah kau tahu? Oranng jahat di alam semesta ini bukanlah penjahat sesungguhnya,” ucap sang Madam, membuat kening Diandra mengerut bingung. Diandra merasa, semakin banyak dia berbicara dengan sang Madam, maka semakin banyak juga kebingungan serta pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikirannya. Tetapi, sejujurnya Diandra merasa sangat tertarik sekaligus nyaman saat sedang berbicara dengan sang Madam. “La – lalu … siapa penjahat yang sesungguhnya?” tanya Diandra. “Tuhan,” jawab sang Madam singkat, membuat mata Diandra terbelalak. Anak kecil itu terkejut dengan jawaban sang Madam. Di pikirannya adalah, bagaimana mungkin sang Madam berani menyalahkan Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan adalah penjahat? Asataga …. “Me – mengapa Tuhan?” tanya Diandra. “Sebelum itu, seperti apa Tuhan di pikiranmu?” tanya sang Madam kembali. “Hm … Tuhan adalah sesuatu yang paling agung di antara yang paling agung! Dia pemilik segalanya, mengatur takdir-takdir manusia, sang pencipta alam semesta. Dia yang paling berkuasa dari raja-raja manapun!” jawab Diandra, mengeluarkan semua isi kepalanya tentang Tuhan. “Benar, itu jawabanmu ‘kan? Lalu, aku akan kembali bertanya. Jika memang Tuhan yang mengatur takdir manusia, bukankah berarti dia yang memberikan takdir buruk dan baik kepada manusia itu sendiri? Dan lagi, kau mengatakan bahwa Tuhan adalah pemilik segalanya dan pencipta alam semesta, jika Tuhan baik, lalu mengapa ia menciptakan kejahatan? Jika manusia baik adalah manusia yang mulia, lalu mengapa Tuhan menciptakan manusia lainnya menjadi jahat? Apa maksud semua ini? Apakah Tuhan mencoba menciptakan perbedaan kasta antar manusia? Singkatnya begini, jika Tuhan baik, mengapa dia memberikan penderitaan kepadamu?” “Karena … karena aku masih belum menjadi anak yang baik?” balas Diandra dengan ragu, hatinya entah mengapa merasa gelisah setelah mendengar sang Madam berbicara demikian. Sang Madam tertawa pelan. “Alasan ini lebih konyol dari pada menjadi orang jahat ‘hanya’ karena dunia jahat kepadamu, seperti yang kakakmu bilang itu.” Diandra terdiam, setelah itu dia kembali bertanya,”Lalu bagaimana dengan Madam? Apakah Madam mempercayai Tuhan?” Sang Madam giliran terdiam, setelah itu baru menjawab,”Tidak, aku tidak percaya Tuhan.” Saat mengatakan ini, dia kembali membuka kedua matanya dan menatap dingin ke depan. Diandra melihat kehampaan serta rasa dingin yang sangat dalam dari kedua mata indah sang Madam di balik topeng. “Mengapa?” tanya Diandra penasaran, membuat sang Madam meliriknya, senyuman bibirnya yang tadi sempat hilang kini kembali muncul sambil membalas,”Aku dulu sepertimu, tetapi hanya kekecewaan yang kau dapat. Untuk itu aku berhenti bergantung kepada Tuhan, aku lebih memilih untuk bergantung kepada diriku sendiri.” Diandra terdiam, sepertinya sang Madam mempunyai masa lalu yang pahit. Untuk itu Diandra tersenyum. “Madam, aku tidak tahu masa lalu apa yang Madam miliki, tetapi aku yakin, Tuhan akan membalas kebaikan Madam sekecil apa pun itu. Lagi pula … menurutku Madam tidak sepenuhnya orang jahat.” Sang Madam tersenyum semakin dalam saat Diandra berkata demikian, lalu tangan kanannya bergerak untuk mengusap pucuk kepala Diandra. “Kau pandai bicara, ya?” Diandra terkekeh, setelah itu dia kembali bertanya,”Madam, jika ada yang berbuat jahat kepadamu, biasanya apa yang akan anda lakukan?” Sang Madam terlihat berpikir dulu, lalu baru menjawab dengan seringaian tipis. “Akanku tarik jantung dan tulang rusuknya keluar.” Diandra terkejut saat mendengar kalimat s***s sang Madam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN